BRAVE LOVE

BRAVE LOVE
VITAMIN


__ADS_3

Mata Jesslyn membulat ketika mendapati kamar hotel yang ia tempati saat ini begitu berantakan. Isi kopernya berhamburan keluar. Jesslyn langsung mendekat dengan setengah berlari. Ia membuka kopernya. Nafasnya langsung memburu dan jantungnya berdetak cepat ketika tak menemukan tas tempat ia menyimpan sisa perhiasan yang belum ia jual.


"Sialannn!!" teriak Jesslyn.


Ia langsung keluar dari kamar dan menuju ke resepsionis.


Brakkk


Jesslyn memukul meja resepsionis itu dan melihat wanita paruh baya di hadapannya dengan tatapan nyalang.


"Maaf, Nona. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita paruh baya itu dengan suara biasa.


"Kamarku kemasukan pencuri, barang barangku hilang," jawab Jesslyn.


"Tidak mungki, Nona. Di sini aman. Tak pernah sekalipun ada pencurian," resepsionis itu menjelaskan.


"Tapi perhiasanku hilang dan barang barangku berantakan," ucap Jesslyn, "ikut aku jika kamu tak percaya dengan ucapanku."


Keduanya pun naik ke atas, menuju kamar Jesslyn. Pintu kamar Jesslyn masih dalam keadaan terbuka, sama seperti saat ia meninggalkannya sebelum turun tadi.


"Lihatlah!" ucap Jesslyn sambil menunjuk ke arah dalam kamar tidurnya.


Wanita paruh baya itu pun melihat ke dalam kamar dan memang isi koper Jesslyn berhamburan keluar.


"Jangan jangan anda yang sengaja melakukannya, lalu menimpakan kesalahan itu pada kami. Apa anda komplotan pencuri yang ingin mencoba memeras hotel kecil seperti kami?" tanya wanita paruh baya itu.


"Hei! Jangan sembarangan bicara! Aku punya uang dan aku tidak perlu mencuri. Coba cek saja CCTV kalian kalau tidak percaya dengan apa yang kukatakan," ucap Jesslyn.


"Maaf, Nona. CCTV kami hanya ada di area resepsionis dan fasilitas umum lainnya. Kami menghargai privasi para tamu kami, jadi kami tak meletakkan CCTV di sini."


Nafas Jesslyn semakin memburu. Ingin sekali rasanya ia membuat keributan di sana, akan tetapi itu akan membuat keberadaannya menjadi pusat perhatian. Pada akhirnya, ia masuk ke dalam kamar dan membanting pintunya dengan kencang.


*****


Selesai makan, Dad Azka meminta Axton menuju ruang kerjanya. Ia tak akan meminta pertanggung jawaban pada Jeanette untuk saat ini. Ia hanya inginmendengar terlebih dahulu cerita versi Axton.


"Sekarang katakan pada Dad, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Dad Azka.


"Bukankah Dad punya anak buah yang selalu mengawasiku? Kalau Daddy ingin kebenaran, tanyakan saja pada mereka. Kalau daddy bertanya padaku, apa tidak takut kalau aku berbohong?" Axton malah balas bertanya.

__ADS_1


"Dad tak ingin bertanya pada mereka, Dad ingin kamu yang menceritakan semuanya."


Axton menghela nafasnya. Akhirnya ia menceritakan semuanya, persis seperti apa yang ia ceritakan juga pada Dad Marcello.


"Mengapa kamu tak mencarinya selama ini?" tanya Dad Azka.


"Saat itu yang ada dalam pikiranku bahwa wanita itu hanyalah wanita panggilan yang sudah terbiasa melakukan hal seperti itu."


"Tapi kamu merasakan sendiri bahwa bagi Jean itu adalah pertama kalinya. Seharusnya kamu bertanggung jawab padanya."


"Tapi dia meninggalkanku pagi itu, Dad."


"Itu bukan alasan, Brave! Kamu bisa mencarinya dan menemukannya lebih cepat. Jadi cucu Dad tidak akan hidup berdua hanya dengan ibunya tanpa status yang jelas," ucap Dad Azka.


Axton menghela nafasnya, "Aku tahu, Dad. Tapi aku tak pernah menyangka bahwa Alex akan muncul setelah malam itu. Jean juga tak mendatangiku untuk meminta pertanggungjawaban," ucap Axton.


"Mana ada yang mau meminta pertanggungjawaban dari seorang pria yang anti pernikahan. Mereka akan takut ditolak dan mungkin saja kamu tak akan mengakuinya."


"Dad! Aku tak akan melakukan itu. Aku pasti akan bertanggung jawab atas apa yang telah kulakukan."


"Untung saja kamu belum menikah. Kalau kamu sudah menikah dan tiba tiba Alex muncul, maka ..."


"Kamu menunggunya? Apa kamu mencintai Jean?" tanya Dad Azka.


"2 bulan pertama, aku menunggunya. Siapa tahu ia akan datang meminta pertanggungjawaban padaku. Tapi ternyata tak ada. Jadi aku menganggap bahwa apa yang terjadi di antara kami hanyalah hubungan satu malam."


"Tapi sekarang aku akan menikahinya, Dad. Aku tak akan membiarkannya hidup sendiri lagi bersama Alex," lanjut Axton.


"Dad bertanya, apa kamu mencintainya?"


"Aku mencintainya, sejak pertama kali aku melihatnya. Mata miliknya, yang tak pernah kulupakan."


Dad Azka tersenyum, "Dad mendengar kamu mencintainya, itu sudah cukup. Dad tak ingin melihatnya hidup dalam sebuah pernikahan tanpa cinta untuk kedua kalinya. Kamu juga pasti sudah tahu apa yang terjadi sebelumnya pada pernikahan Jean."


"Aku tahu."


"Siapkanlah pernikahanmu. Tak perlu melamar lagi karena Dad telah mengundang Tuan Orlando dan Uncle Marcello untuk datang ke sini dan merayakan pesta pernikahanmu."


Mata Axton membulat. Dad Azka bekerja terlalu cepat hingga ia tak tahu harus berkata apa.

__ADS_1


"Baik, Dad."


Axton keluar dari ruang kerja Dad Azka. Dad Azka menghela nafasnya, lega. Akhirnya putra sulungnya itu menikah juga, meskipun dengan awal pertemuan yang salah di antara keduanya.


Di luar, Axton melihat Mom Mia sedang tertawa bersama Jeanette dan Alex. Tak terlihat lagi kecanggungan pada Jeanette. Ia tersenyum dan tertawa, membuat Axton pun turut tersenyum.


Ia segera mendekat ke arah mereka, "Mom."


"Dad!" teriak Alex yang melepas mainannya dan berlari menuju Axton. Mom Mia tersenyum melihat kedekatan antara Axton dengan putranya.


"Aku harus ke perusahaan sebentar. Aku titip Jean dan Alex di sini."


"Pergilah. Mereka akan aman bersama Mommy. Kalau ada yang berani macam macam, nanti Mom suntik mati saja," ucap Mom Mia sambil tertawa.


"Jagoan! Kemarilah!" panggil Dad Azka dari arah ruang kerjanya.


Alex langsung melepaskan Axton dan berlari menuju Dad Azka.


Bagaimana bisa Alex lebih memilih Dad daripada aku? - batin Axton.


"Jangan berpikiran macam macam, Brave!" ucap Dad Azka yang langsung membuat Axton berdecak.


Axton mendekati Jeanette, "Aku pergi dulu. Kamu di sini bersama Dad dan Mommy. Aku akan segera kembali setelah semua selesai."


Cuppp


Axton kembali mencium bibir Jeanette yang sudah menjadi candunya itu. Bibir Jeanette sudah seperti vitamin baginya dan ia harus mendapatkan vitamin itu minimal 3 kali sehari.


Jeanette memalingkan wajahnya karena ia yakin saat ini Mom Mia masih melihat ke arah mereka. Axton tersenyum kemudian pergi dari sana.


Bughhh


"Jangan berpikiran kotor siang siang!" goda Axton pada One yang masih terlihat melamun di teras depan Kediaman Keluarga Williams.


"Tidak kotor kok!" celetuk One tanpa sadar, "Ehhh ..."


Melihat Axton keluar, One pun langsung berdiri dan mengikuti tuannya itu. Mereka akan pergi ke perusahaan untul menyelesaikan sesuatu.


🧡 🧡 🧡

__ADS_1


__ADS_2