
Dengan menggunakan pesawat pribadi milik Keluarga Orlando, Dad Marcello kembali ke Kota Berlin. Namun kepulangannya kali ini bersama dengan Jeanette dan Alex.
"Terima kasih karena sudah mau ikut Dad pulang untuk menemui Mom," ucap Dad Marcello.
"Tapi aku tak bisa lama di sana," ucap Jeanette.
"Tidak apa. Seperti ini saja, Dad sudah sangat berterima kasih."
Menginjakkan kaki di Kota Berlin, membuat Jeanette mengingat kenangannya di sana. Ya, banyak kenangan di sana, baik yang indah maupun yang buruk. Namun kenangan terakhirnya adalah kenangan yang buruk. Sebenarnya ia tak ingin lagi kembali ke kota itu.
Supir keluarga Archer sudah menunggu kedatangan tuannya itu di bandara. Mereka pun masuk ke dalam mobil.
"Nona Jean," sapa Bobby, sang supir.
"Uncle Bob," Jean membalas sapaan. Pria paruh baya itu sudah lama sekali menjadi supir keluarga Archer, mungkin sejak ia bayi.
"Kita pulang, Bob," ucap Dad Marcello.
"Dad, aku akan menginap di hotel," Jeanette tak ingin kembali ke Kediaman Keluarga Archer. Jika memang Jesslyn dan Hansen akan berpisah, maka ia bisa mengambil kesimpulan bahwa Jesslyn mungkin berada di sana.
Dad Marcello cukup mengerti mengenai keinginan Jeanette. Ia tak akan memaksa karena kedatangan Jeanette saja sudah patut ia syukuri. Dad Marcello meminta supirnya untuk mengantarkan Jeanette ke hotel yang dimiliki oleh Keluarga Williams. Dad Marcello memiliki akses penting di sana karena hubungannya yang dekat dengan seorang Azka Williams.
Ia menunjukkan sebuah kartu dan pihak hotel langsung membantu mereka. Sebuah kamar tidur dengan fasilitas luar biasa pun diberikan pada Jeanette dan Alex.
"Ini lual biasa, Mom," seru Alex.
"Kamu bisa beristirahat di sini dulu, Jean. Dad akan pulang dulu. Besok pagi, Dad akan menjemputmu dan kita akan pergi ke rumah sakit bersama," ucap Dad Marcello.
"Baik, Dad."
Setelah kepergian Dad Marcello, Jeanette berdiri di balkon kamar hotel tersebut. Balkon itu cukup luas dan dari sana bisa melihat pemandangan Kota Berlin. Mata Jeanette menyusurinya dan terhenti pada sebuah bangunan yang sangat ia kenali, Perusahaan milik Hansen Daniel.
"Mommy!" panggil Alex.
__ADS_1
"Ada apa, sayang?" tanya Jeanette.
"Pinjam hp," jawab Alex.
"Kamu mau bermain game?" Alex hanya menjawab dengan anggukan saja. Setelah menerima hp, Alex bukan bermain game. Ia mengirimkan pesan kepada Dad Axton. Dia mengirimkan lokasi di mana ia berada sekarang.
Axton yang sedang berada di dalam pesawat, tersenyum mendapatkan posisi keberadaan putranya itu, "You're so smart, Boy!"
*****
Pagi ini, Dad Marcello menjemput Jeanette dan Alex di hotel. Mereka akan langsung pergi ke rumah sakit untuk menemui Mom Gemma. Axton yang baru sampai subuh tadi, masih tertidur karena ia benar benar kelelahan. Sudah beberapa hari sejak ia kembali dari London, ia kurang istirahat. Ia ingin segera kembali ke London untuk selalu bersama dengan Alex.
"Kamu siap, Jean?"
"Ya, Dad."
Mereka pun berangkat bersama dengan supir Keluarga Archer, Bob. Tak perlu waktu lama untuk sampai di rumah sakit karena pagi itu jalanan cukup lengang.
Memasuki rumah sakit, di mana Mom Gemma biasa bekerja dan memimpin di sana, Jeanette sedikit mengenang. Ia kadang dulu pergi ke sana untuk meminta izin pada Mommynya itu.
Tanpa Jeanette ketahui, sepasang mata telah menangkap sosoknya dan terus memperhatikan ke mana ia melangkah. Ia melihat Jeanette berjalan dengan menuntun seorang anak laki laki.
Jean, kamu kembali. Apa kamu sudah menikah lagi?
*****
Jeanette bersama Dad Marcello dan Alex, memasuki sebuah ruang rawat VIP. Terlihat Mom Gemma terbaring, terlelap, mungkin masih dalam pengaruh obat.
"Mommy sendirian?" tanya Jeanette.
"Tidak, semalam Daddy menemani Mommy di sini," jawab Dad Marcello.
"Ini glenma, Mommy," ucap Alex.
__ADS_1
"Ya, sayang. Ini Grandma," ucap Jeanette.
Jeanette tak tega melihat kondisi Mom Gemma. Ia duduk di sampingnya kemudian menggenggam tangan wanita yang dulu sering memarahinya. Ya, Mom Gemma cukup keras padanya. Oleh karena itu juga, Jeanette memilih komunitas pecinta alam. Ia sering bepergian dan menginap, jadi tak selalu bertemu dengan Mom Gemma.
"Kapan Mom akan sadar?" tanya Jeanette.
"Mungkin sebentar lagi," jawab Dad Marcello.
"Aku keluar sebentar untuk membeli kopi, Dad. Aku akan segera kembali. Aku titip Alex dulu di sini," ucap Jeanette.
"Ya, pergilah," Jeanette memberikan ponselnya pada Alex agar putranya itu lebih tenang dan tidak bosan. Setelah itu, ia keluar dari ruangan untuk mencari mesin kopi.
Berjalan menyusuri koridor, ia melihat mesin kopi. Ia segera mengeluarkan beberapa koin yang ia miliki dan memasukkannya ke dalam celah khusus.
"Jean," panggil seseorang.
Jeanette memejamkan matanya ketika mendengar namanya dipanggil. Di kota seluas Berlin, ia tak mengira masih saja bisa bertemu dengan mantan suaminya ini.
Ia memutar tubuhnya setelah mengambil kopi dari mesin. Jeanette meniup dan menyesapnya perlahan, kemudian menghela nafasnya.
"Tuan Hansen Daniel, senang bertemu anda," ucap Jeanette dengan formal.
"Jean, apa kita tidak bisa bersahabat seperti dulu?" tanya Hansen.
"Aku harus kembali," Jeanette memutar tubuhnya. Ia bisa memaafkan Dad Marcello dan Mom Gemma. Jeanette tahu bahwa keduanya juga pasti tak memiliki pilihan saat mengambil keputusan itu. Jesslyn hamil dan tak mungkin membiarkannya tanpa seorang suami dan ayah untuk bayinya.
Tapi untuk Jesslyn dan Hansen, Jeanette belum bisa memberikan kata maaf. Bagi Jeanette, keduanya adalah pengkhianat yang menusuknya dari belakang.
"Maafkan aku," ucap Hansen.
Namun Jeanette tak berbalik ataupun membalas. Ia meneruskan langkahnya menuju ruang rawat Mom Gemma. Belum sampai 1 hari ia berada di Kota Berlin, ia sudah bertemu dengan pria yang sama sekali tak ingin ia temui.
Maafkan aku, Jean. - Batin Hansen.
__ADS_1
🧡 🧡 🧡