
Pagi menjelang, seperti 5 tahun yang lalu, Jeanette terbangun terlebih dahulu. Matanya mengerjap menyesuaikan dengan sekeliling. Ia merasakan tubuhnya remuk dan pegal. Rasanya untuk bangun saja ia merasa malas.
Ia melihat ke sekeliling dan mulai menyadari kalau saat ini ia tidak sedang berada di hotel. Ia seakan mengalami dejavu dengan keadaan yang ia lihat saat ini. Jeanette langsung menoleh ke samping dan benar saja, ia kembali mendapati seorang pria di sana.
Axton.
Jeanette kembali mengingat apa yang terjadi semalam. Ia ...., wajahnya langsung memerah seketika saat mengingatnya. Dengan sadar ia meminta pertolongan Axton untuk meredakan rasa panas di tubuhnya.
Ia bahkan mengingat dengan detail setiap hal yang mereka lakukan semalam. Jeanette memegang kedua pipinya dan memalingkan wajahnya.
Ya Tuhan, apa yang telah kulakukan? - batin Jeanette.
Ia pun memutar tubuhnya perlahan dan ingin segera turun untuk mengambil pakaiannya, kemudian memakainya. Namun, sebuah tangan langsung meraih pinggangnya dan menariknya.
"Kamu mau ke mana? Apa kamu akan meninggalkanku lagi seperti 5 tahun yang lalu," ucap Axton.
"A-aku ....," lidah Jeanette seakan kelu untuk menjawabnya.
Ia mendekatkan tubuh Jeanette dengan tubuhnya. Keduanya masih polos dan kulit tubuh mereka pun bersentuhan, membuat keduanya kembali merasakan getaran dan gelenyar yang berbeda.
Axton memutar tubuh Jeanette yang awalnya membelakanginya, jadi menghadap ke arahnya. Hal itu ia lakukan dengan tetap memeluk pinggang Jeanette.
"Bukankah semalam sudah kukatakan padamu. Bahwa setelah semalam, maka aku tak akan pernah melepaskanmu. Kamu hanya untukku, hanya milikku," Axton kembali mencium bibir Jeanette dan sesuatu di bawah sana kembali menegang tapi bukan listrik.
Jeanette yang ingin menghindar, tak bisa karena tubuhnya seakan mengkhianati pikirannya. Tubuhnya kembali merespon Axton dan apa yang terjadi semalam, kembali terjadi lagi pagi ini.
Axton melum mat dan mengul lum bibir Jeanette. Ia menyusuri setiap jengkal tubuh Jeanette seakan tak pernah puas. Ketika ia berhasil memasukkan kembali miliknya pada rumah yang ia nantikan selama 5 tahun, miliknya seakan semakin menegang. Hal itu membuat Jeanette kembali mendes sah, membuat gair rah Axton terus naik. Hingga akhirnya ia kembali menyemburkam bibbit premium miliknya seperti 5 tahun lalu dan seperti semalam. Ia yakin sekali bahwa ia akan segera membuat wanita di bawah kungkungannya ini kembali mengandung anaknya.
"Aku akan segera menikahimu. Aku tak ingin kamu hamil tanpa seorang suami lagi," ucap Axton.
"Tapi aku belum tentu hamil," ucap Jeanette yang juga ingin menghindari sebuah pernikahan.
"Aku yakin kamu akan hamil. Kalau kali ini tidak berhasil, maka aku akan membuatnya lagi besok dan hari hari selanjutnya ... Agar kamu tak pergi lagi ke mana mana," ucap Axton.
__ADS_1
"Bukankah kamu tak akan pernah menikah?" tanya Jeanette.
"Ya, aku tak akan pernah menikah. Itu prinsipku sebelum aku bertemu denganmu 5 tahun yang lalu. Dan sekarang aku juga tak akan pernah menikah, kalau bukan dengan dirimu," jawab Axton.
Jantung Jeanette langsung berdetak dengan cepat. Apa yang Axton katakan seakan membuat hatinya ingin melompat keluar karena tak percaya.
"Percayalah padaku. Aku tak akan mengkhianatimu, karena itu bukan prinsip hidupku. Kita akan memberikan keluarga yang utuh untuk Alex dan anak anak kita yang lain," ucap Axton lagi.
Jeanette merasa pria di hadapannya itu semakin banyak bicara, tidak seperti biasanya.
"Kita harus pulang, Alex pasti menungguku," ucap Jeanette.
"Hmm ... Kita mandi bersama, biar lebih cepat," ucap Axton yang langsung saja bangkit dari tempat tidur dan menggendong Jeanette. Jeanette yang tubuhnya polos langsung menutupinya dengan tangan.
"Aku sudah melihat semuanya, tidak perlu menutupinya lagi," ucapan Axton semakin membuat Jeanette malu. Wajahnya saat ini mungkin sudah bagaikan kepiting rebus.
Di dalam kamar mandi, keduanya kembali mengulangi permainan mereka. Axton tak membiarkan apa yang ada di hadapannya berlalu dengan sia sia.
Sementara itu di depan pintu,
"Lihat itu, mereka saja sudah keluar, padahal dosis mereka lebih besar. Apa jangan jangan Tuan Axton yang susah menegang jadi tidak berhasil tembus?" lanjut Five.
Pletakkk
"Sembarangan! Kalau sampai Tuan Axton mendengarnya, kamu akan dipindahkan ke divisi Bio dan diganti namamu jadi Mamalia," ucap Four sambil menepuk bahu Five.
"Tidak apa sih berubah jadi mamalia, aku kan memang makhluk menyusui," ucap Five frontal.
Four menutup wajahnya, wanita di sebelahnya ini memang aneh bin ajaib. Oleh karena sifatnya ini juga, tak ada anggota kelompok yang jatuh hati padanya karena tak menganggapnya sebagai wanita.
Three, Five, dan Nine, adalah 3 anggota mereka yang berjenis kelamin wanita. Namun yang paling aneh adalah Five dan Four tidak tahu apa dia harus bersyukur atau tidak dipasangkan dengan wanita itu.
Tak lama, pintu kamar yang ditempati oleh Axton dan Jeanette terbuka. Keduanya sudah menggunakan pakaian baru yang telah disiapkan oleh anak buah Black Alpha semalam.
__ADS_1
"Lihat, wajah Tuan Axton berseri seri kan? Tembbus itu," ucap Four berbisik pada Five.
"Yup! Sepertinya tak hanya sekali. Lihat saja cara berjalan Nona Jeanette," ucap Five yang justru memperhatikan cara berjalan Jeanette yang terlihat berbeda.
"Siap siap kondangan kita," ucap Four sambil membenarkan kerahnya yang tidak berantakan.
"Kondangan, kondangan ... Kerja!! Yang kondangan tuh Kak Zero, One sama Seven. Kita kan udah kebagian nungguin malam pertama tuh semalem," ucap Five.
"Four! Five! Mobil," perintah Axton. Four langsung mendekat dan memberikan kunci mobil milik Axton.
"Selesaikan semuanya dan aku tak mau ada bukti apapun tentang diriku dan Jeanette."
"Siap, Tuan."
Keduanya pun pergi. Jeanette pun selalu menunduk dan tak berani menatap ke arah Four dan Five yang sepertinya tahu apa yang terjadi di antara dirinya dengan Axton.
Sementara itu di kamar yang lain,
"Ahhh!!! Menjijikkan!!" teriak Jesslyn ketika ia terbangun dan melihat pria gembul di sebelahnya dan tengah memeluk dirinya.
Ia langsung menyingkirkan pria itu, bahkan ia mencoba menendang pria itu agar jatuh dari tempat tidur. Namun tak berhasil.
Pria itu mulai menggeliat dan mengerjapkan matanya. Ia membuka matanya dan melihat ke arah Jesslyn sambil menghapus air liurnya yang mengalir dari ujung bibirnya.
"Kamu menginginkannya lagi, cantik?" tanya pria itu, "aku siap memberikan pelayanan lagi padamu."
Jesslyn langsung mengambil pakaiannya dan berusaha memakainya. Namun, pria itu turun dari tempat tidur dan memeluk tubuh Jesslyn dari belakang.
"Kamu harum sekali," pria itu mencium bahu Jesslyn yang masih terbuka dan membuat Jesslyn langsung mendorongnya dan ....
Bughhh
🧡 🧡 🧡
__ADS_1
Aku udah up dari kemarin sore, tapi ga lolos2 reviewnya. Ini aku coba hapus trus aku up lagi, mudah2an bisa ke up. Ntah apa yang terjadi 🙄