
Jesslyn yang mendengar pembicaraan Dad Marcello di ponsel, tak jadi masuk. Ia mendengar semuanya, bahkan hingga tempat di mana pernikahan tersebut diadakan.
Jakarta? Itu berarti Kak Jean bukan menikah dengan Hansen. Apa dengan pria tampan yang waktu itu? Menyebalkan sekali, ia bahagia di atas penderitaanku. - batin Jesslyn.
Ia segera bersembunyi di samping pintu ketika melihat Dad Marcello akan keluar. Ia terus memperhatikan Dad Marcello yang pergi dari rumah dengan mengendarai sendiri mobilnya.
"Ke mana Uncle Bob?" gumam Jesslyn.
Setelah Dad Marcello pergi, ia langsung masuk ke dalam rumah. Tapi kali ini tujuannya bukan ke kamar tidurnya, melainkan ke kamar tidur Dad Marcello dan Mom Gemma.
Ceklekkk
Kosong! Ia yakin Mom Gemma masih berada di rumah sakit. Jadi, ia bebas melakukan apapun saat ini. Ia berjalan menuju wardrobe dan membuka salah satu lemari di sana. Jesslyn menarik laci dan melihat beberapa perhiasan Mom Gemma yang berukuran kecil. Setelahnya, ia membuka sebuah lemari lagi dan melihat tumpukan kotak yang ia yakini berisi perhiasan yang harganya pasti lumayan jika ia jual.
"Aku harus ikut Dad ke Indonesia. Aku akan membuat kamu menyesal Kak. Bahkan sekarang Dad tidak mencari keberadaanku sama sekali, malah mau datang ke acara pernikahanmu," gumam Jesslyn. Kebencian di dalam hatinya pada Jeanette seakan begitu meresap. Tak ada rasa sayang sama sekali meskipun ia hidup bersama selama 25 tahun.
Jesslyn memasukkan perhiasan Mom Gemma ke dalam tas miliknya. Kali ini, ia tak lupa untuk sekalian membawa surat surat yang dibutuhkan untuk menjual perhiasannya.
Setelah itu, ia mengambil beberapa gepok uang tunai yanh disimpan oleh Mom Gemma di dalam brankas pribadinya. Jesslyn pun keluar dari kamar tidur dan dipergoki oleh seorang pelayan.
"Nona Jesslyn."
"Diam kamu! Jangan banyak bicara atau aku akan meminta Dad memecatmu," ancam Jesslyn dengan menatap tajam ke arah pelayannya. Pelayan itu pun terdiam sembari melihat kepergian Jesslyn.
*****
"Dad," Jeanette menyambut kedatangan Dad Orlando di Kediaman Keluarga Williams.
"Dad sangat merindukanmu, sayang," Dad Orlando memeluk Jeanette dan mencium kening putrinya.
"Aku juga."
"Glenpa!" panggil Alex dan menghampiri Dad Orlando yang duduk bersama dengan Wesley.
__ADS_1
"Halo, jagoan. Bagaimana kamu di sini? Apa kamu merindukan Grandpa?"
"Aku lindu kamalku," jawab Alex yang membuat semua yang di sana tertawa.
"Apa kabar, Tuan Orlando? Senang bertemu anda lagi di sini," sapa Dad Azka.
"Kabar saya sangat baik, apalagi setelah saya menemukan putri saya. Saya berjanji akan hidup lebih lama dan mengganti semua waktu saya yang hilang bersamanya," ucap Dad Orlando yang langsung mendapat senyuman dari Jeanette.
Mereka makan siang bersama dan setelahnya mereka duduk di ruang keluarga untuk melanjutkan pembicaraan mereka tentang pernikahan Jeanette.
"Aku akan membawa Jeanette dan Alex untuk tinggal bersamaku, sampai hari pernikahan mereka," ucap tuan Orlando.
"Mana bisa begitu?" ucap Axton tiba tiba.
"Brave!"
"Biarlah Jeanette dan Alex tinggal di sini, jadi aku bisa selalu dekat dengan mereka," ucap Axton.
"Benar, Tuan."
Di dalam hati, Axton menggerutu kesal. Di satu rumah saja ia kesulitan mendekati Jeanette karena Alex yang belakangan ini selalu saja menempel. Malam hari pun Alex tak mau tidur dengannya dan memilih tidur bersama dengan Jeanette. Bagaimana jika berbeda rumah? Ia menghela nafasnya pelan.
"Kamu mau ikut dan tinggal bersama Dad kan sayang?" tanya Dad Orlando pada Jeanette.
Katakan tidak, katakan tidak. - batin Axton.
"Tentu saja, Dad. Aku mau tinggal bersama Dad," jawab Jeanette dengan tersenyum.
Axton langsung menghela nafas pelan. Rencananya untuk terus berada si dekat Jeanette gagal lagi. Tapi tak mengapa, pernikahannya tinggal beberapa hari lagi, setelah itu ia akan terus bersama dengan Jeanette.
*****
Beberapa hari setelahnya,
__ADS_1
Jesslyn mengikuti Dad Marcello ketika pria paruh baya itu menuju ke bandara. Ia bahkan memesan tiket dengan penerbangan yang sama agar bisa mengetahui di mana Jeanette tinggal serta bisa datang dan mengacaukan acara pernikahan kakaknya itu.
Ia mengikutu Dad Marcello dengan mengendap endap. Ia tak mau sampai ketahuan tengah mengikuti Ayahnya itu. Namun, Jesslyn tak menyadari bahwa saat ini ia tengah diawasi serta diikuti oleh seseorang.
Seseorang yang mengikuti Jesslyn terlihat mengambil ponsel dari dalam sakunya dan menghubungi seseorang.
"Ia akan segera berangkat ke Jakarta, Indonesia," ucapnya di ponsel.
"Baiklah, awasi terus. Aku tidak akan membiarkannya lepas begitu saja."
"Baik, Tuan."
Pria itu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku dan mengikuti Jesslyn masuk ke dalam ruang tunggu pesawat. Ia akan terus mengikuti Jesslyn sesuai perintah atasannya.
*****
Dad Marcello duduk di kursi bagian depan, sementara Jesslyn duduk di bagian tengah ke belakang. Ia harus terus menjaga jarak dengan Ayahnya itu agar tak ketahuan.
Selain itu, Jesslyn juga menggunakan kacamata dan masker agar tak dikenali. Hampir 16 jam perjalanan dihabiskan untuk terbang dari Kota Berlin menuju Jakarta. Mereka akhirnya sampai di bandara dan Dad Marcello dijemput secara khusus oleh Zero.
Jesslyn tak mengenali siapa Zero, jadi ia tak tahu ke mana Dad Marcello akan pergi.
"Aku harus terus mengikuti Dad," gumam Jesslyn.
Jesslyn langsung menaiki taksi dan memintanya untuk mengikuti mobil yang dinaiki oleh Dad Marcello.
"Rumah siapa ini? Apa ini rumah calonnya Kak Jean? Yang benar saja ... Hansen saja tidak sekaya ini," gumam Jesslyn.
Ia semakin menggerutu di dalam hatinya karena Jeanette akan mendapatkan yang lebih darinya. Setelahnya, Jesslyn pun pergi ke hotel yang tak jauh dari komplek perumahan elit tersebut.
Aku harus terus mengawasi mereka. Aku tak ingin mereka bahagia di atas penderitaanku. - batin Jesslyn.
🧡 🧡 🧡
__ADS_1