
Jeanette terbangun, ia menoleh ke samping dan melihat seorang pria tidur di sebelahnya. Namun kali ini, ia tersenyum. Pria yang berada di sampingnya, adalah suaminya, Axton Williams, ayah dari anaknya.
"Kamu cantik kalau tersenyum," ucap Axton sambil membuka matanya.
"Kamu sudah bangun?" tanya Jeanette dengan sedikit malu karena kedapatan tengah memandangi Axton.
"Aku bangun lebih dulu karena takut wanitaku akan kabur jika ia melihat seorang pria tidur di sampingnya," goda Axton.
Axton meraih pinggang Jeanette dan memeluknya erat. Tubuh keduanya masih sama sama polos dan itu memberikan getaran bagi keduanya.
Jeanette menatap wajah Axton dan kembali tersenyum, "Terima kasih karena menerimaku apa adanya."
"Aku yang berterima kasih karena kamu mau melahirkan Alex, menjaganya, dan bahkan mau menikah denganku," ucap Axton.
Axton menyentuh wajah Jeanette dan sentuhan itu mulai turun ke leher, bahu, dan kini berada di 2 aset kembar Jeanette. Ia mulai menggeliat ketika tangan sebelah Axton juga memberikan sentuhan pada area sensitiff miliknya.
Tak perlu waktu lama, Axton kembali berada di atas Jeanette dan melakukan seperti semalam. Benar apa kata sahabat sahabatnya, berhubungan intimm itu menjadikan candu, tapi ia lebih suka jika candunya adalah istrinya sendiri.
Mark dan Gilbert tak terlihat pada acara pernikahannya. Saar ini kedua sahabatnya itu sedang bepergian sambil mengerjakan sebuah proyek penting bersama dan pernikahan Axton yang bisa dikatakan mendadak, tak mungkin merubah jadwal kerja mereka.
*****
"Uncle!" Nala yang merasa sedikit bersalah pada One, meminta kedua orang tuanya untuk mendatangi One di rumah sakit. Meskipun hanya terkena jarum dengan dosis obat penenang saja, tapi One belum diperbolehkan untuk pulang.
Hal itu dikarenakan di bagian tertentu tubuhnya terlihat sedikit membiru dan akan dicek oleh pihak dokter dan laboratorium.
"Ada apa, Nala?" tanya One dengan ramah. Itu karena ada Michael dan Alexa di dalam ruangan.
"Maaf ya, Uncle. Uncle jadi pingsan. Tapi terima kasih, sudah membantu membuktikan kalau senjata Nala itu teruji keberhasilannya," ucap Nala sambil terkekeh.
__ADS_1
Anak ini! Masih sempat sempatnya ia membanggakan senjatanya. Kalau saja tak ada Tuan Michael dan Nona Alexa, sudah kugeret dia ke balkon dan kujadikan gandulan angin. - batin One.
"Maafkan Nala dan Nicholas ya, One. Aku telah menyita senjata mereka dan akan membawa mereka pulang ke New York," ucap Alexa.
"Aku tidak apa apa, Nona. Ini hanya masalah kecil," ucap One.
"Tuh kan Mom, Uncle bilang tidak apa apa. Aku tidak mau kembali ke New York. Aku masih ingin bermain di sini bersama Alex," ucap Nala.
Pergilah, bawa putrimu itu, Nona. Jangan terhasut dengan wajah imutnya itu. Jika ia di sini dan bermain dengan Alex, bisa bisa aku lagi yang harus menemani dan menjaga mereka. - Batin One.
"Tidak, sayang. Kita harus segera kembali. Nanti Mom akan meminta Uncle Axton mengajak Alex ke New York."
"Benar, Mom?" tanya Nala antusias.
"Tentu saja."
"Asyik!!" teriak Nala.
"One, kami akan kembali dulu. Oya, apa Zero ke sini?" tanya Alexa.
"Kak Zero datang ke sini kemarin, setelah peristiwa itu."
"Baiklah kalau begitu," ucap Alexa.
Kemudian Michael dan Alexa, serta Nala pamit meninggalkan One di rumah sakit. One pun bernafas dengan lega setelah mereka pulang.
Aku masih penasaran dengan kekasih Kak Zero. Apa Kak Zero sedang menemuinya saat ini? - batin One.
*****
__ADS_1
Hansen sangat kaget ketika mendapat telepon dari Dad Marcello dan mengatakan bahwa Jesslyn sedang berada di kantor polisi.Dad Marcello hanya ingin Joanna tak mengetahuinya dari siapapun dan meminta Hansen untuk menjaganya.
Hansen yang sedikit syok pun ikut pergi ke kantor polisi. Ia ingin tahu apa yang terjadi.
Sesampainya di sana, ia melihat Dad Marcello yang sedang duduk tak jauh dari posisi Jesslyn yang sedang diperiksa. Dad Marcello melihat ke arah Hansen dan berjalan mendekat.
"Kamu di sini, Han?" tanya Dad Marcello.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Dad?" Hansen tetap memanggil Dad Marcello dengan sebutan Dad, karena bagaimana pun juga ia adalah kakek dari Joanna.
"Jesslyn membuat keributan di acara pernikahan Jeanette."
"Jeanette menikah?" tanya Hansen.
"Ya."
Hansen terdiam. Ia terlambat untuk meminta maaf dan meminta wanita itu kembali menjadi istrinya. Ya, Hansen merasakan dengan sangat bagaimana perbedaan Jeanette dan Jesslyn saat menjadi istrinya.
"Kapan?"
"Baru kemarin lusa. Setidaknya sekarang ia sudah bahagia bersama suami dan putranya," jawab Dad Marcello.
Suami? Anak? - batin Hansen.
"Siapa suaminya, Dad?"
"Axton Williams, putra sahabat Dad. Pemilik Perusahaan Williams."
Pupus sudah harapan Hansen. Ia bahkan tak ada seujung kuku dari seorang Axton Williams.
__ADS_1
🧡 🧡 🧡