Bos Cuek Dan Pembantu Jelek

Bos Cuek Dan Pembantu Jelek
Part 26 Morning Sickness


__ADS_3

Pagi menyapa, saat Niken masih enggan untuk beranjak dari posisi tengkurap. Rasa pening dan mual tiba-tiba melanda, dengan malas Niken melangkahkan kaki menuju wastafel kamar mandi untuk mengeluarkan semua isi perutnya.


Huweek


Huweek


Berkali-kali Niken mencoba mengeluarkan semua, namun tidak ada yang keluar. Dengan gontai ia kembali ke atas ranjang. Niken meraih segelas air yang tersimpan di nakas, lalu meneguk habis isi gelas.


Sudah sebulan ini Aska disibukkan dengan pekerjaan kantor yang terbengkalai, dan untuk beberapa hari kedepan Aska harus menginap di hotel karena meeting penting dengan klien.


Bahkan tiket yang di belikan oleh Bryan untuk Aska dan Niken berbulan madu pun hangus karena kesibukan Aska.


Niken melangkahkan kakinya menuruni tiap anak tangga, rasa lapar membawanya ke meja makan.


"Pagi, non," sapa bi Asih yang tengah menyiapkan sarapan.


"Pagi juga, bi."


Niken menghempaskan bokongnya di kursi, namun ia kembali berdiri dan berlari ke arah toilet karena isi perutnya kembali melilit.


Huweek


Huweek


Niken kembali memuntahkan isi perutnya, namun hasilnya tetap sama. Tidak ada apa-apa yang keluar.


"Non, kenapa?" tanya bi Asih yang datang menghampiri.


"Masuk angin, bi," jawab Niken sekenanya.


Niken melangkah keluar dari toilet di tuntun bi Asih, sekarang bukan hanya pening dan mual yang melanda namun badannya pun terasa remuk.


"Antar aku ke kamar aja, bi," pinta Niken pada bi Asih.


"Tapi kan non belum sarapan. Nanti malah sakit loh, non," ujar bi Asih.


"Aku hanya butuh istirahat aja, bi." Niken bersikukuh.


Mau tak mau, bibi Asih menuntun Niken kembali ke kamarnya. Namun sebelum menaiki tangga, tiba-tiba penglihatan Niken mengabur karena rasa pening yang terus melanda dirinya.


"Eh, non kenapa?" tanya bi Asih panik saat Niken tiba-tiba jatuh dan tak sadarkan diri.


Bi Asih panik, entah apa yang harus ia perbuat saat keadaan seperti ini. Mau mengangkat tubuh Niken pun ia tak kuat, apa ia membiarkan Niken terkapar di lantai saja? Tidak mungkin juga.


Terlintas di benak bi Asih untuk menghubungi Aska, ia kemudian mendial kontak tersebut. Nada sambung terdengar di ujung sana, bi Asih berharap Aska mau mengangkat telpon darinya.


"Hallo," suara bariton Aska di ujung sana.


"Hallo, den. Anu, non...", ucap bi Asih gugup, ia tak tahu harus darimana ia menjelaskan.


"Ada apa, bi," tegas Aska di seberang.


"Non Niken pingsan, den."

__ADS_1


"Pingsan? Kok bisa?"


"Iya, den. Pingsan di lantai, den. Bibi tidak kuat mengangkat non Niken."


"Aku kesana sekarang," tutur Aska mengakhiri telpon.


***


Aska panik saat bi Asih mengatakan bahwa istrinya pingsan, ia meraih kunci mobil dan bergegas turun menuju parkiran.


"Mau kemana, Ka?" tanya Bryan saat mereka berpapasan.


"Pulang," singkat Aska.


"Sebentar lagi meeting di mulai, tahan dulu keinginanmu itu."


"Jangan ngaco, Bry. Niken pingsan, kamu tolong handel meeting hari ini."


"Niken pingsan?"


Tanpa mempedulikan pertanyaan sahabatnya itu, Aska melangkah meninggalkan Bryan.


Aska melajukan mobil meninggalkan gedung hotel yang menjulang, dengan kecepatan tinggi ia membelah jalanan yang mulai ramai. Tanpa menghiraukan pengendara lain yang mengumpat karena kelakuan Aska.


Yang ada di benaknya saat ini, hanyalah Niken. Perasaan bersalah menyelimuti dirinya, sudah sebulan ini ia mengabaikan istrinya karena pekerjaan.


Bait-bait doa ia rapalkan, berharap dalam rasa cemas istrinya tidak kenapa-kenapa.


***


Aska menelan salivanya dengan susah payah, ketika melihat tubuh Niken terkapar di lantai.


"Kita bawa Niken ke rumah sakit," tutur Aska pada Bi Asih.


"Baik, den." Aska segera mengangkat tubuh Niken dan membawanya menuju mobil di ikuti bi Asih.


Dengan kecepatan maksimal, Aska mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Perasaan tak tenang terus melingkupi pikirannya, rasa bersalah juga membuatnya menyesali sifat workaholic nya.


Aska memarkirkan mobilnya tepat pintu utama gedung bertingkat itu, MAHENDRA HOSPITAL'S. Beberapa suster datang membantu Aska, membawa Niken menuju ICU.


"tolong istri saya, Ndra," mohon Aska pada seorang dokter bername tag MAHENDRA.


"Kami berusaha melakukan yang terbaik, pak Aska," ucap Mahendra dengan seulas senyum lalu memasuki ruang ICU.


Aska mondar-mandir dengan pikiran yang kacau balau, entah apa yang sudah mengacaukan pikirannya.


Pintu ICU terbuka, menampakkan dokter Mahendra dengan senyum memukau. Aska bergerak mendekati Mahendra dengan rasa penasaran yang melingkupi pikirannya, ia memicing mata melihat Mahendra tersenyum seperti itu.


"Selamat ya, pak Aska," tutur Mahendra menjabat tangan Aska. Aska masih bingung, mengapa Mahendra memberi selamat?


"Kenapa kamu memberi selamat? Apa kamu mendoakan istriku mati?" tanya Aska menatap lekat wajah Mahendra.


"Wow... wow... santai Aska. Aku tidak mendoakan istrimu mati, aku hanya mengucapkan selamat atas perubahan status mu nanti. Otw jadi ayah," tutur Mahendra dengan senyum kikuk.

__ADS_1


"Perubahan status? Otw jadi ayah? apa maksud mu?"


"Astaga, Aska Dirgantara. Kamu itu lelet berpikir atau oon sih?"


"Makanya, jadi dokter itu bicara yang jelas."


"Istri kamu, hamil. Bunting."


"Yang benar? Waw, ternyata do'a ku terkabul. Eh, tadi kamu ngatain Niken kan?"


"Nggak, sana temui istri kamu."


Aska mendengus, namun ia lebih memilih menemui Niken daripada meladeni Mahendra. Mahendra adalah suami Acha Florence adik dari Hanny Florence.


***


"Gimana keadaan kamu, sayang," tanya Aska saat menemui Niken yang di temani bi Asih saat Niken di pindahkan ke ruang rawat.


"Aku baik-baik saja, Ka." seulas senyum menghiasi wajahnya yang putih pucat.


"Apa kata dokter?"


"Aku hanya kecapean."


"Tidak ada yang lain."


"Iya, Ka."


"Apa kamu tidak bohong, sayang?"


Niken berpikir sejenak, lalu tersenyum malu. "Aku hamil, Ka."


"Terima kasih, sayang."


"Untuk apa?"


"Mewujudkan impian ku."


"Impian?"


"Impian ku menjadi seorang ayah, dan aku sangat bahagia saat mendengar kabar ini," tutur Aska, mendaratkan sebuah ciuman di bibir Niken.


"Malu, Ka. Ada bibi," ucap Niken blushing plus malu.


"Tidak apa-apa, kan bibi lebih berpengalaman. Iya nggak bi," goda Aska pada bibi Asih. Bi Asih hanya tersenyum malu dengan ucapan Aska.


"Jangan merayu bibi seperti itu, Ka. Lihat, bibi nya malah malu." Aska membaringkan tubuhnya di samping Niken, mau tak mau Niken bergeser sedikit.


"Ka, apa yang kamu lakukan?" tanya Niken heran dengan kelakuan suaminya.


"Aku kangen, sayang. Biarkan sepert ini, biarkan aku memeluk istri dan anak ku."


"Tapi ini rumah sakit, Ka. Lagian ada bibi."

__ADS_1


"Tenang saja, bibi orangnya pengertian." Niken hanya tersenyum canggung ke arah bi Asih, di balas anggukkan dari bi Asih. Bi Asih bergegas keluar meninggalkan majikannya.


__ADS_2