Bos Cuek Dan Pembantu Jelek

Bos Cuek Dan Pembantu Jelek
Part 21 H-5 (2)


__ADS_3

Aska membawa Niken memasuki sebuah butik ternama di kota ini. Florence butik. Butik ini tidak jauh dari restoran tadi.


"Hallo Aska dirgantara, tumben main kesini. Ini siapa? Ada yang bisa di bantu?" tanya Hanny sang pemilik butik dengan senyum ramah.


"Kita mau lihat gaun yang pernah lo tawarin waktu itu dan ini Niken calon istri gue." jelas Aska.


"Hallo, saya Hanny Florence. panggil aja Hanny." sapa Hanny menjabat tangan Niken.


"Niken Puspita Darwin. Panggil Niken." balas Niken menjabat tangan Hanny.


"Hati-hati sama dia, terkadang rayuannya maut." bisik Hanny pada Niken yang masih bisa di dengar oleh Aska.


"Hanny, jangan coba-coba nyuci otak Niken."


"Heheh masih sensian amat lo." Hanny cengengesan.


"Gue do'ain, lo geger otak."


"Ya ampun, horor amat lo."


Niken yang tidak terlalu mengenal Hanny, hanya tersenyum bila di ajak bicara.


"Aska itu sahabat gue waktu kuliah, emang dia nggak cerita?" tanya Hanny.


Niken hanya menggeleng, kadang hanya mengangguk, kadang juga hanya tersenyum.


"Tapi lo beruntung." tutur Hanny.


"Beruntung?"


"Aska itu orangnya rada-rada cuek, tapi kalau udah sayang sama seseorang di jamin sayangnya selangit dan posesifnya level akut." jelas Hanny.


Niken kembali tersenyum mendengar tutur kata Hanny. Aska yang sedari tadi di diamkan, hanya memicing mata menatap ke arah dua orang tersebut.


"Jangan suka buka aib orang, kena karma baru tau rasa lo." ucap Aska yang merasa di abaikan.


Hanny hanya mengedipkan mata ke arah Niken, memberi kode untuk Niken mengikutinya. Niken berjalan mengekori, meninggalkan Aska yang duduk di sofa di sudut ruangan itu.


Sebuah gaun pengantin berwarna putih tulang dengan bagian atas hanya sebatas dada, dari area pinggang mengembang menjuntai hingga menutupi mata kaki. Tidak terlalu mewah dan mencolok namun gaun itu sangat kontras dengan kulit putih Niken.


"Gimana?" tanya Niken pada Aska saat ia baru keluar dari ruang ganti.


Aska tak bergeming, melihat Niken sangat cantik dalam gaun itu.


"Hei Aska Dirgantara, di tanya malah bengong." senggol Hanny pada bahu Aska membuatnya tersadar.


"Eh, ngomong apa tadi." ucap Aska salting.


"Gimana dengan gaunnya, kalau tidak suka masih ada model yang lain." jelas Hanny.


"Kalau aku suka yang ini." ujar Niken.


"Waktu itu, gue minta dua gaun dengan desain yang berbeda kan?" tanya Aska.


"Iya, yang satunya lagi di dalam. Mau di coba juga?" ujar Hanny.


"Hmm"


Hanny kembali mengambil gaun yang lain, gaun itu sangat mewah dengan warna keemasan. Namun bedanya gaun tersebut menggunakan lengan panjang dan bagian belakang menjuntai lebih panjang juga menampilkan bagian punggung yang terbuka.


"Aku suka yang itu" tutur Aska.


"Tapi, Ka. Aku suka yang ini" ucap Niken


"Ya udah, pake dua-duanya"


"Loh kok dua-duanya?"


"Yang satunya pake saat acara resepsi"

__ADS_1


"Terserah kamu saja"


Hanny yang melihat perdebatan mereka hanya menggeleng kepala. Aska sudah berbeda, Aska yang sekarang sudah cerewet beda dengan Aska yang dulu irit bicara.


"Jadi gimana?" tanya Hanny.


"Dua-duanya" jawab Aska.


Niken hanya menarik nafas, percuma berdebat karena ujung-ujungnya mengalah juga.


"Jadi deal, ya?"


"Nanti kirim ke alamat gue, biayanya nanti gue transfer" ucap Aska.


"Oke, sip"


Setelah berganti, Niken kembali menemui Aska. Niken memanyunkan bibir pertanda lagi ngambek, berharap Aska bisa peka.


"Kenapa bibirnya seperti itu?"


Tuhkan, dasar tidak peka. Niken kembali mendengus bagaimana tidak, berharap Aska bisa peka itu sama seperti menunggu kucing bisa muncul tanduk. Ajeb lo Aska.


"Kita pulang," Niken merengek.


"Aku bawa kamu ke suatu tempat"


"Tapi hari sudah mulai sore"


"Justru itu, aku yakin kamu suka"


"Tapi..."


"Tidak ada penolakan"


"Hmm, baiklah"


Niken tersenyum meski hatinya masih saja kesal, tapi tak apalah intinya Aska tetap perhatian. Setelah berpamitan dengan Hanny, kedua insan itu melangkah menuju mobil.


Mobil melaju meninggalkan area tersebut, Aska membawa Niken ke pantai. Ya pantai, jika semakin sore akan semakin ramai pengujung.


"Kita ke pantai?" tanya Niken tak percaya.


"Apa kamu tidak suka?"


"Tidak."


"Kalau gitu, kita pulang aja"


"Tidak, aku sangat suka" ucap tersenyum senang


"Katanya tidak."


"Makanya jangan kebiasaan motong pembicaraan orang. Eh, indah sekali pemandangannya."


Niken membuka flatshoesnya, lalu berlari kesana kemari. Angin menerpa anak rambutnya yang tergerai hingga berterbangan tak tentu arah,


Aska yang tadinya menahan geram, kini kembali tersenyum. Melihat Niken yang ceria seperti itu, Aska tak mau melewati momen itu. Aska mengambil ponselnya dan membidik camera ke arah Niken. Beberapa foto Niken berhasil ia take.


Aska menghempaskan tubuhnya di hamparan pasir, Niken kembali mendekat lalu menarik tangan Aska.


"Ayo, kok diam aja" Niken merengek agar Aska bangun dari tempatnya.


"Kejar aku kalau bisa" ejek Niken pada Aska yang tak bergeming, tiba-tiba saja Aska bangun dan mengejar Niken karena tak tahan melihat Niken yang menjulurkan lidahnya ke arah Aska.


Niken berlari menghindari Aska yang mencoba menangkapnya. Niken tertawa saat Aska gagal mencekal tangannya, Aska berusaha mengejar Niken lagi hingga ia berhasil menangkap Niken. Nafas mereka ngos-ngosan.


Aska meraih Niken ke dalam pelukannya lalu mengecup kepala Niken. Niken menikmati momen-momen seperti ini. Matahari mulai terbenam, saat itu sunset terlihat begitu indah.


Mata Niken, membulat tak percaya. Ini pertama kali ia menikmati sunset. Aska memeluknya makin erat membenamkan wajahnya di lekukan leher Niken.

__ADS_1


"Gimana sayang, kamu suka?" tanya Aska yang masih membenamkan wajahnya.


"Banget"


"Setelah ini, kita pulang. Mama Tias pasti nunggu kita buat dinner bareng"


Niken hanya mengangguk, ia harus menghabiskan waktunya bersama ibunda. Karena bagaimana pun, ia harus mengikuti Aska setelah mereka menikah nanti.


***


Mobil Aska memasuki pekarangan rumah saat waktu menunjukkan pukul 19:00. Aska memarkirkan mobil di garasi, kemudian membangunkan Niken yang tertidur dalam perjalanan.


Bukannya Aska tidak mau menggendong Niken masuk, tapi mengingat Niken harus dinner dulu sebelum tidur. Jadi, alangkah baiknya di bangunkan saja.


"Sayang, bangun udah sampai" Aska menepuk pelan pipi Niken.


"Hmmm, udah nyampe?" Niken mengucek matanya.


"Iya. Ayo turun, atau mau di gendong?"


"Ngga usah, aku masih punya kaki"


Niken keluar di ikuti Aska memasuki rumah mega nan mewah itu. Ibu Tias yang menunggu sejak tadi akhirnya mengulum senyum.


"Kalian udah pulang? Mama pikir, kalian bakal dinner di luar," tutur ibu Tias


"Maunya begitu, mom. Hanya saja nggak enak juga mama dinner sendirian." tukasnya Niken.


"Ya udah, kalian mandi dulu gih. mama tunggu di meja makan" Niken dan Aska pergi ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri.


Ibu Tias masih setia menunggu di meja makan, menunggu putri dan menantunya untuk dinner bersama. Aska datang mendahului, setelah itu barulah Niken menyusul.


Mata Aska terbelalak tak percaya, berulang kali ia susah meneguk salivanya sendiri melihat Niken berpenampilan seperti itu.


Baju kemeja biru corak putih yang kebesaran di badan Niken yang ramping, di padu hot pants yang tertutup penuh oleh baju yang di gunakan Niken. Rambutnya di kuncir satu, memperlihatkan lekukan wajah dan leher jenjangnya. Dan yah, satu kata untuk Niken. Sexy.


Ibu Tias yang melihat gelagat Aska, hanya geleng-geleng kepala. Niken duduk berhadapan dengan Aska, sedangkan ibu Tias di ujung meja.


Dinner berjalan, mereka hanya makan dalam diam. Aska sesekali mencuri pandang ke arah Niken yang tidak menggubris sedikit pun. Meski Niken tau, Aska sedang memperhatikan dirinya. Ia membuat diri seolah-olah tidak tahu apa-apa.


Setelah dinner, Aska membawa Niken ke halaman samping rumah di terangi lampu taman yang redup. Niken hanya menurut kemana Aska membawanya.


"Apa kamu sengaja menggodaku, hmm?" tanya Aska dengan penekanan.


"Apa maksudmu?"


"Cih, lihat penampilanmu."


"Ada apa dengan penampilan ku?" tanya Niken santai, padahal ia tau Aska tak suka.


"Aku tidak suka kamu berpenampilan seperti ini. Apalagi di depan orang lain"


"Lalu?"


"Tubuhmu itu hanya aku yang boleh lihat."


"Emang kenapa?"


"Astaga Niken." oktaf Aska meninggi.


Niken hanya tersenyum penuh kemenangan. Emang enak di kerjain. Tanpa sadar tangan Aska menarik pinggul Niken hingga tubuh mereka tanpa spasi.


Aska ******* bibir mungil Niken, Niken hanya terperangah. Spontan tubuhnya membeku tiba-tiba, padahal ini bukan pertama kali Aska menciumnya.


Aska melepas ******* di bibir Niken, lalu mengacak-acak rambut Niken.


"Sekarang masuk ke kamar dan tidurlah, jangan pernah berpakaian seperti ini lagi. Kalau tidak, aku tidak segan-segan meminta lebih. Kamu paham, sayang?"


Niken hanya mengangguk lalu beranjak dari sana. Bukan senyuman kemenangan tapi tersipu malu. Niken lain kali jangan di ulang.

__ADS_1


__ADS_2