BRAVE LOVE

BRAVE LOVE
TIBA DI LONDON


__ADS_3

Kini Jeanette dan Alex telah berada di bandara Ngurah Rai. Ia akan bertolak ke Kota London, di mana Perusahaan OR Trade berpusat. Jeanette menoleh ke arah putranya yang sedari tadi terlihat sangat gelisah.


"Ada apa hmm?" tanya Jeanette.


"Mom ... Alex lindu Dad Ax," mata Alex tiba tiba mulai menggenang. Ia mengusapnya cepat karena tak ingin dianggap cengeng.


Ya Tuhan, apa yang telah aku lakukan? - Jeanette merasa bersalah karena ia telah memisahkan seorang anak dengan Ayahnya. Ia menghela nafasnya pelan. Tak mungkin ia mundur lagi karena ia juga memiliki ketakutan jika Alex diambil darinya. Ia tahu rasanya sendirian dan ia tak menyukai itu.


Jeanette memeluk putranya dan meletakkan kepala Alex di dadanya. Ia mengusap punggung Alex perlahan dan mencium pucuk kepalanya.


"Kita akan memulai kehidupan yang baru, berdua .... Ya hanya berdua," gumam Jeanette.


*****


"Uncle," sapa Axton saat menjemput Uncle Marcello. Ia diminta oleh Dad Azka untuk menjemput sahabat ayahnya itu di bandara.


"Halo, Ax. Rasanya sudah lama sekali Uncle tak melihatmu," Uncle Marcello menepuk bahu Axton dan Axton hanya tersenyum tipis.


Perjalanan dari bandara ke rumah dilalui tanpa terlalu banyak pembicaraan. Uncle Marcello lebih banyak berkutat dengan ponselnya dan sesekali berdecak kesal.


Mereka pun akhirnya sampai di Kediaman Keluarga Williams. Axton memerintahkan supir untuk menurunkan barang bawaan Uncle Marcello dan menemaninya masuk ke dalam.


"Cel!" sapa Dad Azka.


"Az, bagaimana kabarmu?" tanya Uncle Marcello.


"Seperti yang kamu lihat. Ayo masuk," Dad Azka melihat wajah Uncle Marcello yang sepertinya memang sedang banyak masalah yang ia hadapi.


"Bawa masuk ke kamar tamu, Paman," kata Axton pada sang supir.


Axton pun akhirnya duduk bersama dengan Dad Azka dan Uncle Marcello di ruang kerja. Uncle Marcello ingin semua cepat selesai, karena itulah ia tak menunggu lama. Ia juga baru mendapat kabar kalau Jesslyn kembali berulah dan tentu saja membuat istrinya, Gemma, pusing.


"Ceritakanlah, Cel," ujar Dad Azka.


"Az, bisakah kamu membantuku mencari di mana keberadaan Jeanette? Aku ingin menemuinya," ucap Uncle Marcello.


"Tanyakanlah pada Brave," ucap Dad Azka yang membuat Uncle Marcello menoleh ke arah Axton.


"Ia ada di Pulau Bali bersama putranya," jawab Axton.


"Bali? Putranya? Apa dia sudah menikah lagi?" tanya Uncle Marcello heran.

__ADS_1


"Dia tidak pernah menikah lagi sejak bercerai," jawab Axton yang mengetahui informasi tentang Jeanette dati Zero waktu itu.


"Ya, ku rasa Jeanette sedang hamil ketika ia bercerai dengan menantumu," ucap Dad Azka.


"Tidak! Itu tidak mungkin!" ucap Uncle Marcello.


"Apa maksudmu, Cel?" tanya Dad Azka.


"Dengan siapa dia hamil? Hansen mengatakan padaku kalau ia tak pernah menyentuh Jean. Oleh karena itulah aku menyetujui perceraian itu," ucap Uncle Marcello.


Deggg


Jantung Axton tiba tiba saja berdetak dengan cepat. Ia mulai berpikir macam macam dan tentu saha tak membuatnya fokus dengan pembicaraan mereka.


"Jadi dia masih orisinil ketika mereka bercerai?" tanya Dad Azka.


"Ya, itulah yang Hansen katakan. Jean juga mengatakan saat itu bahwa ia tak bisa memiliki anak karena Hansen tak pernah menyentuhnya. Lalu, apa ia sudah menikah lagi?" tanya Uncle Marcello.


"Baiklah, tenangkanlah dirimu dulu. Brave, bantu Uncle Marcello untuk mencari semua informasinya," ucap Dad Azka.


"Okay, Dad," Axton langsung bangkit dan menuju ke kamar tidurnya.


"JA, Jeanette Archer ... Jadi benar malam itu adalah dirimu. Dan ... Alex?" Axton merapikan beberapa barangnya. Ia akan menyusul Jeanette dan Alex. Ia akan meminta penjelasan serta kejujuran wanita itu.


Axton kembali membuka pesan terakhir yang dikirimkan oleh Alex.


"Ini pasti hanya alasan yang ia ucapkan pada Alex. Tak mungkin ia membawa Alex pergi menemui Uncle Marcello, sementara Uncle Marcello berada di sini. Tapi ... Apa dia menemui Hansen?" Axton tak sabar untuk mendapatkan informasi dari Zero.


Tak lama, ponsel Axton bergetar dan dengan cepat Axton langsung meraihnya, "Cepat katakan, Ze!"


"Mereka pergi ke Kota London, Inggris. Tuan Orlando memberinya pekerjaan di OR Trade. Wesley yang mengatur itu semua," jelas Zero.


"Tuan Orlando?" gumam Axton yang mulai bertanya tanya.


"Siapkan pesawatku, Ze. Aku akan ke London hari ini juga," ucap Axton.


"Siap, Tuan!"


*****


20 jam lebih perjalanan yang harus ditempuh oleh Jeanette dan Alex. Putranya terlihat sangat bosan di dalam pesawat karena tak ada yang bisa ia lakukan selain diam ataupun bermain game di ponsel miliknya.

__ADS_1


"Mom, kapan kita sampai?" tanya Alex sambil melihat ke arah jendela.


"Sebentar lagi, mungkin sekitar setengah jam lagi."


"Aku bosan, Mom."


"Mommy mengerti. Tunggulah sebentar lagi, okay."


"Okay, Mom," Alex pun menyandarkan kepalanya di lengan Jeanette, mencari kehangatan dan kenyamanan.


Sesampainya di sana, sebuah mobil sedan berwarna hitam ternyata telah dipersiapkan oleh Wesley yang secara khusus menjemput Jeanette dan Alex.


Jeanette menautkan kedua alisnya saat melihat kehadiran Wesley di sana, "Selamat datang, Nona."


"Mom, ini ...," Alex melihat ke arah Wesley dan kembali menoleh pada Jeanette.


"Ini Uncle ...," Jeanette berhenti karena ia tak mengingat nama Wesley.


"Wesley. Panggil saja Uncle Wes," Wesley sedikit berlutut dan mensejajarkan tubuhnya dengan Alex.


"Glenpa!" teriak Alex tiba tiba.


"Ya, kita akan menemui Grandpa. Ayo ikut dengan Uncle," Wesley mempersilakan Jeanette dan Alex masuk ke dalam mobil. Ia duduk di depan bersama supir sementara Jeanette dan Alex duduk di belakang.


"Tuan, apakah ...," Jeanette yang penasaran tak sabar ingin bertanya.


"Ya, Tuan George Orlando adalah pemilik OR Trade dan secara khusus mengundang anda ke Kota London, Nona," jawab Wesley yang seakan tahu apa isi kepala Jeanette.


Jeanette diam dan mengikuti alur saja. Ia masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Mobil itu akhirnya sampai di sebuah rumah yang sangat besar layaknya istana. Alex melihatnya langsung membulatkan mata dan mulutnya menganga.


"Mom, besal!" teriak Alex.


"Silakan Nona," Wesley membukakan pintu dan Jeanette beserta Alex pun turun. Beberapa orang pekerja di sana sempat berhenti sesaat saat melihat Jeanette. Mereka sudah bekerja puluhan tahun dengan Tuan Orlando dan mereka seakan melihat Nyonya mereka.


Jeanette melangkah sambil menggandeng Alex. Ia melihat ke kanan dan ke kiri. Namun, matanya terhenti saat melihat sebuah foto besar di ruang tamu.


"Itu Mommy!" teriak Alex


🧡 🧡 🧡

__ADS_1


__ADS_2