BRAVE LOVE

BRAVE LOVE
MENEMBAK ALEX


__ADS_3

Hari pernikahan antara Axton dan Jeanette pun tiba. Axton sudah menunggu hari ini karena setelah ini, ia bisa dengan bebas bersama dengan Jeanette dan Alex setiap hari. Ia bahkan telah membeli sebuah rumah besar yang akan menjadi tempat tinggal untuk mereka dan anak anak mereka nantinya.


Hotel Williams menjadi tempat perhelatan acara resepsi pernikahan tersebut, baik janji pernikahan maupun resepsi. Ruang serbaguna yang besar dan bisa menampung hingga 1000 orang lebih itu pun telah dihias dengan sangat indah.


Senyum terus terukir di wajah Axton karena ia sudah sangat menunggu hari ini. Sejak ia dipisahkan selama 2 minggu kemarin dengan berpindahnya Jeanette ke Kediaman Tuan Orlando, ia merasa sepi. Belum lagi ia disibukkan oleh pekerjaan di Perusahaan yang perlu ia selesaikan sebelum ia pergi berbulan madu.


Di dalam ruangan khusus, Jeanette telah dirias. Ia menggunakan gaun pengantin berwarna putih yang sederhana namun tetap berkesan mewah.


"Mommy cantik," puji Alex.


"Terima kasih, sayang," Jeanette memeluk Alex.


MUA yang bertugas membuat Jeanette tampak semakin cantik meski dengan riasan natural. Jeanette memegang kepalanya yang sedikit pusing sejak terbangun pagi tadi, tapi ia menutupinya karena tak ingin orang orang mengkhawatirkannya dan merusak acara hari ini.


"Mommy kenapa?" tanya Alex saat melihat Jeanette memijat pelipisnya.


"Tidak apa, sayang. Mommy hanya grogi saja," jawab Jeanette.


ceklekkk


Pintu ruangan terbuka dan Alexa yang secara khusus datang dari New York pun masuk ke dalam. Alexa masuk dan mendekati Jeanette. Ia tersenyum pada wanita yang berhasil meluluhkan hati kakaknya itu.


"Kamu sudah siap Jean?" Alexa memanggil dengan nama langsung karena usianya yang hanya terpaut 1 tahun lebih muda dari Jeanette.


"Sudah," jawab Jeanette.


"Aunty Al," sapa Alex.


"Halo kembaranku yang tampan," Alexa menyapa balik Alex serta mendekatinya, "Kamu tak bermain dengan Nathan?"


"Ya, nanti. Aku ingin menemani Mommy dulu," jawab Alex.


"Good boy!" Alexa mengusap pucuk kepala Alex.


Alexa menuntun Jeanette keluar dari ruangan. Jeanette sendiri menuntun Alex yang menggunakan jas hingga membuatnya terlihat semakin tampan.


Jeanette bertahan untuk berdiri meskipun sakit di kepalanya terasa semakin berdenyut. Ia berjalan perlahan dan Alexa menyadari ada sesuatu yang salah dengan kakak iparnya ini.

__ADS_1


"Kami baik baik saja?" tanya Alexa.


"Hmm ... Aku tidak apa apa, hanya gugup saja," jawab Jeanette lagi.


Alexa pun menuntun Jeanette dan membawanya ke ruang serbaguna di mana Axton telah menunggu. Dad Orlando tersenyum saat melihat Jeanette tiba di ruangan. Ia sangat bahagia karena mendapat kesempatan untuk membawa putrinya ke depan altar.


Dad Orlando telah mengurus surat surat yang menyatakan bahwa dirinya adalah ayah kandung Jeanette, berdasarkan laporan hasil DNA dan juga keterangan para saksi yang terlibat dalam kasus beberapa puluh tahun yang lalu. Para dokter dan perawat yang terlibat, langsung mendapatkan sanksi.


Dengan bangga Dad Orlando menekuk lengannya dan Jeanette pun mengalungkan tangannya di lengan Dad Orlando. Ia tersenyum bahagia karena ia akan dihantarkan secara langsung ke depan altar oleh Ayah kandungnya.


Dad Orlando berjalan berdua dengan Jeanette menyusuri karpet merah di mana kiri kanannya sudah dihiasi dengan bunga. Axton tersenyum melihat Jeanette yang begitu cantik. Nala dan Nathan serta Alex menjadi pembawa keranjang berisi bunga dan melemparkan kelopak kelopak bunga itu ke atas.


Dad Orlando memberikan tangan Jeanette pada Axton, "Terimalah putriku sebagai istrimu. Sayang dan cintai dia dengan setulus hatimu. Jangan pernah kamu sakiti dia. Jika kamu tidak mencintainya lagi, kembalikan dia baik baik padaku, aku akan menerimanya dengan tangan terbuka."


"Aku tak akan pernah mengembalikannya padamu, Tuan Orlando. Ia harus menemaniku dan bertanggung jawab karena sudah memenuhi hati dan pikiranku," ucap Axton.


Acara pengucapan janji pernikahan pun akan segera dimulai, Axton dan Jeanette saling tersenyum saat memandang satu sama lain. Dad Marcello yang duduk melihat keduanya pun turut berbahagia untuk Jeanette.


Dorrrr


Terdengar suara senjata yang ditembakkan ke langit langit ruangan. Semua yang hadir langsung melihat ke arah asal suara tersebut.


"Apa kabar kakakku sayang? Apa kamu tidak merindukanku? Padahal aku sudah memberikan acara penyambutan untukmu sebelumnya," Jesslyn mengarahkan senjatanya ke semua orang yang ada di ruangan itu secara bergantian.


Dari kejauhan, Jeanette mengenali senjata yang dipegang oleh Jesslyn.


Itu senjataku. Aku baru ingat kalau aku meninggalkannya di klub waktu itu. - batin Jeanette.


"Tenanglah," bisik Axton.


"Jesslyn! Hentikan ini!" ucap Dad Marcello.


"Ahhh Daddy ... Sepertinya wajahmu terlihat sangat bahagia melihat putri angkatmu itu bersanding dengan pria kaya dan tampan. Kalau Dad menyayangiku, aku ingin berada di sana menggantikannya," ucap Jesslyn sembari menunjuk dengan pistol di tangannya.


"Kamu sudah memiliki Hansen, apa lagi yang kamu inginkan?"


"Ia akan menceraikanku, Dad. Ia sudah menyiapkan semua surat suratnya. Lalu, wanita itulah yang menyebabkan Hansen mempercepat semua prosesnya. Aku menderita di sini sementara ia akan berbahagia ... Cihhh!!! Aku tak akan membiarkannya," teriak Jesslyn.

__ADS_1


Axton menatap ke arah Zero, One, dan Seven. Ia memberi tanda pada ketiganya untuk bersiap. Ia tak ingin acara ini gagal karena kedatangan Jesslyn. Zero menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Kamu sudah mengambil kasih sayang Dad dan Mom. Kamu juga membuat Hansen menceraikanku, dan sekarang kamu mau menikah dan hidup bahagia, hah?!" teriak Jesslyn.


Sementara itu di pojokan, ada 3 orang anak sedang berkumpul. Mereka lah Nala, Nathan, dan Alex.


"Ini saatnya mencoba senjata buatanku," ucap Nala.


"Senjatamu itu cuma seruling bambu, mana mungkin mengalahkannya," ucap Nathan.


"Jangan sembarangan! Senjata ini bisa langsung membuatnya tertidur dalam 1 detik. Tapi kita memerlukan seseorang yang kuat dalam meniup," ucap Nala.


"Aku juga tak ahli meniup," ucap Alex.


"Nic!" Nala tiba tiba teringat adik bungsunya yang sering bermain dengan alat alat seperti ini.


"Kamu benar, Nic hebat kalau masalah tiup meniup. Cepat panggil dia."


"Dia sedang makan pelmen," ucap Alex.


"Ini masalah genting. Ia harus menolong kita."


"Apa sih kalian itu melihatku terus," ucap Nicholas, "Aku kan jadi grogi."


"Banti kami, Nic. Aunty jahat itu mau menembak Uncle dan Aunty," ucap Nala, "Bantu kami meniup seruling ini supaya jarumnya tertancap ke tubuh Aunty jahat itu."


"Bilang donk dari tadi. Sini berikan padaku," Nicholas mengambil alih seruling itu dan mengendap endap bersama Alex, sementara Nala dan Nathan mengawasi dengan seruling yang lain.


"Kamu sudah siap?" tanya Alex.


"Sudah. Tapi aku perlu seseorang untuk membuatnya menoleh ke arah sana, supaya pas mengenai lehernya."


"Baiklah, aku akan mengalihkan pelhatiannya," ucap Alex.


"Aunty Jess!" Semua menatap ke arah Alex termasuk Jesslyn. Jesslyn tersenyum saat melihat keberadaan Alex. Ia yakin jika ia menembak ke arah Alex, maka semua yang ada di sana pasti akan sangat bersedih.


Ia langsung mengarahkan senjatanya pada Alex dan ...

__ADS_1


Dorrrr


🧡 🧡 🧡


__ADS_2