BRAVE LOVE

BRAVE LOVE
TAK TAHU TEMPAT DAN WAKTU


__ADS_3

Jesslyn pulang ke Kediaman Archer dan bersembunyi di dalam kamar tidurnya. Ia menutupi tubuhnya hingga kepala dengan selimut. Ia masih teringat bagaimana ia memukul pria itu dan darah terlihat mengalir dari pelipisnya. Ia merasa bersalah, namun seketika ia teringat bagaimana pria itu juga telah menikmati tubuhnya. Menjijikkan!


"Apa dia sudah mati? Apa polisi akan mencariku?" gumam Jesslyn.


"Aku harus bagaimana? Aku harus kabur! Ya, aku harus pergi dari sini. Aku tak ingin ditangkap!" ucap Jesslyn yang langsung bangkit dan membuka selimutnya. Dengan cepat ia menuju ke wardrobe dan mengeluarkan koper serta pakaian pakaiannya lalu memasukkannya. Tak lupa ia juga mengambil perhiasan yang ia miliki. Perhiasan itu akan berguna baginya untuk bertahan hidup.


"Hansen! Aku masih punya perhiasan di sana," ucap Jesslyn.


Setelah membereskan kopernya, Jesslyn langsung memesan taksi secara online. Ia memasukkan kopernya ke dalam bagasi, lalu duduk di kursi belakang.


Sesampainya ia di Kediaman suaminya, Jesslyn masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu ia melihat putrinya, Joanna, sedang mewarnai dengan pengasuhnya, Eliza. Joanna yang melihat kedatangan Jesslyn pun langsung bangkit.


"Mom!"


Jesslyn yang terburu buru, tak mengindahkan panggilan Joanna. Ia langsung naik ke atas dan menuju lemari tempat ia menyimpan semua perhiasannya.


Wajahnya tersenyum ketika melihat semua perhiasannya masih berada pada tempatnya. Ia langsung mengambil tas kecil dan memasukkan semuanya. Setelah itu, ia keluar dari kamar dan turun.


"Mommy, Mommy mau ke mana?" tanya Joanna.


"Mommy harus pergi. Kamu di sini saja bersama Daddy," jawab Jesslyn yang seperti diburu oleh waktu.


"Mommy! Joan mau Mommy!" Joanna terus menahan lengan Jesslyn agar wanita itu tidak pergi. Jesslyn yang merasa ia dihambat untuk pergi, hingga membuat jantungnya berdetak semakin cepat.


Jesslyn merasa panik menyerangnya karena di dalam pikirannya polisi akan segera datang menangkapnya jika ia tidak segera pergi dari sana.


"Mommy mau pergi dulu. Nanti Mommy akan menghubungimu," ucap Jesslyn.


"Joan mau Mommy. Mommy tidak pernah main sama Joan," ungkap Joan masih memaksa Jesslyn untuk tetap berada di sana.


"Joan lepaskan Mommy!" teriak Jesslyn sambil mengangkat tangannya tinggi dan sedikit mendorong Joanna.


Brughhh


"Huaaaa .... Huaaa .... Mommy!!!" Joanna yang terjatuh pun menangis dan berteriak memanggil Jesslyn. Hansen yang pulang kembali karena ada beberapa dokumen yang akan ia bawa ke pertemuan dengan rekan bisnisnya nanti sore tertinggal.


"Ada apa ini?" Hansen melihat ke arah Joanna yang menangis dan Jesslyn yang akan pergi sambil membawa tas.


"Jaga Joan! Aku harus pergi," ucap Jesslyn tanpa ada penjelasan.


"Jesslyn!" panggil Hansen, membuat Jesslyn menghentikan langkah kakinya.

__ADS_1


"Aku sudah mengurus surat perceraian kita dan kuharap kamu tak mempersulitnya."


Jesslyn menghela nafasnya. Perpisahannya dengan Hansen jujur membuat perasaannya sakit. Tapi ia juga tak mau hidup dikekang, ia memang menginginkan kebebasan.


"Terserah padamu. Aku juga tahu bahwa kamu akan kembali pada kakakku kan?"


"Jesslyn!"


Dengan nafas yang memburu, Jesslyn memutar tubuhnya dan melihat ke wajah pria yang masih berstatus suaminya itu.


"Apa?! Apa kamu ingin mengatakan bahwa Kak Jean lebih segala galanya dariku? Bahwa ia lebih cocok menjadi seorang ibu daripada aku. Kamu memang pria paling plin plan yang pernah kutemui dan ku rasa aku tak akan menyesal berpisah denganmu," ucap Jesslyn menatap tajam ke arah Hansen.


Jesslyn pun memutar kembali tubuhnya dan segera pergi. Ia masuk ke dalam taksi online yang masih menunggunya.


"Mommy!" teriak Joanna.


"Joan di sini saja bersama Daddy," ucap Hansen memegang pundak kecil Joanna, sambil melihat kepergian Jesslyn.


*****


"Dad!" teriak Alex saat Axton masuk ke dalam kamar hotel yang ia tempati.


"Belmain ponsel Mommy," jawab Alex.


Axton menautkan kedua alisnya kemudian menatap putranya itu dengan curiga. Ia yakin Alex tak hanya sekedar bermain, putranya itu pasti melakukan sesuatu dengan ponsel Jeanette.


Alex menyunggingkan senyumnya. Ia tahu bahwa Daddynya itu pasti mencurigai apa yang ia lakukan.


"Aku ... Telepon Glenpa," jawabnya jujur.


"Kamu sangat merindukan Grandpa Orlando?" tanya Axton.


Alex menggelengkan kepalanya, "Bukan Glenpa Olando. Alex telepon Glenpa Azka."


Kini mata Axton yang membulat, "Mati aku!"


Rencananya ia akan kembali ke Indonesia setelah mengantarkan Jeanette dan Alex kembali ke London. Ia akan menceritakan pada kedua orang tuanya apa yang sebenarnya terjadi. Tapi ternyata, ia sudah keduluan oleh makhluk kecil yang sedang ia gendong.


Seperti dugaannya, ponselnya berbunyi dan tertera nama Dad Azka di sana. Alex yang mencuri lihat pun langsung tersenyum.


"Glenpa Azka!" teriaknya.

__ADS_1


"Halo, Dad."


"Segera pulang! Kamu ingin mengatakan sesuatu pada Dad dan Mom kan?"


"Aku akan kembali setelah pergi ke London dulu, Dad," ucap Axton.


"Tak perlu ke London. Dad sudah berbicara dengan Tuan Orlando dan meminta izin padanya untuk membawa putrinya dan cucunya ke sini," Ucapan Dad Azka terdengar datar dan dingin.


"Glenpa!" teriak Alex.


"Berikan ponselmu pada Alex," perintah Dad Azka.


"Glenpa!" panggil Alex saat ponsel Axton sudah berada di telinganya.


"Grandpa menunggumu di sini. Datanglah bersama Mommy, okay?"


"Okay, Glenpa. See you!"


Sambungan ponsel itu pun terputus dan Alex mengembalikan ponsel itu pada Axton sambil tersenyum, "ini, sudah selesai."


"Alex! Apa kamu sudah membereskan mainanmu?" tanya Jeanette yang baru saja keluar dari wardrobe. Ia baru saja selesai merapikan semua pakaian ke dalam koper karena mereka akan kembali ke London.


"Ikut denganku ke Indonesia," ucap Axton.


"Apa?" Jeanette dikejutkan dengan pernyataan Axton. Apa pria itu akan mempertemukannya dengan kedua orang tuanya?


"Untuk apa?" tanya Jeanette.


"Dad dan Mom ingin bertemu denganmu dan Alex. Daddy sudah berbicara dengan Tuan Orlando dan meminta izinnya. Jadi, malam ini juga kita berangkat ke Indonesia," ucap Axton.


"Asikkk, Alex ketemu Glenpa lagi!" teriak Alex.


"Tapi aku ..."


"Aku akan bersamamu. Kamu tidak perlu takut ataupun gugup," Axton mendekatkan tubuhnya pada Jeanette dan tanpa aba aba, langsung mengecup bibir Jeanette.


"Dadd!!" Alex langsung menarik kemeja yang digunakan Axton, "Jangan cium Mommy! Mommy punya Alex!"


Jeanette yang mendapat serangan tiba tiba dan di depan Alex, langsung memalingkan wajahnya. Axton benar benar tak tahu tempat dan waktu.


🧡 🧡 🧡

__ADS_1


__ADS_2