
Alex tersenyum gembira karena sebentar lagi ia akan pergi ke kebun binatang. Ia akan pergi bersama kedua orang tuanya seperti Abra dulu pergi jalan jalan.
"Mommy, ayo!" teriak Alex yang sudah tidak sabar.
"Sebentar, Mommy sedang mengambil beberapa barang untuk dibawa," Jeanette selalu membawakan pakaian ganti, obat, dan botol minum Alex.
Pintu kamar diketuk dan Alex yang berdiri di dekat pintu, langsung membukakan pintu tersebut.
"Daddy!" melihat senyum Alex, Axton pun otomatis tersenyum. Ia seakan memiliki hidup yang baru saat bersama dengan Alex dan Jeanette.
"Kamu sudah siap?" tanya Axton saat melihat Jeanette. Ia tersenyum saat melihat penampilan Jeanette. Wanita itu tak seperti banyak wanita yang ia temui yang selalu berusaha tampil anggun. Jeanette hanya menggunakan T-shirt dengan celana jeans, dan rambut yang dikuncir kuda. Ia juga membawa sebuah tas ransel di belakang punggungnya, ditambah dengan sepatu kets.
"Sudah," jawab Jeanette singkat.
"Kalau begitu kita berangkat," ucap Axton.
Alex langsung meraih tangan Axton dan Jeanette, kemudian berjalan di antara keduanya. Mereka memasuki lift dan turun ke lobby.
Axton telah meminta petugas valet untuk mengambil mobilnya. Axton membukakan pintu untuk Jeanette di kursi depan dan pintu belakang untuk Alex.
"Aku di belakang saja," ucap Jeanette.
"Aku mau di belakang! Mommy di depan," ucap Alex. Ia tertarik duduk di belakang karena mobil Axton memiliki televisi di bagian belakang, hingga ia bisa menonton.
Thank you, Boy! - batin Axton.
Jeanette pun akhirnya duduk di depan. Ia mengambil seatbelt sendiri karena Axton hampir saja akan memakaikan untuknya. Mereka pun berangkat menuju ke kebun binatang.
Dari tempat yang tak jauh, sepasang mata menatap keduanya dengan rasa marah.
Aku pastikan kamu tak akan pernah bahagia. Lihat saja nanti, aku pastikan tak akan pernah ada pria yang ajan mendekatimu setelah apa yang mereka ketahui tentang dirimu. - batin Jesslyn.
Ia tak terima saat melihat Jeanette berjalan bersama seorang pria yang gagah dan tampan. Sementara dirinya akan bercerai dengan Hansen, bahkan Hansen terlihat ingin kembali pada kakaknya itu.
Jesslyn mengambil ponsel dari dalam sakunya. Ia menekan layar ponselnya dan meletakkannya di telinga, "aku akan menggunakan caramu. Siapkanlah."
*****
Axton, Jeanette, dan Alex, terlihat seperti sebuah keluarga yang tengah menghabiskan waktunya di kebun binatang. Mereka berkeliling melihat beberapa binatang dan menonton atraksi.
__ADS_1
"Kamu lelah, sayang?" tanya Jeanette pada Alex.
"Hmm ...," Alex mulai berjalan perlahan dan itu membuat Axton tersenyum. Ia langsung meraih tubuh putranya itu dan menggendongnya. Ia meletakkan kepala Alex di bahunya dan mengusap punggungnya.
Jeanette melihat ke arah Axton dan tersenyum. Pria itu sungguh menyayangi Alex dan ia patut bersyukur akan hal itu.
"Kamu terus melihatku, apa kamu sudah terpesona padaku?" tanya Axton.
"Tidak!" jawab Jeanette dengan cepat. Ia memalingkan wajahnya dan berusaha menetralkan detak jantungnya karena tertangkap basah sedang memandangi Axton.
"Kamu tak mau menikah denganku? Kita bisa memberikan keluarga yang utuh untuk Alex," ucap Axton.
"Tanpa menikah pun, kita bisa memberikan keluarga. Aku akan menjadi Mommy dan kamu menjadi Daddynya, tanpa harus terikat."
"Jean ..."
"Jangan pernah memaksakan dirimu untuk menikah denganku, karena aku tahu kamu adalah pria yang anti pernikahan. Aku pun tak ingin menikah, jadi kita sama. Jalan seperti ini tak akan mengganggu prinsip hidup kita masing masing," ucap Jeanette.
Di dalam hatinya pasti masih ada nama Hansen Daniel. Aku harus menghapusnya dan melemparnya keluar dari sana. - batin Axton.
Mereka segera menuju ke mobil karena mereka akan kembali ke hotel. Hari sudah mulai menjelang malam, Alex juga sudah terlelap karena lelah.
*****
Jesslyn kembali menghabiskan waktunya di klub malam. Ia memikirkan bagaimana cara membuat Jeanette keluar seorang diri tanpa anak kecil dan pria yang bersamanya itu.
Sejujurnya Jesslyn penuh rasa ingin tahu tentang siapa pria yang bersama dengan Jeanette. Namun, ia tak mungkin menyewa detektif untuk mencari tahu tentang hal itu. Uang yang ia miliki, daripada untuk membayar seorang detektif, lebih baik ia gunakan untuk bersenang senang.
"Apa kamu sudah menemukan orang yang cocok?" tanya Jesslyn pada temannya.
"Bagaimana kalau itu?" teman Jesslyn menunjuk seorang pria dengan tubuh sedikit berisi dan wajah chubby.
Jesslyn tersenyum, "Ia pasti rela mengeluarkan uang banyak untuk mendapatkan santapan lezat kan?"
"Sudah pasti. Apa kamu tidak lihat sedari tadi ia terus saja memegang uang dan membagikannya seakan uangnya tak berseri."
"Itu berarti kita harus melakukannya malam ini juga," kata Jesslyn.
"Baiklah, aku akan berbicara dengan pria itu sementara kamu bisa mulai menjalankan rencanamu," ucap teman Jesslyn. Jesslyn pun menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
******
Setelah Axton meletakkan Alex di atas tempat tidur, ia pun kembali ke kamarnya. Jeanette pun membukakan sepatu Alex, serta mengganti pakaian putranya itu dengan piyama. Tidak mengapa putranya itu tak mandi, karena bagi Jeanette istirahat jauh lebih penting.
Ia pun beranjak ke kamar mandi. Namun, langkahnya terhenti dengan suara dering ponsel. Untung saja ponselnya masih berada di dalam tas sehingga tidak menimbulkan suara yang keras, yang dapat membangunkan Alex.
Ia melihat nomor ponsel Dad Marcello menghubunginya.
"Selamat malam. Apakah ini dengan Nona Jeanette, putri Tuan Marcello Archer."
"Ya benar, saya Jeanette."
"Maaf, saya dari klub Lions, ingin mengabarkan bahwa Ayah anda mengalami pemukulan di klub ini. Ini adalah nomor terakhir yang ia hubungi."
"Kakakkk ... Tolong aku! Tolong daddy!"
Mata Jeanette membulat setelah mendengar teriakan dari suara yang ia kenal.
"Jess! Jesslyn!" panggil Jeanette. Namun sambungan telepon tersebut terputus. Jeanette membuka kopernya dan mengambil senjata yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi. Ia memasukkannya ke dalam tas, kemudian mengambil sebuah jaket.
Jeanette berjalan keluar dari kamar hotelnya dan menghampiri pintu kamar hotel Axton. Ia ingin meminjam mobil milik Axton karena kebetulan sudah malam dan ia rasa akan sulit mencari taksi.
Ia pun mengetuk pintu. Axton membukakan pintu itu dan terlihat penampilan Axton yang sepertinya baru saja selesai mandi. Rambutnya yang setengah basah, benar benar menggoda iman.
Axton memicingkan penglihatannya, "kamu mau pergi?"
"Ya, bolehkah aku meminjam mobilmu? Sebentar saja."
"Kamu mau pergi ke mana?" tanya Axton.
"Aku harus menemui Dad Marcello sebentar. Ada yang harus kuurus," ungkap Jeanette.
Axton melihat Jeanette terburu buru, ia pun memberikannya kunci.
"Bisakah kamu menjaga Alex untukku. Aku akan segera kembali. Terima kasih," Jeanette langsung berlari menuju lift, sementara Axton hanya melihat saja kepergian Jeanette.
Axton mengambil ponselnya dan menghubungi anak buahnya.
Four, aku punya tugas untukmu.
__ADS_1
🧡 🧡 🧡