BRAVE LOVE

BRAVE LOVE
MENJALANKAN RENCANA


__ADS_3

Tuan Orlando hanya bisa memandangi Jeanette, tanpa mengatakan bahwa ia adalah Ayah kandungnya. Sebelum ia berbicara dengan Jeanette, ia ingin mengetahui runut kejadian puluhan tahun yang lalu. Ia tak ingin Jeanette berpikiran buruk tentangnya ataupun tentang Elizabeth, istrinya.


"Kamu tidak makan?" tanya Tuan Orlando pada Jeanette.


"Aku sudah makan roti dan tidak merasa lapar lagi," jawab Jeanette.


Karena tadi ia tak makan siang, maka ia makan roti di waktu menjelang sore. Ia berusaha mencuri waktu agar tak mengganggu pekerjaannya. Ia tak ingin mengecewakan Tuan Orlando yang begitu baik padanya.


Baru beberapa lama di OR Trade, Jeanette bisa mengetahui bahwa Tuan Orlando sangat dicintai oleh para pegawainya. Ia sungguh bersyukur bisa mendapatkan kesempatan untuk belajar sekaligus bekerja di sana.


*****


Seperti biasa, Jeanette akan menemani Alex untuk tidur. Ia membacakan sebuah buku untuk putranya itu dan kadang mengusap punggungnya. Alex terlihat sangat lelah hari ini karena dengan cepat memejamkan kedua matanya dan terlelap.


Jeanette bisa mendengar suara dengkuran halus yang menandakan bahwa Alex telah terbang ke alam mimpi. Ia pun beranjak dari sana dan merapikan beberapa barang milik Alex yang tergeletak atau terjatuh sembarangan.


Setelah itu, ia kembali ke kamar tidurnya dan mengganti pakaiannya dengan piyama. Jeanette sebenarnya sangat ingin tidur bersama dengan Alex, seperti saat mereka di Pulau Bali. Namun, Alex tak mau lagi. Ia mengatakan kalau ia sudah besar dan ingin tidur sendiri.


Baru saja Jeanette merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur, ponselnya berbunyi. Tanpa sadar ia langsung menggeser tombol hijau dan meletakkannya di telinga, tanpa melihat siapa yang menghubunginya.


"Halo."


"Kamu sudah mau tidur?"


Jeanette langsung kembali duduk saat mendengar suara di ujung ponselnya, "ya, ada apa?"


"Terima kasih. Terima kasih karena sudah memberitahukan pada Alex yang sebenarnya."


"Hmm ..."


"Sebentar lagi aku akan sampai. Beristirahatlah. Aku akan menghubungimu lagi nanti. Good nite."


Sambungan ponsel itu pun terputus. Jeanette terdiam dan masih menggenggam ponselnya dengan posisi di depan dada. Jantungnya saat ini berdetak cepat. Ia tidak tahu mengapa, tapi ia merasa aneh saat mendengar suara Axton di telepon.

__ADS_1


Jeanette meletakkan ponselnya di atas nakas dan kembali berbaring. Ia mencoba memejamkan matanya, tapi suara Axton seakan masih terngiang di telinganya. Ia pun akhirnya menghadap ke samping dan menutup telinganya dengan bantal, siapa tahu suara itu akan hilang.


Namun, hingga lewat tengah malam, matanya masih saja belum terpejam, padahal ia sudah menggunakan berbagai cara.


Cringgg


Ponselnya kembali berbunyi, akan tetapi kali ini hanyalah bunyi sebuah notifikasi. Ia mengambilnya dan melihatnya.


📩 Aku sudah sampai di rumah. Aku akan segera kembali ke sana setelah menyelesaikan beberapa hal di sini. Good nite.


Jeanette kembali memegang dadanya. Ia tak membuka pesan itu dan hanya melihatnya dari layar utama. Sedari tadi ia sudah sulit terlelap, ditambah lagi dengan sebuah pesan, ntah mengapa ia semakin merasa aneh dengan dirinya sendiri.


Tidurlah, Jean. Jangan memikirkan apapun lagi. Besok adalah hari baru dan nikmatilah. - batin Jeanette.


Ia terus mengulang ucapan itu berkali kali, hingga akhirnya ia tertidur.


Keesokan paginya,


"Mommy! Mommy! Mommy!" Alex masuk ke dalam kamar tidur Jeanette dan langsung melompat ke atas tempat tidur. Ia menciumi pipi Jeanette berkali kali agar Mommynya itu bangun.


"Mommy ikutin Alex."


"Kamu membangunkan Mommy? Ahh, kamu harus sekolah," Jeanette bangun karena kaget. Ia tak mendengar alarm nya berbunyi dan langit terlihat sudah terang.


"Ini hali sabtu, Mom. Mommy lupa ya?"


Jeanette berhenti dan baru menyadarinya. Ia pun kembali duduk di atas tempat tidur bersama Alex, "semalam Mommy tidak bisa tidur," ucap Jeanette.


"Mommy kangen Daddy ya?" tanya Alex yang membuat Jeanette langsung menoleh ke arah putra tampannya itu.


"Tidak," jawab Jeanette singkat.


"Wajah Mommy melah," goda Alex. Jeanette langsung memegang kedua pipi dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Ayo kita mandi," ajak Jeanette.


"Mom, Alex sudah mandi. Glenpa mengajak kita piknik," ucap Alex yang terlihat gembira.


"Piknik?"


"Iya, Mom. Ayo!" Alex menarik tangan Jeanette.


"Baiklah, Mommy mandi sebentar ya," ucap Jeanette yang langsung masuk ke dalam kamar mandi. Ia harus cepat karena tak mungkin membiarkan Tuan Orlando menunggunya, apalagi ia juga bangun kesiangan. Sungguh memalukan, begitulah pikir Jeanette.


Sementara Jeanette bersiap, Alex sudah berlari keluar dari kamar tidur. Jeanette mengambil tas dan beberapa keperluan Alex, kemudian mengambil ponselnya juga. Sejak bangun, ia belum memeriksa ponselnya sama sekali.


📩 Good morning. Alex bilang kalian akan piknik hari ini. Aku juga akan mengajak kalian piknik nanti. Kirimkan foto kalian padaku.


Jeanette menghela nafasnya pelan. Ntah mengapa setiap telepon dan pesan dari Axton, bisa membuatnya terdiam sesaat dan merasakan getaran yang tak biasa. Padahal isi pesannya sebenarnya biasa saja.


Ia memasukkan ponsel tersebut ke dalam tas, kemudian keluar untuk menyusul Alex. Mereka telah siap di ruang tamu dengan pakaian santai. Di sana ada Tuan Orlando, Wesley, dan juga Dokter Vianne.


"Selamat pagi. Maaf menunggu lama," ucap Jeanette.


"Tidak apa, Jean. Kita akan menikmati hari ini, jangan menjadikannya beban," ucap Tuan Orlando.


Mereka pun berangkat menggunakan sebuah mobil jeep. Alex terus tertawa dan berceloteh gembira bersama Tuan Orlando. Wesley dan Dokter Vianne yang duduk di kursi depan, beberapa kali melihat ke arah spion untuk melihat kebersamaan antara Tuan Orlando dengan putri dan cucunya.


"Kamu sudah mendapatkan semuanya?" tanya Wesley.


"Permainan rumah sakit," jawab Dokter Vianne.


"Sudah kuduga. Apa target (sebutan untuk Dad Marcello) ikut andil dalam semua permainan ini?"


"Tidak. Hanya saja aku belum mengetahui di mana ia menemukannya. Aku akan terus menyelidikinya," Dokter Vianne kebetulan memiliki kenalan seorang intel. Ia meminta bantuan pada kenalannya itu.


"Baiklah, aku akan menjalankan rencana selanjutnya," ucap Wesley sambil kembali melihat ke arah spion tengah.

__ADS_1


Anda akan bahagia, Tuan. Aku akan pastikan itu. - batin Wesley.


🧡 🧡 🧡


__ADS_2