
Sejak keluar dari rumah sakit, Aska berubah manja. Entahlah, mungkin salah satu sisi lain dari Aska yang baru ia tunjukkan.
Atas izin ibu Tias, ibunya Niken. Niken di perbolehkan untuk merawat Aska, dengan syarat Aska harus menikahi Niken setelah Aska sudah benar-benar pulih.
Mungkin ini hanya alasan Aska saja. Kata dokter, Aska hanya butuh istirahat. Tapi kenapa malah melebih-lebihkan?Kekanak-kanakan memang tapi Aska mengambil kesempatan untuk bisa berdua dengan Niken.
Oke, sebaiknya nama Aska di ganti saja dengan BUCIN. Kalian taukan artinya?
Sekalian saja BUCIN EGOIS, lebih cocok kali ya?
"Lagi masak apa sayang?"
Niken yang sedang sibuk dengan rutinitas di dapur, kaget saat tangan kekar Aska melingkar di perutnya.
"Ngagetin aja, mas." Ups Niken keceplosan dengan sebutan itu. Aska memang tidak suka dengan sebutan itu kan?
"Kamu tau? Kesalahan apa yang sudah kamu buat pagi ini?"
Aska melepaskan pelukannya, membalikkan tubuh Niken dan sekarang mereka sedang berhadapan. Tubuh Niken menegang, entah apa yang akan Aska lakukan padanya.
"Emang kesalahan apa?" tanya Niken pura-pura tidak tahu.
"Jangan menguji kesabaranku, Niken."
"Siapa yang menguji kesabaranmu? Ini masih pagi, Aska. Jangan aneh-aneh!"
"Kamu tau? Aku bisa saja menggigit bibirmu itu, sebagai hukuman atas kesalahanmu,"
"Jangan mesum,"
"Aku tidak mesum sayang, kamu yang memaksaku untuk melakukan itu,"
"Mas, aku"
Cup
Belum juga Niken melanjutkan kata-katanya, Aska sudah mencium bibir Niken.
"Aku sudah bilang, aku tidak suka dengan sebutan sialan itu. Tapi rupanya, kamu ingin menggoda ku,"
Tubuh Niken menegang, wajah Aska terlalu dekat. Hembusan napasnya bisa di rasakan oleh Niken. Mungkin sekarang, wajahnya seperti kepiting rebus. Niken mendorong tubuh Aska menjauh, kemudian ia melangkah pergi.
"Eh, mau kemana sayang?" tanya Aska sedikit berteriak.
"Mau pergi,"
"Kemana," Aska berjalan mengekori.
"Kemana-mana hatiku senang,"
"Aku ikut,"
Niken memutar bola matanya malas, melihat tingkah Aska.
"Kenapa kamu terus mengekori aku?"
"Kenapa? Tidak boleh?"
"Aku mau mandi, Aska. Mau ikut juga?"
"Iya, sekalian aku mandiin kamu"
"Buset lo!" Niken berjalan meninggalkan Aska dengan kesal.
"Aku bisa mendengar mu, Nona Niken,"
"Terserah."
Aska hanya tersenyum bahagia. Ia tau, Niken menghindarinya karena merasa gugup.
***
Aska sudah menunggu di meja makan. Niken yang baru selesai mandi dan keramas menghampiri Aska. Aska hanya menelan ludah, sehabis keramas seperti ini Niken terlihat sexy.
Dengan celana pendek jeans hitam di atas lutut, yang memamerkan kaki jenjang yang putih mulus. Baju kaos putih yang agak transparan. Membuat Aska tidak berkedip sedikitpun.
"Kenapa kamu lihatin aku seperti itu"
"Sayang, kenapa kamu suka menggodaku seperti ini?"
"Maksud kamu itu, apa?"
"Aku ingin memakan mu,"
"Hapus pikiran mesummu itu, Aska"
"Penampilan kamu itu, menggoda iman,"
Niken mendesah kesal.
"Ini sudah waktunya minum obat, sebaiknya kamu makan dan minum obat,"
"Baiklah, tapi di suapin,"
__ADS_1
"Tapi, Ka. Kamu itu bukan anak kecil,"
"Aku sudah jadi anak kecil sejak ada kamu,"
Niken kesal di buatnya, Aska seperti anak kecil saja.
"Baiklah, aku suapin,"
"Terima kasih, sayang."
"Manja."
Aska terkekeh, ia hanya ingin berlama-lama di samping Niken. Niken memang beda itu yang membuat Aska jatuh cinta.
"Niken."
"Iya,"
"Terima kasih,"
"Untuk apa?"
"Sudah mau merawatku,"
Niken mendongak, lalu ia tersenyum. Senyuman itu mampu menggetarkan jiwa, Aska hanya menahan gejolak dalam dirinya. Semoga saja Aska mampu menahan diri.
Setelah menyuapi Aska, bak seorang ibu menyuapi anaknya. Niken beranjak dari duduknya, namun Aska mencekal tangan Niken.
"Mau kemana?"
"Ambil obat sudah waktunya minum obat kan?"
Namun Aska menarik tangan Niken, hingga Niken terduduk di pangkuan Aska.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Niken mulai panik.
"Biarkan begini sebentar, sayang."
"Tapi."
"Aku mohon."
Aska menyembunyikan wajahnya di lekukan leher Niken, nafasnya memburu membuat Niken bergidik geli.
Jangan tanya bagaimana perasaan Niken, yang pasti jantungnya berdetak tak karuan. Semoga saja, Aska tidak mendengar detak jantungnya yang maraton.
Niken menghampiri Aska di ruang tengah dengan obat dan segelas air di tangannya.
"Obat nya di minum dulu, supaya cepat sembuh." tutur Niken menyerahkan obat tersebut.
"Jangan mikirin yang aneh-aneh. Cepatan minum obatnya." Ketus Niken.
"Hmmm... baiklah sayang."
"Setelah ini kamu istirahat di kamar."
"Temani."
"Aska, kamu ini."
"Please."
"Ya sudah."
"Thanks."
"Aku merasa seperti sudah punya anak sekarang,"
"Nanti juga kita buat anak, sayang."
"Hilangkan pikiran mesummu itu, tuan Aska."
"Why? Wajarkan, aku laki-laki normal sayang,"
Niken mendesah kesal, orang ini pantasnya di apakan? Biar author yang bantuin tabok.
"Sekarang aku jadi berpikir, dari siapa tingkat kemesumanmu itu berasal."
"Siapa?"
"Shaine."
"Come on, sayang. Jangan sebut nama itu lagi,"
"Memang kenapa?"
"Aku benci dengar nama itu."
Niken manggut-manggut tanda mengerti.
Aska menatap Niken dalam diam, mencari sebuah celah di sana. Sayangnya, Niken tercipta tanpa celah. Bagi Aska, Niken adalah bidadari tak bersayap yang sudah Tuhan kirimkan dalam kehidupannya.
"Sayang." Aska memegang tangan Niken dengan lembut, menatap intens kedua mata Niken.
__ADS_1
"Hmmm."
"Aku tidak suka jika kamu bergumam seperti itu."
"Maaf, ada apa tuan Aska?"
"Aku ini pacarmu, Niken. Bukan majikanmu."
"Ah baiklah, ada apa pacar?" tanya Niken sedikit menggoda.
"Will you marry me?" tanya Aska penuh harap.
"Jangan bercanda." ucap Niken tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"Apa aku terlihat seperti orang yang sedang bercanda?" Niken menggeleng.
"Jadi Bagaimana?"
"Yes, I do Aska." jawab Niken dengan pipi merona.
"Oh, Terima kasih sayang."
Aska meraih Niken dalam pelukannya, enggan untuk di lepaskan. Inilah jawaban yang selalu Aska nantikan dari Niken.
Dulu ia gagal menikah, sekarang pintu gerbang terbuka lebar untuk Aska. Kebahagiaan sudah di depan mata, tinggal bagaimana Aska menjalaninya.
Author tunggu undangannya yah.
***
Kedua sejoli yang sedang dimabuk asmara, tersentak kaget ketika bell berbunyi.
"Siapa yang bertamu siang-siang begini?" tanya Aska tak suka jika ada yang mengganggu waktunya bersama Niken.
"Tamu itu raja, tidak boleh seperti itu. Biar aku saja yang bukain pintunya" ujar Niken melangkah ke arah pintu depan. sedangkan Aska mendengus kesal.
"Eh tante Sofi, mbak Anya. Silahkan masuk." sapa Niken menyalami dua sosok yang muncul dari balik pintu, ketika pintu sudah terbuka lebar.
"Hallo sayang, gimana keadaan Aska?" tanya ibu Sofi.
"Aska lagi di dalam, tante. Sebaiknya tante bertanya langsung pada orangnya."
Anya dan ibu Sofi masuk mendahului sedangkan Niken masih menutup pintu.
"Gimana kabar, lo." tanya Anya menghempaskan tubuhnya di samping Aska.
"Seperti yang lo lihat, An."
"Anak mama kenapa, kok cemberut begitu?" tanya ibu Sofi pada Aska yang terlihat sensitif.
"Tidak apa-apa, ma. Aska hanya tidak enak badan,"
"Tadinya aku nyuruh dia untuk istirahat. Tapi dia malah merajuk, tante." Ujar Niken dari balik gorden dengan nada mengejek.
"Ya ampun, Ka. Sudah tua masih merajuk, hati-hati ini anak gadis orang," Cerocos ibu Sofi.
"Calon istri, ma." Ujar Aska tak mau kalah.
"Tapi belum sah, Aska," Anya menimpali
Aska mendengus kesal, dengan ketiga perempuan yang ada di hadapannya saat ini. Bagaimana bisa menang? Ingat, tiga berbanding satu.
"Niken, kamu temani aku istirahat," ucap Aska langsung berdiri dan menarik tangan Niken.
"Tapi"
"Tidak ada tapi-tapian!"
Belum sempat Niken protes, Aska sudah membantah dan membawa Niken pergi.
"Aska... Kamu mau apain anak orang," teriak ibu Sofi
"Tenang aja, ma. Aku tidak akan berbuat maksiat." balas Aska meneriaki ibunya.
Ibu Sofi dan Anya hanya membuang nafas kesal, mungkin mereka sedang berpikir Aska sudah mulai gila.
Dasar bucin egois, keluarga datang menjenguk malah di tinggal.
"Tante dan mbak Anya, kenapa di tinggal?" tanya Niken penasaran sesudah sampai di kamar Aska.
"Aku tidak suka kamu ikut memojok kan ku."
"Jadi hanya itu?"
"Aku mau istirahat, kamu temanin aku,"
"Tapi tidak baik, kalau mereka di tinggalin begitu saja,"
"Mereka akan mengerti, kitakan calon pengantin sayang,"
"Terserah kamu saja, istirahatlah aku jagain,"
Niken mengelus-elus kepala Aska yang ada di pangkuannya, hingga terlelap. Niken memposisikan Aska dengan baik, tidak lupa menyelimuti tubuh Aska.
__ADS_1
Niken merasa, ia seperti seorang ibu yang membujuk anaknya yang susah tidur. Semoga saja, anak Niken tidak seperti bapaknya. Niken harus bisa sabar, extra sabar lebih tepatnya.
Author hanya geleng-geleng kepala.