
Di halaman belakang Mansion Orlando, terlihat taman bunga yang begitu indah. Dad Marcello dan Jeanette kini duduk di salah satu kursi taman di sana.
"Keadaan kamu baik, Jean?" tanya Dad Marcello.
"Aku baik, Dad. Bagaimana dengan Dad, Mom, dan Jesslyn?"
"Dad baik, Mom sedang berada di rumah sakit," ucap Dad Marcello terhenti.
"Di rumah sakit? Mom sakit?" tanya Jeanette.
"Mom terkena stroke ringan. Saat ini masih dirawat di rumah sakit," jawab Dad Marcello dengan menghela nafas, "Apa kamu mau mengunjungi Mommy, Jean?"
"Aku ... Aku akan memikirkannya," jawab Jeanette. Ia tak ingin kedatangannya malah membuat Mom Gemma bertambah sakit.
"Maafkan kami, Jean. Maafkan Dad dan Mom. Maaf karena membuatmu terluka."
"Aku sudah memaafkan kalian, Dad. Lagipula itu semua juga kesalahanku. Aku tak seharusnya marah dengan apa yang terjadi. Jesslyn lebih memerlukan seorang suami dibandingkan aku. Keadaanku baik baik saja, bukan begitu?"
"Dad dengar, kamu sudah memiliki seorang putra. Apa kamu sudah menikah lagi?" tanya Dad Marcello.
Jeanette terdiam.Ia sedang merancang kata kata di dalam pikirannya. Jika ia mengatakan kejujuran, apa Dad Marcello akan menerima dan tidak berpikiran buruk padanya? Atau justru sebaliknya.
"Mommy!! Uncle bilang Mommy belsama Glenpa!" Tadi Tuan Orlando dan Wesley memberikan waktu bagi Jeanette untuk berbicara dengan Dad Marcello, sementara Alex akan dijemput oleh Wesley.
Alex langsung berlari ke belakang mansion dan mencari Jeanette. Ia berhenti dan mengatur nafasnya ketika sampai di belakang.
"Itu benal Glenpa! Glenpa Macello!" teriak Alex yang langsung menghampiri.
Alex telah menghafal semua anggota keluarga Jeanette, bahkan ia tahu kalau ia memiliki seorang saudara sepupu bernama Joanna.
Dad Marcello yang melihat Alex langsung menautkan kedua alisnya. Ia merasa mengenali wajah Alex.
Azka? Mengapa putra Jeanette mirip denganmu? - batin Dad Marcello. Dad Marcello berteman dengan Dad Azka sangat lama. Ia bahkan tahu seperti apa Dad Azka waktu kecil.
"Halo, Glenpa!" Alex berdiri di depan Dad Marcello, masih dengan nafas yang sedikit terengah engah.
"Halo, jagoan. Siapa namamu?" tanya Dad Marcello.
"Alex!"
__ADS_1
Dad Marcello menoleh ke arah Jean, "Apa kamu mau menceritakan sesuatu pada Dad?"
Jeanette meminta Alex untuk masuk dulu ke dalam karena ia akan berbicara dengan Dad Marcello. Alex pun menurutinya. Tapi sebelum ia meninggalkan tempat itu, Alex berkata, "Mommy, tadi Daddy bilang akan mengajak Alex menemui Glenpa yang lain lagi. Alex punya banyak Glenpa!"
Setelah itu, Alex pun melambaikan tangan dan masuk ke dalam mansion.
"Maafkan aku, Dad. Aku bukanlah putri Dad yang baik. Aku ...," Jeanette menceritakan semuanya, kejadian malam itu di mana ia mabuk dan berakhir melakukan hubungan dengan seorang pria.
"Apa pria itu tak mau bertanggung jawab?" tanya Dad Marcello.
Jeanette menghela nafasnya, "Aku tak akan meminta pertanggungjawaban dari siapapun, Dad. Aki tak ingin terikat dengan siapapun, aku tak akan menikah lagi."
"Jean ... Apa ini semua karena kegagalan pernikahanmu sebelumnya?" tanya Dad Marcello yang semakin merasa bersalah.
Jeanette terdiam dan Dad Marcello sudah tahu apa jawabannya.
"Lalu, siapa pria itu? Izinkan Dad menemuinya dan bicara dengannya."
"Tidak perlu, Dad. Aku tak ingin Dad ikut dalam permasalahanku. Bukankah saat ini Dad juga harus memikirkan keadaan Mom?"
"Jean, apa Dad boleh meminta satu hal padamu?" tanya Dad Marcello.
"Aku akan memikirkannya, tapi aku tidak bisa berjanji. Aku juga ada pekerjaan di sini."
"Ya, dan kamu juga sudah memiliki keluargamu yang sesungguhnya di sini," ucap Dad Marcello.
"Apa kamu tidak ingin kembali karena tak ingin bertemu dengan Jesslyn? Atau tak ingin bertemu dengan Hansen?" tanya Dad Marcello.
Jeanette memejamkan matanya, 2 nama itu masih ada dan tersimpan di dalam hati dan pikirannya. Ntah ia bisa memaafkan mereka atau tidak.
"Aku ..."
"Mereka akan segera bercerai," ucap Dad Marcello, membuat Jeanette menoleh, tapi dengan cepat ia kembali memalingkan wajahnya.
"Itu bukan urusanku, Dad," ucap Jeanette.
"Dad tahu, tapi setidaknya kamu harus tahu bahwa kehidupan adikmu tak sebahagia yang mungkin kamu pikirkan."
"Kita makan siang dulu, Dad," ucap Jeanette. Ia tak ingin Dad Marcello terua membicarakan tentang Jesslyn dan Hansen.
__ADS_1
"Baiklah."
Mereka berdua masuk ke dalam mansion. Di ruang makan telah menunggu Tuan Orlando dan Alex. Para pelayan sudah mulai menghidangkan makan siang untuk mereka.
"Tuan, terima kasih sudah menerima kedatanganku di sini. Terima kasih juga atas makan siangnya. Setelah ini, saya akan langsung kembali ke Berlin karena istri saya memerlukan kehadiran saya," ucap Dad Marcello.
Tuan Orlando tersenyum, "Saya juga sangat berterima kasih pada anda, Tuan Marcello. Saat ini kita sudah menjadi keluarga, kalau anda memerlukan sesuatu, hubungi saya. Jangan sungkan."
"Terima kasih."
"Glenpa sudah mau pulang?" tanya Alex.
"Ya, Grandpa harus menemani Grandma. Grandma sedang sakit," jawab Dad Marcello.
"Mom, kita jenguk Glenma. Alex ingin lihat Glenma," pinta Alex sambil menoleh ke arah Jeanette.
"Pergilah, Jean. Tidak ada salahnya kamu menjenguk Mommymu. Ia pasti menginginkan kehadiranmu," ucap Tuan Orlando. Ia tak ingin menjadi orang tua yang egois dan memiliki Jeanette seorang diri. Keluarga Archer juga adalah keluarga Jeanette dan ia tak akan merubah itu.
"Aku ..."
"Ayo, Mom!"
"Dad akan meminta Wesley menyiapkan pesawat pribadi keluarga kita. Kalian bisa pergi ke sana tanpa terburu buru. Anda tak apa menunggu sebentar kan, Tuan Marcello?" ucap Tuan Orlando pada Jeanette.
"Tidak apa, Tuan. Terima kasih dan maaf merepotkan anda."
Tuan Orlando pun segera menghubungi Wesley.
"Siapkanlah barang barang yang ingin kamu bawa. Dad akan selalu mengawasimu dari sini. Dad akan menunggumu pulang," ucap Tuan Orlando.
Perkataan Tuan Orlando yang sangat lembut, membuat Jeanette tersenyum dan hatinya menghangat. Mengetahui kebenaran bahwa Tuan Orlando adalah orang tua kandungnya, membuat dirinya tak merasa sendirian lagi. Ia memiliki keluarga, benar benar keluarganya.
"Asikk, kita belangkatt!" teriak Alex. Ia pun berlari ke kamar tidurnya kemudian menyalakan tablet pengirim pesannya pada Axton.
📨 Dad, Alex akan pergi menemui Grandma Gemma, Aunty Jesslyn, dan Uncle Hansen, juga Joanna. Aku akan bertemu keluarga Mom, Dad. Aku akan naik pesawat lagi. Bye Dad.
Ponsel Axton berbunyi dan menampilkan pesan itu. Matanya langsung membulat dan tangannya mengepal.
"Zero! Siapkan pesawatku!" perintah Axton.
__ADS_1
🧡 🧡 🧡