Bos Cuek Dan Pembantu Jelek

Bos Cuek Dan Pembantu Jelek
Part 5 Wanita Dari Masa Lalu


__ADS_3

Aska duduk berhadapan dengan Niken, sedangkan Bryan memilih duduk di samping Niken.


Niken merasa canggung saat Aska menatap ke arah nya. Bagaimana bisa Aska meminta Niken untuk tidak menggoda Bryan sedangkan Bryan malah nempel terus. Bisa dibilang seperti blangko dan surat.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka sejak tadi. Ada kerinduan yang mendalam yang terlukis di pelupuk mata nya. Shaine berjalan menghampiri meja di mana Aska berada.


"Apa kabar, Aska" Suara lembut nya membuat ketiga insan itu menoleh. Aska tidak menyangka bisa bertemu dengan wanita yang selama ini dia rindu kan sekaligus sosok yang Aska benci.


Aska bangkit dari duduk nya, ingin sekali memeluk wanita yang dia rindu kan. Namun terselip kembali masa lalu yang sudah meluluhlantakkan dunia Aska. Di luar dugaan, Shaine langsung memeluk Aska.


"Aku merindukan mu, Ka" Ucap shaine Aska tidak bergeming. Niken yang sejak tadi melihat adegan itu hanya menundukkan kepala.


"Maaf Sha" Aska mencoba melepaskan pelukan Shaine.


"Apa kamu tidak merindukan aku?"


"Aku sudah punya pacar"


"Aku tidak percaya kamu sudah melupakan aku" Aska berjalan ke samping Niken dan menarik Niken ke dalam pelukkan nya.


"Ini pacar aku, Sha. dia lebih baik dari kamu dan yang pasti dia tidak pernah menghianati aku"


Niken yang tiba-tiba di peluk Aska, tidak mampu melakukan apa-apa. Jantung nya berpacu maraton, ada rasa yang tidak di mengerti Niken namun serasa nyaman di pelukkan Aska.


"Aku pergi tapi jangan pikir aku akan menyerah, Ka" Shaine berlalu dari sana namun dengan janji akan memperjuangkan cinta Aska.


"Tuan" Suara Niken menyadarkan Aska, cepat-cepat Aska melepaskan pelukkan nya.


"Jangan kegeeran"


Lihat Jutek nya kumat lagi. Niken hanya membuang muka. Bryan yang sedari tadi menjadi penonton mendengus kesal, benar-benar si Aska.


***


Aska berjalan menuju eskalator, Niken dan Bryan mengekori. Mereka kembali ke lantai 1 Mall. Mengunjungi beberapa pakaian store. Bryan membelikan beberapa potong pakaian dan sandal untuk Niken.


"Mas, ini kebanyakan. Lagian aku tak punya uang" Niken yang melihat barang belanjaan yang numpuk. entah sudah berapa banyak pengeluaran Bryan hari ini.


"Tidak apa-apa, hitung-hitung ini hadiah buat kamu"


"Tapi mas"


"Halah bilang saja suka, masih sok jual mahal" Belum juga Niken melanjutkan kata-kata nya, Aska sudah menyela.


Tak terbendung sudah air mata Niken, butiran kristal itu kini mengalir di pipi Niken. Niken berlari meninggal Aska yang masih cuek.


"Kamu itu benar-benar keterlaluan, Aska. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Niken, aku tidak bisa memaafkan kamu" Ujar Bryan meninggalkan Aska untuk mengejar Niken. Niken berlari keluar dari Mall, menyusuri jalan yang entah kemana. Hati nya benar-benar terluka.


"Niken" Bryan memanggil, mencari namun yang di cari sudah tak nampak di depan mata. Aska baru menyusul, di hadiakan bogem mentah oleh Bryan.


"Apa-apaan kamu Bryan?" Aska memegang pelipis nya.


"Niken hilang, puas kamu?"


"Oke, aku akan cari dia" Bryan yang masih geram, menahan emosi nya.


Aska tidak menyangka sahabat nya bisa memukul nya hanya karena seorang wanita. Kalau terjadi sesuatu dengan Niken, ini semua salah ku. andai aku bisa menjaga ucapan ku.


Aska mencambak rambutnya frustasi. Aska bergegas naik ke mobil saat Bryan sudah keluar parkiran. Mereka menyusuri jalan dengan keheningan tanpa ada yang membuka pembicaraan.

__ADS_1


Jauh di lubuk hati Aska, dia menyesali perbuatannya. Sedangkan Bryan hanya bisa berdoa dalam hati, semoga Niken tidak bertemu orang jahat.


Jika Niken tidak ditemukan, Aska yang harus bertanggung jawab atas semua ini. Kasian Niken. Pikir Bryan dalam hati.


***


Bryan mengemudi kan mobil perlahan, mata nya menyusuri tiap trotoar yang mereka lewati berharap Niken ada disana. Aska yang sejak tadi frustasi dengan kelakuan nya sendiri, tiba-tiba menyuruh Bryan menghentikan mobil nya.


"Ada apa, Ka?" Aska tidak menjawab, namun Aska segera turun dari mobil. Bryan yang tidak mengerti maksud Aska pun ikut turun.


Aska berjalan menuju seorang gadis yang tengah menangis di pinggir trotoar. Bryan kini mengerti saat Niken terpampang jelas di depan mata.


"Niken" Niken menoleh dan bangkit saat mendengar suara Aska.


"Tuan" Niken segera menghapus air mata nya. Aska langsung memeluk Niken begitu erat, sampai-sampai Niken tidak bisa bernafas. 


"Maafkan aku sayang" Niken berusaha meyakinkan diri nya bahwa apa yang Ia dengar bukan lah halusinasi.


"Tuan, tolong lepaskan, saya sesak nafas" Aska melonggarkan pelukkan nya, Niken melihat setitik kristal di pelupuk mata Aska. Niken tidak mengerti mengapa Aska menangis, tapi yang Niken tau jika seorang laki-laki menangis itu benar-benar tulus.


Bryan hanya bisa menyaksikan dari jauh.


Ada rasa senang karena Niken sudah di temukan dan ada rasa sakit ketika mendengar Aska menyebut kata sayang. Niken ingin memastikan kata yang sudah Aska ucapkan namun tidak mau berharap lebih. 


"Niken, maaf tadi aku terbawa perasaan" Sebelum Niken ingin bertanya, Aska sudah mendahului. Aska melepaskan pelukkan nya.


"Tidak apa-apa Tuan, aku tau itu" Niken tersenyum kecut, mungkin Aska tanpa sadar mengucapkan itu.


Tapi bukankah orang yang mengucapkan sesuatu tanpa sadar adalah benar-benar dari hati?


"Niken, sebaiknya nya kita pulang sekarang. Bryan sudah menunggu di Mobil" Aska menuntun Niken menuju mobil. Niken tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Bryan saat melihat Aska memeluk nya erat seperti itu dan apa Bryan juga mendengar kata itu?


***


Sudah beberapa minggu ini aku menginap di rumah Aska, pasti kalian akan bertanya mengapa? Aku kabur dari rumah karena di jodohkan.


Beberapa hari yang lalu aku baru tahu, jika wanita yang akan di jodohkan dengan ku adalah Niken. Jangan tanya dari mana aku tahu, Brandy adik ku mengirimkan fotonya ke handphone ku. Kata Brandy, mereka adalah teman sekolah.


Betapa bodoh nya aku tidak menerima perjodohan tersebut. Andaikan aku menerima, Tidak akan ada Aska di antara kami.


"Mas, kenapa melamun?" Niken membuyarkan lamunan ku


"Niken, boleh kita bicara?" Ku beri isyarat agar Niken duduk di samping ku.


"Ada apa mas?" Aku menatap mata nya lekat, mencari sebuah kejujuran disana.


"Jawab dengan jujur setiap pertanyaan ku"


"Mas kan belum bertanya, lalu bagaimana bisa aku menjawab" Niken menjawab ku dengan senyum manis. Ya Tuhan andai dia sudah menjadi istri ku, takkan ku biar kan satu pun mendekati nya sekali pun itu Aska.


"Mas."


"Ah iya Niken, Aku hanya ingin tahu bagaimana bisa kamu bekerja di sini?"


Niken menundukkan kepala.


"Aku di jodohkan mas. Jadi aku minggat dari rumah"


"Apa kamu kenal siapa laki-laki itu?" Niken menggeleng.

__ADS_1


"Apa kamu menyukai Aska?"


"Aku tidak mengerti dengan perasaan ku Mas"


"Apa kamu menyukai aku?" Niken mendongak kepala nya dan menatap ke arah ku.


"Aku mengagumi dan menyayangi mu mas, tapi itu sebagai adik ke kakak."


Deg


Pupus sudah harapan ku. "Andai aku adalah laki-laki yang di jodohkan dengan mu apa kamu mau?"


"Maksud mas?"


"Bukan apa-apa. Oh iya Aska sudah berangkat kerja?" Aku alihkan saja pembicaraan karena aku tak sanggup mendengar kata tidak dari mulut Niken.


"Sudah mas, dari tadi mas belum sarapan. Mas sarapan dulu gih"


"Kamu temani aku sarapan ya"


"Tapi mas, tadi aku sudah sarapan bareng Tuan. Masih kenyang mas" Niken andai kamu tau, aku terluka.


***


Ku lihat Niken sedang membersihkan halaman belakang sambil bernyanyi. Aku berjalan mendekati nya, andai saja Niken adalah pacar atau istri ku, Ingin sekali aku memeluk nya dari belakang. Tapi sayangnya itu hanya mimpi.


"Niken" Ku sapa dirinya yang mungkin tidak menyadari kehadiran ku.


"Eh mas, ngagetin aku saja" Niken memukul kecil lengan ku.


"Niken"


"Iya mas, ada apa?"


"Boleh aku peluk kamu sebentar? Kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa " Niken mengangguk, itu tandanya aku punya kesempatan untuk bisa memeluk nya.


"Terima kasih" Ku peluk tubuh Niken erat, aku tak ingin melepaskan nya. Niken adalah orang yang baik, mengapa aku sia-siakan perjodohan itu?


"Mas"


"Iya" Jawab ku tanpa melepaskan pelukkan ku.


"Mas, aku merasa suatu saat Mas akan meninggalkan aku atau itu hanya perasaan ku saja? " Aku melepaskan pelukkan ku sebentar, aku menatap mata nya ada sebuah kesedihan tersirat disana.


"Niken, aku selalu ada buat kamu, kapan pun itu saat kamu butuh aku pasti ada" Niken memeluk ku. Ya Tuhan andai pelukkan ini abadi.


"Terima kasih mas" Aku merasa Niken menangis, karena pundak ku sedikit basah. Ku lepaskan pelukkan nya.


"Hei kenapa menangis?"


"Aku terharu mendengar nya mas"


"Ah dasar gadis cengeng" Ku acak-acak rambut nya. Niken mengejar ku dan akhirnya kita Kejar-kejaran.


Ku perhatian wajahnya meskipun kusut begitu masih saja cantik. Mungkin banyak wanita cantik di luar sana, tapi bagi ku Niken gadis yang berbeda.


Niken selalu berpenampilan apa adanya. Berpakaian yang sopan, dan tutur kata yang menyejukkan hati. Aku selalu menyalahkan diri ku sendiri, mengapa aku menyia-nyiakan perjodohan itu.


"Mas, aku mau mandi dulu. Setelah itu aku mau ke pasar untuk membeli sayur. Mas mau ikut?" Aku mengangguk saja dari pada bete sendirian di rumah sebesar ini.

__ADS_1


__ADS_2