
Setelah berhasil membuat Alex tertidur, dengan perlahan Axton berjalan keluar dari kamar. Ia melangkah pelan namun pasti, menuju kamar tidur tamu yang ditempati oleh Jeanette.
Baru saja ia akan memegang handle pintu kamar Jeanette, ia harus mengurungkan niatnya.
"Apa yang mau kamu lakukan, Ax?" tanya Mom Mia yang melihat kelakuan putra sulungnya itu, mengendap endap seperti maling di rumah sendiri.
"Tentu saja aku akan tidur dengan Jeanette," jawab Axton jujur.
"Kembali ke kamarmu dan temani Alex. Kamu tidak boleh tidur bersama hingga kalian menikah," ucap Mom Mia.
"Momm ...."
"Tidak ada Mom Mom an. Kembali sana cepat! Atau mommy akan memanggil Daddymu dan memintanya menyembunyikan Jeanette sampai hari pernikahan kalian."
"Mommy kejam sekali. Apa tidak bahagia melihat aku akan menikah?" tanya Axton.
"Tentu saja Mommy bahagia. Hanya saja Mommy tidak mau kamu membuat DP lagi sebelum acara pernikahan mengerti?"
"Aku berjanji Mom tidak akan mengganggu tidur Jean. Aku hanya ingin tidur bersamanya, setidaknya untuk mendekatkan hubungan kami," jawan Axton.
"Mommy bilang tidak, pokoknya tidak! Mommy tidak percaya kalau kamu tidak akan mengganggu Jean. Kalau kamu mau mendekatkan hubungan, mulai besok pagi, kamu pepet saja terus, tapi tidak malam hari. Sana kembali ke kamarmu!"
Axton menghela nafasnya pelan dan akhirnya kembali ke kamar tidurnya. Ia mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan untuk Jeanette bahwa ia tak bisa menemuinya. Namun, pesan yang ia kirimkan tak dibaca sama sekali.
Apa ia sudah tidur? Ia memang tidak menungguku? - Axton melipat kedua tangannya di depan dada. Ia terus saja melihat ke arah ponselnya kalau kalau Jeanette membaca pesannya, tapi ternyata nihil.
*****
Mata Axton mengerjap, ia melihat di luar masih sangat gelap. Ia mencari ponsel di atas nakas untuk melihat pukul berapa saat itu.
"Masih jam 3," gumamnya pelan.
Ia melihat ke sebelahnya di mana Alex tertidur sangat nyenyak. Axton pun bangkit dari tenpat tidur dan keluar dari kamar. Suasana rumah masih begitu sepi karena semua penghuni masih tertidur. Dengan langkah pelan dan tetap mengendap endap, Axton menuju kamar tidur Jeanette.
Ceklekkk
Ia melihat seorang wanita sendirian di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Kasihan sekali kamu sendirian, aku akan menemanimu di sini," gumam Axton. Ia berjalan mendekat kemudian naik ke atas tempat tidur.
Axton mendekatkan tubuh Jeanette padanya, tapi siapa sangka Jeanette malah memutar tubuhnya dan memeluknya erat seakan tengah mencari kehangatan.
Melihat wajah Jeanette, Axton pun tersenyum. Ia tak pernah merasa sebahagia ini bersama dengan seorang wanita. Dengan perlahan ia menempelkan bibirnya pada bibir Jeanette dan mengecupnya dengan lembut. Tapi bukan Axton jika ia hanya melakukannya 1 kali. Ia melakukannya beberapa kali hingga akhirnya Jeanette pun terbangun.
"Ax ...," Axton langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir Jeanette.
"Kamu bisa tidur nyenyak tanpaku?" Axton seakan kecewa dan menjadi seperti anak kecil.
Jeanette tersenyum, tapi tak menjawab. Axton yang sangat suka dengan senyum dan mata Jeanette, langsung membenamkan bibirnya kembali pada bibir Jeanette.
"Apa kamu tak menemani Alex?" tanya Jeanette di sela sela ciuman mereka.
"Alex bisa tidur sendiri, tapi aku tak bisa jika tidak bersamamu," jawab Axton.
Ia mulai memberikan sentuhan pada tubuh Jeanette, hingga suara des sahan terdengar dari bibir Jeanette. Axton tersenyum karena adik kecilnya akan kembali pulang.
Tokk ... Tokk ... Tokk ...
"Mommy ... Mommy," panggilan Alex membuat Jeanette tersadar. Sejak tadi ia begitu terbuai dengan sentuhan yang Axton berikan.
Cekleekk
"Mommy ....," panggil Alex, tapi kemudian ia terdiam sesaat karena melihat Daddynya berada di sana.
"Kenapa Daddy di sini?" tanya Alex.
"Daddy ingin tidur dengan Mommy," jawab Axton.
"Tidak boleh. Alex tidul dengan Mommy. Dad sudah besal, halus tidul sendili," ucap Alex.
"Bagaimana kalau kita tidur bertiga?" tanya Axton.
"Tidak boleh! Nanti Alex bilang Glenma ni ... Glenma!!" teriak Alex.
Axton langsung menutup mulut Alex karena tak ingin Mom Mia terbangun. Sudah susah payah ia terbangun dan datang ke kamar Jeanette, malah mendapat gangguan dan itu dari putranya sendiri.
__ADS_1
Jeanette tersenyum kecil melihat interaksi antara Axton dengan Alex. Sebelum ini, keduanya terlihat begitu dekat, bahkan sangat dekat, hingga membuat Jeanette iri dan takut bahwa Alex akan memilih Axton dibanding dirinya.
"Beristirahatlah di kamarmu. Aku akan menemani Alex di sini," ucap Jeanette.
Alex langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan tersenyum ke arah Axton. Axton tahu saat ini Alex sedang menggodanya bahwa ia telah memenangkan pertarungan dan merebut Jeanette darinya.
Awas kamu, nanti Dad akan menculik Mommymu dan bersamanya sepuas Dad. - batin Axton.
"Baiklah, aku kembali ke kamar dulu," ucap Axton masih dengan nada tidak rela.
Axton akhirnya kembali ke kamar, sementara Jeanette menemani Alex. Axton harus meredakan sesuatu di bawah sana yang sudah mulai menegang sejak tadi.
*****
2 minggu kemudian,
"Uangku sudah mulai habis, aku tidak ada simpanan lagi. Apa yang harus kulakukan?" gumam Jesslyn.
Ia sudah tak menginap di hotel lagi dan berpindah ke sebuah apartemen kecil dengan sewa mingguan. Ia menatap ke sekeliling, di mana apartemennya memiliki kondisi yang begitu menyedihkan.
"Aku harus menemui Dad, setidaknya ia pasti mau menolongku. Tak mungkin Dad akan membiarkanku kelaparan. Bagaimana pun juga, aku adalah putrinya, putri kandungnya," ucap Jesslyn.
Jesslyn pun membereskan kopernya dan berniat untuk pulang. Ia juga harus meminta pelayan di rumahnya untuk mencuci semua bajunya karena ia tak pernah mencuci. Ia kadang memakai pakaian hingga 2 hari tanpa ganti.
Dengan menggunakan taksi, ia pun pulang ke Kediaman Keluarga Archer. Taksi berhenti di sebuah rumah besar dengan keadaan yang terlihat begitu sepi.
"Nona Jesslyn?" gumam petugas keamanan.
"Pak, bayarkan taksiku dulu," ucap Jesslyn.
Petugas keamanan itu pun menuruti perintah Nona mudanya itu. Ia langsung mendekati taksi dan mengeluarkan sejunlah uang.
Baru saja ia melangkah mendekati pintu masuk, ia mendengar Dad Marcello sedang berbicara di telepon.
"Baiklah, aku pasti akan datang. Kamu tak perlu menjemputku. Aku akan datang di pernikahan Jeanette, aku tak ingin ia kecewa lagi padaku," ucap Dad Marcello.
Menikah? Kak Jean akan menikah? Apa dia akan menikah lagi dengan Hansen? Tidak boleh! Ia tak boleh menikah lagi, dengan siapapun itu. Aku tidak akan membiarkannya bahagia, sementara aku tersiksa di sini. - batin Jesslyn.
__ADS_1
🧡 🧡 🧡