Break The Secret

Break The Secret
25) ATTACK : Jebakan


__ADS_3

 “CEPAT


LARI DARI SINI, PAKAI PELINDUNG KALIAN!!!” Teriakku.


Tapi kami belum sempat bergerak dari


sana ketika ratusan tentara kerajaan mengepung dari berbagai sudut dan menyerbu


kami dalam kericuhan.


Mereka menangkap semua anggota DieNeSs


yang ada dan mengumpulkan ditengah aula dalam keadaan tangan terikat tanpa


perlawanan yang berarti karena kami kalah jumlah.


 “Maaf, kalian tak bisa lari kemanapun lagi”


Cemooh sang raja.


Aku coba menghubungkan dengan tim kami


yang lain secara diam-diam melalui semacam earphone ditelingaku. Tim yang


diatap, tim sniper atau tim evakuasi, tapi tak satupun dari  mereka yang tersambung dan menjawab


panggilanku.


 “Mereka tak akan pernah datang menyelamatkan


kalian... mungkin justru mereka yang berharap diselamatkan!” Yaza Vumi tertawa


penuh penghinaan karena mengetahui usahaku.


 “AYAH, APA YANG AYAH LAKUKAN???” Teriak Dai.


 “Menurutmu apa?” Tanya Yaza Vumi sambil


tersenyum sombong.


Ia menampilkan sebuah layar dan


memperlihatkan sesuatu pada kami.


 “Lihatlah yang terjadi pada para pendukung


kalian.” Ujarnya. Kemudian ia memperlihatkan keadaan orang-orang yang berdemo


pada kami.


Mereka dikelilingi oleh tentara


bersenjata lengkap dan juga Tank yang bersiap menembak kearah kerumunan orang.


Suasana penuh ketakutan itu tampak jelas, dan yang paling menyebalkan adalah


Yaza Vumi menikmati hal tersebut.


 “Hey, raja setan. Kau pikir kalau kau membunuh


sekian banyak rakyat negri ini kau mau memimpin siapa? Mau jadi raja tak


berakyat?!” Cemoohku.


 “Hm,


kau masih punya keberanian, toh!” Yaza Vumi duduk dikursinya lagi. “Bawa


perempuan itu kedepanku!” Perintahnya.


Dua orang prajurit menarikku dengan


kasar dan seketika aku merasakan nyeri dikaki kananku akibat terkena tembakan


ditengah kericuhan tadi. Dua prajurit itu melemparku hingga tersungkur didepan


kaki Yaza Vumi.


 “Kau sungguh berani dan merepotkan!” Tukas


Yaza Vumi. Ia mengangkat daguku dengan kakinya secara tak sopan.


 “Katakan apa yang sudah kau tau tentang kami,


kau tampak memiliki banyak informasi.” Lanjutnya dengan tenang.


Rasanya ketakutanku telah habis dimakan


kemarahanku, sekarang ini aku tak peduli jika mati disini atau apalah yang


terjadi nantinya. Melihat seorang yang mengaku raja tapi membunuh istrinya


sendiri demi egonya juga menekan rakyat demi keserakahannya. Dan yang paling


membuatku jijik adalah dia mengatas namakan keadilan untuk kebiadabannya.


 “Kau mau tau apa yang kutau?” Aku merangkak


lebih dekat kearah Yaza Vumi.


 “Aku tau kau telah membantai keturunan


DarkNight dan menyembunyikan Break The Secret.” Mendengar itu wajah tenang Yaza


Vumi berubah tajam. “Aku tau kau akan hancur ditangan kami, aku tau kau akan


mati mengenaskan karena semua orang mengutukmu, atau jika kau hidup, kau akan


hidup dalam kesengsaraan dan jadi pecundang!!!” Tukasku. Dan...


 “DUAK”


Yaza Vumi memukulku dengan gagang


senapan yang ia ambil seketika dari salah satu tentara yang berada tak jauh


darinya. Ia menarik kerah rompiku dengan kasar sambil menodongkan senapan pada


leherku.


 “Berani bicara apa lagi kau perempuan


******?!” Tukasnya.


 “CUIH”


Aku meludahi tepat diwajahnya. Ia


menghela napas berat dan memukulku berkali-kali dengan gagang senapan lagi.


 “AYAH, HENTIKAN!!!” Dai berteriak dan berusaha


menghampiriku tapi tentara yang disampingnya menendangnya agar kembali duduk


diantara yang lain. Sudah kuduga aku tak akan selamat dari keadaan ini, tangan


Dai dan yang lain juga terikat rantai besi, ini bukan film, Dai tak akan mampu


memutuskan rantai dengan kekuatannya.


 “LIHAT INI DAI, PEREMPUAN YANG KAU CINTAI CUMA


******!!!” Yaza Vumi balik berteriak pada Dai dengan penuh amarah.


Aku masih dipukuli, kurasakan sakit


disekujur tubuhku, sayang sekali... kini Dai pun tak berdaya, anggota kami yang


lain juga dipukuli. Padahal waktu aku tak sadarkan diri diruang penyimpanan


dokumen waktu itu Dai datang bagaikan kesatria negri dongeng dan menolongku,

__ADS_1


tapi kami semua bahkan tak bisa menolong diri kami sendiri. Yang masih


membuatku bersyukur adalah bahwa Fasa baik-baik saja.


 “Kalian pikir aku akan berhenti sampai disini


saja? Kapten, ambil benda itu!!!” Yaza Vumi memerintah anak buahnya mengambil


sesuatu. Itu semacam remot kontrol, tapi entah digunakan untuk apa.


 “Perhatikan layar itu baik-baik!” Ujar Yaza


Vumi.


Aku berusaha menoleh dan melihatnya,


itu adalah penampakan rumah tua jalan masuk markas DieNeSs, juga permukaan


tanah dimana dibawah sana adalah markas kami. Yaza Vumi menekan salah satu


tombol di remot kontrolnya dan suasana tenang dilayar berubah menjadi ledakan


merah yang besar hingga permukaan tanah itu terangkat bagaikan gempa.


Tak selang lama benda mirip rudal


mengarah kesana dan terus meledakkan permukaan tanah yang sudah berlubang dan


hancur itu hingga menampakkan bahwa dibawah tanah sana terdapat ruangan-ruangan


yang dipenuhi orang.


 “RAJA SETAN KAU GILA!!!” Dai berteriak dan


mengamuk seperti orang kesurupan.


 “Kau sangatlah naif Dai, sama seperti ibumu.”


Tawa Yaza Vumi.


 “HENTIKAN SEMUA ITU, CEPAT HENTIKAN ATAU AKU


SENDIRI YANG AKAN MEMBUNUHMU, AKU TAK AKAN SEGAN SEKALIPUN KAU AYAHKU!!!”


Teriak Dai lagi. Aku tak melihat sikap tenang Dai lagi, sekarang dia emosional


dan kacau. Sedangkan Yaza Vumi tertawa puas, ia kembali melirik kearahku yang


tersungkur dibawah kaki menjijikannya.


 “Nah, sekarang kau masih mau bilang apa?


Katakan pesan terakhirmu sebelum mati, atau kau ingin melihat orang-orangmu


mati lebih dulu?” Tanya Yaza Vumi padaku lagi.


 “Mati? Kau lah yang akan mati!!!” Tukasku.


Dan sekarang aku tau bahwa kesabaran


Yaza Vumi betul-betul habis. Ia megarahkan moncong senapan kearah kepalaku


dengan penuh amarah, dan kusadari para prajurit dan tentaranya juga mengarahkan


senapan mereka pada anggota kami yang lain.


 “Kau akan mati bersama anggotamu sekarang


supaya mulutmu itu berhenti bicara!” Gertak Yaza Vumi.


Baiklah, mungkin ini akhir


perjalananku, aku menutup mata dan bersiap mati. Sampai sini saja kisah


petualangan penuh rintangan dan juga romansa, padahal kisah cinta segitiga itu


belum terjawab, tapi ini sudah berakhir. Dan Shui... aku ingin tau keadaannya.


 “BUM”


sebuah benda yang jatuh dari atap, asap itu memenuhi ruangan bersamaan dengan


munculnya orang-orang dengan masker aneh. Aku tak terlalu bisa melihat dalam


keadaan setengah sadar ditambah lagi asap itu menghalangiku melihat apa yang


sedang terjadi diruangan ini.


 “Sial, ada apa ini?”


Yaza Vumi kebingungan, berarti ini


bukan ulahnya, lalu ini ulah siapa? Semua tim ku sudah terpojok... siapa


orang-orang bermasker aneh ini? Mereka juga memberikan masker aneh itu untuk


Dai juga Fasa... sepertinya sebagian anggota mendapatkan masker itu.


Kericuhan terjadi, orang-orang


bermasker aneh itu menggunakan cambuk listrik untuk menyerang para prajurit dan


tentara Yaza Vumi. Aku yang tersungkur dengan penuh luka masih ada didekat kaki


Yaza Vumi. Wajahnya tampak bingung, dia berteriak-teriak memerintah tentaranya.


Sekelebat bayangan bermasker itu muncul


entah dari mana dan menyerang Yaza Vumi dengan cambuk listrik hingga terlempar.


Kemudian ia berjongkok didepanku dan mengangkat tubuhku seolah itu bukanlah


beban.


 “SEGERA PERGI DARI SINI, ADA TENTARA


SEKUTU!!!” Teriak orang yang menggendongku.


Sekilas aku bisa melihat puluhan atau


mungkin ratusan tentara dengan suara gaduhnya. Diantara kepulan asap itu aku


dibawa lari olehnya, kubiarkan dia membawaku karena kurasa aku mengenalnya...


Shui. Tadi itu suara berat milik Shui.


 “Kau selamat? Bagaimana tim lainnya?” Tanyaku


ketika ia sedang membawaku berlari disebuah lorong. Ia melepas maskernya dan


kini bisa kulihat jelas wajahnya.


 “Sebagian selamat, untung kita punya rencana


cadangan. Kita akan segera kembali kemarkas, tapi tadi aku kehilangan kontak


dengan markas.” Ujar Shui.


Hm, jadi dia belum tau kalau sudah tak


ada lagi yang namanya markas... aku bingung harus menceritakannya dari mana.


 “Dimana Fasa? Dimana Dai dan yang lain?”


Tanyaku awalnya.


 “Mereka lewat jalan lain menuju markas, ada


pasukan dari daerah gurun putih yang membantu kita.” Jawab Shui. Aku terdiam


sejenak sebelum akhirnya berkata,

__ADS_1


 “Sudah tak ada lagi markas, berhenti bicara


tentang itu. Yaza Vumi meledakkannya.” Ujarku.


Langkah Shui terhenti, ia diam dan


gemetar. Aku bisa merasakannya karena ia masih menggendongku. Aku segera


menurunkan diri sebelum dia menjatuhkanku karena ia semakin gemetar.


 “Tn. Dai...” Gumam Shui.


“Hey, kalian!!!”


Seseorang memanggil kami, aku terkejut


bukan kepalang dan menoleh seketika. Tapi setelah melihat siapa yang memanggil


kami membuatku lega karena ternyata itu adalah Jeffery bersama Khaled dan Xiao.


 “Cepat kemari, tak ada waktu untuk main drama


karena kita harus lari sebelum tentara sekutu menemukan kita.” Ujar Khaled.


 “Bagaimana Tn. Dai dan wanita berambut pendek


yag bersamanya?” tanya Shui.


 “Mereka baik-baik saja, jadi cepatlah!” Jawab


Khaled lagi.


Shui mengangguk, ia memintaku naik


kepunggungnya, meski awalnya aku menolak kurasa ide bagus juga karena aku


sedang penuh luka akibat dipukuli. Kami melarikan diri melalui sebuah jalan


yang aku tidak mengerti jadi tak bisa kujelaskan, yang jelas rute pelarian ini


melalui sebuah terowongan bawah tanah yang tampak tak terawat, terowongan itu


tidak dilapisi apapun, hanya tanah lempung yang lembab, terdapat serangga yang


tinggal dibawah tanah dan hewan pengerat.


 “Kalian tentunya tak akan kembali kerumah,


kan?!” Tanya Xiao ketika kami tengah berjalan bersama.


 “Entahlah!” Jawab Shui singkat.


 “Kembali kerumah berarti bunuh diri, lho!”


Sambung Jeffery.


 “Aku juga tak tau!” Lagi-lagi Shui menjawab


singkat.


 “Mengungsilah ke Gurun Putih, kekuasaan Yaza


Vumi tak sampai sana, ketahanan militer kami juga sangat kuat. Raja kami adalah


orang yang bijaksana dan murah hati” Usul Khaled.


 “Aku belum tanya keputusan pangeran.” Ujar


Shui.


 “Jangan Khawatir, pangeran bilang dia akan


setujui apapun keputusanmu, makannya kutanyakan ini padamu.” Bujuk Khaled.


 “Baiklah, ini satu-satunya cara bagi DieNeSs


tetap hidup, juga satu-satunya cara kami membalas Yaza Vumi.” Akhirnya Shui


menyetujui usulan Kaled.


Kami keluar dari terowongan itu


disebuah hutan yang entah dimana, Khaled meminta kami memakai penyamaran.


Sangat sulit untuk kabur dari daerah kekuasaan Yaza Vumi ramai-ramai begini,


jadi kami pergi dari sana bergiliran dengan jalur laut.


Beberapa hari kami bersembunyi


diperbatasan, sekarang ini anggota kami terutama aku, Shui, Dai, Fasa dan


beberapa pemimpin Distrik menjadi buronan Yaza Vumi, hampir semua tempat


digeledah dan kami berpindah-pindah untuk sembunyi dari satu tempat ketempat


lain. Dan juga aku tak pernah bertemu Fasa dan Dai semenjak hari itu, aku


bersama Shui dan tiga orang yang kutemui dihari perang yaitu Khaled, Jeffery


dan Xiao.


Sampai hari giliran kami untuk


mengungsi ke Gurun Putih tiba. Rombonganku dan Shui terpisah dengan rombongan


Dai, kami bersembunyi dalam sebuah kontainer barang agar bisa menyebrang dengan


aman. Baru kali ini aku merasakan rasanya jadi buronan.


 “Kita akan segera menyebrang, tenangkan diri


kalian dan jangan buat suara yang mengundang penjaga untuk memeriksa tempat


ini.” Jelas Khaled.


Dirombonganku ada sekitar 15 orang


termasuk aku, Shui, Jeffery, Xiao dan Khaled sendiri. Kami akan bertahan disana


diperkirakan selama lima hari. Ada beberapa Ventilasi kecil, soal makanan juga


ada anak buah Khaled yang akan memberikannya karena dikapal yang membawa kami


ada banyak orang-orang dari daerah Gurun Putih yang dapat dipercaya.


Aku terdiam tanpa suara sedikitpun, duduk


di kontainer dingin, jadi buronan dan takut ditemukan, temanku Fasa dan Dai


yang biasa ada didekatku sekarang tak ada, aku harap mereka baik-baik saja.


Ingin sekali aku menangis sangking takutnya, belum lagi bekas luka ditubuhku


masih terasa sakit. Meskipun ada Shui yang duduk disebelahku, tapi dia tak


seperti Dai yang ramah dan hangat dan lagi pula hubungan kami tak terlalu baik.


 “Tn. Dai dan temanmu pasti baik-baik saja,


karena itu kau pun harus baik-baik saja.” Shui berbisik didekat telingaku. Aku


masih diam dan tak menggubrisnya.


 “Aku tau aku telah sangat bersalah padamu, tapi


kali ini... biarkan aku disisimu. Setelah bertemu Tn. Dai... kau harus kembali


kesisinya.” Lanjutnya sambil mendekat dan memberiku selimut.


 “Tapi... Aku tak akan berada disisi siapapun!”

__ADS_1


gumamku.


*****


__ADS_2