
Ya Tuhan, tamatlah riwayat ku. Kenapa tuan jadi seperti ini? Lebih baik jadi tuan yang cuek, daripada seperti ini.
"Tuan, tolong lepaskan tanganku" Ku atur nada bicaraku selembut mungkin, siapa tau dianya luluh dan mau lepasin genggamannya.
"Kamu mau ganti kan? ya udah sini aku bantuin" lalu ia menarik ku, menuju pintu kamarku.
"Eh, tuan mau ngapain?"
"Sebagai calon suami yang baik dan perhatian, aku bantuin kamu ganti pakaian"
Ya Tuhan, tidakkah dia tahu aku hampir
mati berdiri mendengar kata-katanya?
"Pikiran mu jangan ngawur" eh, kok dia tau isi otakku?
"Aku laki-laki normal, mana bisa tahan melihat kamu seperti ini?" lah, kok? Aku susah payah menelan salivaku.
"Tapi belum saatnya, aku akan menunggu malam itu,"
Aku menahan napas, keringat halus membasahi tubuh ku.
"Jangan gugup, aku belum ngapain-ngaipan kamu. Sana ganti pakaian mu"
Tuan Aska hendak pergi setelah mendengar suara deru mobil. Mungkin mas Bryan sudah pulang. Namun, langkahnya terhenti dan berbalik lagi. Aku yang baru masuk kamar dan hendak menutup pintu di tahan olehnya.
"Ada apa lagi" aku takut, dia berulah lagi. Tapi mana mungkin, mas Bryan kan sudah pulang.
"Berpakaianlah yang sopan, tidak boleh transparan dan lain kali kalau mandi bawah sekalian baju ganti. Jangan pamer-pamer badan mu itu di depan Bryan, aku tidak suka karna itu hanya milik ku. Kamu mengerti?" katanya lalu melangkah pergi.
"Ya ampun, mulutnya macam ember bocor. Seperti ibu tiri saja"
"Aku bisa mendengar mu, Niken," wow pendengarannya tajam sekali, cepat-cepat ku kunci pintu kamar.
Akhirnya, sekarang aku bisa menarik nafas lega. Kenapa Tuhan menciptakan manusia semacam dia ya?
Seharian ini, aku gunda gulana di buat nya. Gimana nasib ku, saat menjadi istrinya nanti? Eh, kok ngarep sih?Sedikit berharap, tidak apa-apa lah ya.
Niken Pov End
***
Aska pov
Pagi-pagi sekali Niken sudah menyiapkan sarapan, dua gelas susu dan roti tawar beroleskan nutella.
"Kenapa pagi ini sarapannya susu sih?" tanya ku pada Bryan yang sedang menikmati sarapannya.
"Mana aku tau, tanya aja sama calon istrimu," Aku melototi Bryan, dari mana Bryan tau?
"Jangan melotot begitu, tante Sofi sudah ceritakan semua," Ya ampun, mama. Katanya mau jaga rahasia, kok malah cerita?
"Aska, gimana jawaban Niken?"
"Dia belum jawab"
"Berarti aku masih punya peluang dong"
"Jangan coba-coba, Bry"
"Kenapa? Kan jalur kuning belum melengkung"
"Jangan makan teman, Bry"
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, gimana sama Shaine?"
"Jangan bahas dia, Bryan. Bagiku, dia sudah mati"
"Aku harap, kamu tidak menjadikan Niken tempat pelampiasan semata"
"Jangan sotoy kamu, Bry"
"Aku hanya memperingatkan saja, kalau sampai Niken tersakiti karena kamu. Aku bakal ambil Niken dari kamu"
Aku hanya menarik napas, karena aku tau apa yang di maksud Bryan. Bryan mencintai Niken.
"Aku berangkat kerja, kamu jaga jarak dengan calon istri ku" Aku berpamitan, setelah susunya di teguk habis oleh ku.
"Bukannya, kamu tidak suka susu?" tanya Bryan, saat mengekori ku.
"Demi calon istri"
"Aku boleh ajak Niken jalan-jalan?"
"Nanti, kalau aku sudah pulang kantor. Jalannya bertiga"
Aku melajukan mobil, meninggalkan Bryan yang masih berdiri di pintu depan. Pagi ini, aku tidak melihat Niken. Apa dia mencoba menghindari aku?
Ku lajukan mobil membela jalanan yang belum terlalu ramai, aku harus sampai kantor sebelum pukul delapan. Karena hari ini ada meeting penting dengan klien.
Mata ku terbelalak, saat aku memasuki ruangan ku sendiri. Ada Shaine, yang tidak ku harapkan kehadirannya. Aku malas melihat wajahnya yang sok lucu itu. Aku jadi mual jika ingat janji-janji yang pernah ia ucapkan. Benar menjijikkan.
"Apa kabar, Ka." Shaine berjalan mendekati ku. Namun aku cuek saja. Ku hempaskan tubuh ku di kursi kebanggaan ku.
"Untuk apa kamu datang lagi ke sini.
Belum puas apa yang sudah kamu lakukan di masa lalu? Kamu memandang rendah diriku." tuturku dengan nada kesal sekesal hatiku.
"Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku menyesal telah meninggalkan mu waktu itu,"
"Wow, kesempatan? Untuk menyakiti aku lagi? Kamu menyadari semua saat aku sudah sukses? Dulu-dulunya kemana saja,"
Shaine menunduk, entah apa yang ia rencanakan saat ini dan apa yang sudah ia susun dalam strateginya itu.
"Waktu itu, aku khilaf. Aku benar-benar bodoh, Ka. Tolong bilang pada ku, apa yang bisa aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku?"
"Well, untuk menebus semua kesalahanmu. Aku hanya minta satu hal, tolong kamu pergi dari sini dan jangan pernah balik lagi."
Sekilas aku melihat, ada sebening kristal yang mengalir di pipinya. Hatiku mengiba, namun terhapus oleh bayangan Niken.
"Jangan pikir, aku bisa luluh dengan air matamu itu, Shaine. Itu sudah tidak mempan."
"Bukankah, kamu begitu mencintaiku? Semudah itu kamu lupakan semua kenangan tentang kita, Ka?"
"Semudah kamu meninggalkanku tiga tahun lalu, Shaine. Sekarang juga, kamu pergi dari sini karena aku ada meeting. Pintu keluarnya disana." Ujarku yang lagi darting dan menunjukkan pintu keluar.
"Tapi, Ka"
"Kamu tidak budeg kan? Oh iya, kabar gembira buat kamu. Bentar lagi aku nikah. Jangan lupa datang sekalian bawah tuh pria idaman kamu"
"Jahat kamu, Ka!" Shaine berjalan keluar meninggalkan ruanganku.
Dia bilang aku jahat? Bukankah dia lebih bejat? Giliran udah suskes, baru nongol. Bukankah itu yang di sebut matre?
Aku segera menghubungi Liza sekretarisku untuk mempersiapkan berkas-berkas untuk meeting.
***
__ADS_1
Meeting pagi ini berjalan lancar. Perjanjian kerjasama telah sama-sama kami sepekati. Hitam di atas putih.
Aku yang tengah sibuk menandatangani beberapa dokumen di meja kerja berhenti sejenak, saat gawaiku bergetar. Tertera nama Bryan.
"Iya ada apa, Bry?
"Papaku masuk rumah sakit, Ka. Jadi aku mau kesana" suara Bryan di ujung telpon.
"Sekalian kamu ajak Niken, nanti setelah dari kantor aku langsung ke rumah sakit"
"Oke"
"Tapi jangan curi kesempatan"
"Ragu sekali, kamu sama sahabat sendiri."
"Gimana aku tidak ragu. Kamu sendiri yang mengakui perasaan mu"
"Tapi aku juga tau, Niken menyukai kamu. Aku mau siap-siap dulu"
"Eh tunggu, Bry"
"Apa lagi sih, Ka?"
"Aku mau bicara sama, Niken"
Ku dengar, Bryan memanggil Niken. Sesaat aku menunggu, baru tadi pagi aku tidak bertemu Niken rasanya seperti setahun. Apa aku sudah mulai jatuh cinta?
"Hallo, tuan" suara Niken diseberang membuyarkan Lamunanku.
"Niken, kamu ikut Bryan. Nanti kita bertemu disana. Ingat, berpakaian yang sopan. Jaga jarak dengan Bryan"
"Iya tuan"
"Kalau gitu, kamu siap-siap sekarang"
"Iya tuan"
Sesaat hening,
"Gimana Ka, sudah lepas rindunya?"
"Jangan mulai!"
"Fakta sih"
"Eh, mendingan kamu siap-siap"
Tut
Tut
Ku matikan telponnya sepihak. Aku malas bila di ledekin terus oleh Bryan. Naasnya kami menyukai gadis yang sama.
Setelah ku putuskan telpon, aku segera membereskan berkas yang masih tersisa.
Biar bagaimana pun aku harus menjenguk beliau, karna sosok om Bagas adalah panutanku selama ini. Sosok yang sudah ku anggap seperti ayah sendiri.
Ku lajukan mobil di jalan yang sudah ramai dengan kendaraan yang lalu lalang, menuju alamat yang di kirimkan Bryan. Aku beruntung, karena siang ini jalanan tidak macet.
Setelah memarkirkan mobil, aku melangkahkan kaki menuju ruang rawat pak bagas. Disana sudah ada keluarga besar Bryan.
Aksa pov end
__ADS_1