
“CEPAT
LARI DARI SINI, PAKAI PELINDUNG KALIAN!!!” Teriakku.
Tapi kami belum sempat bergerak dari
sana ketika ratusan tentara kerajaan mengepung dari berbagai sudut dan menyerbu
kami dalam kericuhan.
Mereka menangkap semua anggota DieNeSs
yang ada dan mengumpulkan ditengah aula dalam keadaan tangan terikat tanpa
perlawanan yang berarti karena kami kalah jumlah.
“Maaf, kalian tak bisa lari kemanapun lagi”
Cemooh sang raja.
Aku coba menghubungkan dengan tim kami
yang lain secara diam-diam melalui semacam earphone ditelingaku. Tim yang
diatap, tim sniper atau tim evakuasi, tapi tak satupun dari mereka yang tersambung dan menjawab
panggilanku.
“Mereka tak akan pernah datang menyelamatkan
kalian... mungkin justru mereka yang berharap diselamatkan!” Yaza Vumi tertawa
penuh penghinaan karena mengetahui usahaku.
“AYAH, APA YANG AYAH LAKUKAN???” Teriak Dai.
“Menurutmu apa?” Tanya Yaza Vumi sambil
tersenyum sombong.
Ia menampilkan sebuah layar dan
memperlihatkan sesuatu pada kami.
“Lihatlah yang terjadi pada para pendukung
kalian.” Ujarnya. Kemudian ia memperlihatkan keadaan orang-orang yang berdemo
pada kami.
Mereka dikelilingi oleh tentara
bersenjata lengkap dan juga Tank yang bersiap menembak kearah kerumunan orang.
Suasana penuh ketakutan itu tampak jelas, dan yang paling menyebalkan adalah
Yaza Vumi menikmati hal tersebut.
“Hey, raja setan. Kau pikir kalau kau membunuh
sekian banyak rakyat negri ini kau mau memimpin siapa? Mau jadi raja tak
berakyat?!” Cemoohku.
“Hm,
kau masih punya keberanian, toh!” Yaza Vumi duduk dikursinya lagi. “Bawa
perempuan itu kedepanku!” Perintahnya.
Dua orang prajurit menarikku dengan
kasar dan seketika aku merasakan nyeri dikaki kananku akibat terkena tembakan
ditengah kericuhan tadi. Dua prajurit itu melemparku hingga tersungkur didepan
kaki Yaza Vumi.
“Kau sungguh berani dan merepotkan!” Tukas
Yaza Vumi. Ia mengangkat daguku dengan kakinya secara tak sopan.
“Katakan apa yang sudah kau tau tentang kami,
kau tampak memiliki banyak informasi.” Lanjutnya dengan tenang.
Rasanya ketakutanku telah habis dimakan
kemarahanku, sekarang ini aku tak peduli jika mati disini atau apalah yang
terjadi nantinya. Melihat seorang yang mengaku raja tapi membunuh istrinya
sendiri demi egonya juga menekan rakyat demi keserakahannya. Dan yang paling
membuatku jijik adalah dia mengatas namakan keadilan untuk kebiadabannya.
“Kau mau tau apa yang kutau?” Aku merangkak
lebih dekat kearah Yaza Vumi.
“Aku tau kau telah membantai keturunan
DarkNight dan menyembunyikan Break The Secret.” Mendengar itu wajah tenang Yaza
Vumi berubah tajam. “Aku tau kau akan hancur ditangan kami, aku tau kau akan
mati mengenaskan karena semua orang mengutukmu, atau jika kau hidup, kau akan
hidup dalam kesengsaraan dan jadi pecundang!!!” Tukasku. Dan...
“DUAK”
Yaza Vumi memukulku dengan gagang
senapan yang ia ambil seketika dari salah satu tentara yang berada tak jauh
darinya. Ia menarik kerah rompiku dengan kasar sambil menodongkan senapan pada
leherku.
“Berani bicara apa lagi kau perempuan
******?!” Tukasnya.
“CUIH”
Aku meludahi tepat diwajahnya. Ia
menghela napas berat dan memukulku berkali-kali dengan gagang senapan lagi.
“AYAH, HENTIKAN!!!” Dai berteriak dan berusaha
menghampiriku tapi tentara yang disampingnya menendangnya agar kembali duduk
diantara yang lain. Sudah kuduga aku tak akan selamat dari keadaan ini, tangan
Dai dan yang lain juga terikat rantai besi, ini bukan film, Dai tak akan mampu
memutuskan rantai dengan kekuatannya.
“LIHAT INI DAI, PEREMPUAN YANG KAU CINTAI CUMA
******!!!” Yaza Vumi balik berteriak pada Dai dengan penuh amarah.
Aku masih dipukuli, kurasakan sakit
disekujur tubuhku, sayang sekali... kini Dai pun tak berdaya, anggota kami yang
lain juga dipukuli. Padahal waktu aku tak sadarkan diri diruang penyimpanan
dokumen waktu itu Dai datang bagaikan kesatria negri dongeng dan menolongku,
__ADS_1
tapi kami semua bahkan tak bisa menolong diri kami sendiri. Yang masih
membuatku bersyukur adalah bahwa Fasa baik-baik saja.
“Kalian pikir aku akan berhenti sampai disini
saja? Kapten, ambil benda itu!!!” Yaza Vumi memerintah anak buahnya mengambil
sesuatu. Itu semacam remot kontrol, tapi entah digunakan untuk apa.
“Perhatikan layar itu baik-baik!” Ujar Yaza
Vumi.
Aku berusaha menoleh dan melihatnya,
itu adalah penampakan rumah tua jalan masuk markas DieNeSs, juga permukaan
tanah dimana dibawah sana adalah markas kami. Yaza Vumi menekan salah satu
tombol di remot kontrolnya dan suasana tenang dilayar berubah menjadi ledakan
merah yang besar hingga permukaan tanah itu terangkat bagaikan gempa.
Tak selang lama benda mirip rudal
mengarah kesana dan terus meledakkan permukaan tanah yang sudah berlubang dan
hancur itu hingga menampakkan bahwa dibawah tanah sana terdapat ruangan-ruangan
yang dipenuhi orang.
“RAJA SETAN KAU GILA!!!” Dai berteriak dan
mengamuk seperti orang kesurupan.
“Kau sangatlah naif Dai, sama seperti ibumu.”
Tawa Yaza Vumi.
“HENTIKAN SEMUA ITU, CEPAT HENTIKAN ATAU AKU
SENDIRI YANG AKAN MEMBUNUHMU, AKU TAK AKAN SEGAN SEKALIPUN KAU AYAHKU!!!”
Teriak Dai lagi. Aku tak melihat sikap tenang Dai lagi, sekarang dia emosional
dan kacau. Sedangkan Yaza Vumi tertawa puas, ia kembali melirik kearahku yang
tersungkur dibawah kaki menjijikannya.
“Nah, sekarang kau masih mau bilang apa?
Katakan pesan terakhirmu sebelum mati, atau kau ingin melihat orang-orangmu
mati lebih dulu?” Tanya Yaza Vumi padaku lagi.
“Mati? Kau lah yang akan mati!!!” Tukasku.
Dan sekarang aku tau bahwa kesabaran
Yaza Vumi betul-betul habis. Ia megarahkan moncong senapan kearah kepalaku
dengan penuh amarah, dan kusadari para prajurit dan tentaranya juga mengarahkan
senapan mereka pada anggota kami yang lain.
“Kau akan mati bersama anggotamu sekarang
supaya mulutmu itu berhenti bicara!” Gertak Yaza Vumi.
Baiklah, mungkin ini akhir
perjalananku, aku menutup mata dan bersiap mati. Sampai sini saja kisah
petualangan penuh rintangan dan juga romansa, padahal kisah cinta segitiga itu
belum terjawab, tapi ini sudah berakhir. Dan Shui... aku ingin tau keadaannya.
“BUM”
sebuah benda yang jatuh dari atap, asap itu memenuhi ruangan bersamaan dengan
munculnya orang-orang dengan masker aneh. Aku tak terlalu bisa melihat dalam
keadaan setengah sadar ditambah lagi asap itu menghalangiku melihat apa yang
sedang terjadi diruangan ini.
“Sial, ada apa ini?”
Yaza Vumi kebingungan, berarti ini
bukan ulahnya, lalu ini ulah siapa? Semua tim ku sudah terpojok... siapa
orang-orang bermasker aneh ini? Mereka juga memberikan masker aneh itu untuk
Dai juga Fasa... sepertinya sebagian anggota mendapatkan masker itu.
Kericuhan terjadi, orang-orang
bermasker aneh itu menggunakan cambuk listrik untuk menyerang para prajurit dan
tentara Yaza Vumi. Aku yang tersungkur dengan penuh luka masih ada didekat kaki
Yaza Vumi. Wajahnya tampak bingung, dia berteriak-teriak memerintah tentaranya.
Sekelebat bayangan bermasker itu muncul
entah dari mana dan menyerang Yaza Vumi dengan cambuk listrik hingga terlempar.
Kemudian ia berjongkok didepanku dan mengangkat tubuhku seolah itu bukanlah
beban.
“SEGERA PERGI DARI SINI, ADA TENTARA
SEKUTU!!!” Teriak orang yang menggendongku.
Sekilas aku bisa melihat puluhan atau
mungkin ratusan tentara dengan suara gaduhnya. Diantara kepulan asap itu aku
dibawa lari olehnya, kubiarkan dia membawaku karena kurasa aku mengenalnya...
Shui. Tadi itu suara berat milik Shui.
“Kau selamat? Bagaimana tim lainnya?” Tanyaku
ketika ia sedang membawaku berlari disebuah lorong. Ia melepas maskernya dan
kini bisa kulihat jelas wajahnya.
“Sebagian selamat, untung kita punya rencana
cadangan. Kita akan segera kembali kemarkas, tapi tadi aku kehilangan kontak
dengan markas.” Ujar Shui.
Hm, jadi dia belum tau kalau sudah tak
ada lagi yang namanya markas... aku bingung harus menceritakannya dari mana.
“Dimana Fasa? Dimana Dai dan yang lain?”
Tanyaku awalnya.
“Mereka lewat jalan lain menuju markas, ada
pasukan dari daerah gurun putih yang membantu kita.” Jawab Shui. Aku terdiam
sejenak sebelum akhirnya berkata,
__ADS_1
“Sudah tak ada lagi markas, berhenti bicara
tentang itu. Yaza Vumi meledakkannya.” Ujarku.
Langkah Shui terhenti, ia diam dan
gemetar. Aku bisa merasakannya karena ia masih menggendongku. Aku segera
menurunkan diri sebelum dia menjatuhkanku karena ia semakin gemetar.
“Tn. Dai...” Gumam Shui.
“Hey, kalian!!!”
Seseorang memanggil kami, aku terkejut
bukan kepalang dan menoleh seketika. Tapi setelah melihat siapa yang memanggil
kami membuatku lega karena ternyata itu adalah Jeffery bersama Khaled dan Xiao.
“Cepat kemari, tak ada waktu untuk main drama
karena kita harus lari sebelum tentara sekutu menemukan kita.” Ujar Khaled.
“Bagaimana Tn. Dai dan wanita berambut pendek
yag bersamanya?” tanya Shui.
“Mereka baik-baik saja, jadi cepatlah!” Jawab
Khaled lagi.
Shui mengangguk, ia memintaku naik
kepunggungnya, meski awalnya aku menolak kurasa ide bagus juga karena aku
sedang penuh luka akibat dipukuli. Kami melarikan diri melalui sebuah jalan
yang aku tidak mengerti jadi tak bisa kujelaskan, yang jelas rute pelarian ini
melalui sebuah terowongan bawah tanah yang tampak tak terawat, terowongan itu
tidak dilapisi apapun, hanya tanah lempung yang lembab, terdapat serangga yang
tinggal dibawah tanah dan hewan pengerat.
“Kalian tentunya tak akan kembali kerumah,
kan?!” Tanya Xiao ketika kami tengah berjalan bersama.
“Entahlah!” Jawab Shui singkat.
“Kembali kerumah berarti bunuh diri, lho!”
Sambung Jeffery.
“Aku juga tak tau!” Lagi-lagi Shui menjawab
singkat.
“Mengungsilah ke Gurun Putih, kekuasaan Yaza
Vumi tak sampai sana, ketahanan militer kami juga sangat kuat. Raja kami adalah
orang yang bijaksana dan murah hati” Usul Khaled.
“Aku belum tanya keputusan pangeran.” Ujar
Shui.
“Jangan Khawatir, pangeran bilang dia akan
setujui apapun keputusanmu, makannya kutanyakan ini padamu.” Bujuk Khaled.
“Baiklah, ini satu-satunya cara bagi DieNeSs
tetap hidup, juga satu-satunya cara kami membalas Yaza Vumi.” Akhirnya Shui
menyetujui usulan Kaled.
Kami keluar dari terowongan itu
disebuah hutan yang entah dimana, Khaled meminta kami memakai penyamaran.
Sangat sulit untuk kabur dari daerah kekuasaan Yaza Vumi ramai-ramai begini,
jadi kami pergi dari sana bergiliran dengan jalur laut.
Beberapa hari kami bersembunyi
diperbatasan, sekarang ini anggota kami terutama aku, Shui, Dai, Fasa dan
beberapa pemimpin Distrik menjadi buronan Yaza Vumi, hampir semua tempat
digeledah dan kami berpindah-pindah untuk sembunyi dari satu tempat ketempat
lain. Dan juga aku tak pernah bertemu Fasa dan Dai semenjak hari itu, aku
bersama Shui dan tiga orang yang kutemui dihari perang yaitu Khaled, Jeffery
dan Xiao.
Sampai hari giliran kami untuk
mengungsi ke Gurun Putih tiba. Rombonganku dan Shui terpisah dengan rombongan
Dai, kami bersembunyi dalam sebuah kontainer barang agar bisa menyebrang dengan
aman. Baru kali ini aku merasakan rasanya jadi buronan.
“Kita akan segera menyebrang, tenangkan diri
kalian dan jangan buat suara yang mengundang penjaga untuk memeriksa tempat
ini.” Jelas Khaled.
Dirombonganku ada sekitar 15 orang
termasuk aku, Shui, Jeffery, Xiao dan Khaled sendiri. Kami akan bertahan disana
diperkirakan selama lima hari. Ada beberapa Ventilasi kecil, soal makanan juga
ada anak buah Khaled yang akan memberikannya karena dikapal yang membawa kami
ada banyak orang-orang dari daerah Gurun Putih yang dapat dipercaya.
Aku terdiam tanpa suara sedikitpun, duduk
di kontainer dingin, jadi buronan dan takut ditemukan, temanku Fasa dan Dai
yang biasa ada didekatku sekarang tak ada, aku harap mereka baik-baik saja.
Ingin sekali aku menangis sangking takutnya, belum lagi bekas luka ditubuhku
masih terasa sakit. Meskipun ada Shui yang duduk disebelahku, tapi dia tak
seperti Dai yang ramah dan hangat dan lagi pula hubungan kami tak terlalu baik.
“Tn. Dai dan temanmu pasti baik-baik saja,
karena itu kau pun harus baik-baik saja.” Shui berbisik didekat telingaku. Aku
masih diam dan tak menggubrisnya.
“Aku tau aku telah sangat bersalah padamu, tapi
kali ini... biarkan aku disisimu. Setelah bertemu Tn. Dai... kau harus kembali
kesisinya.” Lanjutnya sambil mendekat dan memberiku selimut.
“Tapi... Aku tak akan berada disisi siapapun!”
__ADS_1
gumamku.
*****