
Ibu Sofi sedang menyiapkan pastel untuk prosesi lamaran di bantu Anya, Brandy, Vira pacar Brandy, dan juga Bryan. Sedangkan Aska, sedari tadi hanya berkutat dengan handphone di tangannya.
Jangan bertanya dimana Niken sekarang, yang pasti Niken sudah pulang dua hari yang lalu. Mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan keluarga Dirgantara.
"Ka, tolong ambilin pisau." seru ibu Sofi
"Iya ma." jawab Aska berjalan menuju arah dapur. Ia kembali dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Ini ma."
"Aska... Mama minta apa kamu bawanya apa?" teriak ibu Sofi histeris.
"Loh, tadikan mama minta rinso." ucap Aska dengan santainya.
"Mama minta pisau, bukan rinso." Anya menimpali.
"Aduh bang, ini baru prosesi lamaran aja abang udah gagal fokus. Gimana malam pertamanya, bang." celutuk Brandy membuat Aska jadi geram.
"Diam kamu, bocah." Bentak Aska.
"Yang di bilang Brandy itu benar, kak. Harusnya kakak fokus dong. Takutnya setelah menikah, mbak Niken minta minum malah kakak kasih air sabun." tutur Vira membela Brandy.
Aska menghempaskan tubuhnya dengan kesal di samping Bryan, kalau berhadapan dengan Brandy dan Vira. Siap-siaplah makan hati.
"Yang sabar. Kedua sejoli itu emang gitu. Kalau kita ladenin, nanti kita yang akan makan hati." Bryan menepuk bahu Aska menenangkan.
"Kak Bryan sok bijak, karena ada Mbak Anya disini. Kalau nggak, yang ada juga ngajak berantem itu mah." ujar Brandy mengkompori
"Brandy!" kini Bryan yang menahan kesal.
"Hahah." tawa Brandy pecah, berhasil menggoda kedua bersahabat itu. Bryan dan Aska menahan geram, sedangkan yang lain ikutan tertawa.
Brandy itu sosok yang unik. Tidak ada kata MARAH dalam kamusnya, lalu di pertemukan dengan sosok Vira yang usilnya kebangetan. Jika berhadapan dengan dua sejoli ini, lebih baik diam. Jangan sampai makan hati.
"Prosesi lamarannya jam berapa, tan?" tanya Bryan mengubah topik pembicaraan.
"Jam lima an gitu, jadi setelah beres-beres. Kita makan siang dan istrahat dulu." ucap ibu Sofi memperjelas.
"Kalau gitu aku yang pergi beli makan." ucap Anya
"Biar aku saja." Bryan menawarkan diri.
"Hmm sekalian pergi berdua saja." tutur ibu Sofi
"Iya, berdua itu lebih baik." Ujar Aska menggoda.
"Tuhan menciptakan manusia itu berpasangan, jadi tidak baik jalan sendirian." Brandy menambah bumbu.
Anya membuang mukanya yang sudah memerah. Sedangkan Bryan, menahan kesal. Sekarang, mereka yang jadi topik terkini.
"Jangan kelamaan menjomblo, Bry." Aska menasehati atau mungkin mengejek?.
"Jangan mentang-mentang udah mau lamaran, terus aku di ledekin." Bryan memutar bola matanya malas.
"Bukan gitu juga, Bry. Aku hanya mengingatkan. Lagian, Anya juga sudah lama menjomblo. Sekalian saja, kalian berdua berikrar janji."
"Aska." Anya mendumbel.
"Ingat umur Anya, umur kamu sudah kepala tiga." ibu Sofi menambahi.
"Nanti aku pikirkan lagi ucapan Tante dan Aska. Sekarang aku beli makan dulu." Bryan berjalan melewati Anya. Namun sesaat kemudian, Bryan berbalik dan menarik tangan Anya.
"Ikut aja, mbak. Privasi" canda Brandy.
"Brandy." Anya mendesah kesal.
"Ayo." Bryan berhasil membawa Anya.
Aska tau, jika Anya saudara kembarnya itu sudah lama menaruh hati pada Bryan. Hingga tiada setitik celah pun untuk laki-laki lain.
Anya bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta, sekali jatuh cinta maka untuk selamanya. Lalu Bryan? Apakah dia tidak peka dengan perasaan Anya? Bryan peka, hanya saja ia tidak mau jika persahabatan mereka hancur karena cinta.
***
Niken sejak tadi mondar-mandir, membuat ibu Tias jadi jengah.
"Dari tadi mondar-mandir terus, apa tidak cape?" tanya ibu Tias.
"Aku gerogi, ma. Apa ini tidak terlalu cepat?"
"Loh, kan kamu yang menerima lamaran nak Aska. Kenapa gerogi sendiri?"
"Mama itu tidak mengerti"
"Tidak mengerti bagaimana mana, sayang."
"Gimana ngomongnya, aku juga bingung"
"Emang mau ngomong apa"
"Rahasia, ma. Kita bicaranya di kamar saja. Kalau kedengeran papa Lukman, aku malu."
"Papa Lukman, kan papa kamu juga"
"Tapi ini masalah perempuan, ma."
"Ya udah, kamu duluan ke kamar. nanti mama nyusul."
Niken mengangguk lalu pergi ke kamar. Ibu Tias mampir ke dapur sebentar, memastikan asisten rumah tangganya menyiapkan makan malam. Karena setelah proses lamaran, akan ada acara makan malam bersama.
"Masalah apa yang ingin kamu bicara, sayang" tanya ibu Tias penasaran setelah memasuki kamar Niken.
"Mama jawab yang jujur, kalau aku bertanya"
"Apa pertanyaannya?"
"Aku gerogi malam pertama, ma. Apa sakit?
"Kenapa bertanya seperti itu"
"Yang aku lihat di google, malam pertama itu sakit. Apa sesakit tangan kita saat teriris pisau?"
"Bisa di bilang seperti itu"
__ADS_1
"Apa kita harus"
"Nanti pertanyaan itu kamu tanyakan saja ke Aska, mama banyak urusan." tutur ibu Tiasa melangkah pergi.
Jika ia menjawab semua pertanyaan yang Niken lontarkan, maka ia tidak bisa menimbang cucu.
Bukan karena Niken mandul, tapi ketakutan Niken akan malam pertama. Itu bisa menyebabkan Niken tidak mau seranjang dengan Aska.
***
Entah mengapa, hari ini Niken melakukan ritual lulur. Ini seperti bukan Niken. Tidak biasanya Niken luluran. What happen? Baiklah, Niken hanya ingin terlihat cantik di mata calon suami.
"Sayang" ibu Tias mengetuk pintu kamar mandi, hanya ingin memastikan Niken baik-baik saja. Secara ini sudah keempat kalinya ia datang ke kamar Niken.
"Iya ma"
"Udah belum mandinya?"
"Belum, ini Niken lagi luluran"
"Tumben, biasanya juga malas luluran?"
"Entah kenapa Niken pengen luluran, ma."
"Oh, baiklah. Yang cepat sayang, bentar lagi rombongan Aska datang. Mama mau turun ke bawah dulu."
"Iya ma"
Niken cepat-cepat menyelesaikan ritualnya. Secara sudah hampir dua jam Niken berada dalam kamar mandi. Niken bergegas mencari gaun yang cocok. Hampir semua isi lemari di keluarkan. Namun tidak ada yang pas di hati.
"Kok tidak ada yang cocok. Ah, Niken. Ada apa dengan dirimu? Biasanya juga, kamu cuek-cuek saja soal penampilan," Niken bergumam pada diri sendiri.
Matanya kembali berbinar, melihat gaun berwarna tosca yang masih tergantung manis. Gaun ini yang pernah di belikan oleh Bryan. Jika kalian lupa, ingatlah kejadian waktu di Mall dulu.
Niken memilih untuk menggunakan gaun tersebut, sangat pas di tubuhnya meski hanya sebatas lulut. Dipadu dengan flatshoes berwarna putih. rambut panjangnya di kuncir memperlihatkan leher jenjangnya.
Namun menyisakan anak-anak rambut yang berjatuhan menemani poni yang menutupi dahinya. Tidak lupa make up tipis mempercantik wajahnya dan lipgloss menghiasi bibir mungilnya.
"Cantik. Anak mama sudah dewasa sekarang." tutur ibu Tias yang muncul di balik pintu.
"Mama." Niken memeluk ibunya erat, tidak percaya rasanya ia sudah menjadi sedewasa ini.
"Ada apa, sayang?"
"Terima kasih."
Ibu Tias hanya mengukir senyum, ia tau jika anaknya belum siap berpisah darinya.
"Jangan mewek, ini baru lamaran. Kamu masih lama disini, bersama mama dan papa Lukman. Kamu bisa meminta maaf padanya, belum terlambat,"
"Apa mama yakin, papa Lukman akan memaafkan kesalahan ku?"
"Kenapa tidak, kamu kan anaknya"
"Step daughter, mom"
"Iya mama tau, tapi papa Lukman saudara ayahmu. Yang artinya"
"Baiklah, lupakan itu. Saat ini fokus saja pada lamarannya, apa kamu sudah siap?" Niken mengangguk.
"Rapikan penampilan mu, mama turun ke bawah dulu. Keluarga Dirgantara sudah tiba, mama harus standby untuk menyambut kedatangan mereka"
"Papa Lukman?"
"Papa Lukman sudah menunggu di depan, sebaiknya mama harus menyusul" Ibu Tias melangkah meninggalkan kamar Niken.
"Mom" Suara Niken memberhentikan langkah ibu Tias.
"Sampaikan terimakasih ku untuk papa Lukman"
"Pasti sayang" Ibu Tias meninggalkan putri semata wayangnya,
Niken menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Kenangan pahit itu masih terngiang-ngiang di kepalanya.
"Kak Satria... andai kamu masih disini" gumamnya pada diri sendiri.
***
Aska baru saja selesai bersiap diri, penampilannya sungguh memukau. Author saja susah menelan saliva melihat penampilan Aska, lupakan authornya. Aska itu milik Niken bukan author.
Aska berjalan menuruni anak tangga, tak henti-hentinya senyuman manis menghiasi wajahnya. Sepertinya, dunia fantasi Aska lebih tinggi. Jangan pernah terlintas di benak kalian jika Aska sudah tidak waras. Aska waras, hanya saja rasa bahagia di hatinya terlalu besar.
"Bang, aku terpesona dengan penampilanmu apalagi senyum di wajahmu membuat aku berdesir aneh." celutuk Brandy menggoda.
"Ingat jenis kelamin mu, Brandy. Aku masih waras." Aska mendesah kesal.
"Ah, Bang. Jika melihat mu--"
"Brandy" Aska memotong kata-kata Brandy dengan geram.
"Hahah maaf bang, aku hanya suka menggodamu."
"Brandy, hentikan aksimu itu" Bryan menengahi.
"Semua sudah siap?" tanya Ibu sofi yang baru saja datang.
"Sudah, tan. Dimana Anya?" ujar Bryan spontan.
"cie cie yang merindukan mbak Anya. Padahal mbak Anya masih disini," goda Brandy
"Bagaikan blangko dan surat yang tak bisa di pisahkan" Vira menambahi.
Bryan memutar bola matanya jengah, kedua insan itu benar-benar ngeselin.
"Aku sudah siap." tutur Anya seperti anak kecil yang baru saja datang seketika mendadak diam karena semua mata tertuju pada dirinya.
"Kamu cantik, An." gumam Bryan yang bisa di dengar seisi ruangan.
"Hmmm... yang sudah mengakui mbak Anya itu cantik, baru sadar sekarang" celutuk Brandy membuat Bryan menahan nafas geram.
"Udah, jangan di lanjutin. Sekarang, kita berangkat waktu sudah mepet." tutur ibu Sofi
"Kok om Bagas dan tante Sarah belum sampai?" tanya Aska
__ADS_1
"Kata papa, mereka langsung ke rumah Niken." Jawab Bryan
Mereka kemudian memasuki mobil, tidak lupa pastel di bawa serta. Mereka menggunakan dua mobil, karena tidak mungkin mereka harus berdesakan di satu mobil.
Aska, Bryan dan Anya satu mobil. Sedangkan Brandy, Vira dan ibu Sofi di mobil yang lain. Perjalanan mereka memakan setengah jam karena jalanan sekarang tidak macet memudahkan mereka melajukan mobil.
Mereka tiba di depan sebuah rumah megah nan mewah, dengan lima lantai yang pasti lebih besar dari rumah Aska. Punya halaman yang cukup luas dan asri, taman kecil penuh aneka mawar yang berbentuk huruf. Lebih tepatnya membentuk nama Niken.
Sebuah mobil berhenti tepat di samping mereka, yang tak lain orang tua Bryan.
"Hallo om, tante" sapa Aska sopan menyalami pak Bagas dan ibu Sarah. Tidak lupa Anya dan juga yang lain ikut menyalami.
"Bagaimana nak Aska, apa kamu sudah siap?" tanya pak Bagas.
"Siap om." Jawab Aska dengan pasti.
"Kita masuk sekarang" ujar pak Bagas melangkah memasuki rumah nan megah ini di ikuti yang lain.
Kedatangan mereka di sambut baik oleh kedua orang tua Niken, mereka di persilahkan masuk dan di suguhkan minum. Pembicaraan tentang lamaran berlangsung lama, pastel yang di berikan oleh pihak Aska di terima baik oleh pihak Niken.
Itu pertanda hubungan ke jenjang yang lebih serius akan dilaksanakan. Penetapan hari pernikahan dan tempat untuk pelancaran acara dan sebagainya.
Aska yang sedari tadi tidak melihat kehadiran Niken di tengah mereka pun menjadi resah. Duduk tak tenang, bicara pun kadang ngelantur.
"Niken lagi di kamar bentar lagi juga turun" tutur ibu Tias yang memahami gelagat Aska.
Aska hanya tersenyum miris, kenapa dirinya tak sabaran seperti ini. Padahal keluarga Niken sudah menerima lamarannya.
"Sabar bang, sebentar lagi Niken akan jadi milikmu seutuhnya. Tinggal di pajang saja di kamar, lalu abang bisa lihatin sepuasnya deh" celutuk Brandy membuat Aska geram.
"Kamu pikir Niken itu patung?" tanya Aska dengan nada kesal namun mampu membuat semua orang tertawa terkecuali Aska sendiri.
Tawa mereka mereda saat sosok Niken menuruni anak tangga, Aska yang sejak tadi gelisah hatinya kini tersenyum.
"Ya ampun, Niken. Kamu itu luar biasa cantiknya, andai bang Aska tidak mendahului maka aku yang akan melamarmu" tutur Brandy yang langsung di hadiahi pelototan dari Aska dan pukulan kecil dari Vira.
"Hallo om, tante." sapa Niken menyalami
"Panggil bunda saja, sayang" tutur ibu Sofi
Niken mengangguk tanda ia mengerti. Niken baru saja ingin duduk, namun tangan Aska mendahului menarik Niken pergi dari ruangan itu. Niken hanya mengikuti langkah kaki Aska.
"Sayang kenapa beberapa hari ini kamu tidak membalas pesan dan tidak mengangkat telpon dariku?" tanya Aska menahan geram karena selama beberapa hari ini dia selalu di abaikan Niken.
Niken hanya diam, ia melangkah menuju bangku taman dan menghempaskan tubuhnya disana. Aska semakin kesal, karena Niken tidak menjawab pertanyaannya.
"Niken!!!" nada suara Aska meninggi
Niken mendongak wajahnya menatap Aska dengan penuh kerinduan. Niken bangkit lalu berhamburan masuk dalam pelukkan Aska. Aska sedikit kaget dengan perlakuan Niken yang tiba-tiba, namun perlahan luapan emosinya mereda.
"Maafkan aku" suara lirih Niken membuat Aska mengendurkan pelukannya dan kini beralih menatap manik-manik mata Niken.
"Kenapa kamu melakukan itu sayang? Apa kamu ingin membunuhku?"
"Tidak"
"Lalu, kenapa kamu tidak membalas pesanku dan tidak pernah mengangkat telpon dariku?"
"Aku"
Tiba-tiba saja Niken bungkam dan tidak melanjutkan alasannya. Saat benda kenyal dan basah ******* bibir mungilnya.
Niken terpaku di tempat, tubuhnya menegang, desiran aneh melingkupi detak jantung yang kini berdetak lebih cepat dari biasanya. Semoga saja Aska tidak mendengarnya.
"Itu hukuman buat kamu, yang sudah mengabaikan aku beberapa hari ini" ucap Aska saat ia sudahi aksinya itu. Niken hanya terdiam, tidak merespon.
"Kamu cantik sekali, sayang. Tunggu, gaun ini kan."
"Iya gaun ini pemberian mas Bryan"
"Kenapa kamu menggunakan gaun ini?"
"Emang kenapa?"
"Aku cemburu"
"Ini hanya gaun, lagian kamu tidak pernah membelikan aku gaun kan?"
"Jangan mengingatkan aku pada masa-masa itu."
"Ya baguslah, kalau kamu ingat"
"Niken"
"Aku ngambek"
"Lagi ngambek kok bilang sih?"
"Karena kamu tidak peka"
"Baiklah, itu salahku. Maafkan aku"
Niken menatap mata Aska dengan intens dan serius. "Aku ingin bertanya sesuatu"
"Soal apa, sayang?" tanya Aska
"Soal malam... ah, tidak jadi" Niken mendorong tubuh Aska menjauh.
"Malam, apa?"
"Ah, lupakan. Itu sangat konyol bila ku tanyakan padamu"
"Malam pertama?"
"Tidak, jangan ngaco"
"Ah, rupanya kekasih ku ini, tidak sabaran menunggu malam pertama. Kita lakukan saja sekarang, bagaimana?" tutur Aska dengan sengaja menggoda Niken.
"Jangan mesum, apa otakmu itu hanya terisi hal-hal negatif?"
"Malam pertama itu nikmat, sayang. Kita sama-sama... eh mau kemana, kenapa aku di tinggal?"
Niken berlari meninggalkan Aska, Niken tidak tahan jika berbicara soal itu. Niken malu, kini pipinya memerah seperti kepiting rebus. Hadeh, mau sampai kapan Niken? Itu kan wajib. Iya bukan sih?
__ADS_1