
Sudah seminggu Niken keluar dari rumah sakit, dan sudah seminggu ini juga Aska di buat pusing oleh bumil yang satu ini.
"Aku pengen makan mangga muda," rengek Niken pada Aska yang lagi sibuk di dapur memotong puding buatannya.
Pasalnya, semalam Niken ngotot makan puding tapi ia tidak mau puding buatan bi Asih yang ia mau buatan Aska.
"Iya sayang, tapi mana ada pohon mangga yang berbuah di musim seperti ini," ujar Aska dengan nada tenang.
"Aku tidak mau tahu," ucap Niken dengan kesal.
"Ya udah, sekarang pudingnya di makan dulu," bujuk Aska membawa puding tersebut menuju meja makan di ekori Niken.
"Tapi janji ya."
"Iya, sayang."
Niken langsung duduk dan menyantap puding tersebut dengan lahap, tidak biasanya Niken makan seperti ini. Aska yang sedari tadi jadi penonton tersenyum miris.
Apa seperti ini tingkat hormon seorang ibu hamil? Pikir Aska.
"Pelan-pelan makannya, sayang." Niken tidak menggubris, ia malah mendiamkan Aska.
"Sayang, aku keluar sebentar." tidak ada jawaban.
"Hm, mau ikut nggak?" hanya gelengan.
"Tidak apa-apakan, aku tinggal bentar?" Hanya anggukan.
Aska menghela napasnya kasar, sepertinya Niken mulai kumat. Entah kenapa, akhir-akhir ini moodnya selalu berubah-ubah.
Dengan berat hati Aska bangun dari duduknya, meninggalkan istrinya yang lagi dalam mode ngambek atau sejenisnya.
"Mau kemana?" suara Niken menghentikan langkah Aska.
"Mau cari mangga," ujar Aska.
"Tidak usah."
"Tapi kan sedari tadi kamu merengek minta mangga muda."
"Aku baru tau sekarang musim apa." Aska mendengus, ia pun geram namun ia mampu menutupi rasa itu.
Aska berbalik menuju meja makan, lalu menghempaskan tubuhnya di samping Niken. Ia lalu memeluk Niken, menghilangkan rasa sesak yang bergemuruh di dalam dada.
"Maaf," ucap Niken.
Satu kata itu mampu membuat Aska semakin merasa bersalah, harusnya ia selalu bisa sabar menghadapi Niken.
"Tidak usah minta maaf, sudah menjadi kewajibanku untuk memenuhi permintaan istriku. Apapun itu."
"Apapun itu?"
"Iya, sayang."
"Berarti aku bisa minta sekarang?"
"Apa sayang?"
"Ehm." Niken nampak berpikir sejenak.
"Apa?"
"Nina bobo."
"Nina bobo? Mau di boboin gitu?"
Niken mendengus, dasar suami tidak peka. Giliran istri rindu belaian suami, eh si doi malah gagal paham.
Aduh Aska peka dong, peka. Lelet amat mikirnya.
"Nggak jadi deh," ucap Niken membuat Aska mengernyit dahi.
"Gagal paham, sayang. Bicaranya jangan muter-muter."
"Lain kali saja." Niken melepaskan pelukkan Aska, lalu beranjak pergi menuju tangga meninggalkan Aska yang frustasi.
"Yang sabar, den. Namanya ibu hamil, ya gitu. Kadang ngambek, nangis sendiri, marah-marah nggak jelas, meraung-raung nggak jelas, dan ngidamnya juga aneh-aneh," tutur bi Asih menyemangati majikannya.
"Sampai kapan, bi?"
"Ya biasanya paling lambat empat bulan, den."
"Selama itu, bi?"
__ADS_1
"Ya tergantung juga, den. Tapi, ada juga suami yang mengalami masa-masa seperti ini."
"Emang ada, bi?"
"Iya, den. Sarapannya udah siap, mau bibi panggilin non Niken?"
"Nggak usah, bi. Biar aku saja, kalau ngambek seperti itu susah bujuknya."
"Iya, den. Bibi ke belakang dulu."
Aska menapaki tiap anak tangga, langkahnya membawa dirinya menuju kamar mereka. Pintu terbuka, rupanya Niken lupa menutup pintu.
Suara isak tangis menggema di telinga Aska, apa yang terjadi? Aska melangkah menuju arah sumber suara, apa yang Aska lihat?
Niken menangis tersedu-sedu di balkon, Aska menghampiri Niken lalu duduk di sampingnya. Aska meraih istrinya masuk ke dalam pelukannya, rasa bersalah kembali menghinggapi dirinya.
"Ssst, jangan nangis sayang. Kalau kamu nangis, anak kita juga ikutan nangis. Apa kamu mau dia sedih, hm?" bujuk Aska.
"Habis kamu nolak aku, apa aku sudah tidak cantik?"ucap Niken sesegukan.
"Tadi itu aku gagal paham sayang. Maaf ya."
"Tidak apa-apa." Aska melepaskan pelukannya, menakup wajah Niken dan menatap intens manik istrinya.
"Jangan pernah berpikir aku menolakmu, sayang. Aku hanya takut menyakiti anak kita. Jadi sebaiknya kita sarapan dulu, lalu kita konsultasi ke dokter Gita. Kita tanya bagaimana berhubungan suami istri yang baik selama masa kehamilan. Mau kan, sayang?" Niken mengangguk.
"Satu lagi, kamu itu tetap cantik di mataku sampai usia kita menua. Kamu paham, sayang?"
Lagi-lagi hanya anggukkan saja. "Sekarang kita sarapan, mau jalan sendiri atau mau di gendong?"
"Aku bisa jalan sendiri, Ka."
"Ya udah, ayo."
Aska membimbing istrinya keluar kamar, menuruni tiap anak tangga menuju ruang makan. Keduanya mendudukkan bokongnya di kursi yang bersebelahan. Menikmati sarapan dalam diam.
***
Laju mobil di maksimalkan, membelah jalanan yang cukup padat. Dalam perjalanan, Niken hanya diam memandang ke arah luar membuat Aska sedikit gemas.
"Apa pemandangan di luar sana lebih bagus dari suami mu ini, sayang?"
"Lebih bagus suami ku."
"Apa kamu cemburu?"
"Itu tahu." Niken tersenyum samar, lalu mengalihkan pandangannya pada Aska.
"Aku pengen makan bakso," ucap Niken,
"Iya, tapi setelah ketemu dokter Gita. tidak apa-apakan?"
"Hmmm."
"Marah?"
"Tidak."
"Ini kita sampai. Turun yuk."
Keduanya turun saat mobil sudah terparkir sempurna di area parkir. Keduanya memasuki gedung besar itu, setelah mendaftarkan diri keduanya menunggu giliran.
Setelah menunggu setengah jam, akhirnya sampai juga giliran mereka.
"Pak Aska dan ibu Niken," panggil seorang suster.
Keduanya memasuki ruangan yang serba putih itu, kedatangan mereka di sambut hangat oleh dokter Gita.
Setelah menjelaskan apa yang menjadi keluhan, maka mulailah dokter Gita menjelaskan secara detail dan terperinci. Bagaimana berhubungan suami istri yang baik selama masa kehamilan.
***
Setelah pulang dari rumah sakit, Aska menepikan mobilnya di sebuah warung kecil di pinggir jalan.
Niat hati mengajak Niken ke restoran, tapi Niken malah memilih warung kecil ini.
"Jangan sepelekan warung kecil seperti ini, disini makanannya enak dan porsinya lebih banyak. apalagi baksonya di jamin ketagihan," ujar Niken.
"Tau darimana?"
"Ini tempat kesukaan aku waktu masih sekolah, tiap pulang sekolah selalu nongkrong disini."
Aska hanya mengohria, rupanya orang sekaya Niken masih suka tempat sesederhana ini. Aska jadi bangga memiliki istri seperti Niken.
__ADS_1
"Eh ada neng Niken, lama nggak jumpa," sapa mang Asep
"Apa kabar mang Asep?" tanya Niken memaparkan senyum manisnya.
"Kabar baik, neng. Pesanan seperti biasa atau sudah berganti menu?"
"Seperti biasa, mang."
"Lalu abangnya?"
"Samain aja, mang," jawab Aska.
Mang asep mengangguk, lalu pergi menyiapkan pesanan langganan setianya ini.
"Aku lihat, kamu kok dekat banget dengan mang Asep ketimbang papa Lukman."
"Mang Asep orangnya baik banget, dia selalu jadi tempat curhat waktu sekolah kalau aku sedang nggak mood."
"Lalu?"
"Sudah ku anggap seperti ayah sendiri."
"Emang mang Asep tidak punya anak?"
"Punya, kamu ingat Rino?"
"Rino? Yang waktu itu datang ke pesta pernikahan kita?"
"Iya, cowok yang waktu itu jabat tangan aku kemudian kamu marah-marah."
"Karena kamu nggak cerita tentang dia ke aku, sayang."
"Karena kamu nggak nanya."
"Waktu itu aku cemburu, sayang."
"Cemburu? Haha... ada-ada saja kamu, Ka. Lagian Rino sudah aku anggap kakak sendiri."
"Wajar kalau aku cemburu kan, sayang." Niken hanya tersenyum mendengar penuturan suaminya, sangat posesif.
"Nah ini pesanannya, selamat menikmati," tutur mang Asep saat meletakkan pesanan mereka.
"Terima kasih, mang," ucap Niken dan Aska bersamaan.
"Sama-sama, lalu ini suami neng?"
"Iya, mang. Emang Rino nggak cerita?"
"Cerita sih, tapi kan mang tak tahu yang mana orangnya."
"Lalu Rino kemana, mang?"
"Pulang ke As, neng. Dapat panggilan kerja disana."
"Oh, kok Rino nggak cerita yah?"
"Katanya sih takut sama suami neng. Galak katanya."
Aska yang menjadi pendengar setia terkekeh pelan, apa ia sangat menakutkan?
"Tapi Rino beruntung yah, punya bapak seperti mang Asep. Bapak juga pasti bangga kan punya anak sepintar Rino."
"Eh, di makan dulu neng selagi hangat."
"Terima kasih, mang."
"Mang melayani yang lain dulu." Niken mengangguk.
Keduanya menikmati makan siang di warung mang Asep. Menu andalan Niken saat mampir kesini adalah bakso tulang dan Salome goreng.
Aska mengernyit dahi melihat Niken mencolek sambal yang super pedas itu, apa Niken tidak kepedesan?
"Jangan kebanyakan sambal, sayang," tegur Aska.
"Nggak pakai sambal nggak enak."
"Iya, tapi kurangin dikit. Ingat, kamu lagi hamil."
"Iya deh iya," Niken mengerucut bibirnya.
Aska mengacak-acak rambut Niken. "Pintar," ucap Aska.
Niken menghabiskan semua bakso dan Salome meski dalam porsi banyak. Aska tersenyum, sejak kapan Niken bisa makan sebanyak ini? Ah dia lupa, Niken kan lagi hamil. Pembawaan bayi, mungkin?
__ADS_1