BRAVE LOVE

BRAVE LOVE
MENJADI MILIKNYA


__ADS_3

Jesslyn yang sedang mengendap untuk mengikuti Hansen, ternyata meninggalkan putri mereka bersama seorang perawat di bagian farmasi. Ia pun terus memperhatikan Hansen yang berjalan menuju area ruang VIP.


Ia hafal jalur ini karena di sinilah Mom Gemma bekerja dan ia sering ke sana saat masih sekolah dulu. Mata Jesslyn memicing ketika melihat Hansen masuk ke dalam sebuah ruangan. Di luar, tertulis nama ibunya, Gemma.


Pintu tak tertutup rapat dan Jesslyn bisa mendengar suara seorang wanita dari dalam, selain suara Hansen.


Kak Jean? - batin Jesslyn.


Ia pun segera bersembunyi di balik dinding ketika ia mendengar mereka keluar. Keduanya duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tunggu. Jesslyn tak bisa mendengar apa yang keduanya bicarakan karena jaraknya yang lumayan jauh.


Matanya membulat ketika melihat Hansen berlutut di hadapan Jeanette dan memegang tangan kakaknya itu.


Menyebalkan! Apa Kak Jean berusaha mengambil apa yang menjadi milikku? - batin Jesslyn yang langsung pergi dari sana.


*****


"Lepaskan tanganmu!" Jeanette langsung menepis tangan Hansen yang menggenggam tangannya.


"Jean ... Setidaknya maafkan aku."


"Memaafkanmu? Apa menurutmu memaafkan itu mudah? Kalau begitu, maafkan juga apa yang Jesslyn lakukan. Jangan bercerai dengannya," ucap Jeanette. Ia sudah mengetahui semua permasalahan di antara Jesslyn dan Hansen dari mencuri dengar pembicaraan antara Dad Marcello dengan seseorang di telepon.


"Tidak! Aku akan tetap bercerai dengannya. Ia menyakitiku dan juga putriku," ucap Hansen.


"Kalau begitu, sadarlah bahwa kamu juga menyakitiku. Aku juga tak akan memaafkanmu semudah itu. Pergilah, aku tak punya banyak waktu," ucap Jeanette yang bangkit dan melangkah pergi dari sana.


"Aku menyesal Jean! Kalau saja waktu bisa diputar kembali, aku ingin kamu lah yang tetap menjadi istriku."


Namun Jeanette sama sekali tak tersentuh. Baginya semua ucapan Hansen tak dapat ia percaya lagi. Ia ingin segera pergi dari sana, pergi dari rumah sakit, dan pergi dari Kota Berlin.


Hansen menghela nafasnya kasar. Ia akan berusaha untuk meluluhkan hati Jeanette. Sekarang ia harus kembali ke bagian farmasi untuk menemui putrinya, Joanna.


*****


Jesslyn langsung pergi menuju ke klub malam di mana ia biasa menghabiskan waktunya. Ia duduk di meja bartender dan mulai memesan minuman.


"Jess! Kamu sudah sampai? Aku kira kamu mau dijemput," ucap salah seorang teman Jesslyn yang sering berkumpul.


"Aku akan meminta Daddy membelikanku mobil lagi. Mobil lamaku rusak," ucap Jesslyn beralasan.


"Ayo kita kumpul di sana. Yang lain sudah mulai datang."

__ADS_1


"Ayo!" Jesslyn mengangkat gelasnya dan langsung menuju ke sofa di mana teman temannya sudah berkumpul.


Musik menggema dan kerlap kerlip lampu seakan berputar mengelilinginya. Jesslyn terus minum namun kepalanya terus berpikir. Ia semakin kesal jika teringat kejadian di rumah sakit tadi.


"Dasar anak pungut! Dulu kamu sudah mengambil Hansen dari tanganku, hingga membuatku jadi istri kedua. Sekarang, kamu inginmengambilnya lagi dan membuatnya menceraikanku," gumam Jesslyn.


Karena merasa amat kesal, Jesslyn langsung melemparkan gelas yang ia pegang hingga pecah berhamburan.


"Jess, kamu sedang kesal hah?!"


"Ya, sangat!"


"Kamu kesal dengan seseorang?"


"Hmm ..."


"Apa kamu memerlukan bantuan kami untuk menghajarnya?" tanya seorang pria.


"Tidak perlu. Aku tidak perlu menghajarnya, aku akan memberi dia pelajaran yang tak akan pernah ia lupakan," ucap Jesslyn sambil tersenyum sinis.


"Jika kamu memerlukan bantuan kami, katakan saja. Kami akan dengan senang hati membantumu."


*****


Jeanette mengendarai mobil milik Axton menuju ke hotel di mana ia menginap. Ia baru sadar kalau hotel tersebut adalah milik Keluarga Williams.


Ia memarkirkan mobil di tempat tadi ia mengambilnya. Setelah itu ia langsung naik lift ke lobby dan melanjutkannya ke lantai di mana kamarnya berada. Ia melihat jam di pergelangan tangannya dan ia baru sadar kalau ia terlalu lama meninggalkan Alex.


Saat ia membuka pintu, ia melihat Alex sedang tertaw sambil berlarian mengelilingi kamar yang terbilang cukup luas. Axton pun ikut berlari mengejarnya. Sesaat Jean seakan terpesona dengan senyum yang terukir di wajah Axton saat bermain bersama dengan Alex.


"Mommy datang," sapa Jeanette yang kemudian melepas sepatunya.


"Mommy!" teriak Alex.


"Mommy mandi dulu ya, sayang," ucap Jeanette.Ia baru pulang dari rumah sakit dan rasanya tidak baik jika Alex langsung memeluknya.


"Okay, Mommy."


"Aku titip Alex lagi sebentar. Aku tak akan lama," ucap Jeanette.


"Lama juga tidak apa. Aku senang berada di sini," ucap Axton.

__ADS_1


Setelah Jeanette masuk ke dalam kamar mandi, Axton langsung mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada Four. Ia ingin tahu bagaimana hasil pengawasan hari ini.


Saat Four mengirimkan foto interaksi antara Jeanette dengan Hansen, tangan Axton mulai terkepal. Namun, Four juga memberikan informasi kalau Jeanette sama sekali tak menggubris apapun perkataan Hansen. Four harus melakukan itu, kalau tidak atasanya itu mungkin bisa berasap dan berdampak pada dirinya juga.


Setelah 15 menit, Jeanette keluar dari kamar mandi. Ia menggunakan bathrobe dengan rambut yang masih setengah basah. Axton bisa menghirup harumnya dan dadanya kembali bergejolak.


Jeanette berjalan menuju ke arah wardrobe dan mengganti pakaiannya di sana. Setelahnya, ia pun kembali ke dalam kamar dan memeluk putranya.


"Mommy merindukanmu, sayang. Kamu mau makan malam apa?" tanya Jeanette.


"Aku sudah memesannya. Mungkin sebentar lagi akan datang," ucap Axton.


Dan benar saja, tak sampai 5 menit, bel pintu berbunyi dan Axton langsung berjalan ke sana dan membukakan pintu itu.


"Terima kasih."


Axton membawa masuk troli dengan beberapa jenis makanan di atasnya.


"Ayo kita makan," ucap Axton.


Mereka bertiga duduk bersama di meja makan yang ada di kamar hotel itu. Axton terus memandangi Jeanette, bahkan mulai berfantasi liar. Indera penciumannya seakan terus dimanjakan saat berada dekat dengan Jeanette. Ia pun langsung menggelengkan kepalanya dan meneruskan makan malamnya.


"Terima kasih karena sudah menjaga Alex. Besok aku tak ke mana mana, jadi aku sendiri yang akan menjaganya," ucap Jeanette.


"Kalau kamu tidak ke mana mana, bagaimana kalau kita pergi kebun binatang?" tanya Axton.


Wajah Alex langsung sumringah, "Aku mau, Dad. Mommy, kita pelgi ya."


Jeanette tak ingin mengecewakan Alex, apalagi hari ini ia sudah meninggalkannya.


"Baiklah, kita akan pergi," ucap Jeanette.


"Asikk. Thank you, Dad. Thank you, Mom!"


Melihat kebahagiaan Alex, rasanya sudah cukup bagi Jeanette. Ia tak memerlukan apa apa lagi. Sementara Axton kembali memandangi Jeanette, ia mulai berpikir untuk mengikat wanita itu dalam sebuah pernikahan agar tak bisa ke mana mana lagi dan hanya akan menjadi miliknya.


Ia tak peduli Jeanette merupakan seorang janda, karena dia lah yang pertama kali mengambil milik Jeanette. Ia tersenyum dalam hati saat mengingat malam itu.


Aku akan membuatmu terus berada di dekatku. - batin Axton.


🧡 🧡 🧡

__ADS_1


__ADS_2