Bos Cuek Dan Pembantu Jelek

Bos Cuek Dan Pembantu Jelek
Part 13 Pesta


__ADS_3

"Brandy!" suara Aska dan Bryan menggema, meneriaki bocah tengil yang ada di harapan mereka sekarang. Kenapa di panggil bocah? Karena, kelakuannya tidak seperti umurnya.


Brandy hanya cengar cengir melihat kedua om-om yang sudah mulai naik pitam. Eh, kok om-om sih? Ya, karena umur mereka tujuh tahun lebih tua dari Brandy dan Niken.


"Apa sih bang, teriak-teriak tidak jelas." tutur Brandy malas.


"Andai kau bukan adikku, sudah ku buang kau di jalanan." Ucap Bryan kesal.


"Sebaiknya jangan di ladenin, Bry. Entar berantem lagi." ujar Aska dengan bijaknya.


"Cie, yang sok menasehati." ejek Brandy.


Aska menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam emosi. Karena ia tau, jika terus meladeni Brandy maka ia akan tersulut emosi.


"Jangan makan hati ya bang, entar hatinya tidak tersisa lagi untuk Niken. Kasian Niken nya, hanya memiliki raga mu tanpa hati, wkwkwk." ucap Brandy lalu berlari meninggalkan Aska dan Bryan.


"Jadi, tiap hari seperti ini kalau ada Brandy?" tanya Aska pada Bryan yang betah di posisinya.


"Ya, begitu lah. Tiap hari bawaannya seperti itu." Aska hanya manggut-manggut. Mungkin punya saudara laki-laki ya seperti ini. Tidak ada akur-akurnya sama sekali.


"Aku pamit dulu, jangan lupa datang."


"Sudah pasti aku akan datang." Aska mengantarkan Bryan hingga depan pintu. Sedangkan Brandy sudah menunggu dalam mobil.


"Bang Aska, semoga besok malam abang sakit perut dan batal datang ya." teriak Brandy.


"Kenapa kamu mendoakan aku seperti itu."


"Biar, Niken nya buat aku aja."


"Buset loe."


"Sadis" Aska ingin membalas, tapi mobil Bryan sudah menjauh.


Aska kembali meraih undangan tersebut, membacanya secara detail. Tertera jelas disana,undangan Ulang tahun dan perkenalan pewaris tunggal NPD GROUP. Sekarang, otak Aska pusing memikirkan kado apa yang pas. Kado istimewa untuk orang yang istimewa.


***


Suasana ballroom NPD HOTEL yang bernuansa putih kian ramai. Para tamu undangan sudah berdatangan mengisi tiap sudut ruang. Kebanyakan kalangan pengusaha yang terikat kerja sama dengan NPD GROUP dan para pejabat. Tidak terkecuali keluarga Aska dan keluarga Bryan.


Aska yang sedari tadi mengedarkan pandangannya, mencari seseorang yang sangat ia rindukan di tengah kerumunan namun sia-sia. Bagaimana bisa mencari sepotong jarum di tengah jerami?


Waktu menunjukkan pukul 19:00 wita ketika suara MC mengeleggar, pertanda acara segera di mulai.


"Baiklah para tamu undangan yang terhormat, sebelum rangkaian acara di mulai. Mari kita sambut yang berulang tahun hari ini. Nona NIKEN PUSPITA DARWIN." suara MC di atas panggung.


Suara riuh tepuk tangan memenuhi ruangan, ketika sosok yang membuat mereka menunggu dengan rasa penasaran muncul di pintu Ballroom.


Niken terlihat begitu elegant di sulap begitu indah dan mempesona. Rambut panjang yang bergelombang dengan poni yang menutupi bagian dahinya.


Memperindah wajah ovalnya yang sudah di poles make-up natural dan lipgloss yang menghiasi bibir mungilnya. Dengan gaun putih yang menjuntai di bagian belakang dan sedikit rendah di bagian depan di padu high-heels warna senada.


Bak putri yunani, begitulah penampilan Niken malam ini.


Niken berjalan ke atas panggung, memberi salam sebagai rasa hormatnya untuk para tetamu undangan yang sudah berkenan hadir. Aska yang melihat kehadiran Niken, langsung memancarkan senyum.


"Hmm... ada yang tidak sabaran nih." celetuk Brandy yang berdiri di samping Aska.


"Diam kamu bocah." tutur Aska malas.


"Eh bang bentar aku mau ngajak Niken melantai. Boleh nggak?"

__ADS_1


"Tidak boleh."


"Kalian berdua itu tidak malu apa, di lihatin banyak orang?" Anya menengahi.


Brandy yang usil malah tertawa, membuat Aska jengah dengan tingkah usilnya itu.


Rangkaian acara demi acara mulai berjalan. Dari perkenalan Niken sebagai pewaris tunggal NPD GROUP, hingga acara makan-makan.


"Hei Niken. Makin cantik aja lo"


Niken yang tengah sibuk berbincang dengan beberapa relasi bisnis, merasa terganggu dengan kehadiran Leo.


"Oh iya nak Niken, ini putra Om." tutur pak Brata memperkenalkan Leo.


"Oh, jadi dia anak om Brata?" tanya Niken pura-pura baru mengetahui.


Namun dalam kecil hatinya, Niken ingin sekali menghajar pria itu sampe babak belur.


Sosok Leo adalah orang yang hampir saja melecehkan Niken, waktu masih di kampus. Masih terbayang dalam ingatan, aksi brutal Leo menggila ketika Niken menolak pernyataan cintanya.


Mengingat hal itu, membuat Niken semakin muak melihat sosok Leo. Niken kemudian meminta diri untuk menemui relasi yang lain. Untuk menghindari Leo, ia harus beralih.


Niken mengedarkan pandangan, mencari sosok yang ia rindukan akhir-akhir ini.


Entah mengapa, Aska sudah berhasil mencuri hatinya.


"Niken." Sapa Bryan yang sedari tadi memperlihatkan Niken.


"Mas Bryan."


"Selamat ulang tahun."


"Terima kasih mas. Yang lain mana?"


Niken hanya tersenyum dan mengangguk, bagaimana pun Bryan tau kalau ia sedang mencari Aska. Dari raut wajahnya terpancar jelas, ada kerinduan yang mendalam disana.


Aska sejenak tertegun, melihat Niken kini sudah berdiri di samping meja bundar yang di tempati dengan nyokapnya dan Anya, satu lagi si biang kerok. Siapa lagi kalau bukan Brandy.


Aska ingin sekali meraih gadis yang tengah ia rindukan dalam pelukannya, namun ia harus menahan diri. Bagaimanapun juga, ia harus menjaga nama baik keduanya.


"Hm... ada yang di hampiri tuan putri nih." celetuk Brandy membuat Aska kesal.


"Hei, apa kabar tuan?" sapa Niken gugup.


Niken sibuk menetralisir perasaan yang bergelora, jantungnya berdetak cepat tak menentu. Kalau saja ia tidak mengingat kodratnya sebagai perempuan, mungkin ia sudah berhamburan masuk dalam pelukkan pria itu.


"Jangan di tahan bang, entar meluap." goda Brandy


Mungkin Brandy benar. Aska langsung bangkit dari duduknya, menarik Niken dalam pelukannya. Peduli setan dengan para tamu undangan. Niken yang tadinya hanya berdiam diri, kini mengeratkan pelukannya. Membenamkan wajahnya di dada bidang Aska.


"Hmm... jangan abaikan kita yang disini. Dunia bukan hanya milik kalian berdua, milik kita juga kali." Celetuk Brandy


Aska dan Niken melepaskan pelukan mereka, sedikit canggung karena sekarang mereka malah menjadi sorotan.


"Aku menunggu jawaban yang masih kamu gantung di alun-alun kota." tutur Aska menakup wajah Niken. Menatapnya dengan intens, berharap jawaban yang Niken ucap nanti tidak mengecewakan.


"Aku mau."


Niken blushing, mendengar ucapannya sendiri. Apa semudah itu? Aska langsung mengecup pucuk kepala Niken, suara tepuk tangan riuh terdengar. Ucapan selamat terdengar mulut para tamu undangan, terkecuali Leo.


"Tante harap, kamu bisa menjaga Niken dengan baik. Sebaiknya acara pertunangan kalian harus di percepatan." tutur ibu Tias

__ADS_1


"Sekalian nikah aja, tan." Celetuk Brandy membuat semua orang tertawa.


"Selamat ya, Ka. Jangan lupa apa yang pernah aku bilang, sekali kamu lakuin itu. Aku tidak segan-segan untuk nikung." ucap Bryan


"Buset lo, jangan ngancem juga kali." jawab Aska dengan kesal.


"Hanya memperingatkan."


Niken hanya tersenyum merona, melihat tingkah sosok-sosok ajaib yang ada di hadapannya saat ini. 


***


Waktu menunjukkan 23:00 wita saat acara selesai. Para tamu undangan berpamitan untuk pulang. Menyisakan dua insan yang lagi di mabuk asmara.


"Niken."


"Iya Tuan."


"Jangan panggil aku seperti itu,"


"Tapi aku sudah terbiasa."


"Ganti."


"Hm mas aja, gimana?"


"Aku tidak suka di sama-samain dengan Bryan."


"Ya ampun, bukan sama-samain."


"Tetap aku tidak suka."


"Jadi ceritanya lagi cemburu nih."


"Ngga."


"Jangan bohong."


"Kalau iya, kenapa? Salah?"


"Ya tidak salah, tapi setidaknya aku tau ada yang cemburu." canda Niken.


Aska mengulum senyum, rupanya ia di kerjain. Aska membawa Niken ke dalam pelukannya. Merasakan hal yang pernah hilang dari hidupnya.


"Ini buat kamu." Aska menyodorkan sebuah kotak berwarna merah hati.


"Apa ini?"


"Bukan saja."


Niken terperangah melihat isi kotak tersebut. Sebuah cincin berlian yang berharga puluhan juta. Niken memang terlahir kaya, pada kodratnya apa yang di inginkan Niken bisa saja terpenuhi. Tapi almarhum bokapnya, sudah menanamkan kesederhanaan dalam hidupnya.


"Ini terlalu mahal, apa kamu menguras kantong?"


"Ah tidak, mau aku pakaian?" Niken mengangguk.


Cincin itu kini tersemat di jari manis Niken. Ini pertama kalinya Niken menerima hadiah dari seorang pria. Aska meraih Niken kembali ke dalam pelukannya. Mungkin ini saat yang tepat untuk quality time.


Tanpa mereka sadari, ada sosok yang memperhatikan mereka penuh kebencian.


***

__ADS_1


Kira-kira siapa ya?


__ADS_2