BRAVE LOVE

BRAVE LOVE
DI RUMAH KITA


__ADS_3

Dad Marcello merasa sangat kacau. Istrinya, Gemma, masuk rumah sakit dan dinyatakan mengalami stroke, meskipun masih ringan. Putrinya, Jesslyn, tak ada keinginan untuk memperbaiki keadaan keluarganya.


Jean. - batin Dad Marcello


Ia masuk ke dalam ruangan di mana Mom Gemma dirawat. Melihat keadaan istrinya yang begitu lemah, Dad Marcello seakan kehilangan pegangan hidupnya. Ia dan Gemma selalu bersama sejak kuliah.


Ponsel miliknya bergetar, akhirnya ia keluar dari ruangan karena tak ingin mengganggu ketenangan Mom Gemma. Tak ada nama yang muncul, membuat Dad Marcello sedikit ragu untuk mengangkat panggilannya.


"Halo."


"Tuan Marcello Archer, perkenalkan namaku Wesley Bold. Aku ingin ...."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Wesley, Dad Marcello bergegas pulang dan menyiapkan keberangkatannya. Ia menitipkan istrinya pada para dokter dan perawat, sementara Jesslyn pada para pelayan di kediaman Archer.


Tak sampai 2 jam, ia telah sampai di bandara Kota London, Inggris. Tujuannya ke sini sebenarnya hanya satu, yakni menemui putrinya yang telah ia sakiti hatinya. Mungkin permintaan maafnya sudah terlambat, namun ia akan tetap melakukannya.


Dad Marcello dijemput oleh supir Keluarga Orlando. Ia akan langsung diantar ke Mansion Orlando, di mana Jeanette berada.


Ceklekkk


Pintu terbuka dan ia masuk ke dalam setelah diantar oleh seorang pelayan. Matanya langsung melihat ke arah putri yang sudah sangat ia rindukan. Namun, ia tahu Jeanette pasti sangat kecewa padanya.


"Dad ...," Jeanette berdiri saat melihat Dad Marcello datang. Kerinduannya pada pria paruh baya itu seakan menutupi semua rasa kecewa yang pernah ada dalam hatinya. Ia masih sangat ingat bagaimana kasih sayang dan pelukan hangat yang selalu ia dapatkan.


Kaki Jeanette bergerak dan menghampiri Dad Marcello. Ia langsung memeluk pria paruh baya itu. Menyesap harum seorang Dad dan merasakan kembali kehangatan pelukannya.


"Dad merindukanmu," Dad Marcello balas memeluknya erat.


Interaksi keduanya tentu saja disaksikan oleh Tuan George Orlando dan Wesley. Wesley pun bangkit dan menghampiri.

__ADS_1


"Silakan duduk, Tuan," Wesley mengarahkan tangannya agar Dad Marcello duduk di sebelah Tuan Orlando, tempat ia duduk tadi. Sementara Jeanette duduk di tempatnya semula dan Wesley di sebelahnya.


Dad Marcello menjabat tangan Tuang Orlando sebelum ia duduk. Secara garis besar, ia sudah tahu maksud kedatangannya ke sana. Hanya saja ia masih sedikit blur di beberapa hal.


"Maaf sebelumnya, saya mengundang anda ke sini secara mendadak," ucap Tuan Orlando.


"Tidak apa. Saya sangat senang karena bisa kembali bertemu dengan putri saya, Jeanette," ucap Dad Marcello. Sebenarnya ia ingin sekali mengajak Jeanette pergi ke suatu tempat dan mendengar semua ceritanya 5 tahun belakangan ini. Apa yang ia lakukan? Di mana ia tinggal? Dan banyak hal lainnya.


"Apa anda merasa pernah bertemu dengan saya?" tanya Tuan Orlando.


Dad Marcello melihat ke arah Tuan Orlando, kemudian menggelengkan kepalanya.


"Anda mungkin tak mengingat saya, tapi saya mengingat anda. 30 tahun yang lalu, kita berdiri bersama, bersebelahan. Anda berdiri di depan ruang operasi, sementara saya berdiri di depan ruang bersalin."


Dad Marcello teringat kembali masa masa itu, saat putri sulungnya dinyatakan meninggal. Bersamaan dengan itu juga, terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya.


"Ahh, saya ingat sedikit. Anda menunggu istri anda melahirkan. Usia putri anda seharusnya sama dengan putri saya, Jeanette," ucap Dad Marcello.


"Ahh, maaf," ucap Dad Marcello, "Saya ingat, saya melihat seorang perawat keluar dengan membawa kain yang penuh darah."


Mata Wesley sedikit memicing, kemudian melihat ke arah Tuan Orlando.


"Tapi bukankah Jeanette adalah putri angkat anda?" tanya Tuan Orlando.


Dad Marcello menghela nafasnya pelan, "sama seperti anda, putri saya juga meninggal. Saat itu, istri saya mengalami pendarahan hebat, sehingga bayi kami tak dapat diselamatkan."


"Maaf jika saya membuka luka lama anda. Tapi bolehkah saya bertanya sesuatu?" tanya Tuan Orlando.


"Silakan," jawab Dad Marcello.

__ADS_1


"Di mana anda menemukan Jeanette?"


Dad Marcello melihat dan menatap manik mata putrinya, manik mata yang berbeda dari keluarganya. Hanya saja putrinya itu tidak pernah menyadari kalau ia berbeda.


"Malam itu, saya juga mendapatkan kabar bahwa kedua orang tua saya mengalami kecelakaan. Saya langsung pergi menuju rumah sakit di mana kedua orang tua saya dibawa. Dalam perjalanan, saya sempat berhenti di sebuah halte. Saya melihat seorang bayi terbungkus kain, diletakkan begitu saja. Pikiran saya yang kacau saat itu, membuat saya mengambil dan akan membawanya pulang. Saya akan membawanya pada istri saya sebagai pengganti putri kami. Saya tak pernah mengatakan padanya kalau putri kami meninggal karena tak ingin ia syok dan menyebabkan kesehatannya drop," ucap Dad Marcello.


"Tuan Marcello, secara pribadi saya sangat berterima kasih anda mengambil keputusan seperti itu. Anda merawat dan membesarkannya dengan sangat baik dan penuh kasih sayang," ucap Tuan Orlando.


"Tapi saya mengecewakannya. Saya tidak bisa menjadi Dad yang baik. Bahkan saya juga yang ikut menghancurkan pernikahannya," masih tersimpan penyesalan dalam diri Dad Marcello.


"Dad ...," Jeanette ingin bangkit dan mendekati Dad Marcello. Melihat Dad Marcello, membuat Jeanette turut sedih. Ia tahu bahwa saat itu Dad Marcello juga pasti dihadapkan pada keputusan yang sangat sulit.


Tiba tiba saja Tuan Orlando bangkit dari duduknya. Ia membungkuk di hadapan Dad Marcello, "Terima kasih atas semua yang telah anda lakukan untuk Jeanette selama 30 tahun belakangan ini. Saya tidak tahu bagaimana harus membalas semua budi baik anda."


Dad Marcello sedikit bingung dengan apa yang dilakukan oleh Tuan Orlando, namun ia menangkap satu hal, "Apa anda?"


"Ya, saya adalah ayah kandung dari Jeanette," ucap Tuan Orlando.


Hal itu tentu saja membuat Dad Marcello dan Jeanette menoleh. Wesley dengan sigap memberikan sebuah map pada Dad Marcello, di mana hasil test DNA antara Tuan Orlando dan Jeanette menyatakan kesamaan 99%


Jeanette masih berdiri terpaku. Ia tak percaya dengan kenyataan yang ada di hadapannya secara tiba tiba. Tuan Orlando melihat ke arah Jeanette, mata keduanya bertemu.


"Bolehkah aku meminta sebuah pelukan pertama dari putriku? Putri kandungku?" Tuan Orlando merentangkan tangannya sedikit. Ia tak terlalu berharap Jeanette memberikan sebuah pelukan padanya, karena ia tahu kebenaran datang terlalu tiba tiba. Tuan Orlando sengaja mendatangkan Dad Marcello, agar Jeanette mengetahui bahwa ia tidak membuang putrinya atau menelantarkannya.


Lama sekali Jeanette terdiam, hingga akhirnya Tuan Orlando menurunkan kedua tangannya. Ia menghela nafasnya pelan dan memejamkan matanya.


"Dad," sebuah pelukan hangat ia rasakan tengah memeluknya. Dipanggil Dad untuk pertama kalinya, membuat hatinya serasa terbang. Di dalam hati, ia bergumam seakan sedang berbicara dengan istrinya, Elizabeth.


Aku menemukannya, sayang. Aku memeluk putri kita. Lihatlah, ia ada di sini, di rumah kita. Kamu pasti ikut melihatnya dari atas sana. - batin Tuan Orlando sambil membalas pelukan putrinya.

__ADS_1


"Terima kasih," Tuan Orlando mengecup pucuk kepala Jeanette. Hal itu turut memberi kebahagiaan pada Wesley, tapi juga kesedihan pada Dad Marcello. Posisinya kini telah tergantikan.


🧡 🧡 🧡


__ADS_2