BRAVE LOVE

BRAVE LOVE
BERPISAH


__ADS_3

Zero yang baru saja sampai di apartemen miliknya, ingin sekali langsung membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Baru ia mau memasuki kamar mandi, ponsel miliknya berbunyi. Dari deringnya saja ia sudah tahu siapa yang menghubunginya karena ia menggunakan nada dering khusus. Zero menghela nafasnya lalu mengambil ponselnya.


"Iya, Tuan."


"Cari tahu semua informasi mengenai wanita itu!"


Setelah mengatakan itu, Axton memutus panggilannya. Hal itu tentu saja membuat Zero bingung.


"Wanita yang mana?" gumam Zero.


Daripada ia bingung dan pusing sendiri, akhirnya Zero masuk ke dalam kamar mandi dan menikmati waktunya untuk berendam dan merelakskan tubuhnya yang sudah sangat lelah.


*****


Keesokan harinya, Zero telah siap berdiri di ruang tamu Kediaman Keluarga Williams. Ia berdiri dengan gagahnya, menunggu Axton turun. Setiap hari, ia sendiri yang akan mengantar jemput atasannya itu.


Mom Mia yang melihat kedatangan Zero, menatapnya dengan tajam, bahkan hingga menyipitkan matanya. Zero yang tak pernah diperhatikan seperti itu, langsung menelan salivanya. Jantungnya sedikit berdegup kencang dan mulai merasakan ada yang tidak baik akan terjadi padanya.


"Ayo kita berangkat!" ucap Axton dan menepuk bahu Zero. Seketika Zero bisa bernafas dengan lega dan menghindari Mom Mia yang masih menatapnya.


Di dalam mobil,


"Kamu sudah mendapat informasinya?" tanya Axton.


"Sudah, Tuan," jawab Zero. Untung saja semalam ia mengerjakan tugas yang diminta oleh Axton, kalau tidak bisa bisa ia kena tatapan tajam dari atasannya itu.


"Berikan padaku."


"Semua sudah saya kirimkan via email, Tuan."


Axton membuka tabletnya dan memeriksa email. Ia membaca apa yang dikirimkan oleh Zero. Ia cukup kaget dengan informasi yang didapatkan, akan tetapi sepertinya Zero salah menangkap apa yang dia inginkan.

__ADS_1


"Mengapa kamu memberikan informasi Mommynya Alex?" tanya Axton.


"Bukankah semalam anda mengatakan untuk mencari informasi mengenai wanita? Dan wanita yang saya tahu ada di sekitar tuan saat ini, hanyalah Nona Jeanette," jawab Zero.


Axton mengusap wajahnya kasar, "Bukan wanita ini, tapi wanita yang lain."


"Saya tidak pernah melihat anda bersama wanita lain," jawab Zero.


Axton baru teringat kalau 5 tahun yang lalu, ia pergi ke Berlin hanya bersama Mark dan Gilbert. Ia meminta Zero untuk menggantikannya mengurus Perusahaan Williams.


Zero meneruskan mengemudi mobil, sementara Axton kembali melihat informasi yang didapatkan oleh Zero.


"Uncle Marcello?" gumam Axton. Ia baru mengetahui kalau Jeanette adalah putri dari Marcello Archer, sahabat Dad Azka. Wanita itu pernah menikah dengan seorang pria bernama Hansen Daniel, lalu bercerai karena suaminya menghamili adiknya sendiri, Jesslyn Archer.


Axton tak menyangka bahwa kehidupan Jeanette cukup menyedihkan. Lalu, saat ini ia memiliki putra, apakah itu adalah putra dari Hansen Daniel? Lalu mengapa Hansen tak bertanggung jawan pada kehamilan Jeanette? Begitu banyak pertanyaan yang tiba tiba saja melintas di dalam kepalanya.


"Apa ada wanita lain yang perlu kucari informasinya, Tuan?" tanya Zero.


Kini Axton yakin bahwa bukan Jeanette wanita malam itu, meskipun tertulis di sana bahwa ia berasal dari Kota Berlin. Alex mungkin mirip dengannya, tapi ia adalah putra dari Hansen Daniel. Lagipula, malam itu ia membobol seorang perawan, bukan wanita bersuami.


Melihat kehidupan pernikahan Jeanette, semakin menguatkan Axton akan prinsip hidupnya, tidak ada pernikahan. Mungkin pernikahan kedua orang tuanya sangat bahagia, namun jika melihat di luaran sana, banyak sekali yang hancur.


*****


Jesslyn masih tak menemukan keberadaan Hansen dan akhirnya ia kembali ke rumah. Di rumah, ia juga tak menemukan Hansen. Namun ia melihat Eliza, pengasuh putrinya.


"El, apa kamu melihat suamiku?" tanya Jesslyn. Ia bahkan hanya mencari Hansen tanpa menanyakan tentang putrinya sendiri, Joanna.


"Tuan di rumah sakit, Nyonya," jawab Eliza.


"Rumah sakit? Ada apa dengannya?" gumam Jesslyn yang mulai berpikiran negatif. Apa suaminya itu mengalami kecelakaan ataukah jatuh sakit setelah pertengkaran mereka.


"Di rumah sakit mana?" tanya Jesslyn.

__ADS_1


Jesslyn segera berangkat setelah mendapatkan jawaban dari Eliza. Semalam ia tak berkumpul dengan teman temannya, begitu pula malam ini, padahal ponselnya sudah berdering terus dan banyak pesan singkat masuk yang menanyakan dirinya yang tak ikut berpesta bersama mereka.


Untuk saat ini, Jesslyn harus mencari Hansen agar suaminya itu mengurungkan niatnya untuk menceraikannya. Setelah berhasil, barulah ia akan kembali berpesta bersama teman temannya.


Sesampainya ia di rumah sakit, ia memarkirkan mobilnya dan menuju ke resepsionis untuk bertanya. Ia langsunh menuju ke sebuah ruang perawatan kelas 1. Matanya sedikit menyipit dan kedua alisnya menaut ketika melihat bukan kelas VIP ataupun VVIP yang dipilih oleh Hansen.


Apa benar Hansen akan segera jatuh miskin? Kalau seperti itu, akan lebih baik jika aku bercerai saja, tidak perlu merasakan hidup susah dengannya. - batin Jesslyn.


Ceklekkk.


Pintu ruang rawat terbuka, ia berjalan perlahan dan melihat Hansen yang tengah menjaga seseorang. Suaminya itu tertidur di samping sambil duduk di kursi.


"Joan?" gumam Jesslyn. Ada apa dengan Joan, itulah pertanyaan yang muncul dalam benak Jesslyn.


"Sayang ...," Jesslyn mendekati Joanna yang terbaring di atas tempat tidur. Wajah putrinya terlihat pucat dan tubuhnya sedikit kurus.


Hansen yang mendengar suara akhirnya terbangun. Ia melihat keberadaan Jesslyn di sana, namun tak ada keinginan untuk sekedar menyapa.


Jesslyn memutari tempat tidur dan mendekati Hansen, "Katakan padaku, apa yang terjadi pada Joan?"


"Memangnya kamu ingin tahu?" tanya Hansen dengan wajah yang sedikit meremehkan Jesslyn.


"Lebih baik kamu pergi dan bersenang senang dengan teman temanmu itu. Aku bisa menjaga dan mengurus Joanna sendirian," ucap Hansen lagi.


"Aku Mommynya," ucap Jesslyn.


"Jangan membuatku tertawa dengan ucapannmu itu. Kamu tak pernah tahu apa yang terjadi pada Joan, dan kamu juga tak peduli. Pergilah, kami tak membutuhkanmu."


Ucapan Hansen sangat menyakitkan bagi Jesslyn, hingga Jesslyn tak bisa menahan laju air matanya.


"Jadi kamu menginginkan kita berpisah?"


🧡 🧡 🧡

__ADS_1


__ADS_2