
Aska membawa Niken kembali dalam kamar hotel, kamar yang sejak siang sudah mereka tempati.
Aska melepaskan pakaiannya yang tertinggal hanyalah boxer yang melekat di tubuhnya. Dulu, saat ia pertama kali bertemu Niken dengan penampilan seperti ini, saat itu keduanya menjerit histeris karena malu.
Namun sekarang, sudah tidak tabu lagi bagi Aska berdiri dihadapan Niken dengan mode setengah vulgar ataupun full vulgar.
Niken hanya mampu menutup mata, melihat suaminya yang bertelanjang dada seperti ini. Ia ingin sekali melepaskan gaunnya karena gerah, meski AC lagi on hingga 15°c. Namun Niken membatalkan niatnya, takutnya Aska berpikir yang macam-macam.
Sesuatu dalam tubuhnya bergejolak aneh, menyamai detak jantung yang memompa semakin kuat saat melihat tubuh sixpack suaminya. Niken menggeleng kepala, mengapa pikirannya malah menginginkan suaminya? Perlahan ia membuka mata, mencari sosok yang tadi berdiri di depannya. Tetapi Niken tidak melihatnya, apa Aska di kamar mandi? Ah, mungkin lagi bersemedi.
Niken cepat-cepat membuka gaun yang masih melekat di tubuhnya, ini kesempatan Niken untuk melakukannya sebelum Aska kembali dari kamar mandi karena tidak mungkin bagi Niken menyamai Aska yang suka vulgar akhir-akhir ini.
Namun dewi fortune tidak memihak padanya, Aska muncul di saat gaun itu sudah melorot sampai ke bawah. Niken cepat-cepat meraih selimut tebal untuk menutupi dirinya.
Tapi sebelum selimut itu menutup sempurna di tubuh Niken tiba-tiba saja tubuhnya oleng dan ambruk karena kakinya tersangkut gaun yang belum terlepas sempurna.
Aska yang melihat Niken hampir tumbang, dengan gerakan super cepat ia menangkap tubuh istrinya itu. Alhasil, tubuh Niken menidih tubuh Aska.
Aska hanya cengar cengir tidak jelas melihat wajah istrinya yang sangat imut dalam keadaan seperti ini. Sakit di punggungnya akibat terbentur lantai seakan-akan menghilang begitu saja, saat Niken berada dalam pelukannya.
Niken perlahan membuka matanya memastikan dirinya baik-baik saja, pasalnya ia terjatuh namun tidak merasakan sakit tapi sesuatu bergulat manja di pinggangnya.
Matanya terbelalak tak percaya, saat ia tersadar bahwa Aska sedang berada dibawah tubuhnya. Pesona Aska sehabis mandi sungguh menggugah selera, wangi sabun yang menusuk indra penciuman membuat Niken merasakan sensasi aneh.
Niken mencoba menetralkan nafasnya yang menderu tak karuan. Detak jantungnya bisa terdengar oleh Aska, tubuhnya kini membeku tanpa pergerakan.
Niken mencoba melepaskan dirinya, namun sayang nya Aska sudah tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Pelukan di pinggang Niken makin di pererat, hingga tanpa spasi di antara mereka.
Niken mampu merasakan gelora yang timbul di tubuh Aska, sesuatu yang mampu membuat Niken merasakan sensasi aneh di bawah sana.
Niken tak mampu menelan salivanya saat Aska mulai beraksi ******* bibir mungilnya. Perlakuan Aska tanpa paksaan, ia hanya menunggu Niken untuk membalasnya.
Niken ingin memberontak, namun sayang nya seperti hadir sebuah bisikan yang menyuruh Niken untuk tidak mengecewakan suaminya malam ini.
Meski masih canggung dengan keadaan, perlahan Niken membalas perlakuan manis dari Aska. Sepertinya dewi fortune berada di pihak Aska. Good luck Aska.
Kalian berimaginasi sendiri yaa karena tidak ada adegan ena-enanya.
Di larang BAPER, kalau terlanjur baperan maka peluk lah pasangan mu. Karena author tidak mau bertanggung jawab wkwkw.
__ADS_1
***
Pagi menyapa sinar mentari mulai menyinari bumi tempat manusia berpijak dan bertahan hidup. Tempat manusia memperbanyak penghuni bumi, seperti ayat suci yang menyeruhkan manusia untuk berkembang biak dan penuhilah bumi seperti bintang di langit dan pasir di laut.
Demikianlah, kedua insan yang sedang di mabuk asmara. Menciptakan bayi- bayi gemas nan imut sebagai tumpuan masa depan di hari tua.
Niken menggeliat karena pergerakannya seperti terhimpit sesuatu, sebuah tangan kekar memeluk pinggangnya erat. Kedua sudut bibir Niken tertarik keatas, merasakan hangat pelukan Aska dan kenyamanan yang sudah Aska ciptakan. Nafasnya beraturan, pertanda pemiliknya sedang mengembara di alam mimpi.
Niken merasakan sekujur tubuhnya lemas, terlebih nyeri yang meradang di bawa perutnya sangat membuat Niken tak nyaman. Ini yang sangat Niken takutkan selama ini, tapi nyatanya Aska memperlakukannya dengan lembut dan hati-hati.
Perlahan Niken melepaskan tangan Aska, ia berniat untuk turun lalu mengenakkan pakaian namun na'as Aska kembali memeluknya semakin erat.
"Mau kemana, sayang. Ini masih pagi" suara serak khas orang baru bangun tidur.
"Aku mau mandilah, aku tidak mau badanku bau" tutur Niken dengan nada sedikit mengejek.
"Memangnya, sudah berapa hari tidak mandi?" pertanyaan Aska spontan membuat Niken mengerucut bibirnya.
"Bukan bau badan yang aku maksud, tapi bau spr--" ucapan Niken terputus karena Aska sudah dulu ******* bibir mungilnya.
Niken mendorong tubuh Aska menjauh, secara ia tak mau ada aktivitas sepagi ini. Niken belum mampu menipiskan rasa nyeri di setiap pergerakan tubuhnya dan sekarang Aska menginginkannya lagi? Astaga Aska.
"Tapi, Ka. Aku tidak bisa"
"Ya sudah tidak apa-apa, tapi jangan marah kalau aku cari di luar sana"
"Maksudnya apa, cari di luar?"
"Hmmm, masa tidak mengerti sih sayang?"
"Hah dasar ya" ucap Niken dengan kesal.
Gulingan melayang di pundak Aska, Niken memukulnya berkali-kali. Bukannya marah, Aska malah cengengesan lalu meraih Niken dalam pelukannya.
"Mana berani aku cari di luar sana, kalau istri ku galak seperti ini. Aku tidak mau mati konyol seperti Satria. Apalagi belum punya anak dari kamu"
"Apaan sih" ucap Niken menyikut perut Aska.
"Aw, sakit sayang. Hobi benar nyikut-nyikut perut suami sendiri. Jadi gimana sayang, jatah paginya ada kan?"
__ADS_1
Mau tak mau akhirnya Niken mengangguk juga, biar bagaimanapun Niken tidak mau suaminya jajan di luar sana. Entar dia sendiri yang makan hati. Dan pergulatan di pagi hari pun terjadi, maklum lah pengantin baru.
***
Arah jarum jam menunjukkan pukul 11:00 wita, saat Niken turun dari ranjang king size tersebut. Rupanya, setelah pergulatan di pagi hari membuat Niken tertidur lagi namun tidak dengan Aska.
Niken berjalan terseok-seok menuju kamar mandi guna membersihkan diri, nyeri di bawah perut membuat Niken mengerang kecil. Bagaimana tidak, dua kali Aska meminta Niken untuk memenuhi hasratnya itu. Astaga benar-benar tuh si Aska.
Setelah selesai membersihkan diri, Niken keluar dari kamar mandi bersamaan dengan terbukanya pintu kamar. Rupanya, Aska turun ke bawah untuk membeli sarapan.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Aska begitu melihat Niken berjalan terseok-seok.
Niken memutar bola matanya kesal mendengar pertanyaan Aska yang sepertinya tanpa dosa.
"Ini gara-gara kamu lah, emang siapa lagi" ucap Niken dengan kesalnya.
"Loh, kok jadi aku yang di salahin sih?" tanya Aska gagal paham.
"Ya iya, kamu. Kebanyakan minta jatah makanya begini jadinya kan," ucap Niken mengerucut bibirnya.
"Ah iya, aku lupa sayang." tutur Aska cengar cengir tanpa dosa.
Niken berjalan menuju sofa tempat dimana Aska menghempaskan tubuhnya. Niken mendudukkan bokongnya disamping Aska, sedikit meringis karena perih yang kian meradang.
"Maafkan suamimu ini, sayang" ucap Aska mengelus rambut istrinya.
Pipi Niken bersembu merah, perlakuan Aska padanya sangat menyentuh hati.
"Sudah tugasku sebagai istri, Ka. Lagian, kalau aku menolak maka kamu akan kecewa kan? Aku tau itu"
Aska menarik napasnya pelan, kini rasa bersalah menghinggapi dirinya. Bagaimanapun ia sudah memaksakan kehendaknya.
Aska mengambil makanan yang tadi ia beli, membuka bungkusnya lalu menyuapkan ke mulut Niken.
"Aaa, buka mulutnya dong, sayang"
"Aku bisa sendiri, Ka"
"Buka, sayang. Aku tidak suka penolakan"
__ADS_1
Niken merasa seperti orang sakit yang sudah tak mampu makan sendiri. Namun mau tak mau, jika Aska sudah bertitah maka Niken tetap menurut sebagai istri yang taat pada perintah suaminya.