
Niken merasa tidurnya terganggu karena sejak tadi alarm di nakas berdering tak henti. Niken bergegas turun dari tempat tidur, untuk membersihkan diri. Matanya tertuju pada secarik kertas dan segelas susu di meja riasnya.
[pagi sayang, kalau sudah habis mandi jangan lupa susunya di minum. Aku yang buatin buat kamu dengan cinta. Aku tau, kamu sudah terlambat untuk sarapan. Oh iya, aku ke kantor sebentar ada urusan mendadak. Siang nanti aku jemput kamu.
Calon suamimu Aska]
Senyum manis terpancar di wajah Niken, ia tidak menyangka jika Aska bisa seromantis ini. Niken melirik ke arah jam dinding, ternyata benar ini sudah pukul sembilan. Niken segera menyelesaikan rutinitasnya setiap pagi, mandi sebelum keluar kamar.
Setelah selesai, Niken meneguk susu yang sudah di siapkan Aska. Niken melangkahkan kaki menuruni tiap anak tangga, lalu menuju ke arah dapur untuk menyimpan gelas yang sedari tadi ia genggam di tangannya.
"Morning, mom" sapa Niken pada ibu Tiasa yang sedang berkutat dengan laptop di hadapannya di ruang keluarga.
"Pagi juga, sayang"
"Lagi apa, ma. Kelihatannya sibuk sekali?" tanya Niken saat mendudukkan bokongnya di samping ibu Tias.
"Mama lagi nyelesaiin laporan bulan ini. Kalian nggak fitting gaun?"
"Entar siang Aska yang jemput"
Ibu Tias hanya mengohria, lalu kembali berkutat dengan laptopnya. Niken menyandarkan kepalanya di sofa dan memainkan ponselnya.
"Kapan kamu bisa gantiin posisi, mama?" tanya ibu Tias pada putri semata wayangnya.
"Ngga tau, ma"
"Kamu itu pewaris, harusnya kamu langsung masuk kerja supaya bisa mempelajari semua yang ada di perusahaan"
"After married, mom. Nanti Aska yang bantuin. Tenang saja, ma."
"Terserah kamu saja, lagian mama udah tua. Mama mau kamu yang lanjutin semua aset papa kamu"
"Iya, ma. Kapan papa Lukman balik?"
"Mungkin lusa,"
Niken hanya mengangguk-angguk tanda mengerti. Niken menarik nafas, lalu menghembuskan perlahan. Mengingat empat hari lagi, acara pernikahan mereka akan berlangsung.
Niken harus mempersiapkan diri lahir dan batin. Emosi, fisik, kesehatan dan yang pasti ia harus mempersiapkan diri untuk melayani Aska sebagai seorang suami.
Mengingat kewajibannya sebagai seorang istri, Niken hanya bisa menarik nafasnya kasar. Ia belum siap melayani suaminya di malam pertama nanti. Bagaimana tanggapan Aska nanti?
Lamunan Niken buyar saat handphonenya berdering, panggilan masuk dari seseorang. Sesaat kemudian senyumnya mengembang. Kemudian menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan tersebut.
"Hallo."
"Hai sayang. Susunya sudah di minum?" suara Aska di seberang.
"Sudah, ada apa?"
"Bersiaplah, aku akan menjemputmu,"
"Baiklah"
"Dengar suara kamu, sekarang rinduku sudah terobati"
"Gombal"
__ADS_1
"Hehe bersiaplah sayang, aku on the way sekarang"
Niken mengakhiri telpon, ia bergegas ke kamar untuk berganti pakaian. Wajahnya bersembu merah merekah, gombalan Aska mampu membuat seribu kupu-kupu di perut Niken beterbangan.
Celana jeans putih panjang dengan atasan kaos pink dan sweater pink agak kebesaran juga flatshoes yg menghiasi kaki jenjangnya. Sesederhana apapun Niken berpakaian, ia selalu cantik di mata Aska.
Namanya juga lagi kasmaran, biar jelek juga bilangnya cantik. Ups author lagi cemburu.
Niken kembali menuruni anak tangga dan menuju ke ruang depan, menunggu Aska yang akan datang menjemput.
"Sayang, udah siap?" tanya Aska yang baru saja tiba.
"Iya, kita pamit dulu sama mama" Aska hanya mengangguk dan menebar senyum.
Setelah berpamitan dengan ibu Tias, mereka pun berangkat. Aska melajukan mobil membela jalanan, serius menyetir namun sesekali menoleh ke arah Niken. Niken yang merasa di perhatikan, menaikkan sebelah alis dan mengerucut bibirnya.
"Kamu kenapa?"
"Lapar"
"Kita makan siang dulu, setelah itu baru kita ke butik" tutur Aska
"Terserah kamu, aku mah ikut kata kamu aja"
"Oke, kita makan di restoran dekat butik saja" Niken hanya menurut apa yang di katakan Aska.
Beberapa menu telah di hidangkan di meja bundar, dimana Aska dan Niken berada. Niken menaikkan alis saat melihat begitu banyak makan yang Aska pesan setelah mereka sampai di restoran tersebut.
"Kenapa makanannya banyak sekali?" tanya Niken bingung.
"Iya, tapi makanan sebanyak ini apa bisa di habiskan?"
"Ini sarapan sekalian makan siang buat kamu, sayang"
"What? Jangan bercanda deh, Ka. Mana bisa aku habiskan makanan sebanyak ini"
"Kalau tidak habis ya di bungkus saja, sayang" jawab Aska dengan santainya.
Niken tertunduk lesu, seumur-umur nasi sepiring saja Niken tidak bisa habisin. Lah ini, semeja penuh dengan makanan mau di apakan?
***
Aska terhenyak dari duduknya, saat tiba-tiba saja ada Bryan, Anya dan Brandy di hadapannya sekarang. Bagaimana tidak? Aska tidak pernah menghubungi mereka untuk datang.
Niken hanya tersenyum penuh kemenangan, akhirnya setelah memohon-mohon pada mereka lewat SMS akhirnya mereka luluh juga. Ia tidak mau jika makanan sebanyak ini mubazir begitu saja. Akhirnya, diam-diam Niken menghubungi mereka.
"Siapa yang nyuruh kalian datang ke sini?" tanya Aska mulai curiga.
"Aduh, Ka. Ini kan tempat umum. Ya wajar dong kalau kita ketemu disini?" tutur Anya.
"Ya bang Aska nggak asyik. Kita kesini kan di suruh Niken" jawab Brandy tanpa dosa.
"Brandy" teriak Anya dan Niken bersamaan.
Brandy hanya nyengir kuda. Dasar sialan, di suruh rahasiain malah ngebongkar.
"Makanan ini kan buat kamu, sayang. Kenapa malah ngundang mereka?" tanya Aska pada Niken.
__ADS_1
"Realistis aja deh, Ka. Mana bisa aku habisin makanan sebanyak ini. So, karena mereka udah disini kita makan bareng-bareng."
Aska mendengus kesal, namun pada akhirnya nurut juga. Bukan Niken namanya, kalau tidak bisa luluhin hati Aska. Tapi lebih tepatnya, Aska bucin.
"Gimana persiapan pernikahan kalian?" tanya Bryan.
"Undangan udah di sebar, CO udah mantap, tinggal fitting gaun saja." Jelas Aska.
"Terus rencana bulan madu kemana nih?" tanya Brandy kepo.
"Uhuk uhuk" spontan pertanyaan Brandy membuat Niken keselek.
Cepat-cepat Aska menyodorkan ice tea untuk Niken, raut wajahnya merah padam. Bukan apa-apa, Niken hanya belum siap.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Aska panik.
"Tidak apa-apa, tadi buru-buru makan jadi keselek" bohong Niken. Tidak mungkin juga ia mengaku di depan mereka kalau ia belum siap.
"Pelan-pelan makannya, sayang." ucap Aska menetralkan suasana karena ia sudah tau, Niken keselek bukan karena makan buru-buru tapi karena pertanyaan Brandy.
"Oh so sweet, mau juga dong di perhatikan seperti Niken" goda Brandy.
"Sana, sama Vira mesra-mesraan" ketus Aska.
"Vira kan tidak ikut, bang. Masa sama tembok"
"Derita lo"
Brandy memanyunkan bibirnya, menopang dagu dengan kedua tangan yang tertumpu di meja. Niken yang melihat tingkah Brandy tertawa lebar. Menampilkan deretan giginya yang putih, di hiasi gingsul dan lesung pipi yang menjadi pesona tersendiri.
Brandy spontan menakup wajah Niken, Aska jadi kesal di buatnya. Aska menghempaskan tangan Brandy dengan kesal dan melotot dengan pandangan membunuh.
"Eh, calon istri gue itu" kesal Aska.
"Hehe khilaf bang. Habis, aku tergoda" ucap Brandy dengan polosnya.
Bryan dan Anya hanya menahan tawa, melihat tom and Jerry. Sedangkan Niken menundukkan kepala.
"Lain kali, jangan tertawa atau apapun itu sejenisnya pada lawan jenis selain aku" Niken hanya tersenyum miring, melihat Aska yang terlalu posesif.
"Posesif amat, bang" ucap Brandy.
"Diam kamu, bocah"
"Jangan berlebihan posesif sama Niken, Ka. Entar dia malah risih." bisik Bryan di kuping Aska.
Aska memicing mata menatap ke arah Niken lalu mengangguk. Seolah-olah mengerti dengan apa yang di bisikan Bryan.
"Kita ke butik, sekarang." ujar Aska yang di tujukan untuk Niken.
"Tapi mas Bryan dan"
"Tidak apa-apa, Ken. Kita juga udah mau pulang" tutur Bryan memotong kata-kata. Niken.
Anya mengangguk, di susul Brandy membuat Niken percaya. Akhirnya mereka terpisah di restoran tersebut. Aska dan Niken ke butik setelah pamit, meninggalkan mereka.
Niken masih ingin bercerita dengan mereka, namun melihat Aska yg sifat posesifnya ketulungan, Niken menguburkan niatnya. Demi Aska.
__ADS_1