
"Ka, bangun. Aska..."
Niken mengguncang-guncang tubuh suaminya yang tertidur pulas.
"Aska." Niken mencoba sekali lagi.
Aska mengerjapkan matanya, lalu meraih weker di nakas. waktu menunjukkan pukul 1:40 dini hari, lalu mengapa Niken membangunkan Aska?
"Ada apa, sayang? Jam segini bukannya tidur," ucap Aska menyandarkan tubuhnya.
"Pengen makan rujak," tutur Niken dengan puppy eyes-nya.
"Jam segini mana ada orang yang masih melek? Semua orang sudah pada di pulau kasur, sayang. Besok aja, ya." bujuk Aska dengan nada lembut takut kata-katanya membuat Niken mumet.
"Maunya sekarang," ucap Niken tanpa penolakan.
"Ya udah iya. Asal jangan mewek, duduk manis disini biar aku yang cariin."
Aska bergegas turun dari ranjang empuknya, meski pun matanya tidak bisa di ajak kompromi tapi mau tidak mau ia harus melakukannya.
Tidak lupa handphonenya di bawa serta meninggalkan Niken yang tersenyum karena keinginannya untuk ngerujak bakal terpenuhi.
Yang terlintas di benak Aska saat ini adalah menghubungi Bryan, jari-jarinya bermain cantik di atas benda pipih itu lalu mendial kontak Bryan.
Panggilan pertama nihil, panggilan kedua juga bernasib sama. Ya iyalah, orangnya udah sampai di alam mimpi juga. Huft, sekali lagi semoga di jawab. Amin.
"Hallo..." Suara serak Bryan membuat Aska bernapas lega.
"Hallo, Bry. Kamu masih melek?"
"Buset lo, Ka. Ganggu gue aja, kenapa telpon jam segini?"
"Aku lagi kalut."
"Kalut kenapa?"
"Niken minta rujak, udah jam segini lagi."
"Terus apa hubungannya dengan aku, Aska Dirgantara."
"Karena kamu sahabat aku, Bryan. Aku nelpon kamu, siapa tau kamu bisa bantu. Mungkin dekat rumah kamu ada yang jual rujak"
"Mana ada orang rujak jam segini Aska."
"Terus gimana dong."
"Ya ampun Aska, ini sudah jaman modern, kalau tidak bisa beli ya buat sendiri."
"Aku kan belum pernah buat rujak."
"Punya handphone di gunain, Aska."
"Ah, tumben kamu pintar."
"Dari sono kali."
"Btw thanks ya."
"Hm." telpon di tutup, Aska langsung menghubungi mbah google. Matanya berbinar saat mbah google menampilkan cara membuat rujak. Lalu ia membuka kulkas melihat stock buah yang ada.
Dengan telaten Aska membuat rujak, sedikit icip-icip agar tidak terlalu pedas karena ia tidak mau calon anaknya kenapa-kenapa.
Setelah selesai, Aska membawa rujak tersebut ke kamar. Namun ia mendesah, ternyata Niken sudah pulas meski sedang bersandar.
Aska meletakkan rujak tersebut di nakas lalu memposisikan Niken dengan baik, pelan dan hati-hati takut membangunkan istrinya.
__ADS_1
Aska kembali turun untuk menyimpan rujak tersebut di kulkas, mungkin setelah Niken bangun ia bisa mengambilnya di kulkas.
Aska kembali menaiki tangga, menuju tempat dimana ia bisa memeluk istrinya yang sudah terlelap.
Aska merenggangkan otot-ototnya sebelum membaringkan tubuhnya, seulas senyum terukir manis di wajah tampannya saat melihat wajah pulas orang di sampingnya.
Sebuah kecupan mendarat di kening sang istri, sebelum Aska kembali ke alam mimpinya.
***
"Pagi, Ka." suara ceria Niken menyapa lembut saat melihat sang suami menuruni tangga.
"Pagi juga, sayang."
Cup
Satu kecupan mendarat di pipi Aska, saat Aska sudah berdiri tepat di hadapan istrinya. Yang biasanya melakukan morning kiss, yah Aska. Tumben Niken yang melakukan?
"Lagi senang nih, ceritanya," ujar Aska masih bingung dengan kelakuan istrinya.
"Iya, Ka. Rujaknya enak, beli dimana?"
"Buat sendiri, sayang."
"Resep dari mana?"
"Mbah google."
"Btw, terimakasih sayang."
"Tadi manggilnya apa?"
"Sayang."
"Ulang, nggak dengar."
"Sayang."
"Sa..."
Aska sudah ******* bibir mungil Niken sebelum katanya terselesaikan, Aska semakin mendalami ciumannya saat Niken membalas ******* Aska.
"Mulai agresif nih, isteriku," ucap Aska saat pagutannya sudah terlepas.
"Kamu nggak suka?" tanya Niken polos.
"Suka."
"Terus?"
"Terus ya pengen lanjutin di kamar."
"Tapi..." ucapan Niken menggantung.
"Tapi apa, sayang?"
"Malu."
"Malu kenapa? Bukannya udah pernah kita lakukan sampai anak kita tumbuh disini?" tanya Aska meraba perut Niken yang masih rata.
"Hmmm, kondisinya beda."
"Kita kan udah konsultasi, jangan khawatir aku bisa melakukannya dengan hati-hati."
"Entah kenapa aku juga sering merindukan kamu akhir-akhir ini." pengakuan itu lolos begitu saja dari mulut Niken.
__ADS_1
Binar bahagia menghiasi wajah Aska. Senyumnya mengembang mengingat setiap kali ia meminta haknya sebagai suami, selalu saja Niken menolaknya dan berakhir dengan berendam air dingin.
"Kamu tau? Itu tandanya anak kita minta di kunjungin bapaknya."
"Kunjungi? Emang bisa? Dari mana lewat mana?" astaga Niken, kamu itu kadang o'
on juga yah. Eh bukan oon tapi lelet mikirnya.
"Mau aku tunjukin jalannya?" Niken mengangguk, tiba-tiba tubuh Niken melayang membuatnya sedikit terkejut.
"tenang saja, suamimu ini masih kuat. Lima kali keliling komplek juga sanggup," tutur Aska saat melihat raut ketakutan di wajah istrinya.
Aska membawa Niken menaiki tangga menuju tempat dimana segala keinginannya bisa terpenuhi, tidak lupa pintunya di kunci takut bi Asih menganggu.
Adegan selanjutnya, silakan readers bayangin sendiri karena author takut di sepak. Hehe...
***
Tok
Tok
Suara ketukan pintu membuat dua insan yang lagi dalam mode cape pake banget itu malas untuk bergerak.
"Den, non," suara bi Asih memanggil saat suara ketukan tak kunjung di jawab.
"Ada apa, bi?" tanya Aska dari dalam kamar.
"Makan siang sudah siap, den."
"Loh, emang sudah jam berapa?"
"Jam satu, den."
"Baik, bi."
"Ya ampun, jadi sekarang sudah jam satu siang?" tanya Niken tak percaya.
"Iya, sayang."
"Berarti kita lewatin sarapan?"
"Tidak juga sayang, kan sarapannya bareng aku disini," goda Aska pada Niken.
"Apaan sih, Ka."
"Nambah sampai tiga kali malah."
"Aska..."
"Hmm."
"Malu tau."
"Kenapa harus malu?"
"Yah malu aja." Aska terkekeh, entah kenapa sikap Niken membuat Aska kembali menginginkan istrinya lagi. Tapi ini sudah siang, Aska membuang jauh-jauh pemikirannya.
"Mandi gih, setelah itu kita makan siang," ujar Aska.
"Kamu nggak mandi?"
"Nanti, setelah kamu." Niken mengangguk, setelah itu ia pun bergegas mandi.
Keduanya menapaki kaki menuruni tiap anak tangga menuju meja makan, yang pasti setelah membersihkan diri dari hasil pergulatan mereka.
__ADS_1
Menu di meja sungguh menggugah selera, pasalnya sarapan pagi juga sudah mereka lewatkan sejak tadi.