Bos Cuek Dan Pembantu Jelek

Bos Cuek Dan Pembantu Jelek
Part 12 Undangan


__ADS_3

Aku ingin tertawa saat melihat raut wajahnya yang kesal seperti itu, tapi ku tahan. Aku memikirkan hal konyol apa yang bisa membuatnya tertawa. Tapi, lupakan itu mustahil.


"Tuan Aska yang terhormat, aku hanya membayangkan saja bagaimana nasib mu setelah besok."


"Apa kamu mencoba membuat ku frustasi?"


"Bukan itu maksudku" belum juga kata-kataku terselesaikan, tiba-tiba sebuah ciuman mendarat di bibirku.


Tubuhku menegang, wajahku tiba-tiba memanas. Tidak ada air mata yang keluar, tapi panas menahan malu. Sedangkan dia? Tertawa terbahak-bahak.


"Kamu sudah mencuri, first kiss ku", ujarku membuang muka.


"Jangan salahkan aku, kamu yang membuatku melakukan itu" jawabnya dengan senyuman tanpa dosa.


"Apa kamu sudah tidak waras?"


"Tidak waras? Kamu yang sudah membuatku tidak waras seperti ini. Lagian aku pernah bilang, aku bisa mencium mu kapan saja"


"Sekali lagi kamu lakukan itu aku akan teriak" ku lontarkan sebuah ancaman.


Dia menyunggingkan senyum penuh arti. "Teriak? Oh Terima kasih, itu akan lebih baik. Orang sekomplek akan datang karena teriakanmu itu dan hari ini juga kita akan menikah"


"Ekspetasi macam apa itu?" tanya ku dengan nada kesal tertahan.


"Kurang percaya? Coba saja nona Niken"


"Dasar psikopat" sial, tadinya ingin membuatnya tertawa. Tapi sekarang, aku yang malu di buatnya. Ku pasang wajah ngambek, sekalian mogok bicara.


"Aku minta maaf" ku palingkan wajah, malas meladeni.


"Baiklah, kalau kamu mogok bicara. Tapi, jangan salahkan aku, jika aku harus menggigit bibir mungilmu itu"


"Jangan coba-coba, atau aku akan"


"Akan apa, nona Niken?"


"Membenci mu"


"Masa sih? Aku tidak percaya" ya ampun, dia benar -benar membuat ku terpojok.


Untung sayang, kalau tidak aku tabok saja wajah mesum nya itu. Sekalian ku ulek-ulek mulut nya itu. Ups.. Semoga dia tidak membaca pikiran ku.


Dia menarik tanganku dan aku terjatuh di pangkuannya, saat hendak kabur ke kamar. Aku merasakan sensasi aneh, dada ku berdebar-debar tak karuan. Aku bisa merasakan sesuatu yang... em baiklah don't negatif thinking.


Come on, Niken. Kenapa pikiranmu jadi ngeres begitu. Apa kamu tertular virus ngeres nya dia? Semoga tidak.


"Aku harus mandi, sedari tadi belum mandi," ku utarakan sebuah alasan yang bisa membuatnya melepaskan diriku.


"Oh, pantas saja kamu bau." buset dah, itukan hanya alasan saja buat menjauh. Lagian aku udah mandi.


"Mandi sana. Jadi cewek kok jorok."


"Kamu juga belum mandi."


"Tapi beda"

__ADS_1


"Terserah" dia malah nyengir kuda.


Aku melangkah meninggalkan dirinya, yang masih memperhatikan diriku. Aku ingin istirahat sebentar, setidaknya memulihkan tenaga ku yang sudah terkuras.


***


Tunggu, bukankah itu si tuan cuek? darimana dia bisa masuk? Perasaan tadi pintunya sudah ku kunci sebelum tidur.


"Sudah bangun?"


"Aku baru saja tidur, kenapa kamu mengganggu ku? Aku tau ini rumah mu, tapi tidak seperti ini juga caranya."


"Sedari tadi aku manggil-manggil tapi tidak kau Jawab. Aku pikir, kamu bunuh diri. Makanya aku dobrak saja pintunya."


"Aku juga butuh istirahat"


"Aku tau. Tapi ini jam berapa? Kamu itu tidur apa pingsan?"


Cepat-cepat ku raih weker di nakas, untuk memastikan jam berapa sekarang. Aku hanya bisa tepuk jidat, ternyata ini sudah pukul 21:00 wita. Aku melewatkan makan siang bahkan makan malam.


"Apa kamu over dosis? Tidur macam pingsan saja. Aku sudah lapar, dari tadi nunggu kamu siuman."


"Aku hanya kelelahan"


"Aku pikir kau nekat bunuh diri"


"Karena apa aku harus bunuh diri?"


"Mungkin karena first kiss mu sudah ku colong?"


"No, aku hanya kuatir. Kamu tidur tidak bangun-bangun. lalu aku batal nikah"


"Sama siapa?"


"Kamu" harus ku apakan orang ini?


Niken pov end


***


Sudah seminggu ini, Aska uring-uringan setelah kepergian Niken. Ia merindukan sosok gadis yang sudah mampu membuat nya merasakan kembali kehadiran cinta. Entah mengapa, kehadiran Niken seperti sulap yang mampu mengubah masa lalu.


Aska melangkah ke arah pintu untuk membukakan pintu, ketika bell berbunyi.


"Hallo bang Aska. Wow kenapa penampilan mu jadi seperti ini?Perasaan bang Aska yang aku kenal itu rapi dan bersih. Kok jadi uring-uringan begini?" ucap Brandy nyelonong masuk tanpa di persilahkan sedangkan Bryan mengekorinya.


Melihat tingkah kedua kakak beradik itu membuat Aska jadi jengah. Ia merasa sebagai tuan rumah tidak di hiraukan.


Belum di persilahkan masuk, sudah nyelonong masuk. Belum di persilahkan duduk, sudah duduk saja. Anggap rumah sendiri, dasar kakak beradik sama saja.


"Tumben sekali kamu ngajak adikmu ini? Sudah akur?" Aska bertanya pada Bryan.


"Kamu tau sendiri, dia orang yang bagaimana. Ngotot mau ikut." jawab Bryan malas.


"Ya ampun, dasar Jomblo-jomblo expired. Aku disini tapi masih juga di gosipin." sela Brandy.

__ADS_1


Aska dan Bryan hanya menahan rasa jengkel, kalau berurusan dengan orang yang satu ini mereka tetap kalah.


"Ada apa kalian berdua datang kemari? Kalau hanya untuk mencari Niken, dia sudah pulang." tutur Aska malas.


"Ya ampun bang, jangan sensi gitu napa?Kita bukan mau cari Niken, tapi mau kasih ini." ujar Brandy menyodorkan sebuah undangan.


"Undangan apa ini?"


"Bang bisa baca kan? Ya baca sendiri lah, masih pake nanya." oke, bocah yang satu ini memang harus di kasih pelajaran. Di apain ya biar bisa diam? Di tabok mulutnya kali ya?


"Brandy, kalau ngomong itu jangan cekik juga di batang leher." Bryan menengahi.


"Sensi amat. Cinta kalian di tolak Niken ya? Baguslah, berarti aku punya kesempatan untuk mendapatkan Niken"


"Tidak boleh" jawab mereka serempak.


Brandy bingung melihat kedua orang yang ada di hadapannya saat ini. Kompak sekali, melarangnya untuk tidak mendekati Niken.


"Katakan satu alasan, mengapa aku tidak boleh mendekati Niken." tutur Brandy.


"Karena Niken itu calon istriku." Jawab


Aska dengan nada ketus.


"Kalau Niken tidak jadi menikah dengan Aska, berarti dia harus jadi milikku." sela Bryan tidak kalah judes.


Jawaban mereka membuat Brandy tertawa terbahak-bahak. Bagaimana tidak, Niken yang dulunya cupu dan kutu buku sekarang menjadi ratu yang akan di perebutkan. Brandy sendiri mengakui, dulu Niken jauh dari kata cantik. Meski sebenarnya Niken orang yang berada.


"Kenapa tertawa?" Tanya kedua bersahabat itu serempak.


"Kalian berdua itu sungguh sahabat yang langka. Bertanya serempak, jawab pun serempak, bahkan menyukai gadis yang sama. Aku bingung, kenapa Niken tidak memilih aku saja?." tutur Brandy membuat muka kedua orang itu menjadi masam.


Baiklah Brandy, bersiaplah mungkin sebentar lagi kamu akan di hajar habis-habisan. Kata-katamu itu sudah membuat mereka naik tensi.


"Jangan melihat aku seperti itu." Ujar Brandy. Kedua bersahabat itu mendengus kesal. Kenapa Brandy terlahir menjengkelkan seperti ini.


Aska mengambil undangan tersebut, wajahnya sumringah melihat isi undangan tersebut. Hari yang ia nantikan.


"Kenapa senyum sendiri bang?" tanya Brandy membuat Aska kesal.


"Bukan urusan kamu." jawab Aska.


"Jadi bagaimana, kamu akan datangkan?" tanya Bryan.


"Kalau soal undangan ini, sudah pasti aku akan datang." jawab Aska.


"Padahal aku sedang berharap bang Aska tidak menghadiri undangan itu." ucap Brandy mengejek.


"Tante Sarah waktu hamil, ngidam nya apa sih, Bryan? Kok adik kamu ini terlahir seperti ini?" Tanya Aska.


"Mana aku tau." jawab Bryan.


"Eh, gini-gini aku bukan jomblo ngenes. Dari pada kalian? Om-om ngenes." Brandy mengejek.


"Brandy!"

__ADS_1


__ADS_2