
Pagi hari yang hangat membuat malam
yang panjang itu terasa seperti mimpi, apa saja yang terjadi padaku semalam itu
terlalu banyak, rasanya semalam seperti seribu satu malam.
Matahari semakin naik, aku sangat malas
untuk bangun, apa lagi mengingat kejadian dipenghujung malam itu. Dai brengsek!
Semalam
“Dulu aku tak pernah memikirkan hal
ini, tapi kau yang sekarang... aku...” Dia masih tergagap-gagap.
“BICARA YANG JELAS, KUNYUK!!!” bentakku.
“AKU MENYUKAIMU!!!” Jawabnya dengan suara
keras.
“Kau demam ya? Atau masih ngelindur? Bicaramu
itu ngelantur tau!” Ketusku lagi.
“Aku tau kau tak kan mengerti, dan mungkin kau
membenciku karena dulu kau pernah menyatakan perasaan padaku tapi aku
menolaknya. Tapi, tapi sekarang aku...”
Sungguh keparat ini seperti anak SMP
yang labil dan tak jelas, aku benar-benar kesal padanya, kapan aku pernah
menyatakan perasaan padanya, yang menyukainya itu Vier, bukan aku (En’em Ji).
Yang lebih mengesalkan lagi, Dai malah
meneteskan air mata seperti habis digebuki saja. Aku menariknya masuk kekamar
itu dan membawanya kedepan cermin besar yang terpasang dipintu lemari pakaian.
“Lihat dirimu!!!” perintahku.
Perlahan dia mengangkat kepalanya yang
sejak tadi tertunduk.
“Lihat! Air matamu menetes begitu, bajumu
berantakan, bahkan mukamu merah. Apakah itu seorang Dai yang dikenal ramah dan
pandai mengendalikan emosi?” Aku berusaha menenangkannya yang tiba-tiba
emosional dan menjengkelkan.
“Aku tau ini tak seperti diriku!” Gumamnya.
“Ingat ini, Dai. Hanya pecundang yang
meninggalkan mimpinya demi asmara, coba kau pikir... musuhmu akan menertawaimu
sampai mati kalau tau ternyata kau selemah ini. Tak ada salahnya jatuh cinta,
tapi jangan sampai cinta itu mengubah kau jadi orang lain!” kali ini aku bicara
dengan lebih lembut.
“Maaf... aku janji tak akan seperti ini lagi.
Tadi kulihat kau sangat marah karena aku menyembunyikan sesuatu darimu...
jadi...” dia mengusak sisa air matanya dengan kasar.
“Ya sudahlah, sekarang rawatlah Shui,
sekalipun ia pelayanmu, kulihat dia sangat setia padamu!” Usulku. Dai
mengangguk dan langsung tersenyum seperti biasa. Dan entah kenapa bibirku ingin
tersenyum mengikutinya.
.....
Esok paginya
“Shui, kau sedang apa?” Tanyaku heran ketika
aku melihat Shui didapur sambil berusaha memotong bawang dengan tangan terluka.
“saya kesiangan untuk membuat sarapan,
sebentar lagi Tn. Dai akan bangun, kalau sarapannya belum siap saya akan merasa
bersalah!” Jawabnya.
“Bodoh! Kau sedang terluka begitu...”
“Saya baik-baik saja, hanya luka kecil!”
“Minggir! Biar aku yang masak!!!” Lagi-lagi
aku bicara dengan nada memerintah.
“Tapi,” Shui berusaha mencegahku.
“Sudahlah Shui, ikuti saja perkataan Vier!”
Tiba-tiba Fasa ikut muncul didapur dan membantuku. Fasa meminta Shui agar duduk
saja dan membiarkan kami yang memasak, Shui tak banyak bicara ia hanya
mengangguk kecil.
“Oh iya, adik-adiknya Dai mana?” Tanyaku pada
Shui yang sedang asyik memperhatikan kegiatan kami.
“Mereka masih tidur, akan saya bangunkan
ketika makanan sudah siap!” Jawab Shui.
Hm, ternyata kegiatan putri seperti itu
ya. Tidur sepuasnya dan bangun ketika makanan sudah siap, benar-benar enak
hidup seperti itu.
“Shui, Shui...”
Tiba-tiba kami mendengar suara
panggilan Dai dari lorong rumah, tak lama kemudian ia muncul masih dengan
piyama bermotif kadal gurun yang memalukan.
“Hmfft... ternyata pangeran putihnya berubah
jadi pangeran kadal, toh.” Ujarku sambil menahan tawa.
“Berisik, namanya juga dirumah sendiri, buat
__ADS_1
apa aku bergaya modis.” Kesal Dai. “Dari pada itu, sebaiknya setelah ini kita
ke markas DieNeSs. Beberapa hari lagi adalah perayaan hari persatuan, rencana
kita akan dilaksanakan.” Lanjutnya.
“Rencana?” Heran Fasa.
“Oh iya, aku lupa bilang. Sebenarnya kami
punya rencana untuk mencuri data-data tentang pembuatan sumber energi utama
agar kami bisa membuat sumber energi sendiri.” Jelas Dai.
“Hm, begitu ya. Jadi aku dan Fasa boleh ikut
rencana kau dan DieNeSs?” aku memastikan.
“Iya! Tapi sebelum itu, aku akan membawa Shui
kerumah sakit dulu, luka dipunggungnya cukup parah dan butuh perawatan dokter.”
Dai berputar kebelakang Shui, menarik bagian belakang bajunya untuk melihat
kembali luka itu.
“Saya baik-baik saja Tn. Dai, dibiarkan
beberapa hari pun akan sembuh.” Mendengar Shui menolak kerumah sakit, Dai
menatapnya dengan dahi berkerut.
“Kau ini, selalu saja begitu. Pokoknya kau
harus kerumah sakit setelah ini!” Nada suara Dai berubah memaksa. Shui hanya
mengangguk kecil.
Setelah kami selesai membuat sarapan,
kami makan bersama bersama kakek dan dua orang putri itu. Yah, entah kenapa Dai
tak ingin adiknya tau soal perseteruannya dengan sang ayah, dia lebih memilih
membohongi keduanya.
Kami menyelesaikan sarapan dan bersiap
pergi, karena tak bawa baju ganti, akhirnya adik Dai bersedia meminjamkan
gaunnya untukku dan Fasa. Kami mengatakan pada mereka berdua bahwa kami akan
pergi membawa Shui kerumah sakit.
Dari semua ini, yang membuatku merasa
sedikit aneh adalah sikap Dai. Padahal semalam aku dan dia baru saja ribut soal
perasaan dan dia telah mengungkapkannya padaku, tapi kami bersikap seolah tak
terjadi apa-apa. Aku tak membahas soal itu dan ia pun tak mempertanyakannya.
Aku, Fasa, Dai dan Shui pergi kerumah
sakit. Kami memeriksakan keadaan luka Shui, dokter bilang luka itu cukup dalam
walaupun tidak berbahaya, Akhirnya Shui mendapat beberapa jahitan. Dokter juga
menganjurkannya untuk tidak melakukan aktivitas yang berat karena akan membuat
lukanya kembali terbuka.
Yah, tidak sampai dirawat inap sih,
mengingat ekspresi Shui yang tidak seperti orang sakit dan malah terus sibuk
Kami pun selesai dengan urusan kami
dirumah sakit, kembali ke mobil kumbang dan menuju markas DieNeSs melewati
sebuah jalan pintas yang tak diketahui banyak orang. Dan selama perjalanan
sepertinya Fasa menyadari kalau aku terus memperhatikan Shui, dia tau apa yang
ada dipikiranku, yaitu aku mencurigai Shui sebagai Noir.
“Shui, apa kau baik-baik saja?” Tanya Dai
ketika kami sampai di depan rumah tua yang jadi penghubung jalan masuk ke
markas DieNeSs.
“Ya, tuan.” Jawab Shui singkat.
“Baiklah, ayo kita masuk. Oh iya, pastikan
dulu tak ada orang yang melihatnya.” Dai mengingatkan.
Kami memeriksa sekitar kami dulu
sebelum masuk kerumah tua itu dan akhirnya sampai di markas DieNeSs. Tempat
yang luas dengan lantai lorong bermotif catur, katanya ini adalah tempat yang
dibangun oleh Yaza Vumi I bersamaan dengan dibangunnya istana.
Alasan mengapa tempat ini dipilih
adalah karena selain Yaza Vumi dan pekerja yang membangunnya, tak seorang pun
tau, sedangkan para pekerja dan Yaza Vumi sudah meninggal. Salah satu
pekerjanya adalah anggota DieNeSs yang kemudian mengusulkan tempat ini sebagai markas.
Yah, memang cocok untuk markas rahasia.
Kami memasuki ruangan besar yang sudah
ada sekitar delapan orang disana, ditengah ruangan itu ada sebuah meja persegi
besar yang kursinya lengkap dua belas. Kami pun duduk mengelilingi meja itu
bersama delapan orang lainnya.
“Sebelum memulai diskusi kita, aku ingin
memperkenalkan dua sobatku ini. Mereka akan ikut dalam perencanaan, dan kuharap
kalian akan mempercainya seperti kepercayaan yang kalian berikan padaku.” Dai
membuka pembicaraan terlebih dahulu.
“Yang berambut panjang ini aku yakin kalian
sudah mengenalnya, dia adalah putri Monochrome yang nama aslinya adalah Vier,
sedangkan yang disebelahnya adalah Fasa.” Ia memperkenalkan kami, dan kami pun
memberi salam pada orang-orang diruangan.
Dari delapan orang itu, hanya ada dua
perempuan yang usianya sudah setengah baya, selain itu semuanya adalah
laki-laki. Lalu sebelum menuju pembicaraan inti, Dai lebih dulu menjelaskan
pada kami tentang rencana mereka.
__ADS_1
Jadi, pada saat perayaan hari persatuan
semua orang akan berada di alu-alun istana termasuk Yaza Vumi sendiri. Saat
itulah istana lebih sepi dari biasanya dan hanya ada beberapa tentara penjaga.
Rencananya, beberapa orang dari kami
akan menyusup kesana melalui pintu rahasia didalam lemari ruang ganti Dai di
gedung opera yang dulu kumasuki. Setelah itu barulah kami akan mencari jalan
menuju tempat kendali utama yang jadi pusat pengendalian sumber energi utama.
“Jadi, diskusi kita kali ini adalah menentukan
siapa yang akan masuk kesana, karena aku Dan Shui harus ada di pesta perayaan
itu.”
Penjelasan Dai diakhiri dengan
pertanyaan yang membuat kami saling lirik.
“Ehm, jika kalian mempercayaiku... aku dan
temanku Fasa tidak keberatan untuk melakukannya.” Aku menawarkan diri. Kulirik
Fasa dan sepertinya dia setuju denganku.
“Tapi kalian adalah perempuan, itu bisa saja
membahayakan keselamatan kalian.” Ujar salah satu dari mereka.
“Begini maksudku, beberapa dari kita akan
menyusup kesana, dan kemudian saat kita sampai dilokasi, hanya aku dan temanku
yang masuk kesana sedangkan yang lainnya berjaga-jaga jika ada tentara.
Bagaimana, apa kalian setuju?” Tanyaku.
“Tunggu, bukankah kau adalah putri Monochrome?
Kalau kau tak ada ketika hari perayaan, itu akan menarik perhatian?” Ujar yang
lainnya.
Aku lupa sama sekali, memang benar
kalau saat perayaan putri Monochrome tak ada, itu pasti menarik perhatian. Aku
menghela napas berat, padahal kalau aku berhasil masuk istana sekali lagi, aku
mungkin bisa menemukan cara untuk kembali ke zamanku. Aku yakin sekali, kalau
portal waktu itu bisa dibuka kembali.
“Oh,
tunggu sebentar!” Tiba-tiba Dai menyela. “Kurasa memang sebaiknya kami yang
menyusup kesana. Aku lupa, bukankah wajah kalian sudah diketahui sebagai
seorang DieNeSs? Kalau kalian sampai tertangkap itu malah akan membahayakan
organisasi kita, kan?! Sebaliknya, kalau kami yang menyusup dan jika saja
ketahuan, itu hanya akan dianggap sebagai rencanaku mendapatkan kekuasaan lebih
cepat. Benarkan?!” Jelasnya.
“Tapi, bagaimana kita akan kesana sedangkan
kita harus berada di pesta perayaan?” Tanyaku.
“tak masalah, yang penting kita muncul saat
pembukaan, karena ketika upacaranya dimulai, tak akan ada yang menyadari kalau
kita sudah pergi!” Jawab Dai.
“Pangeran, saya rasa saya dan Jeihan bisa ikut
pangeran dalam misi kali ini, wajah kami tidak dikenali sebagai DieNeSs, dan
mungkin keberadaan kami bisa sedikit membantu!” Usul pria yang duduk disebelah
Shui.
“Oh, pak Hauen. Saya terbantu sekali, terima
kasih, pak!” Seru Dai. “Baiklah, dua hari lagi perayaan itu akan diadakan, kita
sebaiknya mempersiapkan diri kita juga! Dan diskusi kali ini cukup sekian.”
Lanjutnya sembari menutup diskusi.
Sudah diputuskan, yang pergi untuk misi
penyusupan kali ini adalah Dai, aku, Fasa, pak Hauen dan Pak jeihan. Setelah
saling bersalaman dan menyemangati satu sama lain, kami keluar dari ruangan
itu.
“Nona Vier,” seseorang memanggilku ketika aku
dan Fasa berjalan dilorong hendak menuju ruang istirahat Dai. Aku menoleh,
ternyata itu adalah pak Hauen.
“Apakah nona mengingat saya? Dulu kita pernah
bertemu saat saya masih bekerja sebagai tukang bersih-bersih di opera” Ujarnya.
“Eh, maaf... sepertinya saya tak
mengingatnya... maaf ya pak!” Ujarku seolah merasa bersalah. Padahal aku memang
tak pernah bertemu dia.
“Tak apa, saya hanya ingin minta tolong”
Ungkap pak Hauen.
“Hm, minta tolong apa, pak?” tanyaku.
“Saya memperhatikan belakangan ini pangeran
jauh lebih ceria terutama ketika bersama anda. Jadi kalau bisa, tetaplah
bersamanya... apa lagi kali ini dia harus melawan ayahnya, mengingat bagaimana
putus asanya pangeran ketika kehilangan ibunya, baginya Yaza Vumi tetaplah ayah
yang sangat ia sayangi terlepas dari kekejamannya. Meskipun diluar dia tampak
tegar, sebenarnya dia adalah lelaki yang berhati lembut dan sedikit rapuh.”
Cerita pak Hauen.
“Hm, soal itu... dari pada saya, bukankah Dai
sudah memiliki kalian yang sangat menyayangi dan mendukungnya?! Saya yakin itu
lebih berharga!” Senyumku.
__ADS_1
*****