
Sesuai kesepakatan kedua belah pihak, maka hari ini adalah hari di mana hubungan Aska dan Niken akan di klaim menjadi sepasang suami-istri.
Niken sudah bangun sejak subuh, pasalnya ia harus melakukan ritual luluran or rutinitas mandi yang sangat panjang. Ya maklum lah, namanya juga calon pengantin.
Setelah selesai dengan rutinitasnya, Niken di bantu oleh penata rias untuk di make over. Anya dan Vira juga ikut menemani Niken dalam ruangan tersebut.
"Selamat ya, mbak Ken," ucap Vira dengan wajah bahagia.
"Terima kasih, Vira. Kapan kamu sama Brandy menyusul? Jangan mau di gantungin terus."
"Hmmm kenapa Vira yang di sarani tapi aku yang kesindir ya," tutur Anya cengar cengir.
"Loh memangnya mas Bryan tidak memberikan kepastian atas hubungan kalian?" tanya Niken antusias.
"Belum. Kayaknya Bryan belum moveon dari kamu, Ken," tutur Anya dengan wajah memelas.
"Maafin aku mbak, tapi aku tidak punya perasaan apa-apa sama mas, Bryan," jawab Niken dengan rasa bersalah.
"Tidak apa-apa, lagian aku juga tidak bisa memaksakan Bryan untuk menerima aku."
"Jam berapa akadnya di mulai?" tanya Vira yang sejak tadi hanya menjadi pendengar setia.
"Ehm, jam sepuluh. Siangnya bisa istirahat karena resepsinya di mulai jam tujuh," jelas Niken.
"Kalau gitu aku dan mbak Anya siap-siap dulu. Ini udah jam delapan," tutur Vira
"Oh, iya hampir lupa," ucap Anya tepuk jidat.
Niken hanya tersenyum sebagai jawaban. Anya dan Vira berjalan keluar dari ruangan tersebut.
Niken di make over di kamar Tamu, mengingat kamar Niken paling atas jadi jalan pintasnya ia dan Aska harus berganti kamar. Karena kamar yang lain sudah di isi keluarga Aska dan Niken yang datang dari luar daerah.
***
Aska masih dengan santainya duduk di balkon, wajahnya tak pernah berhenti tersenyum. Lagi bahagia sih, senyum-senyum sendiri entar kesambet baru tau rasa tuh.
Handphone di tangannya selalu di otak-atik, pasalnya ia ingin menghubungi Niken. karena empat hari belakangan ini, Niken mengabaikan nya. Ah, bukan mengabaikan tapi Niken terlalu sibuk dengan kehadiran keluarganya yang datang dari luar daerah.
Katakan saja Aska jealous, di tambah Bryan yang terang-terangan mengakui bahwa Niken masih menempati posisi pertama di hatinya. Ingin sekali Aska menghajarnya habis-habisan, tapi Aska mengurungkan niatnya.
Aska menarik napas lalu menghembuskan perlahan, menetralkan perasaan yang berkecamuk di hatinya. Lupakan kata-kata Bryan, ia harus fokus pada acara pernikahannya sendiri.
[sayang, aku kangen] pesan dikirim.
Aska merasa geli dengan sikapnya sendiri, merasa seperti ABG labil yang sehari tak ketemu dengan pujaan hati rasanya seperti setahun.
Ting
Pesan masuk.
[Tiap hari kita ketemu, kenapa Kangen? Mulai gombal, ya]
Aska memutar bola matanya malas, kenapa balasan nya begitu. Bilang kangen juga napa? Aska lagi berharap kali Ken.
[Bukan gombal sayang, emang benaran Kangen] pesan di kirim.
Pesan masuk.
[Iya aku juga Kangen. Sekarang mandi gih, udah jam berapa sekarang. Jangan bilang kamu lupa akad nya jam berapa]
[Mana bisa lupa, kalau calon istriku secantik kamu, sayang] pesan di kirim.
Di seberang di read doang jangan berharap dibalas lagi.
Aska bergegas mandi, bagaimana pun juga ia harus mempersiapkan diri dengan mantap. Berani menikah dengan gadis cantik maka harus berani terima resiko.
Masa depan rumah tangga itu tergantung kita yang menjalani. Harus jujur, saling mengerti, saling menerima dan saling mengalah.
***
__ADS_1
Niken sudah di make over, kini gaun putih tulang telah melekat di tubuh rampingnya di padukan dengan high heels warna gold. Sungguh menawan, satu kata untuk Niken PERFECT.
Niken sendiri merasa itu bukan dirinya. Tapi realistis, memang itu dirinya yang ada di pantulan cermin. Senyuman terpancar di wajah ovalnya, hatinya berdetak tak karuan. Ini adalah hari dimana ia akan mengikrarkan janji suci.
"Gimana sayang, sudah siap?" tanya ibu Tias yang baru saja muncul di balik pintu.
"Sudah, ma."
"Kalau gitu kita turun sekarang. Aska dan yang lain udah menunggu di bawah."
"Mom," panggil Niken. "Ada apa sayang?" tanya ibu Tias menatap lekat wajah putrinya.
"Aku aku gerogi."
"Mama pernah merasakan apa yang kamu rasakan sekarang, sayang. Tekadkan hatimu, sayang."
"Iya, mom. Thank you."
"Kita turun sekarang," Ibu Tias menuntun Niken keluar dari kamar untuk menemui Aska dan yang lain.
***
Aska telah bersiap, texudo putih sudah melekat di tubuh nya. Hari ini dia begitu berbeda, mungkin karena efek senyam senyum sendiri sedari tadi.
Ah, tampan sekali kamu Aska. Percaya diri tidak apa-apalah yah. Aska kini berjalan keluar menapaki tiap anak tangga, menemui keluarga yang sudah menunggu di bawah.
"Hmm ada yang makin ganteng aja, nih," tutur Brandy yang sedang merangkul bahu Vira.
Aska hanya menampakkan senyum paling merekah, karena ini hari bahagianya dan ia sedang malas meladeni si bocah tengil itu.
"Gimana, Ka sudah siap?" tanya ibu Sofi yang sedang duduk di antara deretan keluarga Niken. "Udah, ma. Niken mana?"
"Ibu Tias sedang manggil Niken."
"Sabar, Ka. Nanti juga bakal keluar. Tidak sabaran amat," goda Anya.
"Eh, kapan mbak Anya dan kak Bryan nyusul nih? Udah nggak sabar nimang ponakan yang imut-imut," celutuk Vira.
"Jangan kebiasaan menggoda orang, kalian juga kapan di resmikan seperti Aska dan Niken," Bryan kini yang menjawab.
"Kak Bryan aja belum, masa kita yang mendahului? Entar di bilang nggak sabaran. Iya nggak sayang," ucap Vira yang di balas anggukan oleh Brandy.
Bryan hanya menahan geram, sekarang dia sendiri yang terkena ucapannya sendiri.
***
Semua mata tertuju pada sosok Niken yang kini keluar dari balik pintu di tuntun ibu Tias. Aska tak berkedip sekali pun, jika berkedip maka ia akan melewati momen ini.
"Waw... cantiknya anak bunda, udah siap, sayang?" tutur ibu Sofi yang kini sudah berdiri di sebelah Niken.
"Uda, ma." jawab Niken malu-malu
Tatapan mata Niken terkunci pada sosok yang tak jauhnya. Tatapan matanya seperti memuja. Tampan. Itulah yang bisa di artikan dari tatapan mata Niken.
Niken meneguk salivanya dengan susah payah, pasalnya Aska sedari tadi tak berkedip sedikitpun dan memandangnya begitu lekat. Jantungnya kini berdebar tak karuan, Niken mengatur napasnya agar tidak terlihat gugup.
"Loh kok masih diam disitu, Ka. Sini gandeng tangan istrimu, kita kan mau jalan sekarang." Ucap Ibu Tias.
"Ah, iya ma."
Aska berjalan mendekati Niken lalu meraih tangan Niken dan menggenggamnya erat.
"Kamu sangat cantik, sayang," bisik Aska.
"Jangan buat aku gerogi, entar aku salah mengucapkan janji."
"Kamu bisa, sayang."
Niken kemudian tersenyum. Aska benar, ia pasti bisa mengucapkan janji suci itu.
__ADS_1
***
Sekitar belasan mobil yang melaju beriringan. Yah, mobil pengantin di iringi mobil keluarga dari kedua belah pihak.
Mobil-mobil itu berhenti di depan sebuah gedung, CRISTAVORUS CHURCH. Mereka berjalan beriringan memasuki gedung tersebut. Disana sudah ada para tamu yang menempati tempatnya masing-masing.
Kini Aska menuntun Niken menuju altar, disana sudah ada seorang pendeta.
"Bagaimana saudara Aska dan saudari Niken, apakah akad nya bisa di mulai?" tanya sang pendeta.
"Iya." serempak keduanya menjawab. Aska menggenggam tangan Niken erat, memberi kekuatan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Baiklah, dengarkan baik-baik pertanyaanku dan jawabalah dari hati nurani kalian. Baiklah kita mulai."
"Saudara Aska Dirgantara, apakah anda bersedia mengambil saudari Niken Puspita Darwin sebagai istri yang akan menemanimu dalam suka ataupun duka hingga maut yang memisahkan? Apakah janji dan jawabmu."
"Saya Aska Dirgantara, berjanji di hadapan Tuhan dan jemaatNya, bahwa saya mengambil saudari Niken Puspita Darwin sebagai istriku dan mencintainya dalam suka maupun duka hingga maut yang memisahkan." jawab Aska dengan lantang.
"Saudari Niken Puspita Darwin, apakah anda bersedia mengambil saudara Aska Dirgantara sebagai suami yang akan menemanimu dalam suka maupun duka hingga maut yang memisahkan? apakah janji dan jawabmu?"
"Saya Niken Puspita Darwin, berjanji di hadapan Tuhan dan jemaatNya, bahwa saya mengambil saudara Aska Dirgantara sebagai suamiku dan mencintainya dalam suka maupun duka hingga maut yang memisahkan." jawab Niken dengan suara tenang dan lembut.
"Baiklah, karena kalian telah berikrar janji di hadapan Tuhan, maka hari ini saya selaku hamba Tuhan menyatakan bahwa saudara Aska Dirgantara dan saudari Niken Puspita Darwin telah SAH menjadi suami istri. Ambillah cincin ini dan pakaikan di jari manis pasanganmu, sebagai tanda bukti bahwa cinta kalian telah di sahkan."
Aska mengambil cincin bermata berlian tersebut dan menyematkan di jari manis Niken, begitupun juga Niken melakukan seperti yang di lakukan Aska.
Sebuah ciuman mendarat di pucuk kepala Niken, dan di balas pelukkan hangat dari Niken. Tepuk tangan riuh terdengar dari para tamu yang hadir. Kini mereka sah di mata Tuhan dan dimata hukum.
Sesi foto bersama berlangsung, baik dari pihak keluarga maupun para tamu mengabadikan momen spesial ini. Momen dimana kita merasa jatuh cinta, lalu memperjuangkan, kemudian berakhir di pelaminan. Jadilah keluarga yang takut akan Tuhan, maka kehidupan rumah tanggamu akan selalu di lindungi dalam keadaan apapun itu.
***
Setelah Akad nikah, semua yang ada di sana kembali ke rumah masing-masing terkecuali Aska dan Niken yang harus menunggu langsung di hotel. Beristirahat sebentar, karena malamnya akan di adakan resepsi yang menghadirkan banyak kalangan.
"Aska, tolong bantuin ini dong," teriak Niken dari dalam kamar mandi.
"Bantuin apa, sayang?" tanya Aska dari balik pintu yang masih terkunci.
"Ini resleting nya."
"Tapi pintunya terkunci, sayan.g"
"Oh iya, bentar,"
Ceklek
Pintu di buka oleh Niken. Nampaknya, Niken sangat kesal dengan resleting yang susah di buka. Niken membelakangi Aska, kemudian Aska membenarkan resleting tersebut.
Aska meneguk salivanya dengan susah payah, melihat punggung Niken yang sangat putih mulus. Membuat sesuatu di bawa sana meronta. Ah lupakan, belum tentu Niken mau kan?.
Dear readers, stop negatif thinking ya.
"Udah belum, Ka." tanya Niken yang membuyarkan Aska dari lamunannya.
"Ah, udah sayang."
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Yang tadi."
"Hm, sama-sama sayang," jawab Aska mengacak-acak rambut Niken.
"Ka, kamu kenapa? Kok, wajah kamu kemerahan gitu?" tanya Niken dengan polosnya.
"Tidak kenapa-kenapa sayang," Aska bohong. Niken hanya mengohria tanpa curiga.
'Aduh Niken, kamu sebagai istri kok tidak peka amat sih?' batin aska.
__ADS_1
Aska melangkah menuju ranjang king size, lalu menghempaskan tubuhnya. Demi menahan gejolak aneh yang membuat Aska keringat halus, Aska memilih memeluk gulingan dan memejamkan mata hingga terlelap. Emang bisa tanpa menyalurkan bisa tidur nyenyak? Aska akan mencoba karena ia tau Niken belum siap.