
Sebuah senyuman licik muncul dari sosok di balik mobil sedan hitam, yang terparkir tak jauh dari komplek perumahan Aska. Ketika melihat mobil Aska keluar dari komplek ia segera menghubungi seseorang di ujung sana.
"Dia baru saja keluar, terus awasi dia. Lakukan apa yang aku perintahkan, jangan sampai kalian gagal. Aku tidak ingin dengar kata gagal."
Aska melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, karena ia harus sampai tempat tujuan dengan cepat. Ia baru saja menerima telpon dari seseorang yang tidak mau mengatakan tentang identitasnya. Ia juga yang mengatakan bahwa sekarang Niken di sekap di sebuah gudang tua.
Aska memarkirkan mobilnya tepat di depan gudang tersebut. Ia lalu bergegas turun, memperhatikan sekelilingnya namun sepi. Aska kemudian melangkah masuk, dengan hati-hati.
Memperhatikan tiap sudut ruangan yang tak terurus, debu beterbangan dimana-mana. Aska tidak menemukan Niken disana, kini Aska baru menyadari ia telah di jebak dan bodohnya ia percaya begitu saja.
Aska berbalik arah untuk keluar, namun tiba-tiba sesuatu yang berat mengenai belakang kepalanya. Penglihatan nya kabur, namun samar-samar ia melihat beberapa orang bertubuh tegap berdiri di hadapannya. Setelah itu semuanya gelap, Aska pingsan.
Aska membuka matanya perlahan, kepalanya terasa berat dan sakit. Ia mengerjapkan mata, mencerna apa yang sudah terjadi dan sekarang ia berada di sebuah ruangan yang sangat besar serta bersi dan kosong. Hanya ada sebuah sofa panjang di sudut ruangan. Ini bukan lagi gedung tua itu.
Aska berjalan ke arah pintu, mencoba membuka pintu tersebut tapi sayangnya terkunci.
"Siapa pun yang ada di luar sana, tolong buka pintunya." teriak Aska frustasi.
Naasnya ruangan ini kedap suara.
Aska mencari handphonenya tapi tidak ada, Aska baru ingat kalau ia meninggalkan handphonenya di dasbor Mobil. Lalu dimana mobil Aska?.
***
Niken mondar mandir tak jelas di balkon kamarnya. Perasaannya tak menentu sejak tadi sore, pikirannya tertuju pada Aska. Berulang kali Niken mencoba untuk menghubungi Aska namun tidak bisa. Semua chatting dari Niken tidak di balas.
Niken kemudian menghubungi Anya, namun Anya mengatakan bahwa Aska tidak disana. Niken kemudian menghubungi Liza sekretaris Aska, namun Liza juga mengatakan Aska sudah pulang sejak siang karena keperluan mendadak.
Satu-satunya yang tersisa sekarang adalah Bryan. Niken berharap, semoga Aska di rumah Bryan.
"Hallo, Ken. Tumben telpon, ada apa?" Suara Bryan di ujung telpon.
"Aska nya lagi di rumah mas?"
"Dia tidak disini, Ken. Coba langsung hubungi dia saja."
"Itu yang buat aku bingung, mas. Nomornya memang aktif tapi tidak di angkat, di chat juga tidak di balas. Aku udah coba nanya ke mbak Anya, tapi katanya Aska tidak disana."
"Coba hubungi kantor nya, siapa tau masih disana."
"Hasilnya nihil."
"Tidak biasanya Aska seperti ini."
"Aku takut sesuatu telah terjadi, mas."
"Jangan khawatir Niken, aku punya teman yang bisa melacak keberadaan Aska. Aku akan hubungi kamu nanti."
__ADS_1
"Iya mas."
Telpon di akhiri, Niken berharap semoga Bryan dan temannya mampu melacak keberadaan Aska.
"Ya Tuhan, apa yang sudah terjadi? Tolong selamatkan Aska, aku tak ingin kehilangan lagi. Amin." doa Niken
***
Brandy yang sedari tadi melihat kakaknya hanya mondar-mandir tidak jelas hanya bisa menahan tawa. Bagaimana tidak, Bryan seperti anak kambing yang kehilangan induknya.
"Sekalian mengembek saja, kak." Celetuk Brandy
Bryan menghentikan aktivitasnya, jengkel setengah mati dengan ucapan Brandy. Apa bocah itu tidak tau kalau Aska sedang dalam masalah? Brandy tau, tapi biasa-biasa saja.
"Kamu pikir, aku ini kambing? Bisa-bisanya bicara begitu padaku." tutur Bryan kesal.
"Hahah maaf. Habisnya, sedari tadi kakak mondar-mandir tidak jelas."
"Aku menunggu kabar perkembangan soal Aska, ini sudah dua jam tapi belum ada kabar dari Dero."
"Nanti juga di kabarin."
Bryan menarik napas dalam-dalam, menahan kesal. Mengingat Brandy, memang selalu santai menanggapi sesuatu. Sedangkan Bryan? Ia tidak bisa tenang, jika itu menyangkut orang-orang terdekatnya.
Sebuah notifikasi masuk di hpnya Bryan, buru-buru ia membuka pesan tersebut. Ia terperangah tak percaya melihat informasi yang di kirimkan Dero.
"Apa Dero sudah mengabari kakak?" tanya Brandy antusias
"Apa kakak tidak ingin memberi tahu Niken?"
"Tapi ini sudah malam, jangan buat Niken jadi khawatir."
"Niken akan lebih khawatir jika kita tidak memberitahu ini padanya."
Sejenak Bryan berpikir, mungkin Brandy benar. Tidak ada salahnya memberitahu Niken, karena memang Niken berhak untuk tau. Bryan menghubungi Niken, menunggu jawaban telpon di seberang.
"Iya mas, apa ada informasi?" suara lembut Niken di ujung telpon.
"Dero sudah mengirim alamat itu, aku dan Brandy akan kesana."
"Aku ikut."
"Ini sudah malam, Niken."
"Aku mohon."
"Ya sudah, aku dan Brandy akan menjemputmu."
__ADS_1
"Iya mas."
Bryan mengakhiri telpon, ia berjalan menuju kamarnya untuk bersiap diri.
Demikian juga Brandy.
Bryan mengemudikan mobil ke alamat yang sudah di kirimkan Dero. Tapi ia mampir menjemput Niken terlebih dahulu. Dengan kecepatan tinggi, Bryan mengemudikan mobilnya membelah jalanan.
Niken berdoa dalam hati, semoga mereka sampai dengan selamat. Ia juga berharap, Aska baik-baik saja. Karena sejak sore, perasaannya sudah tak menentu.
Bryan memberhentikan mobilnya di sebuah rumah yang cukup megah. Rumah Shaine.
***
Aska mendongak wajahnya ketika melihat pintu terbuka. Matanya membulat tak percaya, melihat kehadiran Shaine dan lima orang bertubuh tegap.
"Gimana kabarmu, Aska Dirgantara." tanya Shaine lembut namun penuh penekanan.
Shaine memberi isyarat pada kelima orang itu untuk keluar. Shaine ingin menghabiskan malam ini bersama Aska. Aska tidak menanggapi pertanyaan Shaine. Ia malah membuang muka tidak ingin melihat wajah Shaine sama sekali.
"Aku bawakan makan malam untuk mu."
"Aku tidak butuh makanan darimu Shaine Maharani Brata, aku hanya butuh keluar dari sini." Ucap Aska penuh penegasan.
"Kamu mau keluar? Baiklah, aku akan membawamu keluar. Tapi, setelah kamu habiskan makan malammu." ucap Shaine penuh arti.
"Apa tujuanmu menjembak aku seperti ini."
"Aku hanya ingin, kita hidup bersama Aska. Kamu tau, aku hampir gila karena kamu. Ah lupakan itu, kamu makan dulu pasti laparkan?"
Aska tidak merespon, ia curiga jika Shaine sudah mencampurkan sesuatu dalam makanan itu. Lebih baik menahan lapar daripada harus terjebak karna makanan itu.
"Aku tidak lapar."
Shaine tidak putus asa, jika cara halus tidak bisa merobohkan pertahanan Aska. Maka cara kasar lebih baik. Sekali jentik jari, kelima pria bertubuh tegap itu masuk.
"Paksa dia, habiskan makanan itu." perintah Shaine.
"Apa-apaan ini."
Belum sempat Aska melawan, kelima pria itu sudah membungkam mulutnya. Aska melakukan perlawanan tapi apalah daya melawan lima orang sekaligus. Mereka memaksakan Aska untuk memakan makanan itu.
"Lepaskan dia, kalian boleh keluar." ujar Shaine
"Kamu benar-benar, rubah betina." teriak Aska
"Kita lihat saja, Aska Dirgantara. Berani menolakku sama dengan menggali lubang sendiri,"
__ADS_1
Aska merasakan panas di sekujur tubuh, bukan panas karena keracunan tapi obat perangsang. Aska mencoba mengendalikan diri, namun lagi-lagi obat obat itu bekerja.
Kini Aska di kuasai napsu birahi, ia lalu melucuti semua pakaian Shaine tanpa di minta. Shaine tersenyum penuh kemenangan, Aska tidak akan berkutik lagi setelah ini. Aska sudah tidak waras.