Bos Cuek Dan Pembantu Jelek

Bos Cuek Dan Pembantu Jelek
Part 8 Pertemuan


__ADS_3

Niken pov


Untuk menghindari Tuan Aska pagi ini, setelah membuat sarapan aku memilih jalan-jalan ke taman yang tidak jauh dari komplek. Lebih baik menghirup udara segar, daripada harus bertatap muka dengan tuan Aska.


Bukan karena aku membenci tuan Aska, tapi karena malu. Malu karena menceritakan hal pribadi, malu karena terlena dalam pelukkan nya semalam, malu karena berharap dia bisa peka, tapi nyatanya tidak.


"Niken kan?" sapa seseorang pada ku. Aku coba mengingat wajah yang tersenyum di hadapan ku ini.


"Aku Anya, masa kamu lupa?"


"Mbak Anya, yang pernah nginap di rumah waktu itu?"


"Iya, waktu kegiatan kampus di kampung kamu"


"Oh, aku ingat sekarang. Maaf mbak, daya ingat ku kurang"


"Ngomong-ngomong, kamu kerja dekat sini?"


"Iya mbak, di kompleks perumahan elit itu" jawabku, sambil menunjuk ke arah komplek perumahan tuan Aska.


Tunggu, aku baru sadar raut wajah mbak Anya mirip seseorang, tapi siapa?


"Hei kenapa melamun?" Mbak Anya membuyarkan lamunan ku.


"Ah tidak. Mbak sama siapa?"


"Aku sama ibu, rencana nya mau ke rumah saudara. Tapi kalau weekend begini, dia nya bangun agak siang juga jadi aku sama ibu jalan-jalan bentar"


"Oh" aku hanya meng Oh-ria.


Wait, ini weekend? Ya ampun, berarti tuan Aska tidak ke kantor? Sia-sia sudah usaha ku. Apa tanggapan nya, kalau tahu aku sedang menghindar.


"Niken, ini ibu ku" mbak Anya memperkenalkan seorang wanita paruh baya yang mungkin seumuran Ibu ku.


"Hallo tante" ku salamin tangannya.


"Panggil saja, tante Sofi" balas tante sofi pada ku


"Mah, ini Niken yang aku ceritakan waktu itu," Ujar mbak Anya.


"Oh iya. Niken yang mau kamu jodohkan dengan Aska? Ya ampun, cantik benar calon mantu mama"


"Iya dong Mah, siapa dulu pilihan Anya,"


Apa? Aku mau di jodohkan dengan tuan Aska? Tapi, sudahlah nama Aska kan banyak. Jangan banyak ngarep Niken.


Setelah mbak Anya dan tante Sofi berpamitan untuk pergi, aku juga memilih pulang. Karena mau menghindar bagaimana pun, seharian penuh tuan Aska tetap di rumah. Setelah memasuki gerbang, sosok yang aku hindari sudah nampak di depan mata.


Dengan gayanya yang sok cool, melipatkan tangan di dada dan cara menatap ke arah ku seakan-akan mengintrogasi diriku.


"Dari mana kamu?" Tuhkan, belum juga sampai.


"Saya jalan-jalan bentar tuan"


"Ijin sama siapa?" Aku hanya menggeleng.


"Lain kali, kalau pergi ke luar ijin-ijin dulu. jangan buat aku khawatir" Apa? orang cuek macam dia khwatir kalau aku pergi tanpa pamit? Ok fix, sepertinya dia kesurupan.


"Masuk," Sebelum aku ingin memastikan, apa dia keserupaan atau tidak, dia sudah masuk mendahului. Aku berjalan mengekorinya masuk. Mungkin lain kali aku harus memastikan.


"Loh, Niken?" Suara Mbak Anya, membuat ku mengangkat muka.


"Mbak Anya, tante Sofi?"


"Jadi, kamu kerja di rumah Aska?" tanya tante Sofi.


Aku hanya mengangguk, jawaban andalan saat keadaan kikuk seperti ini. Aku menelan saliva ku getir, bagaimana mungkin dunia sesempit ini?


"Sini sayang, duduk", ujar tante Sofi sambil menepuk sebelahnya. Sekarang disinilah aku, duduk di sebelah tante Sofi.

__ADS_1


Mas Bryan dan tuan Aska yang sedari tadi bingung, menatap ke arah ku meminta penjelasan.


"Aku sudah kenal Niken, jauh sebelum kalian." Ujar mbak Anya yang mengerti arti tatapan mereka.


"Aska ini anak tante, saudara kembar Anya", ujar tante.


Oke, sekarang aku mengerti mengapa raut wajah mbak Anya familiar, karena ternyata mereka kembar.


"Kembar tante? tapi kok sifat tuan beda ya sama Mbak Anya?" Ups, Niken mulut mu itu memang tidak bisa di kontrol.


Ku lihat wajah tuan Aska geram mendengar kata-kata ku. Tatapan nya mematikan, menginterogasi dan mengintimidasi.


Oke fix, mungkin setelah ini aku kena batunya. Siap-siap Niken.


***


Sekarang aku sibuk di dapur, setelah tadi meminta diri. Aku tidak betah, di lihatin terus sama tuan Aska.


"Lagi masak apa?" Aku kaget, hampir saja sepiring ayam goreng di tangan ku terjatuh.


Bagaimana tidak, orang yang aku hindari malah berdiri tepat di belakang ku. Jangankan berbalik, bergerak saja tidak bisa. Jarak di antara kami hanya sejengkal. Jantung ku berdetak kencang, rasanya seperti lari maraton.


Dia mengambil ayam goreng di tangan ku, lalu meletakkan di meja. Ia memutar balik tubuh ku, sekarang kami berhadapan.


"Tuan, apa yang akan tuan lakukan?" saking gugupnya aku, sampai-sampai suaraku bergetar.


"Mau minta tanggung jawaban kamu"


"Soal apa, tuan?" tanya ku pura-pura amnesia.


"Jangan pura-pura lupa"


"Saya minta maaf, tuan. Tadi saya keceplosan" jawabku menundukkan kepala.


"Keceplosan atau pura-pura keceplosan?" Aku hanya menggeleng, tidak berani menatap matanya yang mungkin lagi mengintimidasi diriku.


Baiklah, tapi sepertinya ancaman tuan Aska hanya sekedar menakut-nakuti diriku. Mana berani dia mencium ku?


"Aska, kamu ngapain menghalangi jalan Niken?" ujar tante Sofi yang tiba-tiba sudah berdiri di pintu dapur.


"Aku tidak menghalangi kok, ma. aku hanya bicara pada Niken."


"Benar Niken?" tanya tante Sofi padaku. Aku hanya mengangguk.


"Oh iya, Ka. Mama mau ngomong bentar, kamu ikut mama"


"Mama duluan aja, entar aku nyusul" Setelah tante Sofi berlalu, tuan Aska berbalik menatap ku.


"Urusan kita belum selesai. Setelah ini kita akan bicara lagi." Aku hanya bisa menahan napas.


***


"Niken" Aku yang bergegas mandi, di tahan oleh tuan Aska.


"Iya, tuan", Sekarang, pikiran ku tak karuan. apalagi yang akan terjadi setelah ini.


"Mama tadi bicara sama aku, dia ingin punya cucu", Ya Tuhan, apa tuan Aska lagi ngelantur?


"Lalu untuk apa tuan menceritakan semua sama saya?"


"Karena ada hubungannya sama kamu!"


"Maksud tuan?"


"Mama, mau punya cucu tapi dari kita" Jawaban tuan Aska, membuat ku tak sanggup berdiri lagi. Bagaimana bisa berdiri? kalau kaki ku saja gemeteran kayak gini.


Well, sekarang awan mendung, mungkin sebentar lagi hujan badai yang akan memporak-porandakan perasaan ku.


"Lalu apa jawaban tuan?" Ya, ampun pertanyaan macam apa itu Niken? jangan terlalu ngarep, ingat posisimu sekarang.

__ADS_1


"Aku tawar menawar sama mama"


"Maksud tuan, tawar menawar apa?"


"Aku minta sama mama, agar mama kasih waktu buat kita pikirkan ini matang-matang"


Oke fix, pikiran ku sudah kacau balau.


Jika aku dan tuan Aska menikah tanpa cinta, apa kita akan bertahan? Sebaiknya, ku pastikan saja seperti apa perasaannya.


"Apakah tuan menyukai aku?" Pertanyaan macam apa itu Niken?


"Jangan berharap aku bisa menyukai kamu"


Baiklah,tuan Aska yang terhormat. Mari kita lihat sejauh mana kamu bertahan dengan ego mu itu.


"Sayangnya, permintaan tante Sofi akan sia-sia. Tuan tidak usah berpikir sampai yang matang-matang, aku juga tidak mau punya suami yang egonya kegedean"


Aduh Niken, kenapa mulutmu nyerocos begitu? Oke, kabur sekarang atau kamu bakal di interogasi.


"Maksud kamu apa?"


"Maaf tuan, aku harus mandi" Sebelum tuan Aska sadar akan perkataan ku terlebih dahulu aku sudah lolos masuk kamar mandi.


"Aku akan bilang sama mama, kita harus menikah secepatnya"


Aku yang baru selesai mandi, dihadiahkan kata-kata itu. Ya ampun Niken, kenapa tadi kamu membangunkan singa yang lagi tidur?


Kimono yang aku gunakan setelah mandi,


rasa-rasanya seperti mengecil di badan. Sedari tadi, ku tarik-tarik ujungnya. Gerogi aku di buatnya, bagaimana tidak guys? sekarang tuan Aska mendudukkan ku di ruang makan, tanpa menunggu ku berganti pakaian terlebih dahulu.


Aku merasa ini seperti di jaman penjajahan, di tangkap dan di interogasi.


"Sekarang aku mengerti kata-katamu" Kata tuan Aska dengan gaya bak seorang polisi menginterogasi tahanan nya.


"Aku tahu, kamu jatuh cinta pada ku", lanjutnya lagi.


"Tuan jangan sok tau, kalaupun iya itu hanya di mimpi tuan," Aduh Niken, kenapa ngomong gitu?


"Masa sih? Lalu kenapa kamu bertanya apakah aku menyukai mu? Aku bisa pastikan, kamu jatuh cinta pada ku. Apa lagi kalau kita sudah" ia menggantung kata-katanya.


"Sudah apa?" tanya ku penasaran.


Kini tuan Aska jongkok di hadapan ku, deru nafasnya menggebu. Apa dia juga gerogi? Wajahnya kian mendekat, aku semakin terpojok dan memalingkan muka. Jangan sampai, dia mencuri ciuman pertamaku.


"Aku bisa mencium mu sekarang, tapi tidak. Aku menunggu malam pertama kita. Malam pertama itu lebih seru" bisiknya di telingaku.


Helaan nafasnya membuat bulu kuduk ku merinding. Jangan sampai tuan tahu, aku sedang meriang karena kata-katanya.


"Hahah lihat wajahmu seperti udang rebus." katanya dengan tawa yang menggemaskan.


Ku coba meraba wajahku. Masa iya seperti udang rebus? Apa dia sengaja mengodaku?


Ini pertama kalinya, aku melihat tuan tertawa bebas seperti ini. Walaupun aku di jadikan bahan ledekan tidak apa-apa, setidaknya aku menikmati saat dia bisa tertawa seperti ini.


Ya Tuhan, jika sedang tertawa begitu kenapa tampan sekali.


Ups, Niken apa yang kamu pikirkan?


"Eits, mau kemana?" saat aku mencoba kabur, eh malah tangan ku di genggam erat.


"Tapi tuan"


"Jangan malu, kita kan mau jadi suami istri"


Uhuk


Uhuk

__ADS_1


__ADS_2