Bos Cuek Dan Pembantu Jelek

Bos Cuek Dan Pembantu Jelek
Part 7 Dunia Wanita


__ADS_3

"Niken"


Niken yang baru selesai mandi dan hanya memakai kimono kaget saat Aksa sudah berada di belakang nya.


"Tuan" Niken kikuk karena Aska memperhatikan dirinya begitu lekat.


"Niken, aku minta maaf tadi aku lagi emosi"


"Bukan nya Tuan sudah keseringan minta maaf nya ya?"


Deg


Ucapan Niken langsung mengenai hati Aska. Benar kata Niken, aku sering minta maaf tapi nanti melakukan lagi, pikir Aska


"Maaf Tuan, aku harus ke kamar permisi" Aska hanya memundurkan tubuh nya memberi jalan untuk Niken. Setelah kepergian Niken, Bryan muncul di samping Aska.


"Gimana rasanya?" Tanya Bryan


"Apa nya"


"Ya rasanya di cuekkin lah, Ka. Pasti sakit ya" Jawab Bryan dengan tampang mengejek.


"Ngaco" Aska meninggalkan Bryan yang masih cekikikan.


Niken yang baru selesai berpakaian keluar dari kamar dan melihat Bryan tengah senyum-senyum sendiri di ruang makan.


"Awas kesambet Mas"


"Eh Niken, sini duduk di sebelah ku"


"Seperti nya Mas bahagia benar"


"Kamu tahu tidak, siapa yang minum minuman tadi?"


"Ya mas kan, tadi mas bilang mau minum"


"Bukan aku yang minum tapi Aska"


"Masa sih mas?"


"Iya" Bryan menatap ke arah Niken yang lagi tersenyum bahagia.


"Kamu senang?" Tanya Bryan lagi


Niken hanya mengangguk.


Aska yang sedari tadi berdiri di anak tangga mendengar obrolan mereka. Ada seberkas senyum di wajah Aska. Sepertinya Aska harus memastikan seperti apa perasaan nya pada Niken. Apakah Aska akan mempertahankan ego nya?


Entah lah Aska masih ragu dengan perasaan yang ia rasakan sekarang. Cinta atau ego yang akan bersemayam di lubuk hati Aska. Jika cinta, lalu bagaimana dengan Bryan? Tapi jika ego, bukankah Aska sendri yang akan terluka?


"Aska, kenapa melamun disitu. Kita udah nunggu dari tadi lapar tau"


Lamunan Aska buyar ketika Bryan memanggil dirinya. Aska menuju meja makan dan mereka menikmati makan siang tanpa obrolan disana.


Niken membersihkan meja setelah makan siang dan mengangkat piring kotor ke dapur.


"Biar aku bantu ya" Tanpa menunggu jawaban dari Niken, Bryan langsung mencuci piring.


"Eh tidak usah biar aku saja, ini kan tugas aku"


"Kan aku juga numpang disini"


"Ya udah terserah mas saja" Hati Aska memanas ketika melihat Bryan berusaha untuk mendekati Niken.


"Sini aku bantu" Niken yang tengah mengepel lantai dapur terkejut saat Aska mengambil alat tersebut dari tangan nya.


"Loh memang Tuan bisa ngepel?"


"Jangan anggap remeh sebelum ada kamu juga aku ngepel"


"Oh" Niken hanya mengangkat bahu. Niken sebenarnya bingung melihat ulah kedua bersahabat itu.


"Kalau pekerjaan ku di ambil alih oleh Tuan dan Mas Bryan, terus aku harus apa?" Tanya Niken.


"Duduk" Jawab mereka serempak.


"Sebenernya kalian itu kenapa sih?"


"Tidak kenapa-kenapa" Jawab mereka serempak lagi.


"Lalu apa yang merasuki kalian?"


"Tidak ada" Jawab mereka kompak.


"Kalian membuat aku bingung, Ya sudah terima kasih sudah membantu saya dan karena pekerjaan ku sudah tidak ada lagi, sebaiknya aku istirahat di kamar" Niken berlalu menuju kamar nya, tinggal lah Aska dan Bryan.


"Kamu kenapa ikut-ikutan" Bryan membuka pembicaraan.


"Terus kamu kenapa bantu Niken?" Aska balik bertanya.


"Ya aku tidak tega aja liat Niken kecapean"

__ADS_1


"Ya sama"


"Kamu cemburu lihat aku mendekati Niken?"


"Tidak"


"Kalau kamu tidak cemburu lantas apa?"


"Jiwa sosial"


"Jujur aja kenapa sih, Ka?"


"Jujur apa lagi, Bry?"


"Jujur aja kalau kamu benar-benar suka pada Niken"


"Sotoy lo" Aska meninggalkan Bryan.


"Eh Ka, mau kemana? Kan belum habis ngepel?"


"Buat kamu saja" Bryan hanya bisa menggeleng kepala tidak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya itu.


"Aska, ego dan gengsi lo ketinggian. Sifat begitu di pelihara " Bryan bergumam sendiri dan melanjutkan pekerjaan Aska yang tersisa.


***


Niken yang sedang mondar-mandir kebingungan mencari Bryan membuat Aska yang melihat aktivitas nya itu menjadi dongkol.


"Kamu itu kenapa dari tadi mondar-mandir terus begitu?" Tanya Aska


"Tuan lihat mas Bryan?" Niken balik tanya


"Bryan nya keluar ada urusan" Aska jengah jika Niken selalu mencari Bryan, bukankah Aska di depan mata?


"Aku minta tolong sama Tuan bisa?" Tanya Niken dengan wajah memohon.


"Ya sudah apa yang harus aku lakukan"


"Tuan tolong belikan aku softek yang ada sayapnya"


"Apa itu softek? Bersayap?" tanya Aska penasaran.


"Tuan bilang begitu saja ke penjual nya nanti di ambilin kok"


"Ya sudah, aku jalan sekarang"


"Terima kasih Tuan"


Sesampainya di minimarket Aska berjalan mengelilingi luasnya minimarket tersebut mencari apa yang dimaksud Niken.


"Ada yang bisa kami bantu pak?" Tanya seorang pegawai.


"Saya lagi cari softek yang ada sayapnya"


"Oh softek mari ikut saya"


Aska mengikuti pegawai tersebut menuju tempat di mana benda bersayap itu berada.


"Ini pak, silakan di pilih. Ada berbagai macam merek"


Oh sial, jadi yang di maksud benda bersayap itu pembalut? Mau taruh dimana muka ku? Aska bicara pada diri sendiri. Aska mengambil beberapa pak dari berbagai macam merek dan menuju kasir.


"Banyak banget pak. Mau buka usaha softek ya Pak?" Tanya sang kasir.


Aska hanya diam tak bersuara. Benar-benar sih Niken nyuruh aku beli begini lagi. Apa dia mau balas dendam?, pikir Aska.


Setelah selesai membayar, Aska segera menenteng benda bersayap tersebut karena ingin cepet-cepat pulang.


***


Aska yang sedang berjalan pulang, memasang muka tebal. Sebenarnya Aska malu karna menenteng benda bersayap begitu banyak.


"Banyak benar mas, beli untuk istri ya?"


Goda Ibu-ibu komplek yang berpapasan dengan Aska.


Muka Aska masam, ketika mendengar kata ISTRI. Bagaimana bisa punya istri, kalau pacar saja tidak punya. Begini nih, kalau jadi jomblo ngenes.


"Ini pesanan kamu. Lain kali, jangan pernah nyuruh aku beli benda itu lagi!" ujar Aska dengan muka culas, sambil menyodorkan benda tersebut.


"Banyak benar, tuan"


"Itu stock satu tahun ke depan. Jadi, tidak usah nyuruh aku beli begituan lagi" 


"Oh, jadi ceritanya tuan marah nih?"


"Tidak marah, tapi malu." Niken ingin tertawa, tapi takut di omelin.


Niken berlalu menuju ke kamarnya, menyimpan Benda-benda tersebut.


Sedangkan Aska, hanya menggerutu tidak jelas. Bryan yang baru saja pulang, melihat sahabatnya acak-acakkan tak karuan.

__ADS_1


"Kenapa, muka kamu di tekuk begitu?"


tanya Bryan.


"Niken"


"Ada apa lagi dengan Niken?"


"Dia nyuruh ku membeli benda bersayap itu"


"Maksud kamu?"


"Softek"


"Oh softek. Hitung-hitung, itu buat nebus kesalahan kamu tadi siang. Lagian nih ya, kamu juga bisa belajar jadi calon suami yang baik"


"Apa kaitannya? lagian kamu enakkan bicara, aku yang malu."


Kata-kata Aska, membuat Bryan tertawa.


Apa Aska tidak tahu, kalau Niken sering meminta Bryan untuk membelikan benda bersayap itu?


"Kenapa ketawa, ada yang lucu?"


" Aku hanya ngebayangin saja, gimana raut wajah kamu saat itu."


"Jangan mulai meledek. kalau kamu jadi aku, pasti malu juga kan"


"Aku sih tidak malu, malah bangga"


"Kenapa bangga?"


"Karena Niken bakal jadi calon istri"


"Ngawur aja lo"


"Loh kok, ngawur sih? Oh aku tau, pasti kamu cemburu kan"


"Jangan ngelantur"


"Bukan ngelantur, tapi fakta" Aska sudah tidak tahan dengan ejekkan Bryan, memilih pergi ke kamar.


***


Angin malam berhembus membuat tubuh Niken menggigil. Malam ini, Niken menikmati bulan purnama yang baru saja muncul.


"Kenapa duduk di luar," tegur Aska.


"Menikmati bulan, tuan"


"Boleh aku duduk?"


"Silakan, Tuan"


Aska duduk disamping Niken, wangi rambut Niken menembus indra penciuman Aska.


Aska melirik ke arah Niken, menelusuri tiap lekukan wajah Niken membuat Aska tidak mampu menelan salivanya.


"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Aska pada Niken.


"Mau tanya apa, tuan?"


"Apa kamu sudah punya pacar atau mungkin kamu menyukai seseorang?"


Niken menoleh ke arah Aska yang masih menatap lekat wajahnya. Pandangan mereka beradu, ada desiran aneh yang mereka sama-sama rasakan malam ini.


"Aku tidak punya pacar, bahkan belum pernah memiliki pacar. Ada yang aku suka, tapi kami tidak sederajat. Aku hanya bisa mengagumi tanpa harus memiliki."


Aska tidak pernah menduga, jika Niken belum pernah memiliki pacar. Pantas saja, Niken terlihat begitu lugu dan siapa laki-laki yang di taksir Niken?Pikir Aska.


"Lalu kenapa kamu tidak perjuangin?"


"Karena orang itu, tidak memiliki rasa yang sama dengan ku"


"Apa dia tahu, jika kamu menyukai dia?"


"Tidak"


"Apa orang itu, Bryan?"


"Bukan"


"Lalu siapa?" Niken tidak menjawab, membuat Aska semakin penasaran.


Cuaca dingin menerpa, membuat Niken memeluk tubuhnya sendiri.


"Kamu dingin?" tanya Aska. Niken hanya mengangguk.


Tanpa persetujuan dari Niken terlebih dahulu, Aska sudah memeluk tubuh Niken. Ingin rasanya Niken menolak, namun hati menghendaki. Niken meletakkan kepalanya di bahu Aska, menikmati semilir angin malam ini.


Tanpa mereka sadari, ada hati yang terluka karena menyaksikan mereka dari balik pintu. Bryan, hanya mampu pasrah.

__ADS_1


Toh, dia sudah bertanya dan mendengar jawaban pasti dari Niken. Bryan juga sudah berjanji, siapapun jodoh Niken kelak, Bryan akan selalu menjaga Niken.


__ADS_2