
Axton terbangun di jam 10 pagi. Ia masih berbaring di atas tempat tidurnya dan menatap ke langit langit. Ia tinggal di kamar hotel yang persis berada di sebelah kamar hotel yang ditempati oleh Jeanette.
Ia mengambil ponsel dari atas nakas dan menghubungi anak buahnya.
"Bagaimana, Four?"
"Mereka ada di rumah sakit."
"Jangan lepaskan pengawasanmu dan berikan semua foto aktivitasnya padaku," ucap Axton.
"Baik, Tuan." Four sedikit mendengus kasar. Ia baru saja mendapatkan foto yang ia pastikan akan membuat kepala atasannya itu meletup karena kepanasan. Tak pernah sekalipun Axton meminta siapapun untuk mengawasi seorang wanita dan Four yakin bahwa wanita ini istimewa bagi seorang Axton.
Axton membuka foto yang dikirimkan oleh Four. Matanya langsung menajam saat melihat siapa yang mendekati Jeanette.
"Apa ia berharap akan kembali pada Jeanette setelah perceraiannya? Jangan harap! Aku tak akan pernah membiarkan itu terjadi," gumam Axton.
Ia segera masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri. Untung saja ia meminta Four untuk mengawasi Jeanette dan Alex, kalau tidak ia bisa kecolongan.
*****
Jesslyn yang sudah bosan di dalam rumah, akhirnya keluar. Namun, ia tidak melihat keberadaan mobilnya sama sekali.
Supir keluarga, Bob, yang baru saja pulang setelah mengantar atasannya itu ke Perusahaan Archer pun langsung menjadi sasaran kemarahan Jesslyn.
"Uncle! Di mana mobilku?!" teriak Jesslyn.
"Ehhh mobil Nona dijual oleh Tuan Marcello," jawab Uncle Bob.
"Apa?! Dijual? Mengapa Dad menjualnya? Itu milikku!" teriak Jesslyn sambil menghentakkan kakinya dengan kesal.
"Uncle! Cepat antarkan aku ke perusahaan. Aku mau menemui Dad!" perintah Jesslyn dengan wajah penuh amarah.
Uncle Bob pun langsung mengambil kunci dan masuk ke dalam mobil. Ia tak bisa juga menolak perintah dari Nona muda nya ini.
"Dari kemarin aku tak melihat Dad, ke mana? Apa Dad terus ada di rumah sakit?" tanya Jesslyn.
"Tuan Marcello menginap di rumah sakit semalam, Nona. Tadi pagi juga hanya pulang sebentar lalu pergi ke rumah sakit lagi bersama Nona Jean," ucap Uncle Bob.
"Kak Jean?!"
__ADS_1
"Iya, Nona. Kemarin saya menemani tuan menjemput Nona Jean di bandara. Ia datang ke sini bersama putranya, tampan sekali," puji Uncle Bob.
Ia kembali? Putra? Apa dia sudah menikah lagi? - batin Jesslyn. Ia tak bisa membiarkan sesuatu terjadi kembali antara Hansen dan Jeanette.
"Putra?" Jesslyn mencoba mengorek informasi dari supir keluarganya yang terkenal terlalu jujur dan polos, meskipun usianya sudah memasuki paruh baya.
"Ya, Nona. Mungkin usianya sama seperti Nona Joanna. Ia juga sangat tampan," Uncle Bob terus memuji putra Jeanette dan Jesslyn tak suka itu.
Pikiran Jesslyn kini mulai menerawang, apakah itu adalah anak hasil pernikahan Hansen dengan Jeanette? Apa dulu Hansen berbohong padanya bahwa ia tak pernah menyentuh Jeanette?
Sesampainya ia di Perusahaan Archer, Jesslyn langsung memasuki lobby dan menekan tombol lift.Ia bahkan tak menyapa siapapun di sana. Sejak dulu, Jesslyn memang dianggap angkuh oleh para pegawai Perusahaan Archer.
Brakkk
Tanpa mengetuk pintu, Jesslyn langsung membuka dan masuk ke dalam ruang kerja Dad Marcello.
"Dad! Mengapa mobilku dijual?!" teriak Jesslyn.
Saat itu, di ruangan tengah berlangsung meeting kecil antara Dad Marcello dengan klien dari kota sebelah yang akan bekerja sama dalam proyek terbaru mereka.
Kebetulan juga sekretaris dan asisten Dad Marcello berada di dalam sehingga tak ada yang mengetahui ataupun memberitahu kedatangan Jesslyn.
Pertemuan itu pun terhenti karena kedatangan Jesslyn. Dad Marcello pun meminta maaf dan berjanji akan segera kembali untuk menyelesaikan pertemuan itu. Namun sebelumnya ia harus mengurus putrinya terlebih dahulu.
Dad Marcello keluar dari ruangan dengan menarik Jesslyn. Ia meminta asisten pribadinya dan sekretarisnya untuk menemani kliennya terlebih dulu.
Dad marcello membawa Jesslyn ke ruangan asisten pribadinya. Di sana juga dibuat kedap suara sehingga pembicaraan mereka tak akan terdengar keluar.
"Dad! Mobilku!"
"Dad menjualnya."
"Menjualnya? Dad seharusnya mengatakan terlebih dulu padaku. Aku memerlukan mobilku, Dad!" teriak Jesslyn tak terima.
"Untuk apa? Untuk kamu pakai bersenang senang dengan teman temanmu di klub? Apa kamu masih belum sadar bahwa kamu itu sudah menjadi istri dan juga ibu?"
"Aku akan bercerai! Aku sudah muak dengan Hansen yang berharap aku mengemis padanya untuk mempertahankan hubungan ini."
"Jadi kamu sama sekali tak ingin memperbaiki pernikahanmu?" tanyq Dad Marcello.
__ADS_1
"Dad jangan mengalihkan pembicaraan! Kita sedanh membicarakan mobilku. Aku tahu Dad menjual mobilku untuk membiayai Kak Jean dan anak haramnya itu kan?!"
"Jesslyn! Jaga mulutmu," ucap Dad Marcello.
"Aku tahu Dad menjemputnya kemarin. Aku juga tahu Dad membawanya ke hotel mewah. Itu semua dibayar dengan menggunakan uang hasil penjualan mobilku kan?!" ungkap Jesslyn.
"Apa?! Dad mau membelanya lagi? Dad selalu membelanya. Dad lebih menyayangi Kak Jean daripada aku. Apa jangan jangan aku juga anak angkat?!" kini bicara Jesslyn semakin ngawur ke mana mana.
"Jesslyn! Dad menjual mobilmu karena kamu memakainya hanya untuk bersenang senang, membuang buang uang. Perusahaan Dad saat ini sedang ada masalah dan klien tadi akan menjadi pembuka jalan untuk kelangsungan perusahaan kita. Tapi kamu malah hampir mengacaukannya! Kamu bisa meminta Uncle Bob untuk mengantarmu mulai dari sekarang."
"Aku tidak peduli! Aku mau mobilku! Kalian jahat!! Kalian terus saja mengekangku! Kalian sialannn!! Lebih baik kalian mati saja!!" teriak Jesslyn.
Plakkk
Nafas Dad Marcello memburu. Ungkapan hati Jesslyn tadi sangat menyakitinya. Putri yang ia bela, bahkan hingga menyakiti Jeanette, malah menyumpahinya untuk mati.
"Aku membenci kalian!!" teriak Jesslyn lagi dan keluar dari ruangan itu sambil memegang pipinya.
Dad Marcello melihat telapak tangan yang baru saja memukul putrinya. Sampai Jesslyn sebesar ini, ini adalah pertama kalinya ia memukul. Namun, ia melakukannya karena Jesslyn sudah sangat keterlaluan.
*****
ting nong
Bel Pintu kamar hotel yang ditempati oleh Jeanette dan Alex berbunyi. Alex yang sedang bosan pun melangkahkan kaki ke arah pintu, sementara Jeanette sedang berada di dalam kamar mandi.
"Halo, Boy!" sapa Axton, membuat senyum mengembang di wajah Alex.
"Daddy!" Alex langsung meminta Axton untuk menggendongnya.
"Di mana Mommy?"
"Mommy di kamar mandi," jawab Alex sambil menyentuh rahang Axton yang sedikit ditumbuhi bulu bulu.
"Kamu merindukan Daddy, Boy?"
Alex langsung menciumi wajah Axton bertubi tubi untuk menjawab pertanyaan Axton, membuat Axton tertawa. Jeanette yang baru saja keluar dari kamar mandi, melihat kehadiran Axton di sana.
Apa yang ia lakukan di sini? - batin Jeanette.
__ADS_1
🧡 🧡 🧡