
One masuk ke dalam pekarangan Kediaman Keluarga Williams. Terlihat bangunan yang begitu besar dan mewah, mungkin Kediaman Keluarga Archer hanya setengahnya saja.
One membukakan pintu untuk Jeanette yang masih terdiam, sementara Axton sudah turun sambil menuntun Alex. Ketiganya masuk ke dalam dan terlihat Dad Azka dan Mom Mia yang sudah menunggu kedatangan mereka.
"Glenpa!" Alex langsung melepaskan genggaman tangannya pada Axton dan berlari ke arah Dad Azka. Dad Azka langsung tersenyum dan memeluk cucunya itu.
"Halo, Alexander The Great!" sapa Dad Azka yang membuat Alex langsung tersenyum lebar.
Mom Mia mencebik kesal dan menatap ke arah Axton. Axton sangat tahu apa arti tatapan Mommynya itu. Dulu ia selalu mengatakan kalau Alex adalah temannya, tapi kan memang itu yang ia tahu dulu. Jadi ia tidak merasa bersalah.
"Kita makan siang dulu. Alex pasti sudah sangat lapar," ucap Dad Azka. Ia bangkit berdiri dan menuntun Alex menuju ruang makan.
Mom Mia berjalan mendekati Jeanette dan mengajak putri sahabatnya itu untuk ke ruang makan. Axton pun mengikuti mereka.
Sementara itu di luar, One menunggu atasannya itu yang katanya akan pergi lagi ke perusahaan. Ia duduk di teras sambil menatap ke arah luar. Dengan menopang dagu dengan sebelah tangannya, ia masih saja memikirkan apa yang tadi dikatakan oleh Alex.
Ia pun segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi sekutunya, Seven. Ia mencoba dua hingga tiga kali, tapi tak diangkat, membuatnya kesal.
"Ishh ke mana sih dia. Aku ini sedang penasaran," gumam Seven. Tak habis akal, ia pun menghubungi Four. Tuan Axton dan Zero sering berkunjung ke Benua Eropa, mungkin saja Four tahu.
"Ada apa?" terdengar suara berat Four dari ujung telepon.
"Kamu sedang apa?" tanya One.
"Sedang enak enak, kamu mengganggu saja," jawab Four yang sedang tidur.
Four baru bisa tidur hari ini karena ia harus menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Axton, apalagi kalau bukan tentang Bob Bonnie. Meskipun Bob Bonnie tak sampai melecehkan Jeanette, tapi tetap saja Axton akan memberinya pelajaran.
"Ishhh, enak enak ... Aku sedang pusing nih."
"pusing jangan ajak ajak donk. Di sana kan ada Seven, ada Kak Zero."
"Justru itu, mana mungkin aku bertanya pada Kak Zero tentang dirinya sendiri," ucap One.
__ADS_1
"Maksudmu?"
"Four, apa kamu tahu siapa kekasih kak Zero?"
"Kekasih? Mana mungkin Kak Zero punya kekasih ... Dia itu sebelas dua belas sama Five, aneh. Yang satu terlalu dingin, yang satu celamitan. Jadi nggak bakalan ada yang mau," jawab Four sambil menguap.
"Berarti kamu juga tidak tahu," ucap One.
"Sudahlah, aku mau tidur lagi. Jangan ganggu aku," ucap Four, "tapi kalau memang Kak Zero punya kekasih, jangan lupa kabari aku."
One semakin mencebik kesal karena ia juga tak mendapatkan informasi apapun dari Four, yang ada malah ia yang menyebarkan berita bahwa Zero memiliki kekasih.
*****
Sebuah hotel bintang 3 menjadi pilihan Jesslyn. Ia yakin tak akan ada yang menemukannya di sana. Ia sengaja mencari hotel yang tidak terlalu terlihat dari jalan raya.
Ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menghela nafasnya pelan. Ia melihat ke arah ponselnya yang sengaja ia matikan karena tak ingin keberadaannya diketahui. Dari film yang kadang ia tonton, pihak kepolisian akan mencari keberadaan seseorang dari ponsel yang digunakan oleh pelaku, dan ia tak mau tertangkap.
Jesslyn bangkit dan membuka tas kecilnya. Ia mengeluarkan semua perhiasannya di atas tempat tidur. Ia memilah milah perhiasan mana yang akan ia jual terlebih dulu.
Setelah selesai, ia memasukkan kembali sisa perhiasan yang ia miliki ke dalam tas kecilnya dan menyimpannya di dalam koper yang ia bawa.
"Aku harus segera menjualnya. Aku tak memegang uang tunai sama sekali," ucap Jesslyn.
Akhirnya ia memberanikan diri keluar dari hotel. Dengan menggunakan jaket hoodie dan masker, Jesslyn berjalan keluar dari hotel. Penampilannya sedikit membuat orang orang di sekitar melihat ke arahnya karena udara sedang tidak dingin saat itu.
Sampai di sebuah toko perhiasan,
"Selamat sore, Nona. Ada yang bisa kami bantu?" tanya pramuniaga.
"Aku ingin menjual perhiasan ini," Jesslyn mengeluarkan beberapa perhiasan miliknya. Ia membawa 3 sampai 4 perhiasan agar ia tak perlu bolak balik. Setidaknya dengan uang hasil penjualan ini, ia masih bisa bertahan untuk 1 sampai 2 bulan ke depan.
"Tunggu sebentar, Nona," pramuniaga tersebut memanggil managernya. Hal itu dikarenakan jarang sekali yang menjual perhiasan pada mereka.
__ADS_1
Tak lama, manager toko itu keluar dan menghampiri Jesslyn, "Ada yang bisa saya bantu, Nona?"
"Saya ingin menjual perhiasan perhiasan ini," jawab Jesslyn.
"Apa anda memiliki surat suratnya?"
"Surat? Tentu saja tidak. Semua perhiasan ini dibelikan oleh suamiku. Menurutku modelnya sudah kuno, jadi aku ingin menjualnya."
"Tapi kami tidak bisa membeli perhiasan yang tidak memiliki surat surat, Nona," ucap sang manager.
"Aku ingin membuat kejutan untuk suamiku, masa aku harus meminta surat surat itu padanya?" gerutu Jesslyn.
"Tapi kami benar benar tak bisa membelinya," ucap sang manager.
Jesslyn pun kembali memasukkan semua perhiasan yang ia bawa ke dalam tas miliknya. Ia kesal karena lupa membawa surat surat perhiasan itu. Ia juga tak terpikirkan ke sana saat mengambil dan membawanya.
Keluar dari toko itu, Jesslyn mencari toko lainnya yang ia yakin akan mau membelinya, ya ... Sebuah toko yang tak terlalu besar.
"Selamat sore, ada yang bisa kami bantu?"
"Aku ingin menjual perhiasan. Apa di sini bisa? Tapi aku tidak membawa surat suratnya," ucap Jesslyn. Ia tak mau menghabiskan waktu berbicara. Jika memang toko itu bersedia, maka ia akan menerima saat Jesslyn mengatakan tak membawa surat suratnya.
"Tidak masalah. Kami tak memerlukan surat suratnya. Boleh kami lihat perhiasannya?"
Jesslyn segera mengeluarkan perhiasan miliknya. Transaksi pun terjadi, meskipun toko tersebut menilai perhiasannya dengan nilai yang jauh lebih kecil dibanding harga sebenarnya.
Ia pun kembali ke hotel dengan berjalan kaki. Sebelumnya, ia mampir ke sebuah cafe dan memesan makanan dan minuman. Ia juga pergi ke minimarket untuk membeli beberapa kebutuhannya.
"Aku seperti buronan saja," gumam Jesslyn.
Jesslyn masuk ke dalam hotel tempatnya menginap. Di sana tak terlalu ramai, membuat Jesslyn merasa lebih aman.
Ia pun naik ke atas menuju kamarnya. Ia membukanya dan ternyata pintunya tak terkunci. Saat ia membukanya, matanya membulat melihat sesuatu di dalam sana.
__ADS_1
🧡 🧡 🧡