
Jeanette selalu membawa pakaian gantinya saat masuk ke dalam kamar mandi. Itu karena saat tinggal di Bali, kamar mandi yang ia miliki berada di luar dan tidak mungkin ia keluar hanya dengan menggunakan handuk, apalagi ia memiliki seorang putra.
Mata Jeanette membulat saat melihat kehadiran Axton di sana. Ia melihat ke arah Alex, kemudian menghela nafasnya pelan. Ia yakin sekali bahwa ini semua pasti karena Alex.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Jeanette.
"Untuk menjaga kalian ... Dari tangan tangan jahil yang ingin mengambil seenaknya," ucap Axton.
"Karena ada dirimu di sini, aku akan pergi sebentar ke rumah sakit. Aku titipkan Alex padamu. Aku tidak ingin dia bolak balik ke rumah sakit," ucap Jeanette.
Apa dia akan ke rumah sakit lagi untuk bertemu pria itu? - batin Axton yang mulai curiga.
"Kita ikut saja, bagaimana?" tanya Axton pada Alex. Ia harus menggunakan putranya itu untuk mencegah Jeanette bertemu kembali dengan mantan suaminya.
"Mau mau mau!!" jawab Alex.
"Tidak, sayang. Sebaiknya kamu di sini saja. Mommy tak akan lama. Mommy hanya menggantikan Grandpa untuk menjaga Grandma, sebelum Grandpa datang nanti malam."
Jeanette kasihan melihat Dad Marcello yang harus menjaga Mom Gemma setiap malam. Wajah Dad Marcello menampakkan kelelahan yang luar biasa, apalagi ia juga harus mengurus perusahaan.
"Maukah kamu menolongku untuk menjaga Alex? Aku janji tak akan lama," pinta Jeanette.
Ia terpaksa meminta tolong pada Axton. Jika tak ada Axton di sana, ia memang tetap harus membawa Alex dan Jeanette tahu itu tak baik bagi Alex.
"Baiklah," jawab Axton akhirnya.
Jeanette bersiap siap untuk pergi. Tapi sebelum Jeanette pergi, Axton memanggilnya.
"Pakailah mobilku, kuncinya ada di atas nakas," Axton memberikan kartu kamar hotelnya agar Jeanette mengambilnya sendiri.
__ADS_1
"Aku akan naik taksi saja."
"Bawalah, atau aku sendiri yang akan mengantarmu ke sana," ucap Axton. Jeanette akhirnya menerima kartu itu. Ia keluar dari kamar setelah mencium pipi Alex. Jeanette yang mencium pipi Alex, Axton yang jantungnya berdegup kencang. Ia kembali menghirup harum rambut milik Jeanette yang sukses membuat darahnya berdesir.
Jeanette membuka pintu kamar hotel Axton. Ketika ia masuk, harum maskulin milik pria itu seakan langsung menyerbu indera penciumannya. Ia langsung menuju ke nakas dan mengambil kunci mobil milik Axton. Jika ia terlalu lama di dalam, mungkin ia tak akan mau keluar dari sana.
*****
Brughhh
Jesslyn menghempaskan tubuhnya ke atas sofa di sebuah cafe. Ia sangat kesal dengan apa yang dilakukan oleh Dad Marcello. Hal itu membuatnya kesulitan mau pergi ke mana mana dan pastinya akan terus mendapat pengawasan dari Dad Marcello karena supir keluarganya itu akan berkata jujur ke mana Jesslyn pergi.
Oleh karena itulah ia meminta diantar ke cafe saja. Dari sana nanti ia bisa menghubungi temannya untuk menjemputnya dan membawanya ke klub seperti biasanya.
Ia duduk di kursi dekat dinding sehingga ia tak terlihat oleh orang yang lalu lalang. Ia memesan secangkir kopi dan mulai menyesapnya. Namun kemudian matanya melihat sosok pria yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya, Hansen Daniel.
Ia tengah duduk bersama dengan seorang pria dan menikmati secangkir kopi dan cemilan di sana. Keduanya terlihat berbicara serius. Jesslyn memperhatikan dan ia merasa pernah melihat pria itu. Ia mulai mengingat ingat.
Saat Hansen berjabat tangan dan menyelesaikan pertemuannya, Jesslyn pun mengeluarkan uang dan meninggalkannya di atas meja. Ia akan mengikuti suaminya itu dan melihat apa yang Hansen lakukan, karena ia keluar bersama dengan pengacara itu.
Jesslyn memanggil taksi dan meminta supir taksi untuk mengikuti mobil yang dikemudikan oleh suaminya.
"Cepat, Pak! Jangan sampai kita kehilangan dia," ujar Jesslyn.
Ke mana dia akan pergi? Ini bukan arah ke Perusahaan milik Keluarga Daniel. - batin Jesslyn.
Mobil yang dikemudikan oleh Hansen memasuki pelataran parkir sebuah rumah sakit.
Apa Joan dirawat lagi? - batin Jesslyn.
__ADS_1
Jesslyn akhirnya turun dari taksi dan dengan mengendap endap, ia mengikuti langkah Hansen. Hansen masuk ke dalam sebuah ruangan dan akhirnya keluar bersama dengan Joanna dan perawatnya yang bernama Sandra.
"Bagaimana, apa semua test sudah dilakukan oleh Joan?" tanya Hansen pada Sandra.
"Sudah, Tuan. Dokter memberikan ini untuk ditebus. Sebagian vitamin dan sebagian obat untuk pemulihan," jawab Sandra.
"Baiklah, kamu tunggu di sini dan temani Joan," ucap Hansen.
Hansen setengah berlutut dan mensejajarkan tubuhnya dengan Joanna, "sayang, Dad akan mengambil obat dan vitaminmu dulu. Kamu duduk di sini bersama Suster Sandra, okay."
"Baik, Dad."
Hansen pun pergi ke bagian farmasi untuk menebus obat milik Joanna. Sore itu, bagian farmasi terlihat ramai, melebihi hari biasa. Hansen pun memasukkan resep yang ia dapatkan dan mendapatkan nomor tunggu.
Tiba tiba pikirannya membawanya pergi ke suatu tempat. Ia merasa akan banyak waktu terbuang jika ia hanya diam di sana. Hansen naik ke lantai atas dan melangkah menuju area ruang VIP.
Hansen melihat nama yang tertera di luar pintu dan mengetuknya. Ia membukanya sedikit dan melihat tak ada siapapun di dalam. Bersamaan dengan itu, Jeanette yang akan pulang, baru saja keluar dari kamar mandi.
Ia membulatkan matanya ketika melihat kedatangan Hansen di sana, "apa yang kamu lakukan di sini?"
"Tentu saja untuk menjenguk mertuaku," jawab Hansen, padahal sebenarnya ia ingin bertemu dengan Jeanette.
"Aku akan pulang kalau begitu," ucap Jeanette. Ia akan menghubungi Dad Marcello dan menitipkan Mom Gemma pada perawat.
"Jean, bisakah kita bicara? Aku ingin menjelaskan semuanya. Kuharap setelah ini kita bisa menjadi sahabat seperti dulu," ucap Hansen.
Tak ingin membuat keributan di dalam ruang rawat Mom Gemma, akhirnya Jeanette setuju dan keluar dari sana. Persis di depan ruang VIP itu ada ruang tunggu dengan banyak sofa dan di sanalah mereka berbicara.
"Cepat katakan, aku tidak punya banyak waktu," ucap Jeanette sambil melihat ke arah jam di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Jean. Maaf karena aku melukaimu. Kamu adalah sahabatku dan aku justru menjadikanmu alat untuk menyakiti adikmu. Setelah itu, justru aku semakin menyakitimu. Aku tahu aku bersalah padamu, sangat bersalah. Bahkan saat ini aku yakin apa yang kualami adalah semua karena kesalahanku padamu," tiba tiba saja Hansen meraih kedua tangan Jeanette dan menggenggamnya. Ia juga berlutut di hadapan Jeanette, "Maafkan aku, Jean."
🧡 🧡 🧡