BRAVE LOVE

BRAVE LOVE
EXTRA PART (3)


__ADS_3

Persidangan untuk Jesslyn digelar. Ia dijatuhi hukuman penjara beberapa tahun dengan dakwaan percobaan pembunuhan. Jesslyn kembali berteriak di persidangan dan membuat persidangan tersebut harus kembali diistirahatkan.


"Dia yang bersalah, kenapa aku yang dihukum? Ini tidak adil! Aku tidak terima!!" teriak Jesslyn di dalam ruang tunggu.


"Lihat saja nanti kalau aku berhasil lolos dari sini, aku akan membuat perhitungan dengannya," ucap Jesslyn geram sambil mengepalkan tangannya.


Dad Marcello yang hadir di persidangan itu, ingin sekali bertemu dengan Jesslyn dan menenangkan putrinya itu. Lelah, itulah yang dirasakan oleh Dad Marcello saat ini.


"Dad tidak apa apa?" tanya Hansen yang juga turut hadir.


"Dad tidak apa apa," namun terlihat dengan sangat jelas kesedihan di mata Dad Marcello.


Setelah diistirahatkan selama 30 menit dan seorang pengacara berbicara dengan Jesslyn, persidangan pun kembali dimulai. Kali ini, persidangan berjalan dengan lancar, namun Jesslyn selalu bersikukuh bahwa ia tak bersalah.


Ia mengatakan bahwa ini semua karena kesalahan Jeanette yang telah mengambil miliknya.


"Ia seorang pencuri dan kalian semua membelanya! Ia pencuri! Ia mengambil semua yang seharusnya menjadi milikku!"


Namun, hakim dan jaksa tak terlalu menggubris pembelaan dari Jesslyn. Suasana riuh di dalam ruang pengadilan pun berhenti ketika hakim memukulkan palunya agar para pengunjung yang hadir bisa tenang. Tiba tiba, masuk beberapa orang pria.


"Aku akan menuntutnya juga!" teriak pria itu.


Jesslyn langsung memutar tubuhnya dan melihat pria bertubuh gembul yang sudah menikmati tubuhnya. Seringai licik muncul di wajah pria itu. Jesslyn kembali teringat bahwa ia sedang bersembunyi dari pria itu karena apa yang telah ia lakukan.


Seorang polisi menghampiri pria itu, "anda bisa melakukannya ke kantor polisi, Tuan."


"Sudah. Dan pengacaraku telah membawa surat penangkapan dengan dakwaan yang sama, percobaan pembunuhan."

__ADS_1


Jesslyn tak terima dengan apa yang dikatakan oleh pria gembul itu pun langsung berteriak, "Itu karena kamu memperkossaku, sialannn!!"


Pria gembul itu tersenyum sinis, "Memperkossamu? Apa asa bukti? Kamu menikmati hubungan kita malam itu, bahkan kita melakukannya berkali kali. Kamu yang terus meminta lagi dan lagi, jadi dari sebelah mana kamu menuduhku memperkossamu?"


"Sialannn!!!" teriak Jesslyn yang kini berteriak dengan kencang dan menjadi sulit dikendalikan. Ia menarik senjata yang ada di pinggang salah seorang polisi dan langsung menembakkannya ke arah pria gembul itu.


Dorrr


Tembakan itu melesat, hingga tepat mengenai dada pria gembul itu, "Mati kamu, sialannn!!"


Semua yang hadir menjadi takut dan berusaha keluar dari ruangan. Polisi tadi langsung mengambil senjata itu dari tangan Jesslyn dan memborgolnya. Hakim, Jaksa, serta pengacara dan ahli hukum lainnya, melihat dengan jelas apa yang dilakukan Jesslyn.


Seorang polisi menghampiri pria gembul itu dan memeriksa nadinya. Ia menggelengkan kepalanya, tanda bahwa pria itu telah tewas di tempat.


Dad Marcello langsung terduduk lemas. Ia tak bisa berkata apa apa lagi. Kacau, itu yang sekarang ia rasakan. Dakwaan percobaan pembunuhan kini akan berubah menjadi dakwaan pembunuhan.


"Dad," Hansen terus berada di sebelah Dad Marcello. Ia melihat ke arah Jesslyn, wanita yang dulu sangat ia cintai, bahkan ia sampai menyakiti wanita lainnya. Kini, ia melihat wanita yang sangat berbeda.


*****


Kabar tentang Jesslyn pun sampai di telinga Axton. Ia belum memberitahukan hal ini pada Jeanette karena ia tak ingin Jeanette menjadi stres dan mempengaruhi kehamilannya.


Axton akan menunggu hingga mereka pulang dari bulan madu mereka. Ia ingin Jeanette menikmati liburannya kali ini setelah apa yang ia hadapi 5 tahun belakangan ini.


"Kamu tidak beristirahat?" tanya Axton sambil memeluk Jeanette dari belakang. Ia menyesap harum rambut dan tubuh Jeanette. Saat ini, mereka ada di Negara Swiss dan menikmati bulan madu mereka.


"Aku masih ingin menikmati pemandangan malam ini," jawab Jeanette.

__ADS_1


"Tapi aku ingin menikmati dirimu," ucap Axton.


Mata Jeanette membulat. Sejak menikah, suaminya ini semakin mesum dan manja. Ia seakan melihat Axton dari sisi yang berbeda.


Axton mulai mencium dan menyesap tengkuk leher Jeanette, serta meninggalkan tanda kepemilikan di sana. Sementara tangannya mulai menjelajah ke tubuh Jeanette dan mengabsennya satu persatu.


"Ahhh ...," des sahan pun keluar dari bibir Jeanette yang langsung membuat Axton tersenyum. Ia menggendong Jeanette dan membawanya ke dalam kemudian merebahkannya di atas tempat tidur.


Dengan cepat Axton membuka pakaian tidur yang dikenakan oleh Jeanette dan juga dirinya hingga keduanya kini telah polos. Axton mulai kembali mengabsen tubuh Jeanette tapi kali ini dengan bibir dan lidahnya.


Axton pun memulai inti permainannya. Ia memasukkan senjatanya yang kini telah memiliki surat surat legal. Ia terus menggerakkan tubuhnya sambil memainkan kedua aset kembar milik Jeanette.


Hanya terdengar suara er rangan dan des sahan di dalam kamar hotel tersebut. Axton sengaja bermain pelan agar ia bisa lebih lama menyatu dengan Jeanette.


"I love you," ucap Axton sambil mencium bibir Jeanette.


"I love you too," Jeanette membalas ciuman Axton. Kini Axton mulai memacu tubuhnya lebih cepat hingga keduanya mencapai puncak secara bersamaan.


Axton berbaring di sebelah Jeanette kemudian mencium pelipis istrinya itu, "Aku dulu sering mengunjungi rumah Dad Marcello, tapi tidak pernah melihatmu."


Jeanette tersenyum, "Aku suka bepergian, terutama ke gunung dan menikmati pagi hari dari atas sana."


"Kita akan pergi lagi nanti, berdua saja. Aku ingin merasakan apa yang kamu lakukan dulu."


Jeanette tersenyum kemudian mencium bibir Axton, "Semakin lama kamu semakin manis. Kukira akan sulit mencintaimu, tapi ternyata dengan mudahnya kamu masuk dan tinggal di sini."


"Kamu bahkan telah terlebih dulu masuk dan menetap di hatiku. Aku bersyukur tak pernah ingin menikah hingga aku bisa bertemu denganmu," sekali lagi Axton mencium kening Jeanette.

__ADS_1


"Tidurlah, I love you," bisik Axton.


🧡 🧡 🧡


__ADS_2