Break The Secret

Break The Secret
12) pernyataan Dai


__ADS_3

 


 


Pagi hari yang hangat membuat malam


yang panjang itu terasa seperti mimpi, apa saja yang terjadi padaku semalam itu


terlalu banyak, rasanya semalam seperti seribu satu malam.


Matahari semakin naik, aku sangat malas


untuk bangun, apa lagi mengingat kejadian dipenghujung malam itu. Dai brengsek!


Semalam


“Dulu aku tak pernah memikirkan hal


ini, tapi kau yang sekarang... aku...” Dia masih tergagap-gagap.


 “BICARA YANG JELAS, KUNYUK!!!” bentakku.


 “AKU MENYUKAIMU!!!” Jawabnya dengan suara


keras.


 “Kau demam ya? Atau masih ngelindur? Bicaramu


itu ngelantur tau!” Ketusku lagi.


 “Aku tau kau tak kan mengerti, dan mungkin kau


membenciku karena dulu kau pernah menyatakan perasaan padaku tapi aku


menolaknya. Tapi, tapi sekarang aku...”


Sungguh keparat ini seperti anak SMP


yang labil dan tak jelas, aku benar-benar kesal padanya, kapan aku pernah


menyatakan perasaan padanya, yang menyukainya itu Vier, bukan aku (En’em Ji).


Yang lebih mengesalkan lagi, Dai malah


meneteskan air mata seperti habis digebuki saja. Aku menariknya masuk kekamar


itu dan membawanya kedepan cermin besar yang terpasang dipintu lemari pakaian.


 “Lihat dirimu!!!” perintahku.


Perlahan dia mengangkat kepalanya yang


sejak tadi tertunduk.


 “Lihat! Air matamu menetes begitu, bajumu


berantakan, bahkan mukamu merah. Apakah itu seorang Dai yang dikenal ramah dan


pandai mengendalikan emosi?” Aku berusaha menenangkannya yang tiba-tiba


emosional dan menjengkelkan.


 “Aku tau ini tak seperti diriku!” Gumamnya.


 “Ingat ini, Dai. Hanya pecundang yang


meninggalkan mimpinya demi asmara, coba kau pikir... musuhmu akan menertawaimu


sampai mati kalau tau ternyata kau selemah ini. Tak ada salahnya jatuh cinta,


tapi jangan sampai cinta itu mengubah kau jadi orang lain!” kali ini aku bicara


dengan lebih lembut.


 “Maaf... aku janji tak akan seperti ini lagi.


Tadi kulihat kau sangat marah karena aku menyembunyikan sesuatu darimu...


jadi...” dia mengusak sisa air matanya dengan kasar.


 “Ya sudahlah, sekarang rawatlah Shui,


sekalipun ia pelayanmu, kulihat dia sangat setia padamu!” Usulku. Dai


mengangguk dan langsung tersenyum seperti biasa. Dan entah kenapa bibirku ingin


tersenyum mengikutinya.


.....


Esok paginya


 “Shui, kau sedang apa?” Tanyaku heran ketika


aku melihat Shui didapur sambil berusaha memotong bawang dengan tangan terluka.


 “saya kesiangan untuk membuat sarapan,


sebentar lagi Tn. Dai akan bangun, kalau sarapannya belum siap saya akan merasa


bersalah!” Jawabnya.


 “Bodoh! Kau sedang terluka begitu...”


 “Saya baik-baik saja, hanya luka kecil!”


 “Minggir! Biar aku yang masak!!!” Lagi-lagi


aku bicara dengan nada memerintah.


 “Tapi,” Shui berusaha mencegahku.


 “Sudahlah Shui, ikuti saja perkataan Vier!”


Tiba-tiba Fasa ikut muncul didapur dan membantuku. Fasa meminta Shui agar duduk


saja dan membiarkan kami yang memasak, Shui tak banyak bicara ia hanya


mengangguk kecil.


 “Oh iya, adik-adiknya Dai mana?” Tanyaku pada


Shui yang sedang asyik memperhatikan kegiatan kami.


 “Mereka masih tidur, akan saya bangunkan


ketika makanan sudah siap!” Jawab Shui.


Hm, ternyata kegiatan putri seperti itu


ya. Tidur sepuasnya dan bangun ketika makanan sudah siap, benar-benar enak


hidup seperti itu.


 “Shui, Shui...”


Tiba-tiba kami mendengar suara


panggilan Dai dari lorong rumah, tak lama kemudian ia muncul masih dengan


piyama bermotif kadal gurun yang memalukan.


 “Hmfft... ternyata pangeran putihnya berubah


jadi pangeran kadal, toh.” Ujarku sambil menahan tawa.


 “Berisik, namanya juga dirumah sendiri, buat

__ADS_1


apa aku bergaya modis.” Kesal Dai. “Dari pada itu, sebaiknya setelah ini kita


ke markas DieNeSs. Beberapa hari lagi adalah perayaan hari persatuan, rencana


kita akan dilaksanakan.” Lanjutnya.


 “Rencana?” Heran Fasa.


 “Oh iya, aku lupa bilang. Sebenarnya kami


punya rencana untuk mencuri data-data tentang pembuatan sumber energi utama


agar kami bisa membuat sumber energi sendiri.” Jelas Dai.


 “Hm, begitu ya. Jadi aku dan Fasa boleh ikut


rencana kau dan DieNeSs?” aku memastikan.


 “Iya! Tapi sebelum itu, aku akan membawa Shui


kerumah sakit dulu, luka dipunggungnya cukup parah dan butuh perawatan dokter.”


Dai berputar kebelakang Shui, menarik bagian belakang bajunya untuk melihat


kembali luka itu.


 “Saya baik-baik saja Tn. Dai, dibiarkan


beberapa hari pun akan sembuh.” Mendengar Shui menolak kerumah sakit, Dai


menatapnya dengan dahi berkerut.


 “Kau ini, selalu saja begitu. Pokoknya kau


harus kerumah sakit setelah ini!” Nada suara Dai berubah memaksa. Shui hanya


mengangguk kecil.


Setelah kami selesai membuat sarapan,


kami makan bersama bersama kakek dan dua orang putri itu. Yah, entah kenapa Dai


tak ingin adiknya tau soal perseteruannya dengan sang ayah, dia lebih memilih


membohongi keduanya.


Kami menyelesaikan sarapan dan bersiap


pergi, karena tak bawa baju ganti, akhirnya adik Dai bersedia meminjamkan


gaunnya untukku dan Fasa. Kami mengatakan pada mereka berdua bahwa kami akan


pergi membawa Shui kerumah sakit.


Dari semua ini, yang membuatku merasa


sedikit aneh adalah sikap Dai. Padahal semalam aku dan dia baru saja ribut soal


perasaan dan dia telah mengungkapkannya padaku, tapi kami bersikap seolah tak


terjadi apa-apa. Aku tak membahas soal itu dan ia pun tak mempertanyakannya.


Aku, Fasa, Dai dan Shui pergi kerumah


sakit. Kami memeriksakan keadaan luka Shui, dokter bilang luka itu cukup dalam


walaupun tidak berbahaya, Akhirnya Shui mendapat beberapa jahitan. Dokter juga


menganjurkannya untuk tidak melakukan aktivitas yang berat karena akan membuat


lukanya kembali terbuka.


Yah, tidak sampai dirawat inap sih,


mengingat ekspresi Shui yang tidak seperti orang sakit dan malah terus sibuk


Kami pun selesai dengan urusan kami


dirumah sakit, kembali ke mobil kumbang dan menuju markas DieNeSs melewati


sebuah jalan pintas yang tak diketahui banyak orang. Dan selama perjalanan


sepertinya Fasa menyadari kalau aku terus memperhatikan Shui, dia tau apa yang


ada dipikiranku, yaitu aku mencurigai Shui sebagai Noir.


 “Shui, apa kau baik-baik saja?” Tanya Dai


ketika kami sampai di depan rumah tua yang jadi penghubung jalan masuk ke


markas DieNeSs.


 “Ya, tuan.” Jawab Shui singkat.


 “Baiklah, ayo kita masuk. Oh iya, pastikan


dulu tak ada orang yang melihatnya.” Dai mengingatkan.


Kami memeriksa sekitar kami dulu


sebelum masuk kerumah tua itu dan akhirnya sampai di markas DieNeSs. Tempat


yang luas dengan lantai lorong bermotif catur, katanya ini adalah tempat yang


dibangun oleh Yaza Vumi I bersamaan dengan dibangunnya istana.


Alasan mengapa tempat ini dipilih


adalah karena selain Yaza Vumi dan pekerja yang membangunnya, tak seorang pun


tau, sedangkan para pekerja dan Yaza Vumi sudah meninggal. Salah satu


pekerjanya adalah anggota DieNeSs yang kemudian mengusulkan tempat ini sebagai markas.


Yah, memang cocok untuk markas rahasia.


Kami memasuki ruangan besar yang sudah


ada sekitar delapan orang disana, ditengah ruangan itu ada sebuah meja persegi


besar yang kursinya lengkap dua belas. Kami pun duduk mengelilingi meja itu


bersama delapan orang lainnya.


 “Sebelum memulai diskusi kita, aku ingin


memperkenalkan dua sobatku ini. Mereka akan ikut dalam perencanaan, dan kuharap


kalian akan mempercainya seperti kepercayaan yang kalian berikan padaku.” Dai


membuka pembicaraan terlebih dahulu.


 “Yang berambut panjang ini aku yakin kalian


sudah mengenalnya, dia adalah putri Monochrome yang nama aslinya adalah Vier,


sedangkan yang disebelahnya adalah Fasa.” Ia memperkenalkan kami, dan kami pun


memberi salam pada orang-orang diruangan.


Dari delapan orang itu, hanya ada dua


perempuan yang usianya sudah setengah baya, selain itu semuanya adalah


laki-laki. Lalu sebelum menuju pembicaraan inti, Dai lebih dulu menjelaskan


pada kami tentang rencana mereka.

__ADS_1


Jadi, pada saat perayaan hari persatuan


semua orang akan berada di alu-alun istana termasuk Yaza Vumi sendiri. Saat


itulah istana lebih sepi dari biasanya dan hanya ada beberapa tentara penjaga.


Rencananya, beberapa orang dari kami


akan menyusup kesana melalui pintu rahasia didalam lemari ruang ganti Dai di


gedung opera yang dulu kumasuki. Setelah itu barulah kami akan mencari jalan


menuju tempat kendali utama yang jadi pusat pengendalian sumber energi utama.


 “Jadi, diskusi kita kali ini adalah menentukan


siapa yang akan masuk kesana, karena aku Dan Shui harus ada di pesta perayaan


itu.”


Penjelasan Dai diakhiri dengan


pertanyaan yang membuat kami saling lirik.


 “Ehm, jika kalian mempercayaiku... aku dan


temanku Fasa tidak keberatan untuk melakukannya.” Aku menawarkan diri. Kulirik


Fasa dan sepertinya dia setuju denganku.


 “Tapi kalian adalah perempuan, itu bisa saja


membahayakan keselamatan kalian.” Ujar salah satu dari mereka.


 “Begini maksudku, beberapa dari kita akan


menyusup kesana, dan kemudian saat kita sampai dilokasi, hanya aku dan temanku


yang masuk kesana sedangkan yang lainnya berjaga-jaga jika ada tentara.


Bagaimana, apa kalian setuju?” Tanyaku.


 “Tunggu, bukankah kau adalah putri Monochrome?


Kalau kau tak ada ketika hari perayaan, itu akan menarik perhatian?” Ujar yang


lainnya.


Aku lupa sama sekali, memang benar


kalau saat perayaan putri Monochrome tak ada, itu pasti menarik perhatian. Aku


menghela napas berat, padahal kalau aku berhasil masuk istana sekali lagi, aku


mungkin bisa menemukan cara untuk kembali ke zamanku. Aku yakin sekali, kalau


portal waktu itu bisa dibuka kembali.


 “Oh,


tunggu sebentar!” Tiba-tiba Dai menyela. “Kurasa memang sebaiknya kami yang


menyusup kesana. Aku lupa, bukankah wajah kalian sudah diketahui sebagai


seorang DieNeSs? Kalau kalian sampai tertangkap itu malah akan membahayakan


organisasi kita, kan?! Sebaliknya, kalau kami yang menyusup dan jika saja


ketahuan, itu hanya akan dianggap sebagai rencanaku mendapatkan kekuasaan lebih


cepat. Benarkan?!” Jelasnya.


 “Tapi, bagaimana kita akan kesana sedangkan


kita harus berada di pesta perayaan?” Tanyaku.


 “tak masalah, yang penting kita muncul saat


pembukaan, karena ketika upacaranya dimulai, tak akan ada yang menyadari kalau


kita sudah pergi!” Jawab Dai.


 “Pangeran, saya rasa saya dan Jeihan bisa ikut


pangeran dalam misi kali ini, wajah kami tidak dikenali sebagai DieNeSs, dan


mungkin keberadaan kami bisa sedikit membantu!” Usul pria yang duduk disebelah


Shui.


 “Oh, pak Hauen. Saya terbantu sekali, terima


kasih, pak!” Seru Dai. “Baiklah, dua hari lagi perayaan itu akan diadakan, kita


sebaiknya mempersiapkan diri kita juga! Dan diskusi kali ini cukup sekian.”


Lanjutnya sembari menutup diskusi.


Sudah diputuskan, yang pergi untuk misi


penyusupan kali ini adalah Dai, aku, Fasa, pak Hauen dan Pak jeihan. Setelah


saling bersalaman dan menyemangati satu sama lain, kami keluar dari ruangan


itu.


 “Nona Vier,” seseorang memanggilku ketika aku


dan Fasa berjalan dilorong hendak menuju ruang istirahat Dai. Aku menoleh,


ternyata itu adalah pak Hauen.


 “Apakah nona mengingat saya? Dulu kita pernah


bertemu saat saya masih bekerja sebagai tukang bersih-bersih di opera” Ujarnya.


 “Eh, maaf... sepertinya saya tak


mengingatnya... maaf ya pak!” Ujarku seolah merasa bersalah. Padahal aku memang


tak pernah bertemu dia.


 “Tak apa, saya hanya ingin minta tolong”


Ungkap pak Hauen.


 “Hm, minta tolong apa, pak?” tanyaku.


 “Saya memperhatikan belakangan ini pangeran


jauh lebih ceria terutama ketika bersama anda. Jadi kalau bisa, tetaplah


bersamanya... apa lagi kali ini dia harus melawan ayahnya, mengingat bagaimana


putus asanya pangeran ketika kehilangan ibunya, baginya Yaza Vumi tetaplah ayah


yang sangat ia sayangi terlepas dari kekejamannya. Meskipun diluar dia tampak


tegar, sebenarnya dia adalah lelaki yang berhati lembut dan sedikit rapuh.”


Cerita pak Hauen.


 “Hm, soal itu... dari pada saya, bukankah Dai


sudah memiliki kalian yang sangat menyayangi dan mendukungnya?! Saya yakin itu


lebih berharga!” Senyumku.

__ADS_1


*****


__ADS_2