
One mengerjapkan matanya. Ia mencoba menyesuaikan pandangan matanya dengan sekitar dan mengingat apa yang telah terjadi padanya.
Sekelebat senyuman Nicholas sebelum ia tak sadarkan diri, membuatnya mencebik kesal. Lalu ia memegang lehernya yang tadi sempat terasa sedikit sakit sesaat sebelum pingsan.
Anak itu benar benar. Mereka selalu saja mencari masalah. - batin One.
Flashback On
Michael dan Alexa bersama ketiga anak mereka tiba di bandara. Secara khusus Zero dan One menjemput mereka. 2 mobil mereka gunakan karena biasanya Nathan ingin menggunakan mobil terpisah dari Daddy dan Mommynya.
"Halo, Uncle One!" sapa Nathan, Nala, dan Nicholas. Ketiganya naik ke dalam mobil yang dikemudikan oleh One, sementara Zero mengemudikan mobil yang ditumpangi oleh Michael dan Alexa.
Ihhh Kak Zero curang sekali. Aku harus menghadapi 3 anak ini, sementara dia .... Ah, tapi kasihan juga dia. Ia harus melihat pemandangan romantis tanpa bisa menikmati. - batin One terkekeh sendiri.
"Uncle kenapa tertawa sendiri?" tanya Nicholas.
"Tidak apa. Uncle senang kalian datang ke sini," jawab One.
Di dalam mobil selama perjalanan, ketiga bocah kecil itu membuat kwpala One serasa mau pecah. Mereka secara bergantian berpindah dari kursi belakang ke kursi depan.
"Hei, Nat, Nic! Lihat apa yang kubuat. Ini senjata terbaruku," ucap Nala.
"Senjata? Itu hanya seruling bambu," jawab Nathan.
"Kelihatannya hanya seperti seruling bambu, tapi ini senjata rahasia. Aku bisa menidurkan orang hanya dengan meniupkan seruling ini."
"Coba kamu arahkan pada Uncle One," ucap Nicholas.
"Hei kalian jangan main main! Uncle sedang menyetir. Kalau tiba tiba Uncle tertidur, kita bisa kecelakaan," ucap One yang ntah mengapa bergidik ngeri dengan apa yang akan dilakukan oleh 3 bocah cilik ini.
"Ah Uncle tidak seru!" ucap Nicholas.
One akhirnya melajukan kendaraannya lebih cepat agar bisa sampai di kediaman Keluarga Williams segera. Kemarin Alex yang membuat dia penasaran, sekarang malah ditambah 3 bocah yang ingin menggunakan dirinya sebagai kelinci percobaan.
Flashback Off
One mengepalkan tangannya ketika menyadari kalau Nicholas berhasil meniupkan seruling itu dan tepat mengenai dirinya.
__ADS_1
Aku harus melakukan sesuatu pada 4 bocah itu. - batin One. Sebenarnya bukan karena ia terkena jarum tidur, tapi lebih ke rasa malu yang ia hadapi karena pingsan di saat bertugas.
*****
"Momm!!" teriak Axton saat Mom Mia memukulnya.
"Kamu ini belum jera juga. Dulu sudah membuat kesalahan karena DP duluan, sekarang kamu mengulangi yang sama," ucap Mom Mia.
"Tapi kali ini aku kan bertanggung jawab, Mom. Aku sudah menikah dengannya," ucap Axton.
Mom Mia memijit pelipisnya yang terasa berdenyut karena kelakuan putranya ini. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali, hingga akhirnya Dad Azka mendekatinya.
"Sudahlah, semua sudah terjadi. Yang terpenting sekarang ia harus menjaga istri dan anak anaknya dengan baik," ucap Dad Azka.
"Tapi lihat hasil DP mu ini, bagaimana Jean akan berada di acara resepsi. Kasihan dia," ucap Mom Mia yang melihat ke arah menantunya itu.
"Aku akan menjaganya, Mom. Saat ini biarkan ia istirahat dulu, lagi pula masih 6 jam lagi sebelum acara resepsi dimulai," ucap Axton.
"Jaga, jaga, yang ada malah kamu mengganggunya," Mom Mia masih kesal pada putranya sendiri.
"Sudah, sayang. Kita keluar dulu saja. Sebaiknya kita menemani cucu cucu kita di depan," ajak Dad Azka, "Oya Brave, One ada di rumah sakit. Ia hanya pingsan karena senjata Nala."
"Dad, aku ingin wanita itu mendapatkan hukuman. Apa Uncle Marcello tidak akan marah? Apa yang wanita itu lakukan sudah keterlaluan," ucap Axton.
"Semua terserah padamu, Brave. Uncle Marcello menyerahkan semuanya padamu dan Jean."
"Baiklah."
*****
Zero membawa Alexa bersama ketiga anaknya menuju ke sebuah ruangan yang dikhususkan untuk keluarga sementara Michael melakukan pemeriksaan pada Jeanette.
"Terima kasih," ucap Alexa tersenyum pada Zero.
"Jaga mereka dengan ketat, Al. Jangan sampai mereka kembali membuatmu panik. Aku akan pergi ke kantor polisi untuk menyelesaikan kasus ini," ucap Zero.
"Baiklah. Buat wanita itu dihukum. Kalau Kak Ax dan Jean tak mau memperkarakan mereka, maka aku yang akan menuntutnya," ucap Alexa.
__ADS_1
"Tenang saja, aku pastikan ia akan mendapatkan hukumannya," balas Zero.
Saat keluar dari ruangan, Zero tersenyum. Di dalam hati, ia masih merasa Alexa tetap menjadi penghuni hatinya. Meskipun ia mencoba untuk berhubungan dengan wanita lain, tapi ia tetap tak bisa mengeluarkan Alexa dari dalam hatinya dan mungkin tak akan pernah bisa.
Sepertinya aku harus memikirkan ulang mengenai hubunganku saat ini. Aku tak ingin hubunganku saat ini menjadi boomerang untukku ke depannya. Lebih baik aku sendiri saja dan mencintainya meskipun dalam diam. Mencintainya dengan melindunginya, meskipun ia telah menikah. - batin Zero.
Zero melangkahkan kakinya dengan tegap keluar dari Hotel Williams. Ia akan segera menuju ke kantor polisi untuk mengurus semuanya, setelah itu ia akan pergi menemui One. Ia menghela nafasnya pelan dan melihat ke arah ponselnya sekali lagi.
"Setelah semua ini selesai, aku akan membebaskanmu. Aku yakin kamu akan mendapatkan pasangan yang lebih baik dariku. Jangan mengharapkan cinta lagi dariku," gumam Zero sambil melihat nama seorang wanita di layar ponselnya.
Zero tidak tahu apakah wanita itu akan menerima keputusannya. Tapi ia juga tak ingin membawa wanita itu terlalu dalam pada hubungan mereka yang mungkin tak akan pernah berhasil.
Namun baru saja ia ingin menjalankan mobilnya, ponselnya berbunyi dan tertera nama wanita yang sedari tadi ia pikirkan.
Mungkin ini saatnya. Meskipun kamu akan terluka, aku harus mengatakannya. - batin Zero.
"Halo," sapa Zero.
"Apa aku mengganggumu?"
"Tidak. Aku hanya akan pergi ke kantor polisi. Ada hal yang harus kuselesaikan."
"Aku sudah tahu apa yang terjadi. Aku harap semuanya segera selesai dengan baik."
"Terima kasih, Anne. Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu."
"Katakanlah."
"Aku rasa hubungan kita tak akan berhasil, sebaiknya kita hentikan saja sampai di sini," ucap Zero. Ia tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh wanita di seberang telepon, tapi ia yakin wanita itu pasti akan sangat terluka.
"Menurutmu begitu?"
"Ya, aku sudah mencoba dan kurasa aku tak bisa mencintaimu."
"Baiklah, tidak masalah untukku. Semoga kamu berbahagia, Ze."
"Anne! Vianne!" Sebelum Zero memanggilnya lagi, wanita itu sudah memutus sambungan ponselnya. Ternyata tak perlu banyak drama untuk melakukannya. Namun kini hati Zero yang merasa aneh. Ia merasa Vianne terlalu cepat menjawab dan ia tak suka itu. Setidaknya ia ingin Vianne berdebat dulu dan mempertanyakan tentang keputusannya yang mendadak.
__ADS_1
🧡 🧡 🧡