Bos Cuek Dan Pembantu Jelek

Bos Cuek Dan Pembantu Jelek
Part 4 Sebuah rasa


__ADS_3

Suasana pagi ini di meja makan terasa kikuk antara kedua pria itu. Niken yang baru saja Nongol dari dapur dengan sup ayam di tangan nya mencium aroma tidak baik.


"Sup ayam nya sudah siap" Niken berusaha mencairkan suasana. Namun yang di ajak bicara hanya saling pandang.


"Kalau Tuan dan Mas Bryan tidak mau sarapan tidak apa-apa, Tinggal aku kasih saja ke tetangga sebelah" Niken mulai mengangkat menu sarapan yang ada di meja untuk di pindah kan.


"Tunggu" Ucap Aska dan Bryan bersamaan.


Niken hanya bisa tersenyum melihat ulah kedua sahabat itu.


"Sekarang Tuan dan mas sarapan dulu " Niken beranjak menuju dapur meninggalkan Aska dan Bryan.


"Habis sarapan kita akan bicara" Aska membuka pembicaraan. Bryan yang merasa di ajak bicara hanya diam. Disini lah Aska dan Bryan berada halaman depan rumah.


"Apa yang mau di bicarakan, Ka"


"Aku tidak suka kamu mendekati pembantu itu"


"Loh kenapa? Apa kamu cemburu?"


"Aku hanya tidak mau kamu jatuh cinta dengan seorang pembantu yang tidak selevel dengan mu" Bryan hanya menggeleng kepala mendengar ucapan Aska.


"Aska, Aska. Kamu itu terlalu menutup mata hati. Sampai-sampai kamu tidak bisa merasakan kehadiran seseorang yang sangat baik seperti Niken"


"Dia hanya seorang pembantu"


"Oke fine, Niken hanya seorang pembantu buat kamu. Tapi buat aku, dia orang yang istimewa"


Bryan berlalu pergi dari hadapan Aska. Aska mendengus kesal, kata Istimewa yang terucap dari mulut Bryan mampu membangkitkan amarah di hati kecil Aska. Apakah Aska cemburu? Entahlah. Bryan menghampiri Niken yang tengah mencuci piring kotor.


"Niken"


"Ada apa mas?"


"Setelah kamu bersih-bersih, kamu siap-siap"


"Memang nya mau kemana mas?"


"Temani aku jalan"


"Tapi bagaimana dengan Tuan?"


"Nanti aku yang akan bicara pada Aska"


Niken hanya mengangguk.


***


Seumur hidup Niken, baru ada seorang laki-laki yang mengajaknya jalan. Ada rasa hangat menyentuh hati Niken. Perlakuan Bryan pada dirinya membuat Niken mengingat almarhum kakaknya. Aska yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka semakin kesal.

__ADS_1


"Aku ikut" Bryan dan Niken serempak menoleh ke arah sumber suara.


"Bukan nya kamu mau ke kantor ya, Ka?" Bryan merasa ada yang aneh.


"Aku cancel, tidak baik kalian pergi berdua karena yang ketiga nya setan"


Bryan hanya mampu menahan napas, sedangkan Niken? Dia hanya terdiam mendengar kata-kata Tuan nya itu. Sejak kapan Aska jadi kepo begini? Entah lah yang tau hanya Author.


Hari ini adalah hari paling menyebalkan bagi Aska. Bagaimana tidak? Dua insan yang jalan bersama nya di Mall sebesar ini sedari tadi cekikikan tidak jelas.


"Kalian pikir aku obat nyamuk?" Pertanyaan Aska sontak menghentikan langkah Bryan dan Niken.


"Jangan mulai dong, Ka." Bryan menimpal.


"Sudah mas, Tuan. Jangan berantem disini tidak enak di lihat org" Niken melerai.


"Kalau kamu tidak mau kami bertengkar, sebaliknya kamu jalan di samping ku. Jika kalian berdua bersama terus seperti itu ketiga nya"


"Setan" Bryan dan Niken menjawab bersamaan.


"Dan aku obat nyamuk nya" Ujar Aska ketus.


Aska menarik tangan Niken ke samping nya, sedangkan Bryan hanya menggeleng kepala melihat sifat sahabat nya yang suka berubah-ubah. Apakah Aska mulai membuka hati untuk wanita lain? Bryan berharap semoga dengan kehadiran Niken, sahabat nya itu bisa melupakan masa lalu.


"Mas Bryan" Teriakan Niken menyadarkan Bryan dari lamunannya. Bryan menyusul ke arah Niken, yang ternyata Aska sudah menarik Niken berlalu dari hadapan nya. Niken hanya bisa patuh tangan nya di genggam tuannya daripada kata-kata pedas yang di lontarkannya.


***


"Tuan" Niken membuka pembicaraan.


"Hm" 


"Apa Tuan tidak takut tertular penyakit karena terus menggenggam tangan ku?" Aska menghentikan langkah nya, pertanyaan Niken mengingat kan nya pada kata-kata yang selalu Aska lontarkan. Dengan cepat Aska menghempaskan tangan Niken dan pergi.


"Aska kamu mau kemana?" Bryan yg baru menyusul mereka pun melontarkan pertanyaan, Namun nihil tidak ada jawaban.


"Niken, kamu ikut aku"


"Tapi mas, kalau Tuan balik kesini dan kita tidak ada pasti dia marah-marah lagi"


"Aku akan kirim pesan untuk Aska, nanti dia menyusul"


"Baiklah mas" Bryan membawa Niken menuju ke lantai 2 Mall dan masuk ke sebuah salon.


"Ada yang bisa kami bantu?" Tanya salah seorang karyawan.


"Tolong bantu dia dan setelah itu berikan ini pada dia" Jawab Bryan menunjuk ke arah Niken dan memberikan paper bag tersebut pada karyawan itu. Niken yang kebingungan di bawah oleh karyawan itu pun menoleh ke arah Bryan.


"Aku tunggu di luar" Jawab Bryan yang mengerti arti tatapan itu. Aska yang baru selesai mencuci tangannya di kejutkan dengan notifikasi SMS yang masuk.

__ADS_1


"Aku tunggu di lantai 2" Tertera nama pengirim, Bryan. Aska menuju lantai 2 di sana Bryan sudah menunggu.


"Kenapa menunggu di depan salon seprti ini? Kenapa kamu sendiri?" Tanya Aska setelah berada di depan Bryan.


"Niken di dalam." jawab Bryan.


"Kamu suruh dia nyalon? Yang namanya orang kucel tetap aja kucel, Bryan"


"Aku takut suatu saat kamu akan jatuh cinta pada Niken"


"Aku bukan kamu ,Bryan"


"Apa kamu bisa pegang omongan kamu?"


"Entah lah, aku tidak janji" Bryan hanya terdiam, mungkin benar dugaan nya kalau Aska memiliki rasa yang sama pada Niken


***


Aska dan Bryan yang tengah berbincang, sama-sama menoleh ketika pintu terbuka. Sosok Niken yang mereka tunggu muncul di hadapan mereka.


Celana panjang jeans dan baju kaos tanpa kerak berwarna putih yang di kenakan Niken sangat pas di tubuh nya. Dengan make up natural dan rambut yang di criwil membuat Niken sangat berbeda, cantik sekali.


" Tuan, Mas, hello" Niken melambaikan tangannya tepat di depan kedua bersahabat itu.


Namun yang di panggil tak bergeming. Aska yang berulang kali menelan saliva dengan susah payah, memastikan diri nya bahwa Niken yang ada di depan mata nya sekarang adalah Niken sang pembantu kucel itu. Ada rasa kagum di sudut hati nya.


"Niken, kamu cantik sekali" Puji Bryan


"Terima kasih mas" Balas Niken tersipu malu.


"Biasa saja masih sama" Ujar Aska. Lagi-lagi ego mengalahkan perasaan. Bryan yang mendengar ucapan Aska hanya memutar bola matanya malas.


Sedangkan Niken hanya tersenyum miris, padahal dalam hati kecilnya mengharapkan sedikit saja pujian dari Tuannya. Semua harapan kini pupus sudah.


"Bagaimana kalau kita makan siang dulu, aku sudah lapar" Bryan mencoba mengalihkan pembicaraan ketika melihat sudut mata Niken mengembun. Mereka berjalan menuju cafe yang bersebelahan dengan salon. Setelah mendapatkan tempat duduk dan memesan beberapa menu.


"Mas Bryan, aku ke toilet sebentar" Bryan yang tengah sibuk dengan handphone nya hanya mengangguk.


Setelah Niken berlalu, Aska pun menyusul.


"Niken"  Karena merasa dirinya di panggil, Niken pun menoleh.


"Tuan? Ada apa?"


"Aku harap kamu tidak mengoda Bryan. ingat posisi mu. Kamu hanya seorang pembantu"


"Maksud Tuan?"


"Aku tau, kamu bisa mengerti maksud ku" Bak karang di hantam ombak dan hancur berkeping-keping, begitulah perasaan Niken. Apakah Aska tidak menyadari ucapan nya mampu menyakiti hati seseorang dan hancur berkeping-keping?

__ADS_1


__ADS_2