BRAVE LOVE

BRAVE LOVE
KEJUJURAN


__ADS_3

Sarapan pagi ini terasa berbeda bagi Jeanette. Setelah percakapannya dengan Axton, ia tak berani menatap terlalu lama pria itu. Ia akan bicara pada Alex saat ia pulang kerja nanti. Ia juga tak mau hal ini membuatnya tak tenang dalam bekerja.


Mereka semua kembali beraktivitas seperti biasa, tak ada perubahan. Axton tetap mengantar Alex ke sekolah, sementara Jeanette pergi bersama dengan Wesley. Hari ini tak ada pekerjaan yang harus Wesley bicarakan dengan Tuan Orlando, jadi ia bisa berangkat bersama dengan Jeanette.


"Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Wesley karena melihat wajah Jeanette yang tak seperti biasanya.


"Ahh, tidak ada apa apa. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu," jawab Jeanette. Ia memang sedang berpikir bagaimana caranya memulai pembicaraannya dengan Alex nanti.


"Katakanlah jika ada sesuatu yang mengganjal di pikiranmu, terutama yang berkaitan dengan perusahaan," ucap Wesley. Jeanette pun mengangguk.


*****


Setelah menyikat gigi, mencuci tangan dan kaki, kini saatnya Alex untuk beristirahat. Tak perlu terlalu banyak drama untuk membuat Alex tidur sendiri di dalam kamar karena memang ia sudah menginginkannya sejak dulu. Apalagi sekarang kamar tidur yang ia miliki, sangat sesuai dengan keinginannya.


"Sayang, Mommy ingin bicara sesuatu denganmu," ucap Jeanette yang ikut naik ke atas tempat tidur dan memeluk Alex.


"Mommy akan bercelita?" tanya Alex.


"Kamu ingin mendengarkan Mommy bercerita?" Alex menganggukkan kepalanya.


"Mommy akan bercerita, tapi sebelumnya Mommy ingin bertanya padamu."


"Tanya apa, Mommy?"


"Apa kamu akan marah jika Mommy berbohong padamu?" tanya Jeanette.


Alex memeluk Jeanette, "Aku menyayangi Mommy. Alex tahu Mommy pasti tak sengaja bohong."


"Terima kasih, sayang," Jeanette memeluk Alex dengan erat.


"Mommy ..."


"Hmm ..."


"Jujul sekalang," Jeanette tersenyum karena Alex akan selalu seperti itu. Ia akan selalu menanti hal yang benar jika tahu bahwa ia telah dibohongi.

__ADS_1


"Alex menginginkan Daddy kan?" tanya Jeanette.


"Kita akan beltemu Daddy?" wajah Alex terlihat antusias.


"Kita sudah bertemu dengannya dan Daddy Alex sangat dekat."


"Dekat?"


"Hmm ... Daddy Axton adalah Daddy Alex," ucap Jeanette. Alex terdiam sesaat dan memperhatikan wajah Jeanette. Ia seperti ingin mencari kebohongan di sana sekali lagi. Ia tak percaya bahwa Daddy yang ia inginkan, Daddy kandungnya, ternyata sudah berada di sampingnya tanpa ia sadari.


Melihat putranya terdiam, Jeanette kembali membuka suaranya, "Kamu tak menyukainya, sayang?"


"Alex suka, sangat suka. Tapi ... ," Alex tiba tiba bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju komputernya. Ia mengambil beberapa lembar kertas. Ia mencari tahu semua hal tentang Keluarga Archer.


"Bukan ini?" tanya Alex saat memperlihatkan gambar seorang pria yang tak lain adalah Hansen Daniel. Kini berganti Jeanette lah yang terdiam. Ia memegang kertas di mana ada wajah Hansen di sana.


Kekecewaan dan sakit hati, ternyata masih berada di sana, di dalam hati terdalamnya. Jeanette memberikan kertas itu kembali pada Alex.


"Ini Glenpa, Glenpa Macello," Alex kembali memberikan sebuah kertas pada Jeanette dan kali ini sukses membuat Jeanette menitikkan air matanya. Kerinduannya seakan mengalahkan apa yang telah terjadi. Ia memegang selembar kertas itu dan memeluknya erat.


Alex bahkan tak bertanya banyak lagi pada Jeanette mengenai Axton, ia akan mencari tahu sendiri semuanya. Saat melihat Jeanette menangis, hati Alex juga ikut sedih. Ia tak pernah melihat Mommynya seperti itu.


Malam itu, Jeanette tidur bersama dengan Alex. Alex memeluk tubuh Jeanette dan nyaman dengan kehangatan yang selalu diberikan oleh Mommynya itu.


"I love you, Mom."


"I love you to, My Alexander," Jeanette membenamkan kecupan di kening Alex dan tersenyum saat memeluk buah hatinya itu.


*****


"Daddy!!" teriak Alex saat melihat Axton yang mendatanginya ke kamar tidur. Hari ini Axton akan kembali ke Indonesia karena ada beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan.


"Halo, Boy. Bagaimana tidurmu semalam?" tanya Axton.


"Nyenyak. Aku dipeluk Mommy. Dad, aku menyayangimu," ucap Alex tiba tiba dan kemudian mengecup pipi Axton.

__ADS_1


Axton melihat ke arah Jeanette yang tengah mempersiapkan tas sekolah Alex, dan Jeanette hanya sedikit menganggukkan kepalanya. Senyum di wajah Axton pun terbit dan hal itu seperti baru pertama kali dilihat oleh Jeanette. Ia langsung memalingkan wajahnya untuk menahan getaran yang tiba tiba saja muncul.


"Daddy juga menyayangimu. Ayo kita sarapan," ajak Axton.


Jeanette mengikuti keduanya dari belakang sambil membawakan tas milik Alex. Tuan Orlando telah berada di meja makan bersama dengan Wesley. Kehadiran Alex yang ceria, selalu membuat pagi Tuan Orlando terasa begitu bahagia. Ia juga seakan merasakan kehadiran istrinya, Elizabeth, ketika melihat Jeanette.


"Tuan, terima kasih sebelumnya karena mengijinkan saya untuk tinggal di sini. Hari ini saya akan kembali ke Indonesia dan akan segera memulai proyek kita," ucap Axton.


"Kamu tak ingin tinggal lebih lama? Aku sangat senang dengan kehadiranmu di sini. Sudah lama sekali rasanya Mansion ini begitu sepi dan sunyi. Datang dan menginaplah lagi di sini. Mansion ini akan selalu terbuka untukmu," ucap Tuan Orlando.


"Terima kasih," balas Axton.


"Daddy pelgi? Pelgi ke mana?" tanya Alex.


"Daddy akan pergi bekerja," jawab Axton.


Tuan Orlando melihat perbedaan interaksi antara Axton dengan Alex. Hal itu tentu saja disadari oleh Wesley yang selalu memperhatikan sikap dan gelagat tuannya itu.


"Daddy akan segela kembali kan? Alex mau tidul sama Daddy," pinta Alex.


"Ya, Daddy akan kembali dan tak akan pernah meninggalkanmu lagi," ucap Axton sambil menatap ke arah Jeanette.


Mereka semua kembali beraktivitas dan Wesley seperti biasa akan pergi ke OR Trade bersama dengan Jeanette. Saat memasuki lobby, Wesley bertemu dengan Dokter Vianne.


Mereka masuk ke dalam lift yang sama dan Dokter Vianne berhenti di lantai 2. Sebelum pintu menutup, ia melihat ke arah Wesley.


"Ke ruanganku secepatnya," ucap Dokter Vianne. Jeanette hanya melihat saja, karena ia merasa tak perlu tahu urusan antara Wesley dengan Dokter Vianne.


Wesley bergegas meletakkan tas nya di dalam ruangan, kemudian memberikan beberapa pekerjaan pada Jeanette.


"Hubungi aku jika ada yang ingin kamu tanyakan. Aku akan keluar sebentar," ucap Wesley dan Jeanette mengangguk. Jeanette yakin Wesley akan pergi menemui Dokter Vianne.


Menuruni lift menuju lantai 2, Wesley seakan tak sabar dengan hasil yang akan diberitahukan oleh Dokter Vianne. Ia segera masuk ke dalam ruangan dan menghampiri Dokter Vianne, bahkan ia sampai lupa mengetuknya terlebih dahulu.


"Bagaimana?"

__ADS_1


🧡 🧡 🧡


__ADS_2