
Niken menuruni tiap anak tangga dengan wajah yang ceria. Menyapa tiap ART bila berpapasan. Niken berjalan menuju meja makan, disana sudah ada Aska dan ibu Tias. Sedangkan pak Lukman, ada pekerjaan di luar daerah.
"Mom, we have to talk" tutur Niken pada ibunya, saat Niken sudah menghempaskan tubuhnya di samping ibu Tias.
"Bicaralah, sayang."
"Privasi, mom"
"Ya sudah, after breakfast"
Aska menautkan kedua alisnya, memicing matanya saat Niken menoleh ke arahnya. Niken mendengus kesal, kala Aska tersenyum penuh arti.
"Jangan melihat ku seperti itu." ketus Niken
"Jangan begitu Niken, ini salah mama" ucap ibu Tias
Aska hanya menikmati sarapan tanpa bicara. Ia tau, akan ada perang Dingin setelah ini.
"Kita bicara sekarang, ma. Selera makan ku sudah hilang" ucap Niken lantas berjalan keluar tanpa menunggu jawaban ibu Tias.
"Bicaralah, sayang." ucap Ibu Tias saat sudah duduk di samping anaknya.
Kini keduanya sedang duduk di bangku halaman samping, Niken menetralisir rasa yang bergejolak dalam hatinya.
"Mom, aku tidak suka dengan cara mama" Niken memulai percakapan.
"Maafkan mama, sayang."
"Mom, aku hanya ingin semua berjalan dengan baik. Kejadian semalam mengingatkan ku pada kak Satria. Aku masih trauma"
Ibu Tias hanya menjadi pendengar yang baik. Jika dulu bukan karena kesalahan yang sama seperti semalam, mungkin Niken tak akan kehilangan Satria.
"Mom, aku tidak ingin Aska bernasib sama seperti kak Satria, cukup sekali aku kehilangan. Aku harap, mama bisa mengerti keadaanku. Aku tahu, mama pengen nimang cucu tapi bukan sekarang. Saat aku sudah benar-benar siap, maka keinginan mama akan aku penuhi."
"Niken, maafkan mama. Apa Aska sudah tau?"
"Ada saatnya Niken akan ceritakan semua pada Aska. Hanya menunggu waktu yang tepat"
Aska yang sedari tadi, tanpa sengaja mendengar pembicaraan ibu dan anak itu. Membuatnya bertanya-tanya, ada apa?
Apa yang sudah terjadi di masa lalu Niken? Mengapa Niken menutupi itu semua?
Aska ingin melangkah kesana, untuk meminta penjelasan untuk apa yang baru saja ia dengar. Tapi, ia urungkan niatnya. Mungkin Niken akan menceritakan semua padanya.
Aska kembali ke meja makan, saat melihat Niken dan ibu Tias akan kembali masuk. Aska membuat diri seolah-olah tidak tau apa-apa.
"Kita berangkat sekarang," tutur Niken pada Aska.
"Tapi kamu belum sarapan, sayang" jawab Aska
"Aku tidak lapar, sebaiknya kita pergi sekarang."
Aska hanya menuruti perkataan Niken, ia tau kekasihnya itu sedang badmood. Setelah pamit, kedua sejoli itu pun berangkat ke tempat tujuan.
Aska hanya fokus menyetir, sedangkan Niken fokus dengan dunianya. Entah apa yang sedang di pikirkan Niken, Aska tak ingin menebak. Yang terasa sekarang hanyalah suasana tegang yang mencekam.
"Maaf" Aska mencoba mencairkan suasana. Hanya kata itu yang mampu di ucapkan Aska, matanya tetap memandang lurus kedepan.
"Untuk apa?"
"Kejadian semalam"
"Lupakan."
"Kamu tidak marah?" tanya Aska.
Sekilas ia menatap Niken, namun tatapannya kembali lurus saat Niken membuang muka kearah jendela.
"Aku marah, tapi sudah ku maafkan"
"Apa pemandangan di luar lebih bagus dari ketampananku ini?"
"Cih, kepedean sekali kamu"
"Tapi kamu mengakui itu. Iya kan?"
"Iya, tapi dalam mimpi"
"Sakit sekali, sayang."
__ADS_1
Niken hanya mendengus, tatapannya tetap mengarah keluar jendela. Aska memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, ia sudah tak tahan dengan sikap Niken yang seperti ini.
Aska mengakui, apa yang terjadi semalam adalah mutlak kesalahannya. Tapi di kacangin seperti ini, Aska tidak terima.
"Niken, jika kamu tidak yakin dengan perasaanmu, maka kamu bisa hentikan sekarang" ucap Aska frustasi.
"Maksud kamu apa?"
"Aku tau, ragamu bersamaku tapi tidak dengan jiwamu"
"Jangan sok tau"
"Kita hentikan pernikahan ini."
Seperti tertampar, wajah Niken memerah menahan gejolak di hatinya. Ingin rasanya ia berteriak sekarang.
"Aku tidak mau!" teriak Niken histeris
"Aku tak mau rumah tangga kita di landasi kebohongan, Niken."
"Kebohongan seperti apa yang kamu maksud?"
"Sosok Satria"
Niken mengepalkan tangannya, ingin rasanya ia menghancurkan kaca mobil itu sekarang.
"Itu hanya masa lalu." kini matanya berubah sendu.
"Apa kamu tidak ingin menceritakannya padaku? Aku siap jadi pendengar yang baik buat kamu, sayang."
Niken tak bergeming, air mata kini membasahi pipinya. Ia belum siap menceritakan apa pun pada Aska, namun jika tidak menceritakan sekarang ia akan kehilangan Aska.
Dilema, itu yang Niken rasakan sekarang.
"Kak Satria adalah saudaraku, lebih tepatnya sepupu" Niken tertunduk. Aska tidak mengeluarkan sepata katapun, ia hanya ingin menjadi pendengar yang baik.
"Kak Satria adalah satu-satunya anak papa Lukman, dan lebih tepatnya anak angkat. Papa Lukman tidak pernah memiliki istri sebelumnya, kehadiran kak Satria di kehidupanku membuatku merasa nyaman.
Namun sayangnya, ia salah mengartikan kenyamanan itu. Kejadian seperti semalam terjadi, di suruh mama untuk menemani ku. Namun saat itu keadaannya berbeda. Aku terpuruk karena kehilangan sosok ayah yang selalu ku banggakan."
Niken menjeda, menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Airnya mengalir deras.
"Malam itu, kak Satria hampir melecehkan ku. Karena gagal, ia menyuntikkan sesuatu di tubuhku. Aku tidak terima di perlakuan seperti itu, hingga tangan ini lah yang membunuh kak Satria. Kak Satria tewas di tangan ku.
Aska tak berkutik, jadi penolakan Niken padanya bukan karena Niken tidak menginginkannya tapi karena trauma.
"Aska, aku tak ingin kejadian yang ku lakukan pada kak Satria terulang padamu. Aku takut kehilangan lagi"
Aska meraih Niken dalam pelukannya, rasa bersalah kini melingkupinya.
"Maafkan aku yang sudah membuatmu down, sayang. Aku takkan memaksamu, aku menunggu hingga kamu benar-benar siap untuk itu"
Niken melepaskan diri dari pelukan Aska, lalu menatapnya penuh arti.
"Pernikahan kita tetap berjalan kan?" tanya Niken dengan hati-hati.
"Memangnya siapa yang membatalkannya?"
"Kamu"
"Aku khilaf, aku ralat kata-kataku tadi"
"Cih, siapa juga mau menikah denganmu"
"Ralat kata-katamu itu sayang"
"Tidak mau" Niken memanyunkan bibirnya.
"Cih.. Gadis ini. Kita pulang sekarang"
"Tapi."
"Besok saja kita fitting gaun, lihat penampilanmu kucel sekali."
"Kau mengataiku?"
"Tidak sayang, kita pulang."
Aska menghidupkan mobilnya dan berbalik arah, tidak mungkin juga ia membawa Niken dengan penampilan berantakan seperti itu.
__ADS_1
***
Ibu Tias hanya mondar mandir tak jelas, feeling sebagai seorang ibu mengatakan bahwa sesuatu terjadi pada anak dan calon mantunya. Sudah beberapa kali ia mencoba menghubungi mereka tapi tidak bisa.
Ibu Tias berlari keluar saat Mobil Aska memasuki pekarangan.
"Apa yang terjadi?" tanya ibu Tias begitu melihat penampilan Niken berantakan.
"Aku baik-baik saja, hanya butuh istirahat." jawab Niken
"Kalian sudah saling bicara?"
"Jangan kepo, ma. Aku ke kamar dulu" Niken meninggalkan ibu Tias dan Aska yang baru saja memarkirkan mobilnya.
"Nak Aska, apa yang terjadi?"
"Kita hanya bicara dari hati ke hati."
"Lalu?"
"Semua baik-baik saja, aku masuk dulu."
Aska menuju ke kamar yang seharusnya ia tempati. Aska berganti pakaian saat sebuah notifikasi masuk di handphonenya tertera nama kontak SAYANG.
[Temani aku]
Belum sempat Aska membalas pesan tersebut, sebuah pesan masuk lagi.
[Jangan kepedean, hanya temani di balkon bukan tidur bareng]
Aska mendesah kesal, tanpa membalas pesan tersebut ia melangkah menuju kamar Niken. Tanpa permisi, Aska masuk dan mencari Niken.
"Kenapa tidak istirahat?" tanya Aska saat menghempaskan tubuhnya di samping Niken.
"Bentar lagi."
"Kamu tidak berniat untuk membunuhku kan?"
"Maksud mu?"
"Aku tak mau mati konyol seperti Satria"
"Tergantung"
"Cih, kamu ini"
Niken merebahkan kepalanya di pundak Aska, memejamkan matanya sejenak. Aska hanya membiarkannya dan menatap lurus ke depan.
"Aku mencintaimu" kata itu lolos begitu saja dari mulut Niken.
"Terima kasih, sayang"
"Apa kamu terluka karena sifatku yang suka berubah?"
"Aku memaklumi itu, sayang"
Niken kembali menegakkan posisi duduknya. Kini ia meraih wajah Aska, menatapnya begitu dalam. Menelusuri tiap lekukan wajah Aska.
"Aku tau, aku tampan." tutur Aska dengan percaya diri.
"Tampan? Tampan mbah lo" Niken cemberut melepaskan tangan dari wajah Aska dan bangkit berdiri lalu berjalan masuk dalam kamar.
"Aku ingin istirahat" Ucap Niken.
"Istirahatlah, aku akan ke bawah"
Aska berjalan keluar, meninggalkan Niken yang berdiri di tempatnya.
"Aska." suara Niken memberhentikan tangan Aska yang hendak menutup pintu. Niken berjalan mendekati, lalu memeluk tubuh Aska dengan erat.
"Ada apa?" tanya Aska dengan bingung.
"Apa kamu tidak lupa sesuatu?"
"Kamu ini, tidak menjawab tapi balik bertanya. Aku tidak tau, apa yang sudah aku lupakan."
"Morning kiss." ucap Niken dengan wajah tertunduk.
Senyuman Aska mengembang, ia lalu mengecup pucuk kepala Niken.
__ADS_1
"Istirahatlah, aku menunggumu di jam makan siang." ucap Aska mengacak-acak rambut Niken.
Aska meninggalkan Niken yang masih terdiam karena di perlakukan semanis itu.