
Kupikir
aku tak bisa mengelabui Fasa, kalau benar ia adalah teman dekat Vier asli wajar
dia langsung mengenali bukan temannya. Sudah begini, yah sudahlah! Aku menyerah
dan sebaiknya ceritakan saja, kalau aku terus menyangkal mungkin dia akan
percaya, tapi ditempat ini aku butuh seseorang yang mengerti kondisiku dan bisa
kupercaya.
“Aku memang bukan Vier, namaku En’em Ji dan
aku bukan dari zaman ini!” Ungkapku. Fasa memincingkan kepalanya tampak heran
dengan ungkapanku tadi.
Aku pun
menceritakan semuanya, dari awal mula aku terlempar kesini termasuk tentang
bayanganku tentang cerita yang persis begini sampai bagaimana kujalani hidup
sebagai Vier selama tiga hari juga tentang bingungku. Aku sendiri pun heran
mengapa aku berada disini. Setelah aku menceritakan semuanya, Fasa hampir tidak
percaya pada ceritaku, tapi melihat situasi dan kondisiku, mau tak mau dia
percaya.
“Tapi... kemana Vier yang sebenarnya?” Tanya
Fasa setelah ceritaku selesai.
“Kurasa aku juga punya pertanyaan yang sama!”
Jawabku.
“Tapi masa’ kau tak punya sedikitpun ingatan
tentang ini? Bukankah kau yang membuat ceritanya?!” Protes Fasa. Aku menghela
napas tanpa harapan.
“Ketika aku tertidur, aku baru memiliki ide
cerita untuk membuat novel ini, lagi pula dizamanku aku belum terkenal sama
sekali!”
“Ceritakan saja seperti apa ide ceritamu itu!”
“Hm, yah... dunia dipersatukan dibawah
pimpinan suatu rezim, kemudian ada sebuah opera yang menjadi ciri khasnya, di
opera itu ada seorang gadis opera yang jatuh cinta pada seorang pangeran,
mereka jadi saling jatuh cinta dan cinta mereka terhalangi oleh Grim Reaper.
Dengan kekuatan cinta mereka, gadis opera dan pangeran berusaha mengalahkan
Grim Reaper dan mengubah pemerintahan. Baru segitu saja!” Ku ceritakan semua
yang masih ku ingat.
Setelah
mendengar itu Fasa terdiam sambil berpikir, sampai akhirnya dia memintaku ikut
dengannya kesuatu tempat dengan mengendarai mobilnya, dan kali ini mobil mirip
seperti kupu-kupu berwarna biru muda yang sangat bagus. Aku duduk dikursi
samping pengemudi.
“Sebelum itu, bisakah kau ceritakan yang
terjadi sejak tahun 2020?” Pintaku kemudian saat Fasa mulai menjalankan
mobilnya.
“Aku tak tau pasti kalau dari tahun 2020,
semua sejarah tentang peradaban dari seluruh dunia dihapuskan sejak
kepemimpinan Yaza Vumi II, semua yang tersisa hanyalah tentang awal mula
peradaban baru dibawah kepemimpinannya.” Jawab Fasa sambil terus memfokuskan
__ADS_1
diri pada jalanan.
“Pada masa awal pemerintahan Yaza Vumi I,
dunia ini tidak disatukan, justru adanya Yaza Vumi itu yang menyelamatkan
manusia dari keruntuhan. Kutub utara dan selatan mencair dan bergeser hingga
semua yang menggunakan sistem signal menjadi kacau dan tak dapat digunakan,
sedangkan pada masa itu manusia menggunakan signal untuk hampir semua bidang.
Dunia
ini dilanda kesusahan dan kelaparan juga perang. Tak ada pertahanan, teknologi
runtuh, dan banyak negara yang hancur. Disana lah ada seorang yang menyebut
dirinya DarkNight, dia tidak menggunakan signal dan semua caranya terbilang
klasik tapi sangat efesien!” Jelas Fasa.
“Jadi, Yaza Vumi I adalah si-DarkNight itu?”
Tanyaku lagi.
“Bukan! DarkNight itu kau!” Bantah Fasa.
“APA???” Teriakku tak percaya. “Ba...
bagaimana mungkin seseorang sepertiku...”
“Itu memang kau En’em Ji, DarkNight memutus
semua ikatan dan mencipakan dunia sendiri, lalu ketika dunia mulai hancur dia
membantu dan semuanya bersatu dalam dunia dengan sudut pandangnya, sampai
tiba-tiba ketika semua sudah stabil, ia menghilang kembali.
Lalu orang-orang yang dulu bergerak dibawah
perintah DarkNight membentuk sebuah rezim yang bernama Yaza Vumi, awalnya
mereka hanya menjadi badan yang menjaga perdamaian dan pemberi bantuan,
masing-masing negara masih memerintah sendiri-sendiri. Dipemerintahan Yaza Vumi
II, semua negara disatukan menjadi dibawah kekuasaannya, dan hanya dibagi
begitu mereka masih punya hukum sendiri-sendiri.” Cerita Fasa lagi.
Hal itu
malah membuatku makin penasaran saja, apalagi menurut cerita Fasa aku adalah
penyebab terjadinya hal ini, yah... walaupun itu terdengar tak masuk akal
karena selama ini aku hanya seorang anak SMA yang biasa saja.
“Nah,
kita sudah sampai!” Seru Fasa. Kulihat sebuah bangunan yang mirip buku besar,
menurut tebakanku ini adalah perpustakaan.
“Untuk apa kita kemari?” Tanyaku heran.
“Ini perpustakaan pusat, kabarnya ada tempat
yang menyimpan sisa-sisa petunjuk tentang kepergianmu, kalau kita bisa
menemukannya, kita akan punya cara untuk membuat kudeta!” Jawab Fasa.
“Hey, Fasa! Pemikiranmu ini tidak realistis,
bagaimana mungkin seseorang seperti kita punya kuasa untuk menggulingkan rezim
yang begitu kuat. Itu mustahil! Kudeta apanya? Memangnya situasinya seburuk
itu?” Komentarku. Fasa terdiam dia menatap kecewa padaku.
“Vier yang asli dan aku sangat mengidolakan
DarkNight, buktinya kau bisa menciptakan semua ini hanya dengan novel karyamu,
harusnya... kau pun bisa menghentikannya! Kau mungkin masih belum tau seburuk
apa dunia yang sekarang!” Mata Fasa berkaca-kaca, aku jadi merasa bersalah
padanya. Dia benar, kalau aku bisa memulai hal ini, maka aku pasti orang yang
bisa menghentikannya.
“Baiklah, maafkan aku, ya! Ayo kita berjuang,
__ADS_1
aku tak akan kembali ke Zamanku sebelum menghentikan semua ini, walaupun...
kita sama sekali belum punya bayangan tentang itu!” Cengirku. Fasa ikut
tersenyum, kurasa dia benar-benar orang yang baik.
Kami memasuki
perpustakaan, Fasa menunjukan padaku buku-buku yang ditulis DarkNight. Sungguhkah
dimasa depan aku seterkenal itu? Kenapa aku malah jadi terlalu percaya diri
begini?!
“Kita akan mulai mencari dari tahun 2050, itu
tahun awal dimulainya semua ini!” Ujar Fasa.
Aku
mengangguk, lalu kami berpencar mencari buku terbitan 2050 yang ada kaitannya
dengan peristiwa ini. Aku mencari di deretan buku sejarah, sedangkan Fasa
mencari di deretan buku pemerintahan. Jarak antara kami terpisah dengan dua
atau tiga lemari besar hingga kami tak bisa melihat satu sama lain.
Lebih
dari dua jam aku mencari, tak ada satupun hal yang berhubungan dengan itu dan
kurasa Fasa juga tak menemukan apa-apa. Aku coba mencarinya dideretan buku-buku
lain, jauh kesudut demi sudut. Saat itu aku sedang dengan santai mencari-cari
dideretan buku seni, sudut itu gelap dibandingkan sudut lain, apalagi hari
sudah mulai malam sedangkan cahaya lampu tak terlalu menyinari tempatku berdiri
sekarang.
Aku merasa angin semakin dingin saja, padahal tak ada lubang angin
disini mungkin hanya pendingin ruangan yang berada agak jauh dariku, perasaanku
tak enak dan agak merinding. Lalu tiba-tiba hidungku menyapa aroma yang terasa
menyengat, kuberanikan diri untuk menoleh, dan... mataku terbelalak.
“Hhhss... Hhss...”
Suara
napas yang berdesis, dan yang paling mengerikan adalah itu berasal dari wajah
tengkorak putih. Wujud mengerikan yang tiba-tiba muncul menampilkan
gigi-giginya yang tersusun rapi bagaikan barisan serdadu yang siap menyerang,
jubahnya hitam pekat nan panjang menyapu lantai juga napas yang menderu dengan
halus seperti hembusan angin dimalam bersalju... ini mimpi buruk!
“Hhhsss... Hhhsss...”
Lagi-lagi ia mendesis, tangannya yang
berada dibalik jubah itu terangkat dan dia menunjuk sebuah buku diantara
deretan buku lainnya. Aku tak sempat melihat apa yang dia tunjuk, aku sudah
takut.
Mulutku
terkunci rapat dan tubuhku bergetar. Aku
mundur beberapa langkah dan langsung berbalik untuk lari tanpa menoleh
kebelakang sama sekali, kulihat Fasa yang masih asyik mencari buku, segera
kutarik tangannya menuju keluar gedung itu. Kuabaikan pertanyaan bingungnya,
entah setan atau apa yang kulihat tadi, yang penting lari dari sini.
Kusempatkan menoleh sedikit sebelum
benar-benar keluar dari perpustakaan, wujud seram itu menatap dengan matanya
yang kosong dari balik kaca pintu. Ditangannya ia menggenggam sebuah buku, dia
memperhatikan kearahku dan aku akan mengingat ini sebagai mimpi buruk!
Bersambung...
__ADS_1