
Setelah acara lamaran satu hari yang lalu, Aska meminta izin untuk menginap di rumah Niken. Bukan tanpa alasan, ya karena mereka akan mempersiapkan hari spesial mereka. Dengan menginap akan mempermudah jarak dan waktu.
Niken merasa tidurnya tidak nyaman, dengan gerakan tubuhnya yang tidak leluasa seperti di himpit sesuatu. Mata Niken terbelalak, saat ia melihat sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang punggungnya.
Ia ingin memastikan bahwa itu hanyalah halusinasi. Cubitan kecil yang ia lakukan sendiri pada pipinya terasa sakit, berarti ini nyata bukan mimpi bukan juga halusinasi.
Perlahan Niken melepaskan tangan yang sudah berani memeluknya tanpa izin, namun sepertinya pemilik tangan itu tak membiarkannya bebas begitu saja.
"Sial" umpat Niken perlahan.
"Jangan mengumpat seperti itu, aku bisa mendengarmu sayang"
"Siapa yang mengumpat?"
"Kamu"
Niken mencoba melepaskan tangan itu sekali lagi, sepertinya keberuntungan tidak berada di pihak Niken.
"Kenapa kamu bisa ada di kamarku, sejak kapan kamu disini? Tempat kamu di kamar tamu" nada suara Niken meninggi, ia sudah tak tahan dengan pemilik tangan itu yang rupanya hanya pura-pura tidur.
"Aku tidak bisa tidur, sayang. Makanya aku kesini. Lagian, apa salahnya datang ke kamar istri sendiri." ucap Aska dengan nada serak, yang masih bersembunyi dibalik punggung Niken. Ya, pemilik tangan itu Aska. Emang siapa lagi? Huft, dasar Aska.
"Kalau iya, kamu tidak bisa tidur lalu kenapa kamu menganggu tidurku. Tanpa izin, kamu sudah berani memasuki kamarku dan memelukku seperti ini. Ralat kata-katamu itu. CALON ISTRI!" tutur Niken dengan dongkol tak lupa menekan kata calon istri.
"Atas izin mama, kalau tidak mana berani aku masuk. Dan satu lagi, aku tidak mau meralat kata-kataku." ujar Aska mengeratkan pelukkannya.
"Mama? Mama siapa maksudmu? Eh, bisa lepasin nggak." ucap Niken meronta.
"Mama Tias lah, sayang. Jangan meronta seperti itu atau aku akan memakanmu malam ini juga"
Deg
Perkataan Aska berhasil membuat Niken tak berkutik. Oke, sabar Niken. Jika meronta menguras tenaga, maka berteriaklah. Easy right?
"MA"
"Jangan berteriak, kamu akan membangunkan seisi rumah. Ini baru jam dua dini hari", tutur Aska memotong aksi teriak Niken.
Niken memutar bola matanya jengah, ia selalu gagal dalam mencari alasan. Hembusan nafas Aska di balik punggung Niken, membuat bulu kuduknya merinding.
"Aku risih seperti ini."
"Biasakanlah, sayang. Karena kedepannya, kita akan lebih intim dari ini. Bukan hanya sekedar pelukan" ucap Aska menahan tawa.
Tubuh Niken menegang, deru napasnya menggebu, raut wajahnya memerah, dan mulutnya pun ikut terkatup. Pikirannya melayang-layang entah kemana. Ucapan Aska mampu membuat Niken tak bergeming. Dalam cahaya lampu yang remang, Aska mampu menangkap kegugupan dalam diri kekasihnya itu.
"Kenapa, kamu pucat seperti itu?" Tanya Aska dengan nada menggoda.
__ADS_1
"Siapa yang gugup, jangan ngaco."
"Dari gerakan tubuhmu saja aku tau, sayang,"
"Aku hanya kedinginan"
Hei Niken, jawaban macam apa itu?Bukannya sekarang kamu lagi kepanasan karena ulah Aska dan selimut tebal yang menutupi tubuh kalian? Niken merutuki diri sendiri.
"Kamu kedinginan? Biarkan aku yang menghangatkanmu, sayang" Aska terkekeh.
Bukannya Aska tidak tahu kalau Niken sedang kepanasan. Buktinya, bulir-bulir keringat Niken sebesar biji jagung. Tapi, Aska membiarkannya begitu saja karena berada di posisi seperti ini lebih nyaman rasanya.
"Ralat, aku kepanasan"
"Hmm, baiklah. Kalau kepanasan, tinggal suhu AC yang di naikkan. Bereskan?"
"Oh ghost!"
"Jangan memanggilnya kesini, karena kehadiran ghost yang kamu sebut itu bisa membuat suasana dingin akan menjadi hangat"
"Jangan ngelantur"
"Kalau kamu tak ingin aku ngelantur, sebaiknya diam. Tidurlah, ini sudah subuh."
"Tapi aku tidak nyaman"
Niken mencoba menuruti permintaan Aska, perlahan Niken menutup mata. Merasakan hangatnya pelukan Aska, tanpa sadar Niken mendekatkan dirinya lebih dekat lagi. Aska terkekeh, rupanya ia mampu meluluhkan hati Niken.
Deru napas Niken yang tadinya menggebu, perlahan mulai beraturan. Niken terlelap dalam pelukan Aska.
"Tidurlah, sayang. jangan lupa mimpikan aku"
Aska mengecup kening kekasihnya, lalu kembali berbaring dan memeluk Niken.
Aska pun mulai terlelap dan terbuai dalam mimpi.
***
Sinar matahari yang menerobos masuk melalui jendela, membuat Niken mengerjapkan matanya. Niken mencari seseorang yang menemaninya tidur semalam, namun tidak ada siapa-siapa di sampingnya. Kecewa? itulah yang Niken rasakan. Mungkin itu hanya mimpi yang terasa nyata.
Niken turun dari tempat tidur king sizenya, lalu berjalan menuju kamar mandi. Melakukan ritual membersihkan diri sebelum keluar dari kamar.
Niken hendak membuka pintu kamar mandi, namun tiba-tiba saja pintu terbuka dan menampilkan sosok Aska disana.
"Aaaaa... apa yang kamu lakukan?" teriak Niken histeris lalu menutup kedua matanya dengan telapak tangan.
"Pertanyaanmu itu aneh sekali, sayang. Kalau orang di kamar mandi, ya mandilah masa bersemedi?"
__ADS_1
"Bukan itu maksudku, tapi itu"ucap Niken menujuk kearah Aska meski masih menutup mata.
"Tidak apa-apa kalau kamu melihatnya, sayang. Lagian ini milikmu. Tadi aku lupa bawa handuk" ucap Aska menggoda Niken
"Kamu pikir ini lelucon? Setelah kamu berdiri di hadapanku tanpa sehelai benangpun? Kalau ada orang yang lihat, bagaimana?"
"Kan disini cuma ada kamu, sayang. Apakah kamu cemburu jika ada orang lain yang mmelihatnya?" tutur Aska mendekati Niken.
"Stop disitu, apa yang kamu lakukan?"
"Aku hanya ingin bertanya, dimana handuknya?" bisik Aska di kuping Niken.
Niken mematung dengan mata tertutup, merasakan kehadiran Aska di dekatnya membuat Niken enggan membuka mata.
"Disana... eh bukan disana" masih menutup mata Niken menunjuk sembarangan arah.
"Cih, kamu ini. Buat aku bingung saja. Ambilkan"
"Kamu pikir, dengan mata seperti ini aku mampu berjalan tanpa melihat?" ketus Niken.
"Aku tidak menyuruhmu menutup mata."
"Dasar gila"
"Aku gila karena kamu, sayang. Ya sudah, biar aku yang ambil. Sekarang kamu mandi atau aku yang mandiin kamu," ucap Aska menuntun Niken dalam kamar mandi.
"Aku bisa mandi sendiri" potong Niken cepat
"Ya sudah, tutup pintunya" Aska terkekeh
Niken cepat-cepat menutup pintu, nafasnya ngos-ngosan. Niken menggeram kesal. Memukul kepalanya untuk bisa melupakan kejadian tadi.
"Apa bentuknya..." spontan kata itu keluar dari mulut Niken yang mampu didengar Aska yang berdiri tak jauh dari pintu kamar mandi.
"Apa kamu suka dengan bentuknya sayang?" terlintas pertanyaan gila itu untuk mengerjain Niken. Niken hanya menutup mulutnya dengan tangan, apa suaranya sekeras itu? Oh, Niken. Suara kamu itu benar-benar.
Aska terkekeh, membayangkan raut wajah Niken yang memerah bak kepiting rebus. Setelah berganti pakaian, Aska keluar dari kamar Niken. Aska menuruni anak tangga yang segitu banyak, di maklumin saja karena kamar Niken paling atas.
Ibu Tias yang melihat kedatangan Aska, langsung di sambut dengan wajah ceria.
"Gimana sayang, berhasil?" tanya ibu Tias.
"Nggak, ma. Gagal."
"Ya, tuh anak. Padahal mama pengen nimbang cucu" tutur ibu Tias lesu.
Aska hanya tersenyum miris. Jangankan gituan, di peluk saja harus memohon dulu. Sabar Aska, setelah nikah nanti luluh juga.
__ADS_1