
Setelah mendapat arahan dari Axton, Zero, One, dan Seven pun langsung bergerak dengan perlahan. Alexa yang melihat itu pun sedikit bergerak.
"Kamu mau ke mana?" bisik Michael.
"Aku harus membantu mereka melumpuhkan wanita gila itu," jawab Alexa.
"Kamu di sini saja. Biar aku yang akan membantu mereka."
"T-tapi ..."
"Dengarkan aku saja. Sebaiknya kamu menjaga Nala, Nathan, dan Nicholas," ucap Michael.
Alexa kemudian melihat ke sekelilingnya di mana putra putrinya duduk. Matanya membulat ketika tak menemukan ketiganya. Ia berusaha mencari ketiganya karena tak ingin mereka membuat masalah yang justru akan menambah kekacauan.
Zero memberikan tanda pada One dan Seven untuk mengepung wanita itu dari kiri, kanan, dan belakang. Mata One menangkap 2 sosok makhluk kecil yang membuatnya repot beberapa minggu belakangan ini.
Mereka lagi. - batin One.
Ia mengendap perlahan di belakang Jesslyn. Matanya melihat ke arah Zero untuk menunggu aba aba. Namun tiba tiba ia melihat Zero melihat ke arah lain, membuat Zero tak lagi memberinya tanda.
One melihat ke arah Seven dan pria itu ternyata sudah siap dengan sebuah senjata di tangan, sementara dirinya hanya berbekal tangan kosong karena tak pernah terpikir pernikahan atasannya akan menjadi seperti adegan di film film.
"Aunty Jess!" Mata One langsung menangkap sosok kecil yang membuatnya penasaran.
Apa lagi yang ia lakukan, ya ampun. Nic juga ikut ikut. Sialannn. Aku harus bergerak cepat. - One maju lebih cepat karena melihat Jesslyn sudah mengarahkan senjatanya pada Alex.
Jlebbb
Dorrr
Aku lagi. - batin One.
Mata One menoleh ke arah Nicholas yang tersenyum padanya sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran. Seven langsung menangkap tangan Jesslyn yang memegang senjata dan mengambil alih senjata tersebut. Untung saja One berhasil mengarahkan senjata itu ke atas tepat pada waktunya.
Suasana menjadi sedikit riuh, namun berhasil dikendalikan.
"Kamu tidak apa apa, Al?" tanya Zero pada Alexa.
__ADS_1
"Aku tidak apa, aku hanya mencari putra putriku," jawab Alexa.
"Itu mereka," ucap Zero dan menunjuk pada Nala dan Nathan.
Jeanette juga langsung turun dari altar dan memeluk Alex. Jantungnya berdegup dengan kencang, membuat peluh di keningnya semakin bertambah. Namun ia tetap bertahan agar tidak membuat suasana semakin kacau.
"Apa yang kamu lakukan, sayang? Itu berbahaya," ucap Jeanette.
"Maafkan aku, Mom. Tapi lihatlah, kami belhasil membekuk Aunty jahat."
Jeanette melihat ke arah Jesslyn yang sudah ditangkap oleh Seven dan dibawa keluar dari ruangan bersama beberapa security dari hotel. One yang pingsan juga ikut dibawa keluar. Dad Marcello akhirnya ikut keluar karena bagaimana pun juga Jesslyn adalah putrinya.
Dad Azka mengajak Alex serta Nicholas untuk duduk di dekatnya. Jujur, jantung Dad Azka juga berdegup kencang ketika Jesslyn mengarahkan senjatanya pada Alex. Michael pun langsung menggendong putra putrinya dan membawa mereka kembali duduk.
"Jangan ke mana mana lagi," ucap Michael.
"Aku hanya mencoba senjata terbaruku saja, Dad," ucap Nala tersenyum.
Meskipun akhirnya One yang terkena tiupan jarum serulingnya, tapi Nala tersenyum karena senjatanya berhasil membuat seseorang tertidur dengan cepat.
"I love you," bisik Axton saat pengucapan janji pernikahan telah selesai dilakukan.
Jeanette menatap Axton dan tersenyum. Pandangannya mulai kabur dan kepalanya semakin berdenyut. Ia tak bisa membalas ucapan Axton karena Jeanette pun akhirnya tak sadarkan diri. Untung saja Axton langsung menangkap tubuhnya.
Michael langsung mendekat dan memeriksa denyut nadi Jeanette. Ia meminta agar menyiapkan ruangan untuk Jeanette istirahat, sementara ia akan mengambil peralatannya.
"Mommy! Momny!" teriak Alex yang tiba tiba saja menjadi takut.
"Mommy tidak apa apa, sayang. Sepertinya Mommy hanya kelelahan," ucap Axton sambil mengelus pucuk kepala Alex. Axton pun langsung menggendong Jeanette.
*****
"Lepaskan aku!" teriak Jesslyn yang tidak terima jika ia harus dibawa ke pihak kepolisian.
"Bisakah anda tenang?" tanya salah seorang polisi yang tengah mencatat administrasi.
"Dad! Cepat bebaskan aku! Ini kesalahan Kak Jean, bukan kesalahanku. Kalau ia tidak ada, maka ini semua tak akan pernah terjadi. Singkirkan dia, Dad!" ucap Jesslyn.
__ADS_1
Dad Marcello terus memandangi Jesslyn. Ia tahu ada sesuatu yang menimpa Jesslyn. Tak mungkin putrinya ini terang terangan berkata ingin menyingkirkan Jeanette di depan pihak polisi.
Polisi terus memberikan pertanyaan dan Jesslyn menjawab sekenanya saja, bahkan ia kadang bersikap acuh dan malah menantang polisi. Dad Marcello tak bisa membanti putrinya itu karena bukti bukti begitu kuat dan saksi pun sangat banyak.
Ia sebenarnya bisa meminta pertolongan pada Azka agar tidak melanjutkan proses ini, akan tetapi ia tak ingin putrinya terus menerus berlaku buruk.
Hanya 1 yang bisa dilakukan oleh Dad Marcello, yakni membawa kembali Jesslyn ke Kota Berlin dan melimpahkan semua berkas ke kepolisian Berlin. Di sana, ia akan lebih mudah mengawasi Jesslyn daripada harus bolak balik ke Indonesia.
"Aku tidak bersalah! Kalian harus melepaskan aku! Tangkap Kak Jean, dia yang sudah menghancurkan semuanya! Ia mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku," ucap Jesslyn.
Dokter kepolisian terpaksa menyuntik Jesslyn dengan obat penenang untuk meredakan emosinya yang semakin lama semakin meluap.
Sementara itu di hotel Williams,
"Bagaimana, sayang?" tanya Alexa pada Michael setelah sang suami memeriksa keadaan Jeanette.
"Ia tidak apa apa. Sepertinya kakakmu itu sudah melakukan DP sebelum pernikahan ini," jawab Michael.
"Maksudmu?"
"Ya, sepertinya Jeanette sedang hamil saat ini. Tapi sebaiknya diperiksa ke rumah sakit dengan alat yang lebih canggih," ucap Michael.
Alexa menatap ke arah kakaknya itu. Ia tahu kakaknya itu pasti akan senang dengan berita ini.
"Bagaimana, Mic?" tanya Axton.
"Ia tidak apa apa, sepertinya saat ini Jean sedang hamil. Selamat untukmu," ucap Michael.
"Hamil? Benarkah?" wajah Axton terlihat sangat bahagia.
"Ya, periksalah ke rumah sakit untuk lebih pastinya."
Bughhh
"Mom!!"
🧡 🧡 🧡
__ADS_1