BRAVE LOVE

BRAVE LOVE
CANTIK SEKALI


__ADS_3

Setelah berbicara mengenai rencananya dengan temannya, ia segera mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh menuju ke rumah sakit. Ia sudah tahu di mana ruangan tempat Mom Gemma dirawat dan ia sangat yakin Dad Marcello berada di sana.


Ia masuk ke dalam dan melihat Mom Gemma yang tengah tertidur, Jesslyn pun tersenyum. Namun, ia tak melihat keberadaan Dad Marcello di sana. Saat terdengar suara air dari dalam kamar mandi, baru ia kembali yakin bahwa ada Dad Marcello di sana.


"Ternyata ini jauh lebih mudah dan cepat dari apa yang kubayangkan," Jesslyn mengambil ponsel dan dompet milik Dad Marcello yang berada di atas nakas. Awalnya ia akan berakting menyedihkan untuk meminjam ponsel Daddynya itu, tapi ternyata jalannya lebih mulis dari itu.


Ia pun segera keluar dari ruangan itu dan kembali melajukan mobilnya. Ia hanya memerlukan waktu kurang dari 45 menit untuk melakukan semua itu. Bilang saja ia gila, tapi ia sukses melakukannya dan bahkan semuanya dilancarkan.


Sesampainya kembali di klub, ia memanggil temannya dan mulai melakukan akting.


"Cepatlah! Aku tidak mau gagal!" ucap Jesslyn.


"Hei tenang saja. Kamu juga harus berakting meyakinkan," ucap pria itu, "dan jangan lupa bayaranku."


Jesslyn mengeluarkan dompet milik Dad Marcello dan membukanya. Ia tersenyum saat melihat uang yang ada di dalamnya. Ia mengambil setengahnya dan memberikannya pada pria itu.


"Ini, cepat lakukan! Aku tak pernah berbohong soal bayaran!" ucap Jesslyn.


Pria itu mengambil uang dari tangan Jesslyn dan menghitungnya. Ia mengipasi dirinya dengan uang itu kemudian menciumnya.


"Aku tahu kamu tak akan berbohong, tapi bila diberikan di muka kan kerjaku akan lebih maksimal," ucap pria itu.


Mereka pun mulai menekan tombol ponsel milik Dad Marcello dan menemukan nomor ponsel Jean di sana. Setelah menghubungi


"Selamat malam. Apakah ini dengan Nona Jeanette, putri Tuan Marcello Archer."


"Ya benar, saya Jeanette." Jesslyn dan temannya langsung saling menatap dan tersenyum karena target tujuan mereka sudah benar.


"Maaf, saya dari klub Lions, ingin mengabarkan bahwa Ayah anda mengalami pemukulan di klub ini. Ini adalah nomor terakhir yang ia hubungi."


"Kakakkk ... Tolong aku! Tolong daddy!" teriak Jesslyn dengan suara lirih.


Mereka pun langsung memutus sambungan ponsel tersebut. Biasanya hal seperti itu akan membuat seseorang semakin panik dan segera mencari tahu.


Jesslyn dan temannya langsung duduk di sebuah sofa yang tak jauh dari pintu masuk.

__ADS_1


"Kamu yakin si gembul itu tak akan ke mana mana?" tanya Jesslyn.


"Tenang saja, semua sudah sesuai keinginanmu."


"Kalau begitu, kamu berjagalah di depan sana. Aku sudah memperlihatkan fotonya padamu kan. Aku yakin kamu akan dengan cepat mengenalinya."


"Baiklah."


Tak sampai 30 menit, Jeanette sampai di sebuah Klub Malam yang bernama Lions. Hal itu terlihat dari tulisan neon berwarna warni.


"Ini kan ...?" Jeanette masih ingat dengan jelas. Klub malam inilah tempat dulu Jesslyn mengadakan acara ulang tahun dan di tempat ini juga ia ....


Namun, ia tak terlalu memikirkan lagi karena keselamatan Dad Marcello saat ini lebih penting. Ia menghela nafasnya dan mengumpulkan keberaniannya untuk kembali masuk ke dalam.


Saat melihat kedatangan Jeanette, Jesslyn langsung berpura pura menangis di dekat sosok seorang pria yang tubuhnya dibiarkan tertelungkup.


"Kita bawa ke rumah sakit, Jess," ucap Jeanette. Meskipun ia masih kecewa pada Jesslyn, serta sakit hati. Tapi ia harus mengesampingkan semua itu saat ini.


"Tolong aku, Kak. Aku tidak kuat mengangkatnya," ucap Jesslyn.


jlebbb


Sebuah jarum suntik dengan sukses menusuk tangan Jeanette yang terbuka. Ia langsung melihat ke arah pria yang melakukannya dan mendaratkan sebuah pukulan di wajah pria itu.


Jeanette langsung mundur dan memegang tangannya yang baru saja terkena suntikan. Ia melihat pria yang tadi tertelungkup itu bangun dan tersenyum menyeringai.


"Jess?" Jeanette seakan bertanya pada adiknya itu atas apa yang terjadi.


Jesslyn tersenyum sinis sambil menatap kakaknya itu, "Kamu kira aku sudi menghubungimu dan meminta tolong? Cuihhh!!! Kamu hanya anak pungut yang mengambil kasih sayang Dad dan Mom, mengambil suamiku. Sekarang kamu pasti senang karena kami akan bercerai. Kamu akan mengambilnya kembali dari tanganku kan? Tapi aku tak akan membiarkan itu," ucap Jesslyn.


Jeanette merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya. Semakin lama ia merasakan rasa panas yang amat sangat. Jesslyn menyadari itu dan semakin menyunggingkan senyumannya.


"Bagaimana? Kamu pasti memerlukan bantuan kan? Aku berjanji kali ini akan memberikan pelanggan yang terbaik untukmu," ucap Jesslyn dan memberi tanda pada teman temannya untuk mendekati Jeanette dan membawanya ke dalam kamar yang telah mereka siapkan.


Jeanette langsung merogoh tas miliknya dan mengeluarkan senjata miliknya. Ia menodongkannya pada kedua teman pria Jesslyn yang mendekatinya.

__ADS_1


"Jangan berani berani mendekatiku, atau aku akan menembak mati kalian," ancam Jeanette.


"Lakukan! Cepat! Pelanggan kita terlalu lama menunggunya. Ia tak akan menembak. Jika kalian mati, maka ia akan masuk penjara dan tak akan bertemu dengan putranya lagi. Anak haram yang ia lahirkan, akibat perbuatan jallangnya," kalimat demi kalimat yang keluar dari bibir Jesslyn semakin lama semakin menyakitkan. Jeanette tidak masalah jika ia yang dihina, asal tidak putranya.


Dorrrr


Jeanette menembakkan senjatanya ke atas untul memecah konsentrasi, kemudian dengan cepat ia mendekati Jesslyn dan menampar wajah adik yang dulu menjadi kesayangannya. Ini pertama kalinya ia memukul Jesslyn, tetapi ia tak menyesal melakukannya.


Namun, tubuh Jeanette yang terasa panas, semakin lama semakin membuatnya lemah, hingga akhirnya kedua teman pria Jesslyn berhasil menarik tubuh Jeanette dan membawanya ke tempat yang dituju.


Cetrekkk


Pintu dikunci dari luar dan Jeanette meluruhkan tubuhnya ke lantai.


"Wow, wanita cantik. Ternyata mereka tidak bohong kalau mereka akan memberikanku santapan lezat malam ini," ucap seorang pria gembul yang berada di atas tempat tidur. Ia mulai bangkit dan berjalan mendekati Jeanette.


"Pergi! Menjauh dariku atau kamu akan menyesal," ujar Jeanette sambil menunjuk ke arah pria itu.


Jeanette ingin sekali membuka pakaiannya, ia kepanasan. Bahkan tubuhnya tak mampu ia kendalikan. Pria itu tak peduli dengan apa yang Jeanette katakan. Ia tetap mendekati Jeanette, bahkan memegang bahunya dan mulai mengelusnya.


"Pergi sialannn!!" teriak Jeanette sambil menendang inti milik pria gembul itu. Posisi pria itu yang berada tepat di depan Jeanette dan sedikit berjongkok, memudahkan Jeanette melakukannya.


Plakkk


Pria itu menampar Jeanette, "jadi kamu ingin bermain dengan kekerasan, hah?! Tenang saja, aku suka itu."


Pria itu langsung bangun dan menahan rasa sakit. Ia menggendong Jeanette bagai menggendong karung beras dan langsung menghempaskannya ke atas tempat tidur.


Ia membuka pakaiannya dan menyisakan celana pendek. Ia naik ke atas tempat tidur dan mencoba mengungkung Jeanette yang sepertinya tak bisa lagi menahan panas di tubuhnya. Tangannya yang satu berusaha menahan tangannya yang lain untuk membuka pakaiannya sendiri.


"Kamu itu cantik sekali, meski hanya di bawah cahaya remang remang," pria itu mengelus pipi Jeanette.


Brakkk!!!


🧡 🧡 🧡

__ADS_1


__ADS_2