
Di dalam ruangan kerja, Zero yang sedang berkutat dengan beberapa berkas, ponselnya berbunyi. Ia sengaja menyalakan bunyi ponselnya karena belakangan ia sering terlewat jika ada panggilan. Apalagi sejak Axton sering pergi meninggalkan perusahaan.
"Halo."
"Apa kamu sibuk?"
"Ya, seperti biasa. Apa kamu sudah di kantor?" tanya Zero.
"Hmm ... Pekerjaanku sangat banyak hari ini, jadi aku harus datang lebih pagi."
"Aku akan ke sana lagi nanti, tapi harus menunggu jika Tuan Axton pergi ke sana juga."
"Aku mengerti pekerjaanmu. Tapi kudengar Tuan Axton akan langsung kembali dari Berlin. Ia tidak akan mampir lagi ke London."
"Ya, ia seharusnya sudah tiba siang ini. Mungkin mereka langsung ke Kediaman Keluarga Williams."
"Kamu jangan lupa makan siang, okay?"
"Okay."
"Bye."
"Bye."
Zero mencoba membuka hatinya pada seorang wanita. Sejujurnya, ia masih menyukai adik Tuan Axton, Alexa Williams (bisa dibaca di "The Coldest Snow") . Namun, ia tak ingin terus terjebak dalam cinta yang tak mungkin, apalagi saat ini Alexa sudah menikah dan memiliki 3 orang anak.
Ia merasa sedikit cocok dengan wanita ini, karena wanita ini tak pernah menuntut harus ini dan itu, terutama perhatiannya. Ia tak ingin terikat dan membuatnya terkekang hingga tak bisa berbuat apa apa.
Selesai itu, sekitar 10 menit kemudian, telepon di atas mejanya yang berbunyi.
"Ze, ke ruanganku."
"Baik, Tuan."
Terdengar suara Axton dan itu artinya pekerjaan akan kembali memanggilnya. Ia memandang mejanya yang masih penuh dengan berkas. Setidaknya pekerjaan dan kehadiran seorang wanita bisa membuat dirinya melupakan Alexa.
Sesampainya Zero di ruangan Axton, ia melihat wajah Axton yang terlihat lebih segar dan cerah dibanding biasanya. Ada One juga di dalam ruangan itu, hanya saja pria itu terus saja melihat ke arahnya.
"Apa yang kamu lihat?" ucap Zero dengan sedikit berbisik.
Axton mendengarnya meskipun suara Zero tak terlalu besar. Ia terkekeh sendiri juga karena sejak kepulangannya tadi, One jadi suka melamun, seakan banyak pertanyaan di salam pikirannya.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak melihatmu, Kak," jawab One.
"Bagaimana perusahaan, Ze?" tanya Axton untuk mengalihkan pembicaraan.
"Semua baik, hanya ada beberapa proyek yang memerlukan lebih banyak perhatian saat ini karena sudah masuk dalam tahap konstruksi," jawab Zero.
"Aku mengerti. One! Aku harap kamu dan Seven bisa ikut membantu Zero menyelesaikan semua proyek ini."
"Apa Tuan akan pergi lagi?" tanya Zero.
"Untuk sementara ini tidak. Aku akan fokus mempersiapkan pernikahanku dulu," jawab Axton.
"Aku turut berbahagia untuk anda, Tuan," ucap Zero.
"Terima kasih, Ze. Maaf aku banyak merepotkanmu belakangan ini."
Zero dan One saling pandang karena mendengar ucapan Axton. Suatu hal yang langka ketika Axton minta maaf karena memberikan banyak pekerjaan. Ternyata, menemukan wanita yang cocok dan menikah, bisa membuat atasannya ini berubah 90 derajat (jangan banyak banyak berubahnya, ntar mlengsong 😅).
One pun terus memperhatikan Zero. Ia jadi mulai berpikir apakah Zero akan berubah juga seperti Axton. Pasalnya wajah Zero yang tanpa ekspresi itu benar benar sulit berubah. Pernah sekali One melihat perubahannya, yakni saat Zero bersama dengan Alexa, adik perempuan Tuan Axton.
Setelah keluar dari ruangan Axton, One mengikuti Zero. Ia akan mendapat penjelasan dari Zero mengenai proyek yang sedang mereka kerjakan. Setiap orang di dalam Black Alpha, memiliki latar belakang yang luar biasa. Mereka semua telah diselidiki oleh Axton sebelumnya dan ia tak sembarangan memilih orang untuk masuk ke dalam anggota Black Alpha.
"Kamu itu sejak tadi terus saja melihat ke arahku? Apa ada sesuatu yang aneh?" tanya Zero pada One.
Zero menghela nafasnya pelan kemudian terus berjalan hingga sampai di ruangannya yang tak terlalu jauh dari ruangan Axton.
Di dalam, One duduk di kursi depan meja Zero. Ia memperhatikan berkas berkas yang begitu banyak dan berserakan di sana. Tiba tiba saja membuat bulu kuduknya merinding, pasalnya ia sendiri lari dari keluarganya yang menginginkan dirinya memegang perusahaan keluarga. Memang bukan perusahaan besar, tapi ia tidak suka berkutat di balik meja dengan kertas kertas.
One lebih suka berkutat dengan komputer, kode, senjata, dan berkelahi. Itu sudah menjadi makanannya sehari hari sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Zero lagi saat menangkap basah One melamun memperhatikan dirinya.
Daripada aku mati penasaran dan tidak bisa tidur semalaman, lebih baik aku bertanya saja. Kalau dia tak mau menjawab, aku tinggal memaksa si kecil Alex untuk memberitahuku. - batin One.
"Kak, aku dengar ... Kamu sudah memiliki kekasih," ucap One.
Deghhh
"Kata siapa?!" Zero yang kaget pun langsung menjawab tanpa berpikir. Ia tak pernah memberitahu siapapun, bahkan ia memiliki hubungan saat ini dengan sembunyi sembunyi.
"Intel," jawab One singkat. Ya, baginya Alex sudah seperti intel, yang mengetahui rahasia besar ketuanya itu, sementara dirinya yang lebih sering bersama dengan Zero, malah tidak tahu.
__ADS_1
"Jangan sembarangan! Aku tidak memiliki hubungan dengan siapapun."
"Ouuu."
One tak ingin banyak bertanya lagi, ia akan mulai mencari tahu sendiri tentang hal ini.
Sepertinya sudah waktunya aku menggunakan kekuatan dan kemampuanku yang tersembunyi. Lihat saja, aku pasti bisa membongkar rahasiamu. - batin One.
*****
Axton kembali ke Kediaman Williams. Awalnya ia hanya ingin sebentar saja di perusahaan, tapi ternyata banyak yang harus ia selesaikan sebelum membiarkan Zero dan One melanjutkannya.
Ia langsung menuju ke kamarnya sendiri di mana Alex berada. Putranya itu ingin tidur di kamar Axton. Ia bahkan menarik Jeanette untuk tidur bersama, hanya saja Mom Mia melarang. Jadi saat ini Jeanette hanya menemani saja hingga Axton tiba.
"Daddy!" teriak Alex saat melihat Axton membuka pintu dan masuk ke dalam kamar. Jeanette pun segera bangkit dan ntah mengapa ia membantu Axton membuka jas yang dipakainya.
Namun sesaat ia terhenti, ingatannya kembali pada saat ia menjadi istri Hansen. Saat itu Hansen menepis tangannya agar tak membantunya.
"Mengapa berhenti?" tanya Axton.
"Ah tidak, maafkan aku," Jeanette melepaskan tangannya. Ia takut Axton akan melakukan hal yang sama seperti Hansen.
Namun, tangan Jeanette ditahan oleh Axton, "Lakukanlah itu setiap kali aku pulang kerja. Aku menyukainya."
Axton memanfaatkan kesempatan itu untuk berada dekat dengan Jeanette.
"Mommy! Ayo, jangan dekat dekat Dad telus. Aku kan lebih butuh pelhatian," ucap Alex yang sontak membuat Jeanette tertawa kecil, sementara Axton mencebik kesal.
"Aku mandi dulu," ucap Axton.
"Apa kamu sudah makan?" tanya Jeanette.
"Sudah. Tadi aku makan di kantor."
Axton pun masuk ke dalam kamar mandi dan Jeanette meletakkan jas Axton di dalam keranjang pakaian kotor. Setelah selesai, Axton keluar dengan menggunakan bathrobe. Ia langsung masuk ke wardrobe dan mengganti bathrobe dengan piyama.
"Dad! Tidul denganku," ucap Alex yang sudah siap di tempat tidur.
"Baiklah, aku keluar dulu," ucap Jeanette, "Tidurlah dengan nyenyak, sayang."
Jeanette mencium pipi Alex dan berjalan keluar. Namun Axton kembali menahannya dan berbisik, "tunggu aku di kamarmu."
__ADS_1
🧡 🧡 🧡