Bos Cuek Dan Pembantu Jelek

Bos Cuek Dan Pembantu Jelek
Part 30 Kehadiran Mereka


__ADS_3

Waktu cepat berlalu, delapan bulan juga sudah berlalu. Perut Niken yang dulu rata kini sudah buncit, bahkan tidak sama seperti ibu hamil pada umumnya. Perutnya lebih besar dari tubuhnya.


Niken yang dulu bisa berjalan santai, tapi kini bergerak saja sangat susah harus ada yang membantu dan bahkan Niken harus menggunakan kursi roda.


Memasuki bulan kesembilan, bulan dimana Niken hanya menunggu hari H untuk lahiran. Niken bertekad untuk melahirkan normal, namun dokter Gita menyarankan untuk sesar. Kondisi Niken tidak memungkinkan untuk melahirkan normal, meski keadaan bayi kembar dalam kandungannya sehat.


"Sangat fatal jika ibu Niken melahirkan normal," jelas dokter Gita.


"Maksud, dokter?"


"Begini pak Aska, bayi anda memang sehat tapi kondisi ibu Niken lemah. Jika ibu Niken memaksakan melahirkan normal, saya takut keselamatan ibu Niken terancam."


"Tapi aku mau semuanya selamat, dok."


"Maka dari itu, kami dari pihak medis menyarankan agar ibu Niken melahirkan secara sesar. Karena lebih cepat lebih baik."


"Apapun itu, tolong lakukan yang terbaik untuk istri dan anakku. Berapa pun biayanya akan aku bayar."


"Bapak tolong tanda tangani surat ini, sebagai perjanjian bahwa bapak menyetujui saran medis. Setelah ini bapak boleh melunasi administrasi di bagian kasir."


Aska langsung menandatangani surat tersebut, karena ia tidak mau menerima resiko yang lebih besar. Kehilangan Niken adalah kehilangan semangat hidup dan kehilangan anak adalah kehilangan masa depan. Mereka sama penting dalam kehidupan Aska,


Aska berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang rawat Niken, setelah administrasi sudah di bayar tuntas. pikirannya kalut melihat kondisi Niken, di tambah Niken harus berpuasa delapan jam untuk menjalani operasi.


***


Aska mondar mandir tidak tenang, matanya tak pernah lepas dari pintu di hadapannya dan lampu ruang operasi masih menyala itu bertanda operasi masih berjalan.


"Berdoa pada Tuhan, minta kelancaran dan keselamatan untuk istri dan anak mu." ibu sofi menyemangati.


"Amin, ma."


"Gimana keadaan Niken?" tanya Bryan yang baru saja datang bersama kedua orang tuanya.


"Belum tau, operasi masih berjalan," jelas ibu sofi.


Aska sudah tidak mampu menjawab dan berkata apa-apa, ibu Tias juga demikian kalutnya memikirkan nasib putri tunggal dan cucunya.


Lampu merah di padamkan dan pintu terbuka, menampilkan dokter Gita dan juga dokter Mahendra.


"Gimana, dok?" tanya ibu Tias menghampiri kedua dokter yang baru saja muncul dari ruang operasi.


"Keadaan istri saya gimana, dok?" tanya Aska yang tak sabaran.


"Tenang Aska, biarkan dokter yang menjelaskan," ucap Bryan merangkul bahu sahabatnya.


"Gimana bisa tenang, Bry. Ini menyangkut nyawa Niken."


"Makanya tenang. Kasih kesempatan untuk dokter bisa berbicara." Dokter Gita tersenyum, demikian juga dokter Mahendra.


"Selamat ya, pak Aska. Istri dan bayi anda selamat," ucap dokter Gita menampilkan deretan giginya.


Akhirnya, rasa lega bisa di rasakan dan rasa tegang hilang entah kemana. Aska lega, pikirannya kini kembali jernih.


"Selamat, bro. kamu lebih hebat dari aku, sekali dayung tiga pulau terlampaui," ujar Mahendra dengan senyuman mematikan.


"Maksud kamu?" tanya Aska bingung, ia tidak mengerti maksud dari kata-kata Mahendra.


"Bayi bapak kembar tiga," jelas dokter Gita.


"Tiga, dok? Tapi waktu USG kan hanya dua?" tanya Aska makin bingung.


"Begini Pak Aska, memang waktu USG yang terlihat hanya dua. Karena yang satunya tumbuh di luar kandungan. Bahkan kami para medis juga syok, tapi kami lega karena bayi cantik itu sehat," jelas dokter Gita panjang lebar.


"Jadi ponakan saya ada cewek, dok?" tanya Anya penasaran.


"Iya, bayi Aska dua cowok satu cewek. Hebat sekali, gimana cara prakteknya biar bisa aku praktekan dengan Acha nanti," tutur Mahendra menggoda Aska.


"Anak mu saja masih kecil, pikiran mu sudah ngeres," ucap Aska mengingatkan.


"Bagaimana kondisi anak saya?" tanya ibu Tias.


"Ibu Niken belum sadar," jawab dokter Gita.


"Apa kami sudah bisa melihatnya sekarang?"


"Menunggulah beberapa saat, karena ibu Niken akan di pindahkan ke ruang rawat."


"Tolong sediakan ruang VIP untuk anak dan cucu saya."


"Baiklah, bu. Kalau begitu kami permisi."


Setelah kepergian Mahendra dan dokter Gita, Bryan memeluk Aska memberi ucapan selamat.


"Niken itu wonder woman, jangan pernah sakiti hatinya. Aku menyesal sudah melepaskan Niken untuk kamu, kalau tidak bayi-bayi mungil itu adalah anak-anakku," celetuk Bryan panjang lebar.


"Anya ada disamping mu, Bry."


"Ah, aku lupa. Kesayanganku ada disini," tutur Bryan salting.


Aska hanya menggeleng, entah sampai kapan Bryan bisa moveon dari Niken padahal ada Anya yang begitu mencintai Bryan.


***


Niken membuka matanya perlahan, membiasakan penglihatannya dengan ruangan serba putih ini.

__ADS_1


"Sudah siuman?" tanya ibu Tias yang duduk di samping Niken.


"Mom, dimana anak ku?"


"Lagi di gendong, tuh."


Niken mengikuti arah pandang ibu Tias, ia mengernyit dahinya bingung.


"Yang satunya anak siapa, mom?"


"Anak kamu, sayang."


"Tiga-tiganya?"


"Hmmm."


"Tapi kata dokter Gita, bayiku kembar dua."


"Tadi dokter Gita bilang juga gitu tapi ternyata ada pembuahan di luar rahim. Dan kamu tahu? Dia sangat cantik seperti kamu sayang,"


"Cantik?"


"Iya sayang, cantik seperti kamu."


Rona bahagia terpancar di wajah Niken, Tuhan sangat baik padanya. Meskipun ia harus menanggung sakit selama sembilan bulan, Tapi ia bersyukur Tuhan mempercayakan tiga amanah sekaligus.


"Aska kemana, mom?"


"Lagi beli makan sama Anya dan Bryan."


Niken hanya mengohria, matanya tak pernah lepas dari pandangan di sudut ruangan. Ada mertuanya, juga pak Bagas dan ibu Sarah yang sedang menimang bayi-bayi mungilnya.


"Apa mom, bahagia?"


"Sangat bahagia, sayang. Mama mintanya satu, tapi kamu bisa kasih tiga sekaligus. Sekarang mama sudah tidak khawatir lagi."


"Khawatir?"


"Dulu mama khawatir karena tidak ada penerus warisan papa selain kamu, tapi sekarang mama lega."


"Jadi itu alasannya, mengapa mama ngebet punya cucu?"


"Nah itu tahu. Jadi, nanti mama akan mengurus semua surat wasiat dan penurunan hak perusahaan atas nama mereka setelah itu mama bisa lepas tangan."


"Lalu mama?"


"Jangan lupa papa Lukman juga orkay sayang."


"Lalu pembagiannya gimana?"


"Lalu aku?"


"Kamu? Hm... mama kasih Aska saja buat kamu."


"Ih, mom. Aku serius."


"Perhotelan kan sudah mama kasih buat hadiah pernikahan kalian, lupa?"


"Hak waris belum aku terima, makanya lupa."


"Iya, mama juga lupa."


"Btw, papa Lukman kemana kok tidak kelihatan?"


"Masih otw kemari, kemarin baru pulang dari Newseland."


"Kira-kira, papa bawa hadiah nggak?"


"Kita lihat saja nanti."


Niken mengangguk, berharap pak Lukman bisa datang. Karena ini kesempatan baginya untuk meminta maaf.


***


Aska kembali membawa empat bungkus makanan, lalu meletakkannya di meja.


"Sayang."


Mendengar ada suara yang memanggilnya, Aska cepat-cepat menoleh melihat wajah istrinya yang tersenyum. Aska buru-buru menghampiri.


"Hei, sudah siuman?"


"Sejak tadi."


CupĀ 


Sebuah kecupan mendarat di kening Niken.


"Thank you very much," ucap Aska menatap lekat wajah istrinya.


"Sudah kewajiban ku."


"Ah, aku lupa memberi nama untuk kedua pangeran dan putri kita."


"Kenapa bisa lupa?"

__ADS_1


"Lebih tepatnya, aku menunggu istriku tercinta ini siuman."


Niken tersenyum bahagia mendengar penuturan suaminya, jadi seperti ini rasanya menjadi istri yang selalu di cintai?


"Boleh saya yang memberi nama?"


Suara khas itu mampu mengalihkan perhatian beberapa pasang mata dalam ruangan serba putih itu.


"Papa Lukman?"


"Hallo putri papa yang cantik, bagaimana keadaan mu?"


"Sudah mendingan."


"Apa Aska menyakitimu selama papa pergi?" tanya pak Lukman melirik ke arah Aska.


"Tidak, lalu mana oleh-oleh dari Newseland?"


"Papa lupa. Tapi tenang saja, papa punya sesuatu buat kamu."


"Apa?"


"Ini." Pak Lukman menyerahkan dua buah kunci pada Niken.


"Kunci rumah dan kunci mobil?"


"Kamu tau mansion yang papa belikan untuk Satria?"


"Mansion yang berada di Australia?"


"Iya, sekarang mansion itu sudah menjadi hakmu."


"Maaf, pa. Andai waktu itu aku bisa kontrol diri. Kak Satria tidak akan..."


"Bukan sepenuhnya salah kamu, mungkin sudah takdir hidupnya seperti itu."


"Maaf, pa."


"Sudah lupakan, mana cucu-cucu papa?"


"Disana, pa."


Niken menunjuk super box bayi yang ada di sebelah branker.


Pak Lukman menghampiri box tersebut, senyuman di wajahnya terukir manis.


"Boleh papa yang memberi nama?"


"Boleh, pa," jawab Niken.


"Bagaimana nak Aska?"


"Boleh. kebetulan Aska belum menemukan nama yang cocok."


"Yang pertama, Arkan Christian Dirgantara."


"Yang kedua, Arlan Christiano Dirgantara."


"Dan yang terakhir si perempuan cantik ini, Asni Christabel Dirgantara."


"Nama yang bagus, tapi dari mana papa tau jika aku dan Aska menyukai nama Asni?"


"Papa tidak tahu jika kalian menyukai nama itu, tapi nama itu terinspirasi dari gabungan nama kalian."


"waw, hebat pa."


"Kalau begitu, papa nyusul mama kamu dulu."


"Iya, pa."


**


Hari ini, tepatnya satu minggu setelah lahiran Niken sudah di perbolehkan pulang.


"Setelah aku pikir-pikir, sepertinya kita harus cari babysitter," ucap Aska saat membawakan semangkuk bubur dan juga segelas susu untuk Niken.


"Kenapa harus bubur tiap hari?" tanya Niken malas melihat makan malam yang tersedia di hadapannya saat ini.


"Ini untuk kesehatan kamu, sayang. Setidaknya sampai jahitan itu mengering,"


"Mana lauknya?"


"Ini bubur ayam, sayang."


"Ya udah deh."


"Mau di suapin?"


"Bisa sendiri, Ka." Aska memperhatikan istrinya saat sedang makan, ia ingin memastikan jika Niken benar-benar menghabiskan bubur tersebut.


"Gimana saran ku tadi?" tanya Aska saat Niken sudah menghabiskan bubur tersebut.


"Nanti aku bilang sama mama, biar bisa ambil dari art mama saja."


"Ya udah, bagaimana baiknya saja. Aku keluar dulu, jangan lupa susunya di minum,"

__ADS_1


"Iya, Sayang." Aska mengecup kening Niken sesaat sebelum keluar.


__ADS_2