Break The Secret

Break The Secret
1) Melintasi waktu


__ADS_3

Indonesia,


4 Mei 2019


Apa yang akan kau lakukan jika tertidur


dan kemudian bangun sebagai orang lain di tempat yang asing dan dizaman yang


berbeda? Itulah yang terjadi padaku! Semua diawali dari hari cerah yang sangat


melelahkan.


 Setelah hampir setahun, aku pergi lagi ke pusat


kota yang ramainya memusingkan, dan hari ini, ketika aku terbangun aku merasa


ada bagian dari puzzle pemikiranku yang hilang. Seperti wayang tanpa dalang aku


terus berdiam diri tanpa melakukan apa-apa, hingga tanpa sadar hari sudah


gelap.


Aku keluar ke teras rumahku dan duduk


di kursi kayu panjang, langit malam ini adalah langit yang kusuka. Aku berbaring


sambil mendengarkan musik Waltz,


tiba-tiba terpikirkan olehku sebuah cerita, aku membayangkannya seolah cerita


itu sebuah film yang diputar diotakku. Sayangnya tanpa sadar aku mulai terlelap,


padahal... aku ingin menulis cerita itu.


Seingatku aku masih tertidur diteras,


tapi aku merasa pergerakan cahaya matahari menembus kelopak mataku yang


terpejam.


“Mustahil!


Apakah aku tertidur sampai pagi?”


Aku terperanjat dan langsung tegak


sambil mendelik. Tapi mataku menangkap objek-objek yang asing, apa mungkin aku


masih tertidur? Aku menepuk-nepuk pipiku untuk memastikan apakah sedang


bermimpi atau tidak, tapi kusadari ini kenyataan. Apa jangan-jangan aku


diculik?


Aku bangkit dari ranjang, melihat-lihat


sekitar. Jendela yang berbentuk segitiga, pintu dengan lima sudut, atap yang


lebih mirip lantai... semuanya aneh! Ruangan ini di-cat dengan warna gelap,


hanya bagian bingkai jendela dan pintu yang berwarna terang. Kulihat sebuah


meja kayu berbentuk trapesium dengan ukiran yang indah, meja itu menghadap


jendela, bisa kubayangkan betapa menyenangkan menulis sambil melihat


pemandangan keluar jendela.


Kudekati meja itu dan kubuka lacinya


yang tak terkunci. Aku menemukan sebuah kartu anggota disana dengan foto


seorang perempuan yang mirip denganku, tapi dia memiliki rambut kuning yang


menyala sedangkan rambutku cokelat tua.


“Nama:


Vier (putri monochrome), Usia: 23 tahun, pemeran utama wanita Opera Vajus”


Begitu yang tertulis. Apa yang terjadi?


Namaku adalah En’em ji kelas 3 SMA, dan sebelumnya aku tertidur diteras


rumahku. Aku panik, tapi kucoba menenangkan diri, aku harus mencari tau apa


yang terjadi. Kuturuni tangga, dan kusadari rumah ini mirip dengan bentuk bunga


tulip, dibagian luar dicat dengan warna ungu cerah.


 “Vier, apa kau tak mau pergi untuk latihan?”


Tiba-tiba sebuah suara yang dalam dan


bergetar menyapa pendengaranku membuat terkejut, aku menoleh karena kurasa nama


yang disebut barusan adalah nama orang yang mirip denganku tadi.


Seorang pria yang sangat tinggi memakai


setelan putih dibalut Blazer yang


juga berwarna putih bersih dan Syal berwarna biru muda kontras dengan rambutnya


yang gelap menatapku dengan bersahabat dari bawah tangga.


 “Maaf, saya bukan Vier, saya...”


Belum selesai aku dengan kata-kataku,


kulihat pantulan diriku disudut pintu yang terbuat dari kaca. Terkejut juga tak


percaya, rambutku yang cokelat dan pendek berubah menjadi berwarna keemasan


panjang sepinggang, juga pakaian seperti tuan puteri kerajaan ini... apa


maksudnya?


 “Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat!”


Tegur pria itu. Aku yang sebelumnya membeku karena melihat pantulan diriku akhirnya


tersadar berkatnya.


 “Anda... bilang sesuatu...?” Tanyaku dengan


gugup.


 “Kau mau latihan atau tidak?! Kutunggu kau


lima menit, ya... aku sudah agak kesal memanggilmu dari tadi.” Jawab pria itu.


Aku mengangguk dengan ragu-ragu,

__ADS_1


kemudian kembali ketempat dimana aku terbangun tadi. Aku membuka lemari


pakaian, yang kulihat hanya gaun-gaun aneh dan mantel yang kalau kupakai


mungkin akan ditertawai teman-temanku.


Kuambil gaun yang paling sederhana dan


memakainya lalu kulihat diriku dicermin. Ini masih wajahku, ini masih tatapanku


bahkan kurasa ini masih napasku. Tapi ada yang aneh dengan situasi ini, ada


dimana aku? Pria tadi seperti mengenalku tapi dia asing bagiku. Segala


kebingungan menggerogotiku, aku sama sekali tak tahu harus bagaimana.


Setelah kupikir dengan jernih, kurasa


sebaiknya aku menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi, aku akan mencari


tau apa yang terjadi dan membiarkan orang-orang menganggapku sebagai Vier sang


gadis opera. Lagipula aku punya bakat dibidang seni, ini tak kan sesulit itu


walau tak mudah, aku tak kan tau jika tidak mencobanya. Dan Vier yang asli pun


entah kemana, aku akan menyelamatkan diriku dengan cara ini.


Ini sudah terlalu lama, semoga pria


yang kesal menunggu itu masih punya sedikit kesabaran. Tak lama kemudian aku


keluar dan menyapa pria itu lagi, syukurlah dia masih memiliki senyuman yang


bersahabat. Aku melihat beberapa orang diseberang jalan melihat kearah kami,


mereka menatap dengan senyuman yang janggal.


 “Itu putri Monochrome dengan White Prince,


mereka sungguh beruntung!”


 Komentar salah seorang dari mereka. Mendengar


komentar itu aku terdiam sejenak, jadi pria ini disebut White Prince.


 “Ayo pergi!” Ajaknya dengan ramah. Dia


membawaku pada suatu benda yang tampak seperti robot capung besar, kira-kira


panjangnya dua meter. Kuputuskan untuk tidak bertanya walau rasanya aku akan


tersedak rasa penasaran.


Dia membuka pintu dirobot capung itu,


dan sepertinya aku salah paham. Itu bukanlah robot, itu seperti mobil tanpa


ban, sebaliknya mobil itu mengapung melawan Gravitasi. Pria itu menatapku


terheran-heran, kalau ini bukanlah keadaan serius, aku akan tertawa melihat


bola mata yang membulat sempurna dan wajah yang menekuk karena bingung.


 “Kuharap kau tidak makan jamur lagi pagi ini


sobatku, Vier.” Ujar pria itu kemudian.


 “Jamur?” Aku mengangkat sebelah alisku tanda


 “Kau tampak seperti orang linglung,


kupikir...  mungkin kau sarapan jamur


padahal kau alergi jamur! Sudahlah, silahkan masuk. Kurasa yang lain sudah


menunggu kita!” Ajaknya. Aku mengangguk dan masuk ke benda itu, sedangkan


diriku masih bertanya-tanya ada dimana aku sekarang dan apa yang terjadi.


Selain mobil ini, ternyata lainnya juga


unik. Kendaraan-kendaraan berbentuk seperti serangga, aku bahkan bingung


tentang bagaimana mereka membuat dan mengendarainya. Selain kendaraan, bentuk


bangunan juga tidak biasa, kukira ada pohon-pohon dengan ketinggian puluhan


meter bahkan mungkin mencapai ratusan meter, siapa sangka itu adalah gedung. Kemudian


kulihat sebuah papan iklan yang sangat besar yang kemudian membuatku terkejut


bukan kepalang sampai tersedak air liurku sendiri. Disana tertulis;


“Opera


Vajus akan disiarkan di alun-alun setiap distrik pada 7 Mei 2200 ini.


Bersiaplah semuanya anda dapat melihatnya 3 hari lagi”


Gila! Satu-satunya yang lucu disini


adalah bahwa candaan ini tidak lucu. Bangunkan aku, kurasa aku bermimpi! Maksudnya


ini adalah tahun 2200 dan aku melintasi waktu? Untuk memastikannya, aku beranikan


diri untuk bertanya.


 “Maaf, ini tahun berapa ya?” Tanyaku dengan


agak canggung. Kugunakan bahasa baku karena sejak tadi pria ini bicara dalam


bahasa baku. Dia melirikku dengan aneh tepat setelah aku bertanya.


 “Ini masih tahun 2200, kok! Kau ngelindur


ya?!” Dia menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Matanya yang kelabu gelap


melirikku sekilas sebelum kembali pada jalanan yang mengapung.


Tak lama kemudian kami sampai disebuah


gedung berbentuk piano klasik raksasa, ini adalah gedung opera paling unik


sekaligus paling keren yang pernah kulihat. Begitu aku memasukinya aku merasa


hadir dalam dunia fantasi, baju-baju yang mereka pakai itu seperti seleraku.


Unik dan lumayan nyentrik, selain itu arsitektur gedung ini juga ukiran dan


susunannya adalah sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya bahkan di TV dan


majalah.

__ADS_1


 “Kau bisa baca dialogmu sekarang, yang lain


sudah menunggu.” White Prince memberiku sesuatu seperti Chip yang ada


tombolnya, aku tentu tak mengerti bagaimana cara membacanya. Begitu kucoba menekan


tombol, tiba-tiba lembaran-lembaran kertas muncul didepanku, aku mencoba


mengambil kertas-kertas yang tampak nyata, tapi itu seperti arwah yang tak


dapat dipegang.


 “Vier, kau bisa langsung mencoba adegan kau


dan aku. Nyanyiannya kau bisa latihan dirumah!” White Prince menegurku lagi.


 “Kurasa disini ada seseorang yang berperan


sebagai Noir, harusnya dia ada disini juga!” Aku coba berbicara seolah aku


adalah bagian dari mereka.


 “Kau seperti tak tau dia saja, dia akan datang


ketika ingin dan pergi bagaikan angin!” White Prince mendekat kearahku lalu


menunjuk salah satu teks intruksi yang membuatku bergidik.


 “APAAN???” Teriakku tanpa sadar. “Maaf ya,


bung! Aku tak terima adegan berpelukan macam Telletubbies begini! Pegang tangan


sedetik bisa kuterima!!!” Lanjutku dengan sedikit keras. Tiba-tiba pandangan


semua orang tertuju padaku seperti terkejut.


 “Vier...” White Prince menyebut namaku, aku


kembali menoleh padanya.


 “Ada


apa, White Prince? Apa aku melakukan kesalahan?”


 “Ti... tidak! Hanya saja hari ini kau sedikit


berbeda!”


White Prince mengalihkan pandangannya


dariku, tapi kurasa orang-orang ditempat latihan masih terus menatap aneh


padaku, apa dia tak tau Telletubbies?


“Ayo kita lanjutkan! Kalau kau memang


sangat keberatan dengan itu, kita masih punya waktu untuk menggantinya.” White


Prince memimpin latihan ini bersama beberapa pelatih lainnya.


Latihan berlangsung beberapa jam, orang


yang ada dalam naskah bernama Noir itu akhirnya tak muncul sama sekali. Kurasa


aku berhasil beradaptasi dengan keadaan saat ini walaupun beberapa orang


menganggapku aneh.


 “Vier!” Sebuah panggilan mengejutkanku. Aku


mencari sumber suara dan mendapati dua orang gadis yang cantik menghampiriku.


 “I... Iya! Ada apa, nih?” Tanyaku Canggung.


 “Jangan-jangan kau sudah menyerah dengan White


Prince, ya?!” Salah seorang dari mereka berdua membuka pembicaraan.


 “Menyerah? Memangnya aku kenapa?” Aku


mengerinyitkan dahi.


 “Apakah ini caramu yang lain untuk menarik


perhatiannya? Kau menggunakan semua cara untuk mendapatkannya, harusnya kau


senang dengan adegan mesra itu, apa kau sungguhan menolaknya? Tapi Syukurlah


kalau kau tak menyukainya lagi, pesaing kami akan berkurang!” Oceh yang lainnya


lalu pergi dengan gaya sombong.


Aku tak tahan untuk tidak tertawa geli,


akhirnya aku perlahan mengerti situainya, dan entah mengapa ini jadi tidak


seru. “Jadi ditempat ini aku menyukai


pria obsesif itu? Sangat konyol!” Gumamku sambil tertawa geli. Aku terlempar


dari tahun 2020 ke tahun 2200, kemudian orang-orang mengenalku sebagai Vier


padahal aku bukan dia, kemudian aku teramat menyukai seseorang yang dipanggil


White Prince... walau ini tak masuk akal, aku bisa menerimanya.


Dikejauhan aku melihat White Prince


yang jadi idola para gadis itu berjalan kearahku. Aku tersenyum padanya,


senyuman yang menyimpan rasa geli tentunya.


 “Aku diminta mengantarmu pulang, Vier. Jangan


salah paham karena ini perintah dari pelatih!” Ujarnya seolah tak sudi


berdekatan denganku.


 “Ada beberapa hal yang aku tak tahan untuk


mengatakannya!” Aku melirik sinis padanya.


 “Jangan karena beberapa orang bodoh menyukaimu


kau menganggap semua orang menyukaimu. Dan kau bisa menganggapku sebagai orang


lain mulai sekarang” Kataku sambil berbalik membelakanginya.


 “Apa maksudmu?” Tanya-nya bingung.


 “Kau hanya bagian dari mimpiku, kau dibawah


kendaliku, dan semua tentangmu adalah aturanku!!!” Aku mencoba untuk

__ADS_1


menegaskan.


Bersambung...


__ADS_2