
Indonesia,
4 Mei 2019
Apa yang akan kau lakukan jika tertidur
dan kemudian bangun sebagai orang lain di tempat yang asing dan dizaman yang
berbeda? Itulah yang terjadi padaku! Semua diawali dari hari cerah yang sangat
melelahkan.
Setelah hampir setahun, aku pergi lagi ke pusat
kota yang ramainya memusingkan, dan hari ini, ketika aku terbangun aku merasa
ada bagian dari puzzle pemikiranku yang hilang. Seperti wayang tanpa dalang aku
terus berdiam diri tanpa melakukan apa-apa, hingga tanpa sadar hari sudah
gelap.
Aku keluar ke teras rumahku dan duduk
di kursi kayu panjang, langit malam ini adalah langit yang kusuka. Aku berbaring
sambil mendengarkan musik Waltz,
tiba-tiba terpikirkan olehku sebuah cerita, aku membayangkannya seolah cerita
itu sebuah film yang diputar diotakku. Sayangnya tanpa sadar aku mulai terlelap,
padahal... aku ingin menulis cerita itu.
Seingatku aku masih tertidur diteras,
tapi aku merasa pergerakan cahaya matahari menembus kelopak mataku yang
terpejam.
“Mustahil!
Apakah aku tertidur sampai pagi?”
Aku terperanjat dan langsung tegak
sambil mendelik. Tapi mataku menangkap objek-objek yang asing, apa mungkin aku
masih tertidur? Aku menepuk-nepuk pipiku untuk memastikan apakah sedang
bermimpi atau tidak, tapi kusadari ini kenyataan. Apa jangan-jangan aku
diculik?
Aku bangkit dari ranjang, melihat-lihat
sekitar. Jendela yang berbentuk segitiga, pintu dengan lima sudut, atap yang
lebih mirip lantai... semuanya aneh! Ruangan ini di-cat dengan warna gelap,
hanya bagian bingkai jendela dan pintu yang berwarna terang. Kulihat sebuah
meja kayu berbentuk trapesium dengan ukiran yang indah, meja itu menghadap
jendela, bisa kubayangkan betapa menyenangkan menulis sambil melihat
pemandangan keluar jendela.
Kudekati meja itu dan kubuka lacinya
yang tak terkunci. Aku menemukan sebuah kartu anggota disana dengan foto
seorang perempuan yang mirip denganku, tapi dia memiliki rambut kuning yang
menyala sedangkan rambutku cokelat tua.
“Nama:
Vier (putri monochrome), Usia: 23 tahun, pemeran utama wanita Opera Vajus”
Begitu yang tertulis. Apa yang terjadi?
Namaku adalah En’em ji kelas 3 SMA, dan sebelumnya aku tertidur diteras
rumahku. Aku panik, tapi kucoba menenangkan diri, aku harus mencari tau apa
yang terjadi. Kuturuni tangga, dan kusadari rumah ini mirip dengan bentuk bunga
tulip, dibagian luar dicat dengan warna ungu cerah.
“Vier, apa kau tak mau pergi untuk latihan?”
Tiba-tiba sebuah suara yang dalam dan
bergetar menyapa pendengaranku membuat terkejut, aku menoleh karena kurasa nama
yang disebut barusan adalah nama orang yang mirip denganku tadi.
Seorang pria yang sangat tinggi memakai
setelan putih dibalut Blazer yang
juga berwarna putih bersih dan Syal berwarna biru muda kontras dengan rambutnya
yang gelap menatapku dengan bersahabat dari bawah tangga.
“Maaf, saya bukan Vier, saya...”
Belum selesai aku dengan kata-kataku,
kulihat pantulan diriku disudut pintu yang terbuat dari kaca. Terkejut juga tak
percaya, rambutku yang cokelat dan pendek berubah menjadi berwarna keemasan
panjang sepinggang, juga pakaian seperti tuan puteri kerajaan ini... apa
maksudnya?
“Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat!”
Tegur pria itu. Aku yang sebelumnya membeku karena melihat pantulan diriku akhirnya
tersadar berkatnya.
“Anda... bilang sesuatu...?” Tanyaku dengan
gugup.
“Kau mau latihan atau tidak?! Kutunggu kau
lima menit, ya... aku sudah agak kesal memanggilmu dari tadi.” Jawab pria itu.
Aku mengangguk dengan ragu-ragu,
__ADS_1
kemudian kembali ketempat dimana aku terbangun tadi. Aku membuka lemari
pakaian, yang kulihat hanya gaun-gaun aneh dan mantel yang kalau kupakai
mungkin akan ditertawai teman-temanku.
Kuambil gaun yang paling sederhana dan
memakainya lalu kulihat diriku dicermin. Ini masih wajahku, ini masih tatapanku
bahkan kurasa ini masih napasku. Tapi ada yang aneh dengan situasi ini, ada
dimana aku? Pria tadi seperti mengenalku tapi dia asing bagiku. Segala
kebingungan menggerogotiku, aku sama sekali tak tahu harus bagaimana.
Setelah kupikir dengan jernih, kurasa
sebaiknya aku menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi, aku akan mencari
tau apa yang terjadi dan membiarkan orang-orang menganggapku sebagai Vier sang
gadis opera. Lagipula aku punya bakat dibidang seni, ini tak kan sesulit itu
walau tak mudah, aku tak kan tau jika tidak mencobanya. Dan Vier yang asli pun
entah kemana, aku akan menyelamatkan diriku dengan cara ini.
Ini sudah terlalu lama, semoga pria
yang kesal menunggu itu masih punya sedikit kesabaran. Tak lama kemudian aku
keluar dan menyapa pria itu lagi, syukurlah dia masih memiliki senyuman yang
bersahabat. Aku melihat beberapa orang diseberang jalan melihat kearah kami,
mereka menatap dengan senyuman yang janggal.
“Itu putri Monochrome dengan White Prince,
mereka sungguh beruntung!”
Komentar salah seorang dari mereka. Mendengar
komentar itu aku terdiam sejenak, jadi pria ini disebut White Prince.
“Ayo pergi!” Ajaknya dengan ramah. Dia
membawaku pada suatu benda yang tampak seperti robot capung besar, kira-kira
panjangnya dua meter. Kuputuskan untuk tidak bertanya walau rasanya aku akan
tersedak rasa penasaran.
Dia membuka pintu dirobot capung itu,
dan sepertinya aku salah paham. Itu bukanlah robot, itu seperti mobil tanpa
ban, sebaliknya mobil itu mengapung melawan Gravitasi. Pria itu menatapku
terheran-heran, kalau ini bukanlah keadaan serius, aku akan tertawa melihat
bola mata yang membulat sempurna dan wajah yang menekuk karena bingung.
“Kuharap kau tidak makan jamur lagi pagi ini
sobatku, Vier.” Ujar pria itu kemudian.
“Jamur?” Aku mengangkat sebelah alisku tanda
“Kau tampak seperti orang linglung,
kupikir... mungkin kau sarapan jamur
padahal kau alergi jamur! Sudahlah, silahkan masuk. Kurasa yang lain sudah
menunggu kita!” Ajaknya. Aku mengangguk dan masuk ke benda itu, sedangkan
diriku masih bertanya-tanya ada dimana aku sekarang dan apa yang terjadi.
Selain mobil ini, ternyata lainnya juga
unik. Kendaraan-kendaraan berbentuk seperti serangga, aku bahkan bingung
tentang bagaimana mereka membuat dan mengendarainya. Selain kendaraan, bentuk
bangunan juga tidak biasa, kukira ada pohon-pohon dengan ketinggian puluhan
meter bahkan mungkin mencapai ratusan meter, siapa sangka itu adalah gedung. Kemudian
kulihat sebuah papan iklan yang sangat besar yang kemudian membuatku terkejut
bukan kepalang sampai tersedak air liurku sendiri. Disana tertulis;
“Opera
Vajus akan disiarkan di alun-alun setiap distrik pada 7 Mei 2200 ini.
Bersiaplah semuanya anda dapat melihatnya 3 hari lagi”
Gila! Satu-satunya yang lucu disini
adalah bahwa candaan ini tidak lucu. Bangunkan aku, kurasa aku bermimpi! Maksudnya
ini adalah tahun 2200 dan aku melintasi waktu? Untuk memastikannya, aku beranikan
diri untuk bertanya.
“Maaf, ini tahun berapa ya?” Tanyaku dengan
agak canggung. Kugunakan bahasa baku karena sejak tadi pria ini bicara dalam
bahasa baku. Dia melirikku dengan aneh tepat setelah aku bertanya.
“Ini masih tahun 2200, kok! Kau ngelindur
ya?!” Dia menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Matanya yang kelabu gelap
melirikku sekilas sebelum kembali pada jalanan yang mengapung.
Tak lama kemudian kami sampai disebuah
gedung berbentuk piano klasik raksasa, ini adalah gedung opera paling unik
sekaligus paling keren yang pernah kulihat. Begitu aku memasukinya aku merasa
hadir dalam dunia fantasi, baju-baju yang mereka pakai itu seperti seleraku.
Unik dan lumayan nyentrik, selain itu arsitektur gedung ini juga ukiran dan
susunannya adalah sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya bahkan di TV dan
majalah.
__ADS_1
“Kau bisa baca dialogmu sekarang, yang lain
sudah menunggu.” White Prince memberiku sesuatu seperti Chip yang ada
tombolnya, aku tentu tak mengerti bagaimana cara membacanya. Begitu kucoba menekan
tombol, tiba-tiba lembaran-lembaran kertas muncul didepanku, aku mencoba
mengambil kertas-kertas yang tampak nyata, tapi itu seperti arwah yang tak
dapat dipegang.
“Vier, kau bisa langsung mencoba adegan kau
dan aku. Nyanyiannya kau bisa latihan dirumah!” White Prince menegurku lagi.
“Kurasa disini ada seseorang yang berperan
sebagai Noir, harusnya dia ada disini juga!” Aku coba berbicara seolah aku
adalah bagian dari mereka.
“Kau seperti tak tau dia saja, dia akan datang
ketika ingin dan pergi bagaikan angin!” White Prince mendekat kearahku lalu
menunjuk salah satu teks intruksi yang membuatku bergidik.
“APAAN???” Teriakku tanpa sadar. “Maaf ya,
bung! Aku tak terima adegan berpelukan macam Telletubbies begini! Pegang tangan
sedetik bisa kuterima!!!” Lanjutku dengan sedikit keras. Tiba-tiba pandangan
semua orang tertuju padaku seperti terkejut.
“Vier...” White Prince menyebut namaku, aku
kembali menoleh padanya.
“Ada
apa, White Prince? Apa aku melakukan kesalahan?”
“Ti... tidak! Hanya saja hari ini kau sedikit
berbeda!”
White Prince mengalihkan pandangannya
dariku, tapi kurasa orang-orang ditempat latihan masih terus menatap aneh
padaku, apa dia tak tau Telletubbies?
“Ayo kita lanjutkan! Kalau kau memang
sangat keberatan dengan itu, kita masih punya waktu untuk menggantinya.” White
Prince memimpin latihan ini bersama beberapa pelatih lainnya.
Latihan berlangsung beberapa jam, orang
yang ada dalam naskah bernama Noir itu akhirnya tak muncul sama sekali. Kurasa
aku berhasil beradaptasi dengan keadaan saat ini walaupun beberapa orang
menganggapku aneh.
“Vier!” Sebuah panggilan mengejutkanku. Aku
mencari sumber suara dan mendapati dua orang gadis yang cantik menghampiriku.
“I... Iya! Ada apa, nih?” Tanyaku Canggung.
“Jangan-jangan kau sudah menyerah dengan White
Prince, ya?!” Salah seorang dari mereka berdua membuka pembicaraan.
“Menyerah? Memangnya aku kenapa?” Aku
mengerinyitkan dahi.
“Apakah ini caramu yang lain untuk menarik
perhatiannya? Kau menggunakan semua cara untuk mendapatkannya, harusnya kau
senang dengan adegan mesra itu, apa kau sungguhan menolaknya? Tapi Syukurlah
kalau kau tak menyukainya lagi, pesaing kami akan berkurang!” Oceh yang lainnya
lalu pergi dengan gaya sombong.
Aku tak tahan untuk tidak tertawa geli,
akhirnya aku perlahan mengerti situainya, dan entah mengapa ini jadi tidak
seru. “Jadi ditempat ini aku menyukai
pria obsesif itu? Sangat konyol!” Gumamku sambil tertawa geli. Aku terlempar
dari tahun 2020 ke tahun 2200, kemudian orang-orang mengenalku sebagai Vier
padahal aku bukan dia, kemudian aku teramat menyukai seseorang yang dipanggil
White Prince... walau ini tak masuk akal, aku bisa menerimanya.
Dikejauhan aku melihat White Prince
yang jadi idola para gadis itu berjalan kearahku. Aku tersenyum padanya,
senyuman yang menyimpan rasa geli tentunya.
“Aku diminta mengantarmu pulang, Vier. Jangan
salah paham karena ini perintah dari pelatih!” Ujarnya seolah tak sudi
berdekatan denganku.
“Ada beberapa hal yang aku tak tahan untuk
mengatakannya!” Aku melirik sinis padanya.
“Jangan karena beberapa orang bodoh menyukaimu
kau menganggap semua orang menyukaimu. Dan kau bisa menganggapku sebagai orang
lain mulai sekarang” Kataku sambil berbalik membelakanginya.
“Apa maksudmu?” Tanya-nya bingung.
“Kau hanya bagian dari mimpiku, kau dibawah
kendaliku, dan semua tentangmu adalah aturanku!!!” Aku mencoba untuk
__ADS_1
menegaskan.
Bersambung...