
Aksi brutal Aska terhenti ketika pintu di dobrak dengan paksa. Shaine yang tadinya tersenyum penuh kemenangan, kini menjadi murka dan juga malu. Shaine cepat-cepat menggunakan pakaian nya. Ia sudah tidak tau harus berbuat apa.
Preman yang ia sewa dengan mahal, tergeletak tak berdaya di hajar habis-habisan oleh Bryan dan Brandy.
Aska yang masih berpakaian lengkap, antara sadar dan tidak, tiba-tiba saja ambruk dan tak sadarkan diri. Mungkin Aska kelelahan karena efek obat tersebut.
Aska belum melakukan hal-hal aneh pada Shaine terkecuali melucuti pakaiannya. Karena dalam ingatannya hanyalah bayangan Niken yang menari-nari.
Bryan dan Brandy menjadi heran, ketika empat orang polisi tiba-tiba saja muncul di antara mereka. Perasaan, mereka tidak menghubungi polisi.
"Aku yang menelpon minta bantuan",
suara Niken yang baru muncul di balik pintu.
"Jangan bilang kalian melupakan aku" tambah Niken cemberut.
"Kami memang lupa jika tadi kami bersama seorang bidadari.", canda Brandy.
Brandy memang orang ajaib, masih bisa bercanda di tengah suasana tegang seperti sekarang ini.
Polisi sudah membereskan kelima preman tadi dan juga telah membawa Shaine ke kantor polisi. Mereka juga di minta untuk memberi penjelasan di kantor polisi.
"Kita harus bawah Aska ke rumah sakit", saran Niken
Bryan dan Brandy mengangguk, kemudian mengangkat tubuh Aska ke mobil Bryan.
"Ya ampun bang, tubuhmu berat sekali. Makan apa saja kamu, bang," celutuk Brandy
Bryan dan Niken hanya tertawa, mendengar Brandy mengeluh.
Brandy mengemudikan mobil Aska. Sedangkan Niken ikut bersama Bryan yang sudah lebih dulu membawa Aska ke rumah sakit. Aska di larikan ke ruang ICU, karena keadaannya melemah.
"Apa kata dokter, kak?" tanya Brandy yang baru saja menyusul.
"Dokter masih di dalam, kita tunggu saja," jawab Bryan.
Niken hanya diam membisu, tidak bisa membayangkan jika mereka terlambat datang menolong Aska. Kemungkinan banyak hal akan terjadi. Membayangkan saja Niken tak sanggup. Untung saja hal itu cepat di cegah.
"Keluarga pasien." suara dokter membuyarkan lamunan mereka.
"Bagaimana keadaannya, dok?" tanya Niken antusias.
"Untung saja kalian membawanya tepat waktu. Kalau tidak, pasien bisa kehilangan kesadaran," Jelas dokter.
"Memangnya obat apa yang di campurkan dalam minumannya, dok?" Tanya Niken.
"Obat perangsang dan heroin,"
"Buset, itu Shaine udah gila. Apa dia mau membunuh bang Aska?" Celutuk Bryan kesal. Bisa-bisa nya perempuan itu melakukan hal gila yang bisa membahayakan nyawa orang lain.
"Apa kami bisa menjenguknya sekarang?" Tanya Bryan pada dokter.
"Bisa. Tapi pasien juga butuh istirahat, jangan lama-lama",
"Baik dok", jawab Bryan.
Mereka masuk ke ruangan, dimana Aska di rawat. Melihat tubuh Aska tak berdaya dan belum juga siuman, membuat Niken menitihkan air mata nya. Niken tak sanggup untuk kehilangan Aska.
***
Aska membuka mata nya perlahan, memperhatikan tiap sisi ruangan. Kepalanya masih terasa pening, gerakan tubuhnya masih lemah. Senyumnya terkulum, melihat sosok yang sudah membuatnya khawatir terlelap di samping ranjang.
Aska ingin sekali menyentuh wajah Niken. Namun ia urungkan niatnya, takut jika membangunkannya. Dua sosok yang terlelap di sofa panjang di sudut ruangan, membuat Aska sedikit geli melihat gaya tidur kakak beradik itu.
"Eh sayang, udah siuman," Niken yang tersadar dari mimpinya, merona malu di perhatikan Aska sejak tadi.
"Matamu sembab, apa kamu menangis?"
"Aku hanya kecapean"
"Jangan bohong,"
"Aku hanya takut kehilangan." jawab Niken menundukkan kepala.
"Maafkan aku."
"Melihat kamu udah siuman aja, aku udah sangat senang."
"Terima kasih sudah mencintai aku."
Niken hanya tersenyum. harusnya dia yang berterima kasih, karena dicintai seseorang seperti Aska. Meskipun terkadang cuek tapi cuek-cuek sayang.
***
Niken tersenyum getir, saat mendengar apa yang Aska ceritakan. Kejadian ini memilukan hatinya. Sebegitu berartinya ia di kehidupan Aska? Meskipun ini hanya jebakan Shaine. Tanpa sadar air mata mengalir membasahi pipinya.
__ADS_1
"Hei, kenapa menangis?" suara serak Aska menyentak Niken dari dunianya.
"Aku hanya terharu."
"Terharu sampai nangis?"
"Aku boleh tanya sesuatu?" bukan menjawab, Niken balik bertanya.
"Soal apa?"
"Andai saat itu bukan karena pengaruh obat. Apa kamu mau melakukan itu?"
"Lalu, jawaban apa yang kamu ingin dengar, Niken? Apa kamu meragukan kesetiaanku?"
"Maaf."
"Jangan pernah mempertanyakan hal itu lagi. Karena kamu sendiri sudah tahu jawabannya,"
Niken menunduk, terbesit rasa bersalah. Mengapa juga ia mempertanyakan hal sebodoh itu?
"Mas."
"Aku tidak ingin dengar sebutan itu, Niken. Aku bukan abangmu, aku ini tunanganmu,"
"Sejak kapan aku jadi tunangan mu. Percaya diri sekali." tanya Niken tak percaya dengan kepedean Aska yang sudah melambung tinggi.
"Aku akan meresmikan itu secepatnya"
"Tapi sekarang ini kan belum, mas"
"Sekali lagi aku dengar kamu memanggilku dengan sebutan sialan itu lagi. Tidak segan-segan aku membungkam mulutmu itu, Niken,"
"Hahah baiklah, jika kamu mengancamku. Tapi sekarang bergerak saja kamu tidak bisa. Lalu bagaimana bisa kamu membungkam mulutku?"
Tawa dan ejekkan Niken, membuat Aska merasa dejavu. Sekarang, Niken sudah berani menggodanya.
"Sudah berani menggodaku, huh?"
"Aku rasa tidak,"
"Lalu?"
"Hanya ingin saja," Canda Niken
"Oh Shit, sudah mulai nakal sekarang ya."
"Sayang."
Niken yang sibuk dengan tawanya, sontak menoleh saat mendengar panggilan itu.
"Ada apa? Ada yang sakit?"
Aska mengangguk dengan antusiasnya Niken bangkit dari duduknya.
"Apa yang sakit? Bagian mana?"
Melihat kekhawatiran Niken pada dirinya, Aska tersenyum bahagia.
"Ih, kamu bohongin aku ya?"
"Tidak."
"Lalu, kenapa kamu senyum-senyam begitu?"
"Aku bahagia kamu perhatian sekali,"
"Sudah tugasku,"
"Niken."
"Iya."
"Niken."
"Iya, ada apa Aska Dirgantara?"
"Aku boleh minta sesuatu?"
"Boleh, minta apa?"
"Mau di peluk kamu, bolehkan?" Aska mengisyaratkan Niken untuk tidur di sampingnya.
"Ini ranjang rumah sakit bukan ranjang big size di kamar kamu,"
"Aku mohon."
__ADS_1
"Tapi bukan hanya kita di ruangan ini, Aska."
"Mereka sangat pengertian,"
"Baiklah."
Niken lalu berbaring di samping Aska, perasaannya tak karuan. Jantungnya ingin melompat keluar. Rasanya seperti mimpi.
Namun rasa hangat di pelukkan Aska, membuatnya nyaman hingga ia pun terlelap.
***
Pagi harinya, Brandy menggeliat merasakan sekujur tubuhnya kaku. Ia tidak terbiasa tidur di sofa sempit seperti ini, apalagi harus berbagi juga dengan Bryan.
Brandy merenggangkan otot-ototnya, matanya membulat tak percaya melihat kedua insan itu berpelukan di atas ranjang rumah sakit.
"Astaga dua orang itu."
"Ada apa sih, Brandy. Masih pagi udah bikin heboh saja." Omel Bryan yang terbangun karena ulah adiknya itu.
"Coba lihat kelakuan sahabatmu itu, kak."
"Oh biarin saja, Brandy. Lagian mereka kan pasangan apa salahnya,"
"Apa kakak tidak cemburu?"
"Untuk apa cemburu, Brandy. Dengar, kakak udah move on."
"Yang benar aja, kak. Emang bisa secepat itu? Lalu siapa yang sudah bisa buat kakakku ini bisa move on?"
"Jangan kepo. Urus saja urusanmu dengan si Vira,"
"Apa mbak Anya yang sudah mencuri perhatian kakak?"
"Brandy!"
"Cie ada yang blushing dengar nama Mbak Anya,"
"Buset lo"
Niken dan Aska yang sedari sudah terbangun, karena ulah kakak beradik itu.
"Kalian itu masih pagi-pagi udah ribut saja." komentar Aska yang tidak terima karena kemesraannya terganggu.
"Ups sorry bang. Lanjutin saja acaranya, kita juga udah mau balik,"
"Iya, Ka. Lagian kamu sudah siuman dan ada Niken yang jagain. Jadi kami balik dulu," Bryan menambahi.
"Terus kapan datang lagi,"
"Mungkin besok."
"Kalau gitu hati-hati dijalan,"
"Bang, hati-hati juga jagain anak gadis orang. Jangan melewati batas, belum sah." celutuk Brandy menasehati.
"Sok bijak lo bocah,"
"Hahaha memperingatkan saja, bang,"
Bryan dan Brandy pamit pulang. Menyisakan dua insan yang di mabuk asmara. Niken yang sejak tadi tertunduk karna malu, membuat Aska jengah.
"Kenapa menundukkan kepala seperti itu,"
"Kenapa tadi kamu mengeratkan pelukan nya. Padahal aku memberi isyarat untuk melepaskan tangan kamu,"
"Emang kenapa?"
"Ya malulah di lihatin mereka,"
"Santai saja,"
"Tapi."
"Itu derita mereka,"
"Astaga." Niken melepaskan pelukkan Aska.
"Mau kemana?"
"Mau mandi. Kamu mau ikut?"
"Mau sih."
"Sialan!"
__ADS_1
Niken cemberut, niat mengerjain Aska malah dia yang kena imbas. Aska hanya tersenyum melihat tingkah Niken, bahagia rasanya seperti sudah memiliki istri. Tapi belum Sah lah ya.