Bos Cuek Dan Pembantu Jelek

Bos Cuek Dan Pembantu Jelek
Part 27 Morning Sickness 2


__ADS_3

Niken menelusuri tiap lekukan wajah suaminya, sebuah senyuman tercipta saat melihat wajah nyenyak sang suami.


Ini kedua kalinya Aska tidur bersama Niken di rumah sakit, namun dalam situasi yang berbeda. Dulu waktu Aska masuk rumah sakit karena ulah Shaine saat itu. Aska meminta Niken tidur bersamanya tanpa menghiraukan Bryan dan Brandy. Dan sekarang tanpa menghiraukan bi Asih, ia sudah terlelap di samping Niken.


Ceklek


Suara pintu di buka, menampilkan sosok yang mengkhwatirkan keadaan Niken. Namun sekarang ia malah melongo melihat kelakuan Aska. Menyadari kehadiran seseorang di dalam ruangan, Niken hanya memberi isyarat untuk tidak mengganggu Aska.


"Mungkin kecapean, makanya ia ketiduran," jelas Niken pada Anya yang baru datang, tanpa Anya bertanya pun Niken tau dari sorot matanya.


"Terus, keadaan kamu gimana?" tanya Anya dengan nada rendah, takut mengganggu Aska yang sedang tidur.


"Aku hanya kelelahan, butuh istirahat saja. Mungkin besok sudah boleh pulang," jawab Niken dengan senyum manisnya.


"Yah, aku pikir udah ada calon ponakan," tutur Anya dengan wajah cemberut.


Niken hanya tersenyum lebar, menanggapi tingkah Anya. Apa Niken harus memberi tahu kabar bahagia ini?Kalau di pikir-pikir Anya kan ipar satu-satunya, sudah pasti dia berhak tau.


"Mbak An."


"Aku tidak mau ngomong sama kamu, Ken. Aku dalam mode, ngambek," ujar Anya mengerucut bibirnya.


"Hehehe... ya maaf, mbak. Uhm, kata dokter usia kandungan ku sudah tiga minggu."


"Hah, jadi kamu benaran hamil? Berarti bentar lagi aku bakal di panggil tante?" tanya Anya dengan binar-binar bahagia.


Niken hanya mengangguk dan tersenyum manis. See, Anya sangat bahagia kan?


"Terus apa jenis kelaminnya? Cewek? Cowok?" tanya Anya dengan antusias.


"Baru juga tiga minggu, Mbak. Kata dokter, harus check up dulu, supaya bisa tahu perkembanganya," jelas Niken.


"Hehe... aku kan belum pernah hamil, Ken. Jadi aku nggak ngerti soal kehamilan," jawab Anya malu-malu.


"Bagaimana hubungan mbak dan mas Bryan?"


"Udah jadian sih, tapi masih ada hambatan. Aku juga bingung harus bagaimana lagi, Ken."


"Hambatan apa lagi, mbak?"


"Masalah agama, Ken."


"Kan bisa di bicarakan baik-baik, mbak. Agama tidak jadi soal, intinya sama-sama percaya Tuhan."


"Entahlah, aku akan bicarakan ini dengan Bryan."


"Semoga semua baik-baik saja, mbak."


"Amin."


Yah, terkadang cinta itu banyak liku-likunya. Perbedaan antara dua pasangan terkadang menjadi pemicu retaknya sebuah hubungan. Tapi, selalu ada jalan untuk memperbaiki jika benar-benar ada tekad untuk terus bersama.


***


Aska terbangun saat suasana ruang rawat Niken menjadi berisik, padahal awalnya sepi. Aska mengedipkan-ngedipkan matanya guna menetralkan penglihatannya.


Sekarang dengan jelas ia melihat Bryan dan Anya yang duduk berdampingan di sofa, Brandy dan Vira yang dengan santainya nyadar di tembok, ibu Sofi dan ibu Tias yang duduk di dua buah kursi tunggal di samping brangkar.


"Udah bangun?" tanya Niken yang bersandar di samping Aska.


Aska tidak menjawab, namun ia meraih kepala Niken lalu ******* bibirnya tanpa persetujuan. Seketika wajah Niken memerah, matanya membulat tak percaya. Niken jadi malu, kenapa juga Aska nekat seperti ini?.

__ADS_1


"Woi bang, kita-kita disini kali," celetuk Brandy


"Di kirain kita obat nyamuk apa," sambung Vira.


"Tau tempat kali, Ka," ujar Bryan.


Aska melepaskan ciumannya, dengan wajah sumingrah ia menatap ke arah sumber suara.


"Kenapa? Jealous? Tidak suka? Makanya, cepat halalin," tutur Aska memainkan alisnya hingga turun naik.


Bryan memutar bola matanya malas, sedangkan Brandy dan Vira memicing mata menatap ke arah Aska.


"Bang tidak kesurupan kan?" tanya Brandy nada ingin tahu.


"Aku masih waras," jawab Aska.


"Udah-udah. Kalian ini kenapa tiap kali ketemu selalu saja adu mulut," ucap ibu Sofi menengahi.


"Bang Aska tuh, tante," tuduh Brandy.


"Kok jadi aku, sih?" bela Aska.


"Kok mulai lagi?" kini ibu Sofi pusing sendiri. Brandy malah nyengir, sedangkan Aska mendengus.


"Bi Asih kemana?" tanya Aska saat menyadari ketidakberadaan pembantunya.


"Udah di antar pulang sama mas Bryan," jawab Niken. Aska hanya mengohria lalu turun dari brangkar.


"Karena saya lagi dalam mode bahagia, karena kehadiran calon bayi kami dan karena rasa sayang saya untuk istri tercinta, maka kalian boleh request apapun dari saya," tutur Aska.


"Apapun bang? Wah... kayaknya abang bakal bangkrut nih," celetuk Brandy.


"Aku mau candle night bareng Vira di paris," sambung Brandy.


"Tapi, bang Aska yang bilang request apapun," bela Brandy.


"Tidak apa-apa, Bry. Sekalian saja request supaya dia pergi dari Indonesia juga bakal aku kabulin," ucap Aska meledek.


"Nggak jadi request," ujar Brandy cemberut.


"Haha" tawa mereka menggema.


Ada-ada saja, tapi itulah keunikan mereka. Tidak ada yang namanya bertengkar, tidak ada yang namanya adu jotos dan sejenisnya. Palingan adu mulut sih, iya.


***


Setelah keputusan request to request, maka makan malam bersama adalah jalan yang mereka ambil sama-sama tapi setelah Niken keluar dari rumah sakit.


Akhirnya mereka pun berpamitan, menyisakan pasangan suami istri yang terlihat sangat bahagia itu.


"Kenapa harus di depan mereka sih, Ka," tutur Niken tiba-tiba.


"Kenapa?"


"Jawab, Ka."


"Ya karena aku sayang kamu," jawab Aska santai.


"Tapi aku malu, Ka. Lagian ada mama sama bunda juga."


"Santai, sayang. Aku hanya ingin membuat mereka iri."

__ADS_1


"Tapi tidak frontal begitu juga kan." kesal Niken dengan tingkah menyebalkan suaminya itu.


"Sorry, sayang. Lupakan itu, kita pikirkan saja nama untuk bayi kita."


"Kan kita belum tau cewek apa cowok."


"Iya juga sih, tapi kalau cewek aku suka dengan nama Asni Gabriella Dirgantara."


"Artinya?"


"Asni artinya Aska dan Niken."


"Bagus juga. kalau cowok?"


"Belum kepikiran nama cowok, sayang."


Niken manggut-manggut, tanda mengerti.


Dari arah pintu muncul dokter Mahendra dan seseorang yang juga berpakaian dokter. Mahendra tersenyum saat melihat Niken sedang duduk bersandar.


"Gimana keadaannya, bu Niken," tanya Mahendra.


"Sudah mendingan, dok."


"Kita periksa dulu."


Mahendra memeriksa kondisi Niken, dengan senyum mengembang ia mengatakan kondisi Niken masih stabil.


"Kapan boleh pulang, dok?" tanya Niken


"Besok sudah boleh pulang, tapi tidak boleh cape-cape dan harus banyak istirahat."


"Baik, dok."


"Oh iya, kenalin ini dokter Gita. Dokter kandungan yang menangani ibu Niken."


"Hallo, Gita." ucap wanita rambut setengah bahu itu menjabat tangan Niken dan Aska.


Aska menarik tangan Mahendra keluar, meninggalkan dokter Gita yang memeriksa keadaan Niken.


"Ada apa, Aska?" tanya Mahendra saat mereka sudah di luar.


"Kamu selingkuhin Acha?"


"Jangan asal nuduh."


"Aku tidak menuduh, tapi kelihatannya kalian dekat."


"Haha Aska-Aska."


"Kenapa tertawa?" heran Aska.


"Gita itu saudara gue."


"Masa sih? Perasaan kamu anak tunggal."


"Sepupu." singkat Mahendra.


"Terus Acha kemana? Bukannya Acha juga dokter kandungan?"


"Acha baru lahiran satu minggu lalu, jadi cuti."

__ADS_1


"Selamat deh, aku pikir kamu aneh-aneh." Mahendra hanya tersenyum, mengingat Acha sudah di anggap adik sendiri oleh Aska jadi wajar kalau ia mencurigai Mahendra menduakan Acha.


__ADS_2